Part 1 Keinginan Lily Bekerja
Di sebuah rumah minimalis bersubsidi pemerintah di kota Bandung, tinggallah seorang wanita cantik dan bertubuh mungil bernama Lily Kharisma. Ia berumur 22 tahun dan ia telah lulus kuliah S1 Ilmu Komunikasi di kampus Perjuangan. Lily hidup bersama kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya yang masih sekolah menengah kejuruan yang pasti kita ketahui bahwa banyak membutuhkan biaya dalam praktek sekolah.
Lily yang selama ini ikut membantu ibunya bekerja sebagai pembantu di Jakarta, hingga Ibunya berhenti bekerja dan pulang ke kota kelahirannya. Hidup mereka tak stabil seperti Lily rasakan yang jauh berbeda semasa ia kuliah dan untunglah Lily bersama Ibunya pindah disaat ia menginjak semester tua.
Lily yang telah lulus kuliah dan ia tidak ingin memberatkan beban kedua orang tuanya untuk menghidupi kebutuhan hidup dirinya bersama adik laki-lakinya. Lily pun berjalan menuju ke arah ruang tamu dan ia yakin pasti setiap permasalahan ada jalan keluarnya. Lily duduk di ruang tamu yang dimana ruang tempatnya sedang-sedang saja untuk masyarakat jelata.
“Dimana ayah meletakkan koran hari ini?” kata Lily dalam hati.
Lily terus mencari di setiap laci meja dan lemari untuk mendapatkan koran yang berisi informasi keadaan dunia.
“Alhamdulillah, ketemu.” Lirih Lily pelan.
Lily mendudukkan dirinya di atas kursi yang belum lunas dibayar, ia mulai membaca setiap lembar per lembar koran nasional. Di lembar awal terdapat tampilan berbagai macam berita terkini, opini, kuliner, komunitas hingga lowongan pekerjaan di perusahaan.
“Eh... Tunggu dulu, ada lowongan pekerjaan di anak cabang perusahaan Industri.” Lily membaca serius bagian tulisan itu dan ia berpikir sejenak.
“Ya deh, hanya memerlukan karyawan di bidang Komputer dan Manajemen. Mana mungkin, aku bisa tergabung ke dalam perusahaan itu. Sementara jurusanku berbeda.” Lily menatap ke sekelilingnya dan ia mengulangi kata demi kata dari tulisan itu.
“Tapi, tunggu dulu, bukankah bidang komputer dengan komunikasi saling berkaitan satu sama lain. Aku juga lulusan SMK Multimedia pastinya bisa menangani tentang bagian komputer yang memiliki desainer, animasi, perakitan, hingga jaringan komputer. Tidak salah aku coba mendaftarkan diri bekerja di perusahaan industri.” Kata Lily dalam hati.
“Untung-untung aku diterima kalau tidak aku bisa mencari pekerjaan yang lain dan pastinya bisa membantu perekonomian keluarga. Oh iya, Bukankah di ibukota Jakarta itu. Ada dia yang...” Kata hati Lily terhenti saat mengingat seseorang yang pernah menjadi bagian spesial di hatinya.
“Mana mungkin, bisa bertemu dengan dia. Jakarta itu luas dan pastinya aku akan aman tanpa ada halangan sekalipun.” Lanjut Lily memantapkan keputusan akhirnya.
Setelah berpikir selama setengah jam, Lily menaruh kembali beberapa tumpukan koran yang ia berantakan untuk mencari berita koran hari ini.
“Lily!” panggil seseorang yang sangat disayanginya.
Lily mengalihkan pandangannya dari tumpukan koran menuju ke arah seorang wanita paruh baya yang berdiri tidak jauh darinya. Lily tersenyum tulus menatap ke arah Ibu kandungnya.
“Iya Ibu.” Jawab Lily sambil berjalan untuk mendekati Ibu kandungnya.
“Lily, makanlah sarapanmu. Nanti tidak enak lagi makanannya kalau sudah dingin. Ingat, kita wajib jaga kesehatan agar tetap terhidar dari covid-19 di masa Pandemi Covid-19 dan PPKM.” Ibu Leani membalas senyuman tulus dari anak sulungnya dan ia mengelus rambut Lily dengan sayang.
“Siap Ibu!” Lily mengangkat tangannya untuk membentuk hormat di depan Ibu Leani.
Ibu Leani tertawa kecil saat melihat tingkah lucu Lily.
“Ya sudah, ayo ikut dengan ibu saja,” Ibu Leani menarik tangan anak sulungnya dan Lily mengikuti langkah Ibu Leani yang menarik tangannya menuju ke arah ruang makan.
Di ruang makan, sudah ada ayah Rendi dan Lio yang tengah makan sarapannya.
“Selamat pagi, ayah!”
“Selamat pagi, Lio!”
Lily menyapa Ayah dan adik laki-lakinya yang telah asyik makan dan itu berhasil mengganggu rutinitas makan paginya.
“Pagi juga!” jawab Ayah Rendi dan Lio secara bersamaan.
Lily menghentikan langkah kakinya tepat di depan makanan yang telah dimasak oleh Ibu Leani.
“Harumnya masakan Ibuku, enak semua ini makanannya.” Lily melihat nasi dan lauk sayur sawi tumis, ikan goreng dan tempe sambel.
Semua orang tertawa geli mendengar pujian yang selalu Lily berikan kepada Ibu Leani.
“Siapa dulu dong, Ibu Leani yang awet cantik selalu senang hati memasak makanan untuk anak dan suamiku tercinta.” Sahut Ibu Leani dengan pedenya.
“Hehehe... Iya deh, Ibuku memang jagonya masak dan aku ambil dulu makanannya untuk mengisi perutku yang sudah bernyanyi.” Lily mengambil piring kosong dan ia mengisi nasi dan semua laok untuk diabsen masuk ke dalam perutnya.
Lily memasukkan nasi dan lauk ke dalam mulutnya.
“Hem... Mantul!” Lily mengunyah makanannya dengan nikmat.
“Iya, makan saja dan jangan bicara saat sedang makan.” Saran Ayah Rendi dan Lily mengacungkan jempol sebagai tanda setuju.
Suasana terasa hangat atas kebersamaan keluarga kecil Rendi. Walaupun hanya terdengar dentingan sendok makan tapi mereka tak pernah putus dalam berkomunikasi.
Setelah Lily menyelesaikan sarapan pagi bersama keluarganya di meja makan, ia mulai membuka topik pembicaraan.
“Ibu!”
“Ayah!”
“Aku ingin ke Jakarta untuk melamar pekerjaan,” ucap Lily membuat Ibu Leani, Ayah Rendi, hingga Lio menoleh ke arahnya.
Lily mengatur nafasnya yang mulai tak beraturan dan ia membalas tatapan tajam yang tak biasa.
“Lily, jangan bercanda! Bukankah, Ayah selalu mengingatkanmu agar tidak boleh ke Jakarta. Apapun alasan baik itu mau piknik ataupun bekerja, ayah tidak setuju. Kamu tahu kan hari demi hari Covid-19 terus meningkat dan tidak sedikit memakan kasus masyarakat yang meninggal. Ayah harap kamu mengerti dengan perkataan ayah ini agar kamu tetap aman dan sehat dari virus mematikan itu.” jelas Ayah Rendi panjang lebar menatap ke arah Lily yang duduk di sebelah Lio.
“Benar kak, kakak jangan kesana ya. Kami sayang dengan kakak dan kakak cukup mencari pekerjaan disini saja.” Sahut Lio yang duduk di sebelah Lily.
“Tapi ayah...” ucapan Lily terhenti saat Ibu Leani memotong pembicaraannya.
“Lily, bukankah kamu bisa melamar pekerjaan sebagai seorang guru. Profesi guru banyak dibutuhkan di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Selain dekat dengan rumah kita, kamu terjamin dari bahaya virus baru itu. Ibu takut kamu kenapa-napa. Di Jakarta, tidak ada teman atau keluarga kita yang tinggal disana. Ibu juga tidak ingin bertemu dengan dia dan terjerat dengan cintanya.” Perkataan Ibu Leani ada benarnya tapi Lily tidak ingin bekerja yang tidak sesuai dengan jurusannya.
“Tapi Bu, aku tidak ada niatnya untuk bekerja sebagai guru. Kalaupun aku mau menjadi seorang guru dan pastinya aku akan mengambil kuliah di jurusan ilmu guru tapi bukan ilmu komunikasi.” Lily menatap sendu ke arah Ibu Leani dan ayah Rendi.
“Aku akui profesi guru itu sangat mulia dan rela mengajarkan murid dan memberikan ilmu pengetahuan dan wawasan kepada anak orang tapi apa daya kalau hatiku berkata tidak mau.” Lanjut Lily.