07

1230 Kata
05.00 WIB. Vay terbangun dari tidurnya kemudian ia membuka matanya perlahan. Hari ini adalah hari pertamanya terbangun dengan seseorang bersamanya diatas kasur. Vay tersenyum tipis melihat Erlang yang masih tertidur pulas seraya memeluk dirinya. Erlang yang terlihat dingin diluarnya tapi ternyata dia hangat. Vay tahu perlakuan Erlang masih berbanding terbalik dengan hatinya tapi Vay akan tetap berusaha semaksimal mungkin agar Erlang mencintainya seorang. Vay ingin mengusap pipi Erlang namun segera ia urungkan karena takut membangunkan suaminya itu. Jam 5 merupakan jam bangun Vay setiap hari jadi mau keadaan apapun dan dimanapun, badan Vay pasti akan otomatis bangun jika jam sudah menunjukkan jam 5. Vay kemudian beranjak dari tempat tidur untuk membersihkan dirinya di kamar mandi. Erlang terbangun setelah mendengar suara gemericik air dari kamar mandi. Erlang mencari keberadaan Vay disebelahnya namun tidak ada lalu Erlang merubah posisinya menjadi bersandar pada tembok sambil mengucek matanya. "Jam berapa ini?" Erlang mencoba meraih handphonenya di meja sebelah kasur kamar hotel mereka. Erlang terdiam ketika sebuah pesan masuk ke handphonenya kemarin malam. Iya, itu pesan dari Rara yang mengucapkan selamat padanya. Erlang ingin membalas pesan tersebut tapi ia urungkan setelah mendengar suara pintu kamar mandi yang tertutup. Tak lama Vay muncul dipandangan Erlang hanya dengan menggunakan handuk. Istrinya itu berjalan menuju kopernya tanpa sadar jika Erlang memerhatikannya. “ pakai baju yang bagus, kita bakal ke suatu tempat.” Vay tersentak ketika suara berat Erlang masuk ke telinganya. "Erlang! Kaget tahu!" Erlang tertawa kecil kemudian beranjak dari posisinya mendekati sang istri yang tak kalah cantiknya dari mantannya itu. “ Maaf sayang, yaudah cepet ganti, Gue mau mandi dulu.” Erlang kemudian mengecup bagian belakang kepala Vay. Rasa seperti kupu-kupu yang berkumpul diperut Vay muncul saat itu juga. "Gue mandi dulu ya lu siap-siap." ucap Erlang lalu melangkah pergi ke arah kamar mandi. “ kuharap sikapnya ini akan selamanya seperti ini.” ~~ 20 menit kemudian, Erlang keluar dari kamar mandi dan sudah menggunakan pakaian lengkap. Erlang hanya menggunakan kaos putih dan celana Jeans hitamnya. Erlang menghentikan langkahnya ketika melihat Vay yang tengah menatap keluar jendela kamar hotel mereka. Vay yang memakai baju atasan berwarna hitam dengan celana panjang berwarna putih serta kalung pemberian dari ayah Erlang yaitu Nathan. Mereka seperti Yin dan Yang. Erlang menghampiri Vay kemudian memeluknya dari belakang. “Ngapain, hm?” “kotanya indah kalau dilihat dari atas sini.” Erlang mengikuti arah pandangan Vay. Dari belakang, Erlang bisa mencium aroma vanilla dari parfume Vay serta aroma stroberi dari rambut istrinya itu. Erlang sadar jika Vay bukanlah gadis sembarangan dan Erlang bersyukur akan itu. “Ayo kita berangkat.” Vay dan Erlang pun kemudian meninggalkan hotel yang semalam mereka menginap. ~~~ "Erlang, ngapain kita ke bandara?" Vay bingung ketika mobil yang mereka tumpangi masuk ke area bandara. "Kita mau bulan madu, Ayah yang nyuruh." "Lah bukannya lu kerja ya?" Erlang menyentil dahi Vay "Gue bosnya jadi bebas aja gue. Santai aja kenapa sih? Lu juga kali, ngapain engga kerja?" "Kan gue juga bosnya, gimana sih?!" jawab Vay. “Itu tahu, udah jangan banyak protes.” Vay hanya bisa memutar bola matanya. . . "Erlang, kita mau kemana sih?" Vay mulai gregetan pada Erlang yang tak kunjung menjawab pertanyaannya tentang kemana mereka akan pergi bulan madu. "Diem aja atau perlu gue diemin mulut lu pake bibir gue?" Vay langsung menutup mulutnya rapat-rapat dan mengikuti kemanapun langkah Erlang pergi. Semua orang yang melintasi mereka menatap kagum pada Erlang dan juga Vay. Bagaimana tidak, Erlang begitu tampan dan jangan lupa kekayaan yang dimiliki Erlang bersama keluarganya serta kabar pernikahan Vay dan Erlang menjadi trending nomor 1 dimana-mana. "Duduk." Perintah Erlang yang dituruti oleh Vay. Gadis itu kemudian melamun memikirkan bagaimana ia bisa menjadi istri dari seorang Erlangga yg sangat terkenal walaupun dirinya juga terkenal namun masih tidak seterkenal Erlangga. Erlang dan Vay pun duduk berdampingan. Begitu banyak mata yang memandang kearah mereka hingga membuat Vay merasa tidak nyaman. Erlang yang sadar pun kemudian menarik Vay mendekat kearahnya dan mengenggam tangan istrinya. "Udah tenang aja engga usah gelisah gitu. Ada gue disini. " Erlang menatap Vay dengan tulus kemudian mengusap lengan istrinya berharap hal itu bisa menenangkan Vay. “Erlang.” “Hm?” Erlang kembali menatap kearah Vay setelah ia meletakan handphonenya. "Gue laper." Ucap Vay. Erlang lupa bahwa mereka belum sarapan sama sekali kemudian Erlang mengambil handphonenya dan menelpon seseorang. "tunggu ya sebentar juga dateng." ucap Erlang setelah ia menutup sambungan teleponnya. "Lah? Emang siapa yang bawain kesini?" " bodyguard gue." jawab Erlang enteng. "Loh? Kok? Kan dia-" Erlang langsung memotong ucapan Vay yang ingin protes padanya "Udah tenang aja dia udah biasa gue suruh-suruh." Erlang kemudian mengecup kepala Vay dan kembali fokus pada game di handphonenya. "Tuan Erlang?" Erlang dan Vay menoleh secara bersamaan ketika seseorang memanggil nama Erlang. "Pesawat anda sudah siap." Erlang menyimpan handphonenya kemudian beranjak dari posisinya begitu juga Vay yang mengikuti Erlang. "Oke terimakasih." Erlang menggandeng tangan Vay kemudian membawanya ke gate dimana pesawat pribadinya berada. Tatapan iri para kaum hawa yang berada di bandara membuat Vay kembali risih. "Erlang, kita mau kemana?" sekian kalinya Erlang mendengar pertanyaan yang sama dari Vay. "Udah ikut aja." Erlang dan Vay menuruni tangga yang di ujungnya terdapat bus yang sudah menunggu mereka berdua untuk mengantar ke pesawat milik Erlang. "Mr. Erlang And Mrs.Vay ? " Erlang mengangguk lalu mereka dipersilahkan masuk oleh petugas bandara. Vay bingung kenapa hanya mereka berdua sama didalam bus ini. Oke Vay memang sering naik pesawat tapi tidak pernah sesepi ini. "Kok sepi?" "Karena ini bus Khusus buat keluarga gue aja." Vay ber-oh ria karena ia tidak memiliki fasilitas semacam ini. Vay tidak ingin membayar pajak yang begitu besar hanya karena memiliki pesawat dan fasilitas pribadi di bandara. Mereka berdua turun setelah bus tersebut berhenti. Erlang tetap menggandeng tangan Vay dan membawanya masuk ke dalam pesawat milik Erlangga group. "Welcome Mr. Erlangga And Mrs. Vay." sapa seorang pramugari. Vay kemudian tersenyum sebagai balasan sapaan pramugari tersebut. "Silahkan duduk Mr. Erlangga dan Mrs. Vay. " Pramugari tersebut mengarahkan Erlang dan Vay pada tempat duduk mereka. "Segeralah berangkat." perintah Erlang, sang pramugari mengangguk paham dan memberikan instruksi pada pilot untuk segera berangkat. "Erlang?" "Kalau lu mau nanya kemana lagi sekali, gue cium lu." Vay segera menutup mulutnya rapat- rapat. Pesawat mereka pun lepas landas dari Bandara menuju suatu tempat entah kemana Vay pun tidak tahu. "Tuan Erlangga , saya diperintahkan untuk menghidangkan makanan oleh tuan William. apakah anda ingin sekarang?" "Sajikan sekarang, istri saya lapar." " katanya dibawain kok malah disini dibuatin." Vay terkejut ketika Erlang mencium bibirnya. “hukuman buat lu karena daritadi engga bisa diem.” Vay pun terdiam. Hal yang tiba-tiba itu membuat Vay sangat lama untuk memproses semuanya namun tak berapa lama makanan mereka pun dihidangkan didepan mereka, Erlang dan Vay pun kemudian menyantap makanan mereka masing- masing tanpa berbicara satu sama lain. 5 jam sudah berlalu dan perjalanan mereka masih panjang. Vay yang lelah memilih untuk tidur disebelah Erlang. Lelaki pemilik nama lengkap Erlangga Anendya Angkasa itu melihat kearah Vay yang tertidur dengan pulas kemudian ia mengusap puncak kepala istrinya. "Tidur ternyata." Erlang tersenyum tipis. Ia memandangi wajah damai Vay kemudian ia langsung mengeluarkan handphone miliknya untuk mengabadikan momen Vay yang tertidur dengan amat cantik. "Lucu juga ya lu.." Erlang kembali menatap wajah damai Vay dan mengecup kening gadis yang baru saja menikah dengannya kemarin. "Semoga gue bisa lihat lu setiap hari seperti ini seterusnya.." . . . . . . . to be continued.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN