Part 2 Teringat Mantan Kekasih

1016 Kata
Ayah Rendi menghela nafasnya dengan berat, anak gadisnya memanglah keras kepala. Mau dibilang bagaimanapun, Lily anaknya itu tetap dengan pendiriannya. "Lily, ayah tahu kamu memang tidak mau bekerja sebagai guru dan kamu mati-matian rela ke Jakarta bersama Ibumu untuk melanjutkan kuliah di jurusan pilihanmu itu. Tapi, apakah kamu ingat kalau kita ini tergolong ekonomi kurang mampu." Ayah Rendi menatap anak gadisnya yang tampak berubah ekspresi kecewa. "Untuk membutuhkan kamu masuk bekerja sebagai pegawai perlu ada link relasi agar kamu tidak diusik oleh pihak pengecut." lanjut Ayah Rendi. "Ayah, aku tahu kalo semua orang yang bekerja sebagai pegawai memang begitu. Tapi, kali ini aku yakin kalo aku bisa bekerja sebagai karyawan di perusahaan atas kemampuan diriku dan bukti nilai tertinggi di kampus." Lily menahan buliran kristal yang hampir lolos dari wajah cantiknya. "Aku harap kalian sebagai orang tuaku mau mendukung keputusanku, karena aku yakin inilah jalan terbaik untuk merubah nasib hidupku dan keluarga kita di masa mendatang." jelas Lily panjang lebar. Ayah Rendi tampak kesal dengan keinginan Lily yang terus menerus menginginkan ia pergi merantau ke Jakarta. Orang tua mana yang dengan mudahnya membiarkan anak gadisnya pergi merantau di kota orang, yang tidak memiliki keluarga ataupun teman untuk berlindung di kala zona bahaya. "Baiklah, jika itu keputusanmu, ayah tidak pernah setuju dengan keputusanmu. Tapi, apa boleh buat jika kamu ingin mencoba maka silahkan kamu pergi dan ingat untuk tetap hidup sehat dan nyaman. Di era Pandemi covid-19 ini rawan akan penyakit dan kamu wajib makan-makanan yang sehat dan teratur karena ayah tidak ingin melihat anak cantik ayah ini terjangkit virus itu." Setelah mengatakan itu, Ayah Rendi memberikan senyuman tulus di depan Lily. "Ja-jadi ayah setuju kalau aku akan pergi ke Jakarta," ucap Lily terdengar terbata-bata. Ia tampak tak percaya dengan ucapan Ayah Rendi yang hampir melakukan perdebatan kecil bersama Ibu dan adik laki-lakinya. "Tentu saja, ayah setuju dan Ibu harap kamu jangan telat makan dan wajib minum vitamin tubuh. Jaga diri baik-baik ya anak gadis ibu yang cantik dan jangan mudah percaya dengan orang asing." balas Ibu Leani. "Selain itu, kakak harus mengabari kami kalo sudah sampai di Jakarta dan jangan nakal disana." celetuk Leo santay. "Iya." jawab Lily cepat. "Kapan kamu akan berangkat ke Jakarta?" tanya Ayah Rendi to the poin. "Aku belum tahu pasti ayah tapi secepatnya aku akan menyiapkan semua persyaratan berkas yang dibutuhkan untuk melamar bekerja di perusahaan industri." jawab Lily jujur. "Perusahaan Industri?" tanya Ayah Rendi dengan mengerutkan keningnya menatap ke arah Lily. "Iya ayah, aku akan melamar bekerja di perusahaan Industri karena aku yakin bisa mendapatkan pekerjaan." jawab Lily. "Okelah, ayah setuju saja jika kamu bahagia atas keputusanmu maka ayah, ibu dan adikmu akan ikut bahagia mendengarkan kabar baik untukmu." dalam pikiran Ayah Rendi pernah mendengar perusahaan Industri yang memiliki CEO bernama Alex berhati kejam dan dingin. Tapi Ayah Rendi berpikir positif kalau bukan dia yang pernah menyakiti anak gadisnya. "Aku harap Lily tidak akan bertemu lagi dengan dia. Aku tidak ingin Lily tersiksa dengan cintanya." doa Ayah Rendi dalam hati. Setelah menyelesaikan sarapan pagi bersama dan perdebatan kecil di meja makan. Lily duduk termenung di atas tempat tidur. Ia berpikir keras atas keinginannya yang mati-matian ingin bekerja di Jakarta. "Apakah keputusanku ini memang terbaik untuk diriku atau aku akan menyesal di kemudian hari karena menentang perkataan kedua orang tuaku?" tanya Lily pada diri sendiri. "Tuhan, aku mohon berikan aku kesempatan untuk merubah nasib hidupku untuk menjadi lebih baik dan bisa membahagiakan kedua orang tuaku agar bisa hidup enak." Lily mengambil koran yang berisi persyaratan bekerja di perusahaan. Kemudian, ia mengunting bagian terpenting untuk ia simpan sebagai pedoman. Lily berdiri dari duduknya dan ia melangkahkan kakinya untuk menyiapkan dokumen penting tentang dirinya. "Baiklah, semangat Lily. Kamu pasti bisa! Kami wajib bisa untuk menerima kesempatan emas ini!" lirih Lily menyemangati dirinya agar tidak plin-plan. Lily menyusun semua berkas lamaran pekerjaan, mulai dari ia mengambil ijazah kuliahnya, transkip nilai kuliah, hingga biodata diri dan surat lamaran yang akan ia ketik dalam materai 10k sebagai jaminan kerja di perusahaan industri. "Selesai, tinggal aku susun semua berkas ini ke dalam map merah." Lily tersenyum puas saat melihat semua perlengkapan lamaran pekerjaan yang ia genggam telah benar dan rapi. Kemudian, Lily membuka satu lusin map merah yang telah lama ia beli untuk persiapan lamaran kerja nanti. Lily menyusun lembar demi lembar kertas untuk lamaran kerja. "Sempurna," ucap Lily mantap. Lily menaruh map merah berisi dokumen berkas di meja belajarnya dan ia membuka layar ponselnya untuk mencari lokasi tempat anak cabang perusahaan industri yang menerima lowongan pekerjaan. Lily berhasil menemukan website resmi perusahaan industri dan ia membaca secara detail tentang segala identitas, peraturan, tata tertib hingga lowongan pekerjaan. Di dalam situs website resmi mencantumkan pada masyarakat agar mendaftar diri secara online (daring). Demi menghindari Pandemi Covid-19 maka Lily mematuhi peraturan tersebut. Namun, sebelum ia membaca ke halaman berikutnya. Lily menemukan berita tentang pemilik CEO yang bernama Alex. "Alex?" ucap Lily pelan. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, kenapa namanya sangat familiar bagiku?" tanya Lily pada dirinya sendiri. "Apa Alex yang dimaksud? Ah... Pasti bukan, di dunia ini nama Alex itu banyak dan mana mungkin mantan pacarku bernama Alex yang psikopat itu. Tapi, bagaimana kabarnya sekarang? Apakah wajahnya tetap tampan dan pintar seperti dulu?" Lily membayangkan mantan pacarnya yang dulu pernah ia cintai. Lily tersadar dari lamunannya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak boleh memikirkannya. Ingat Lily, Alex itu jahat padamu. Iya, tega menyakitimu dan seenaknya mengatur hidupmu." Lily tampak frustasi saat mengingat perlakuan Alex yang sangat kejam padanya. Dulu, Alex sangat baik padanya dan selalu memberikan apapun yang tidak ia minta. Semenjak, Lily menerima cinta Alex yang terlihat tulus padanya, Alex berubah 100% dan ia tidak mengenali pacarnya. Lily tidak ingin bertemu kembali dengan mantan pacarnya, ia tidak ingin terjerat dengan cintanya. Saat mengingat kenangan pahit itu, Lily tampak trauma dan ia sempat mengalami perubahan sikap menjadi Introvert. Untuk memulihkan dirinya menjadi ceria sedia kala, Ibu Leani rela tidak bekerja sebagai pembantu. "Aku tidak boleh bertemu dengannya, Aku tidak mau bertemu denganya.hiks..." buliran kristal jatuh membasahi wajah cantiknya. "Tuhan, aku mohon beri aku kesempatan agar aku tidak bertemu dengannya dan bahagia dengan hidupku tanpanya." doa Lily tulus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN