06

1632 Kata
" Vay selamat yaa." ucapan demi ucapan hari ini Vay terima. Begitu banyak orang yang mengucapkannya selamat hari ini hingga mungkin bisa dibilang Vay lelah untuk mengucapkan terimakasih. Iya, hari ini hari pernikahannya, 3 bulan pasca kejadian yang tak mengenakan telah terlewati hingga kini ia akan menjalani pernikahannya dengan Erlang Vay selalu tersenyum pada setiap tamu yang datang keruangannya untuk mengucapkan selamat. Dari Yang Vay dengar, jumlah tamu undangan mereka bisa mencapai seribu orang karena kolega kolega dari dua perusahaan besar turut diundang. "Vay?" Ia pun menoleh dan langsung tersenyum lebar ketika melihat Ibunya datang. "Ibu." Vay angsung memeluk Ibunya. "Anak ibu cantik banget, pasti deg- deg an ya?" Vay mengangguk, jujur saja memang saat ini ia sangat gugup. Ingin sekali rasanya Vay menangis akibat bahagia sekaligus gugup tapi ia ingat bahwa ia sudah cantik dengan makeupnya sekarang. Vay yang begitu cantik menggunakan gaun pilihan dirinya dan Erlang serta dirias begitu menawan oleh penata rias paling bagus dan terkenal di seluruh Indonesia. “Ibu sendiri? nenek mana? Paman Aether mana?” Aether merupakan adik bungsu dari Syelia yang hari ini bertugas menjadi pendamping Vay pada saat ke altar. Syelia tersenyum, putrinya kini sudah dewasa namun baginya Vay akan tetap menjadi putri kecilnya. "Mereka ada di luar sayang, bukannya Paman Aether yang akan mengantarkan mu ke altar? Kamu lupa?" Vay menghela nafasnya panjang, ia lega sekaligus senang keluarganya semuanya datang hari ini. "Hehe iya Vay lupa bu." "Sayang.." Vay menoleh saat Kesha masuk kedalam ruangan tempatnya berdiam. “Yaampun cantiknya.” Puji Kesha pada calon menantunya itu. Vay tersenyum begitu lebar, hatinya pun menghangat. "Acaranya udah mau mulai sayang, siap-siap ya." ucap Kesha yang sukses membuat Vay reflek menoleh kearah Ibunya dengan tatapan gugup. "Tenang sayang semuanya baik-baik aja." Syeila mencium kening putrinya dengan penuh sayang. "Vay.. let's go." panggil Aether . Vay mengambil buket bunga yang tadi ia letakan kemudian menghela nafasnya panjang. "Tenang .. tenang, semuanya baik- baik aja.." batin Vay. Gadis itu berjalan keluar dari ruangannya dan bergandengan pada lengan dari pamannya itu menuju depan pintu altar. Pintu putih dengan aksen emas didepan Vay kini terbuka secara perlahan menampakan altar dimana dirinya akan mengikat janji bersama Erlang.Para tamu kemudian berdiri dan melihat ke arah Vay yang berjalan pada karpet putih yang telah dihiasi oleh kelopak bunga menuju dimana Erlang telah menunggunya. Jantung Vay berdebar begitu kencang dan pikirannya kemana- mana. Didepan sana Erlang menatap Vay yang perlahan mendekat kearah dengan tatapan kagum sekaligus bahagia. "Lu sempurna Vay, gue percaya lu jodoh gue dan segala kejadian yang gue alami mungkin adalah cara Tuhan mempersatukan kita." batin Erlang. Walaupun belum sepenuhnya Erlang bisa melupakan Rara tapi ia berusaha menerima Vay sebagai pengganti Rara kini. "Erlang, Uncle handed over Vay to you, so take care of her." Erlang mengulurkan tangannya menunggu tangan Vay berpindah ke tangannya. Erlang tersenyum tipis saat tangan Vay telah berada di genggamannya. Erlang menuntun Vay untuk menaiki altar dan jangan pernah menanyakan berapa banyak wartawan yang ada disini mengabadikan prosesi pernikahan mereka. Seluruh dunia ingin melihat bagaimana pernikahan mereka berdua dan mendoakan yang terbaik untuk mereka berdua. Mereka mengikuti semua proses pernikahan dengan jantung yang berdebar. Vay melirik kearah Erlang untuk mendapatkan kembali keyakinannya dan seolah mengerti, Erlang pun mengangguk kecil kemudian mengusap punggung tangan Vay dengan ibu jarinya. Dengan hal itu, Vay kembali mendapatkan kepercayaan dirinya. Mereka kini tengah berhadapan, memandang satu sama lain dengan perasaan yang campur aduk. Kini Vay hanya terfokus pada apa yang akan diucapkan oleh Erlang. "Ikuti perkataan saya." Mereka berdua menelan ludah masing-masing karena gugup yang menyelimuti mereka. "Saya, Erlangga Anendya Angkasa, membawa Anda, Vayleria Kiandra Dewi , untuk menjadi istri saya. Saya berjanji untuk mencintai dan menghormati Anda sejak hari ini, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin, sakit, dan kesehatan semua hari-hari kehidupan kita, sampai kematian memisahkan kita," Erlang pun mengucapkannya dengan lantang tanpa ada rasa keraguan didirinya. "Saya, Vayleria Kiandra Dewi, membawa Anda, Erlangga Anendya Angkasa, menjadi suami saya. Saya berjanji untuk mencintai dan menghormati Anda sejak hari ini, untuk lebih baik, lebih buruk, untuk kaya, untuk miskin, sakit, dan kesehatan semua hari-hari kehidupan kita, sampai kematian memisahkan kita" Vay pun mengucapkan dengan lantang sama seperti yang Erlangga lakukan. Mereka berdua menatap satu sama lain dan melemparkan senyuman untuk menenangkan satu sama lain. Erlang dan Vay pun tahu pasti mereka sangat gugup saat ini. "Kalian telah resmi menjadi pasangan suami istri, pengantin laki-laki boleh mencium pengantin perempuan." Erlang menghela nafasnya kemudian membawa Vay mendekat kearahnya lalu mencium kening dan bibir Vay. Tepuk tangan dari seluruh tamu memperiah suasana. Jantung Vay terpacu kencang saat bibir mereka untuk pertama kalinya bersatu. Kini mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri. "Janjiku tak akan pernah ku langgar" batin Erlang dan Vay bersamaan. Setelah acara pemberkatan, Vay dan Erlang kemudian diarahkan untuk berganti pakaian yang sesuai untuk acara resepsi mereka. Hari ini semua orang tampak bahagia dengan pernikahan Erlang dan Vay. Suka cita memenuhi suasana venue yang telah dipilih oleh mereka berdua. Acara pemotongan wedding cake pun dimulai. Erlang dan Vay diarahkan untuk memegang pisau yang telah disiapkan bersamaan lalu mereka diminta untuk berdoa pada Tuhan tentang harapan mereka pada pernikahan yang telah dilakukan. "Tuhanku, lindungi lah kami berdua, jangan biarkan rintangan besar menghadang kami dan buatlah kami bahagia selamanya." - Doa Vay "Tuhan, lindungi Vay dan diri hamba agar bisa menjaga Vay selamanya, berikan kami kebahagiaan dan jangan biarkan kami saling memberikan rasa kecewa satu sama lain Tuhan.." - doa Erlang Setelah mereka berdoa, master of ceremony pun mulai menghitung untuk pemotongan kue yang akan dilakukan bersamaan dengan Vay dan juga Erlang. "1..2...3" hitung Vay dan Erlang bersamaan. Mereka memotong kue dihadapan mereka. Wedding Cake dengan nuansa putih dan biru bermotif bunga-bunga mawar putih yang melambangkan kesetiaan bernilai hampir 32 juta merupakan pemberian dari paman Aether untuk Vay dan Erlang sebagai hadiah pernikahan. Erlang dan Vay tersenyum bahagia setelah memotong kue tersebut dan suara tepuk tangan dari para tamu memenuhi ruangan tempat resepsi mereka. Erlang merangkul Vay kemudian mengecup pucak kepala istrinya itu. Ini adalah hari bahagia mereka berdua. "Biarkan kami bahagia seperti ini selamanya Tuhan.." . . . . . . Erlang merebahkan dirinya di kamar hotel yang telah ia pesan untuk malam pertama mereka. Erlang merasa begitu lelah jika ia dan Vay harus kembali ke rumah jadi ini adalah keputusan terbaik. Dua koper milik Erlang dan juga Vay telah dibawa ke kamar sedangkan Vay berada dikamar mandi untuk buang air kecil. Erlang merasa badannya begitu remuk akibat seharian dengan acara mereka. Erlang ingin memejamkan matanya namun suara Vay membangunkannya "Erlang! bangun dulu mandi terus ganti baju baru tidur." ucap Vay namun Erlang begitu malas menjawab Vay sedangkan istrinya itu mengira Erlang sudah tertidur. "Erlang?" Vay mendekati Erlang lalu- "Dor!" seketika Vay terdiam karena terkejut sedangkan Erlang hanya asik tertawa setelah melihat ekspresi terkejut istrinya itu. "Ish! udah sana mandi dulu gih." "Engga, males gue capek mau tidur." saat Erlang ingin tidur kembali tapi tangannya ditarik oleh Vay. "Erlang nurut apa! Dari tadi keringetan di acara sekarang tidur tanpa mandi. Engga risih apa?" "Iya iya gue mandi sekarang, Bawel." Erlang beranjak dari posisinya dan segera pergi ke arah kamar mandi. 15 menit yang diperlukan Erlang untuk mandi dan setelah itu Vay yang membersihkan dirinya. Erlang merebahkan badannya diatas kasur. Ia menyandarkan kepalanya pada tembok dan memainkan game yang ada di handphonenya. Erlang yang begitu asik dengan gamenya tanpa menyadari Vay yang sudah berada disebelahnya sedang memerhatikan Erlang yang serius bermain game. "Erlang!" Vay menyentuh pundak Erlang. "Anjir!" Erlang terkejut. Ia tak sadar dengan keberadaan Vay yang sudah berada disebelahnya ikut bersandar "Vay! jangan bikin gue kaget dong. Untung ini handphone kaga gue lempar." "Eh sorry ya gue udah manggil lu 5 kali tetep aja engga di jawab yaudah gitu deh. Lu aja yang terlalu serius dan asik main game sampai engga sadar gue panggil." protes Vay. "Yaudah udah selesai kan? Yuk tidur." ajak Erlang seraya menutup game di handphonenya, Vay mengangguk kecil. Ia tentunya sangat lelah dan ingin segera tidur. Saat Vay ingin menutup matanya, Erlang menarik kedua kelopak mata Vay naik. "Tapi itu dulu." Vay menatap Erlang bingung. Ia mencoba melepaskan tangan Erlang yang sedang menarik kedua kelopak matanya. "Apa sih Erlang? itu itu! gue capek!" jawab Vay ketus . Erlang tertawa kecil lalu mencium kening Vay. "Cium kening dulu maksudnya, pikirannya itu jangan kotor makanya." Ledek Erlang. "Gue engga ada kotor ya pikirannya, lu aja kali." balas Vay "Bohongnya." jawab Erlang "Ngapain bohong coba." Erlang menghadap kearah Vay dan mendekatkan badannya dengannya pada istrinya itu. Erlang Merengkuh pinggang Vay untuk mendekat kearahnya kemudian memeluknya erat. Seketika Vay kaku dan diam-diam ia menelan ludahnya dengan paksa. "Noh kan maksa banget nelen ludahnya." Erlang tertawa lalu melepaskan tangannya dari pinggang Vay. “Apa sih lu Erlang engga jelas banget!” "Udah jujur aja lu pikirannya kotor kan tadi?" "Kalau iya kenapa? Lu mau apa?" "Makan lu." jawab Erlang disertai senyuman yang entah apa artinya tapi sukses membuat Vay bergidik ngeri. "Yaudah sih." jawab Vay sambil membalikkan badannya membelakangi Erlang. "Oke. Kalau itu mau lu. " Erlang merapatkan dirinya kembali kearah Vay. Deru nafas Erlang bisa Vay rasakan begitu dekat. Tidak ada jarak kembali diantara mereka berdua. “udah tidur, lu pasti capek. Tidur Vay.” Degup jantung Vay sangat kencang namun ia berusaha untuk tidur. Erlang tersenyum puas dibalik badan Vay " lu milik gue sepenuhnya sekarang Vay, engga akan ada yang bisa ngambil lu dari gue. Seberapa menyebalkan sikap gue sama lu, lu tetep punya gue." batin Erlang. Vay pun tertidur dipelukan Erlang. Lelaki itu mengelus rambut istrinya sesekali ia tersenyum mengingat semua moment yg ia alami dengan Vay sebelum pernikahan mereka . Bermula dari orang yg tidak kenal dan menentang pernikahan ini, kecelakan Vay hingga akhirnya mereka berdua dipersatukan di depan altar. "Lu milik gue Vay, selamanya." . . . . . . to be continued…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN