Kinara tidak tahu apa yang merasuki dirinya hingga ia memutuskan untuk datang ke rumahnya. Entahlah, Kinara sendiri merasa menyesal ketika ia melihat raut terkejut Zeline, apalagi saat perempuan itu menatapnya dengan tidak nyaman. Jujur saja, Kinara mulai merindukan rumahnya. Ia rindu pada suasana keluarganya yang dulu terasa sangat menyebalkan. Baru-baru ini Kinara menyadari jika ia baru bisa menghargai sesuatu setelah merasakan kehilangan. “Bagaimana kebarmu?” Zeline membuka suara setelah mereka terdiam dalam waktu yang cukup lama. Hanya saling berusaha sibuk dengan ponsel maupun minuman yang telah dipesan sejak sepuluh menit lalu. Karena mereka tidak bisa berbicara di mobil, akhirnya Zeline memutuskan untuk pergi ke sebuah kafe terdekat. Mereka memesan satu ruangan privat seperti

