Kinara kembali melangkahkan kakinya ke dalam rumah megah yang selalu sepi dan sunyi. Kadang-kadang Kinara memikirkan betapa suramnya rumah tersebut karena terlalu besar untuk ditinggali oleh keluarga super sibuk yang sangat jarang berkumpul bersama di rumah. Ibunya Zeline sudah berangkat sejak dua hari yang lalu. Wanita itu pergi tanpa berpamitan seolah hal itu sangat biasa terjadi di rumah ini, padahal dia akan pergi ke luar negeri, bukan membeli garam di warung depan rumah. Sudahlah, Kinara tidak ingin terlalu memikirkan wanita itu karena jujur saja ia lebih tenang tanpa kehadiran ibunya Zeline. Seandainya wanita itu melihat betapa kacaunya Kinara belakangan ini, pasti dia sudah terkena serangan jantung ketika melihat putrinya muncul dengan penampilan berantakan dan mata memerah yang

