Baru saja Sagara merebahkan diri setelah menyapu dan mengepel kamarnya. Dia belum sempat beres-beres hal lainnya. Hanya baru dibersihkan ala kadarnya asal kamar kos yang disewa bisa ditempati untuk tidur. Barang-barang pribadi yang dibawanya dari rumah lama bahkan belum sempat dikeluarkan dari boks-boks yang dibiarkan menumpuk di dalam kamar. Ketika Sagara hendak memejamkan mata untuk terlelap sebentar sebelum kembali ke kafe lagi, tiba-tiba ponsel yang baru saja diisi dayanya berdering. Sebuah panggilan masuk dari salah satu karyawannya. Sagara terpaksa bangkit dari kasur busa tanpa dipan yang hanya bisa menampung satu orang dewasa untuk meraih ponsel yang berada di atas nakas. “Di mana, Bang?” tanya karyawan tersebut. “Di kosan. Kenapa? Ada masalah di kafe?” tanya Sagara dengan sua

