“Sudah kukatakan jika pertukaran kehidupan ini hanya akan membuat kita semakin berantakan.” Kinara mengangkat wajahnya, menatap Zeline yang sedang duduk dengan lemas setelah berusaha keras untuk meyakinkan Ayuka. Ya, akhirnya perempuan menyebalkan itu mau pulang dan keluar dari rumah Zeline setelah mereka melakukan negosiasi selama lebih dari dua jam. Kinara benar-benar merasa geli dengan perbuatan mereka saat ini. Untuk apa mereka melakukan negosiasi dengan Ayuka? Apalagi hasil negosiasi itu kebanyakan menguntungkan Ayuka dan membuat Kinara merasa sengsara. Bukan hanya Kinara, bahkan lebih cenderung merugikan Zeline. “Lalu kamu memiliki ide lain? Kamu ingin kita kembali ke kehidupan kita masing-masing? Bagaimana caranya?” Tanya Zeline. Berhadapan dengan Zeline tidak semudah yang ia

