Zeline menatap layar ponselnya dengan pandangan tidak percaya. Dareen baru saja menghubunginya dan mengatakan jika ia akan datang besok siang. Wow, Zeline tidak percaya bisa sesenang ini hanya karena mendengar suara Dareen. Jujur saja pria itu sering Zeline rindukan belakangan ini. Satu-satunya orang yang selalu ada di sisinya sekalipun ia sendiri sedang sibuk mengurus pekerjaan. “Astaga, Kinara. Kenapa kamu melamun? Ada banyak pembeli yang bertanya padamu.” Ibunya Kinara datang dan menggoyang bahu Zeline dengan pelan. Zeline mengerjapkan matanya. Ia melihat antrian panjang di meja pembayaran karena tadi ia sempat fokus mengangkat panggilan Dareen. Tanpa sadar Zeline tidak memperhatikan sekitarnya karena terlalu sibuk memikirkan Dareen. Zeline tidak percaya ini. Biasanya, sesibuk apa

