"bangun heh!" Vay membuka matanya perlahan ketika mendengar suara Erlang dan langsung memundurkan wajahnya ketika melihat wajah Erlang yang terlalu dekat dengannya. Vay bisa tahu Erlang begitu lelah dari raut wajahnya
"Udah sampai?" Erlang mengangguk pelan lalu berdiri dan mengambil beberapa barangnya yg ia letakan di cabin pesawat.
"Erlang, kita dimana?" Untuk sekian kalinya Vay bertanya pada suaminya itu.
"Ntar juga tau lu." Erlang berjalan keluar meninggalkan Vay yg masih berkutat dengan segala keperluannya.
"Erlang tunggu!" teriak Vay.
Erlang seketika berhenti di depan pintu pesawat dan menunggu istrinya itu, Erlang memuji kecantikan Vay didalam hatinya setiap kali ia menatap gadis yang telah menjadi istrinya sehari lalu. Erlang menggandeng tangan Vay dan mereka turun dari pesawat bersama-sama. Vay berdoa di dalam hatinya agar detak jantungnya tidak terdengar oleh Erlang karena saat ini Vay merasa seperti jantungnya akan copot.
"tenang Vay, tenang." ucap Vay didalam hatinya. Tanpa sadar mereka telah berada diareal bandara yang cukup sepi kemudian Vay memberanikan diri memanggil suaminya itu.
"Erlang?" Erlang hanya berdehem menjawab panggilan dari Vay.
"Kita dimana?"
"Bentar juga lu tahu." jawab Erlang enteng dan masih setia melangkahkan kakinya membawa Vay entah kemana.
Vay mengedarkan pandangannya melihat sekeliling bandara karena ia sama sekali tidak mengenal area bandara mana dan sampai ia menemukan sesuatu.
Vay terus menatap papan yang ia lihat. Erlang yang merasa genggaman tangannya pada Vay terlepas kemudian membalikkan badannya dan Vay terdiam menatap sebuah papan sambutan.
"Vay" panggil Erlang. Vay langsung menoleh begitu suaminya memanggil dan berlari kearah Erlang.
"Erlang? Kita di hawaii? Serius?" Tanya Vay dengan tampang tidak percayanya.
"Tadi lu liat tulisan apa dipapannya?"
"Welcome to Honolulu, Hawaii"
"Yaudah itu jawabannya." jawab Erlang datar lalu melanjutkan langkahnya dan tak lupa ia kembali mengenggam tangan Vay karena ia takut kehilangan istri satu-satunya itu.
Vay hanya mengikuti kemana Erlang melangkah dengan diam.
"Tuan. Erlang?" Seseorang mendekati mereka berdua, William, Asisten pribadi dari Erlang sangat dipercaya olehnya sejak lama. William akan ikut kemanapun Erlang pergi dan sudah mengenal bagaimana sifat dan watak Erlang.
"Mari saya antar ke kendaraan kalian." ucap William .
Erlang hanya mengangguk, ia sangat malas untuk berbicara sekarang karena ia merasa begitu lelah.
Mereka berjalan bersisian tentunya Vay terus melirik ke arah Erlang yang terlihat diam sedari tadi tanpa berbicara apapun padanya. Pasangan suami istri itu langsung masuk ke dalam mobil tanpa basa-basi lagi.
Vay kembali terkejut ketika Erlang menyandarkan kepalanya di bahunya lalu tertidur.
"Ni orang engga tau berat apa." protes Vay dalam hatinya.
Vay mencari handphonenya ketika mendengar handphone berbunyi dan langsung mengangkat video call dari ayah dan ibu mertuanya.
"Hai sayang!" sapa Kesha
"Halo Ibu , bagaimana kabar Ibu dan Ayah?"
" kita baik-baik saja Vay, apa kalian sudah sampai?"
"Ibu, kenapa tidak bilang sama aku kalau kami akan pergi ke hawaii?"
"Ayah yang minta sayang itu pun dadakan kemarin kita pesan tiketnya untuk kalian. Kata Ayah biar dapet waktu untuk menikmati waktu berdua buat kalian."
"Di apart juga kita bisa berduaan tidak perlu sampai begini juga kasian Erlang bu."
"Ah anak itu emang pura-pura aja." sahut Ayah dari kejauhan.
"Mana Erlang? Dari tadi tidak terdengar suaranya."
"Erlang sedang tidur bu, ini dia." Vay mengarahkan handphonenya ke wajah Erlang yang tengah tertidur. Terdengar suara tawa dari seberang sana.
"Anak itu ya emang gitu, kalau abis naik pesawat dia harus dapet tidur dulu baru enakan badannya."
"Kasian tapi Bu." jawab Vay lirih, ia memang kasian melihat keadaan Erlang yang begitu lelah.
"Biarin aja dia sayang, kamu istirahat gih kalian di pesawat 18 jam lebih kan?"
"habis ini Vay ikut istirahat juga."
"Yaudah gih.. see you sayang.."
"See you too Ibu.." Vay tahu di Indonesia sudah hampir tengah malam. Perbedaan waktu mereka sangat jauh saat ini.
Vay memerhatikan Erlang tertidur sangat lelap kemudian mengelus rambut suaminya dengan lembut. Vay tersenyum tipis kemudian menempelkan pipinya pada kepala Erlang untuk ikut terlelap.
Perjalanan mereka begitu melelahkan hari ini.
~~~
"Tuan Erlang" William menyentuh bahu Erlang hingga membuatnya terkejut dan terbangun, Vay yang tadinya berada diatas kepala Erlang kini berpindah pada bahu Erlang namun tak lama Vay ikut terbangun.
"Kita sudah sampai pada tujuan anda Tuan" ucap William. Erlang mengangguk paham lalu bersiap untuk keluar dari mobil. Erlang keluar dari sisi kiri mobil lalu membenarkan tampilan bajunya dan tatanan rambutnya sedangkan Vay pun keluar dari sisi kanan mobil, ia tahu Erlang tidak pernah suka jika kegiatannya diganggu maka dari itu ia keluar dari pintu yang berlawanan.
Vay mendekati suaminya dan menunggu hingga Erlang menyelesaikan kegiatannya.
Vay kemudian melihat sekeliling dan sadar bahwa rumah didepannya ini satu-satunya yang berada di areal itu.
Seketika Vay terkejut ketika Erlang yang mengenggam tangannya dan menariknya masuk kedalam rumah tanpa berkata satu patah kata.
Erlang membuka password rumah tersebut dan membawa masuk ke dalam rumah setelah berhasil memasukan password. Vay seketika terkagum dengan interior rumah yang didominasi berwarna hitam dan putih hingga tampak bernuansa elegan bagi Vay.
"Erlang, gue perhatiin cuman rumah ini aja yg ada disini iyakah?" Tanya Vay penasaran pada Erlang.
"Daerah ini punya Ayah makanya cuman rumah ini aja yg ada dan juga Ayah mempersiapkan rumah ini untuk keluarga kami jika berlibur." Jelas Erlang kemudian mengajak Vay ke salah satu ruangan dirumah itu.
"Tapi Erlang, nanti kita pake apa? Bukannya kita tidak bawa perlengkapan ataupun pakaian." Bersamaan dengan ucapan Vay itu, Erlang membuka ruangan yang ada didepan mereka dan terpampang ruangan khusus pakaian yang berisikan pakaian mereka berdua.
Ruangan itu didominasi oleh warna putih disertai lampu-lampu yang menghiasi setiap sudut ruangan tersebut. Erlang membuka lemari disisi kanan mereka dan menampilkan pakaian, tas hingga alas kaki dari brand-brand ternama dunia. Vay begitu kagum dengan isi lemari tersebut. Erlang memperhatikan istrinya yang sedang terdiam itu kemudian melipat kedua tangannya didada.
"Ayah dan ibu sudah siapkan semua disini, jadi tidak usah khawatir lagi" jawab Erlang datar kemudian kembali membawa Vay ke ruangan yang terhubung dengan ruangan sebelumnya.
Erlang kemudian membuka salah satu pintu ruangan dan menampilkan ruangan yang seluruh design interiornya berwarna silver dan juga hitam. Iya, itu kamar tidur dan lagi-lagi kembali Vay terkagum dengan design interior pada kamar yang berada di rumah itu. Begitu tertata rapi dan konsisten dengan tone warna yang sama namun tidak membosankan walaupun kamar itu tidak begitu luas.
"Ini kamar gue dulu dan sekarang ini sekarang jadi kamar kita."
"Tapi emang cukup?" Vay tampak ragu dengan kasur yang ia rasa hanya cukup untuk satu orang itu
"Cukup-cukupin lah."
Vay memutar bola matanya kesal karena Erlang yang cukup dingin hari ini
"Yaudah yuk istirahat." Erlang mengajaknya Vay untuk tiduran di kasur kamar mereka. Erlang mendekatkan dirinya pada Vay kemudian memeluk istrinya dengan sangat erat yang entah kenapa rasanya amat sangat nyaman bagi Erlang.
"Erlang, gue sesek nih, jangan terlalu erat meluknya!"
"tidur!" perintah Erlang datar yang mampu membuat Vay langsung menutup matanya tapi Vay merasa ia tak bisa tidur jika seperti ini karena rasanya seperti canggung.
"Erlang" Panggil Vay begitu pelan.
"Vay tidur!" Perintah Erlang tegas. Vay memanyunkan bibirnya karena Erlang yang seperti membentaknya tapi kemudian ia terkejut ketika Erlang mencium puncak kepala Vay dengan begitu lembut.
" Tidur ya cantik, gue lagi capek banget jadi jangan bawel dulu sekarang ya." Ucap Erlang begitu lembut hingga Vay dibuat tersentuh oleh suaminya itu.
"Tetap seperti ini , jangan berubah ya, gue suka lu yg kayak gini, Erlang." batin Vay.
.
.
.
.
.
.
to be continued...