Kinara pulang ke rumahnya dengan perasaan hampa. Oh, bukan rumahnya, tapi rumah Zeline yang ia tinggali sementara. Atau mungkin untuk waktu yang masih bisa ditentukan. Kinara sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa menemui Zeline dan berbicara panjang lebar dengan perempuan itu padahal awalnya ia hampir pingsan ketika melihat ibunya pulang bersama Zeline. Dan yang paling aneh adalah saat ibunya merangkul bahu Zeline sambil tertawa bersama. Ayolah, Kinara tidak mungkin merasa cemburu pada Zeline, bukan? Selama ini Kinara tidak pernah dekat dengan ibunya karena setiap kali melihat wanita itu, ia pasti akan merasa kesal. Dan ibunya bukan tipe ibu galak yang bisa merah atau memukulnya ketika ia mulai mengatakan kata-k********r, sehingga akhirnya Kinara terbiasa dengan cara bicaranya. Mungki

