Bab.5 Kegilaan Tadi Malam

662 Kata
  Temanku akhirnya menelepon kembali sekitar jam sepuluh pagi, dia terkejut, "Kenapa kamu datang begitu cepat? Aku kira kamu akan datang dua hari lagi."   Aku duduk di tempat tidur sambil menyilangkan kaki, dengan tidak sabar berkata, "Jangan banyak omong, cepat berikan alamatmu."   Temanku mengatakan dia berada di Desa Kayu, dia menyuruhku naik bus antar kota dari Selatan kota, hari ini dia tidak kerja, dia akan izin untuk menungguku di terminal.   Setelah menutup telepon, aku segera berkemas, tetapi enggan untuk pergi.   Wangi tubuh Atai masih tercium di kamar ini, tempat tidur, selimut, bantal, semuanya memiliki wangi tubuh Atai.   Aku pelan-pelan mengukur kamar itu dengan kakiku, mengingat kembali kegilaan tadi malam, hampir setiap bagian ruangan memiliki jejak pertempuran, ambang jendela, kabinet, kamar mandi, tempat tidur kiri dan kanan, bahkan lantai, di semua tempat itu terdapat bekas pertempuran kami.   Tapi mengapa dia pergi begitu saja?   Malam yang begitu gila, hanya untuk mendapatkan enam ratus ribu dariku?   Setelah melewati beberapa tikungan dan belokan, akhirnya aku tiba di terminal Desa Kayu, aku mencari Wartel untuk menelpon temanku, dengan segera ada telepon kembali, dari sebuah nomor ponsel.   "Halo." terdengar suara dari ujung telepon, "Apakah saya berbicara dengan Pak Heriyanto?"   Mendengar suara ini, aku tidak bisa menahan tawa, menjawab, "Betul, saya Pak Heriyanto, maaf apakah saya sedang berbicara dengan Pak Firdaus?"   Terdengar suara tertawa dari ujung sana, "Tidak, tolong panggil saya Presdir Firdaus."   Firdaus Mulyono, dia adalah teman baikku sejak kecil, hubungan kami sangat dekat, sudah seperti saudara, tapi sangat disayangkan sejak kecil anak ini tidak memiliki ambisi dalam belajar, seharian kerjanya hanya membaca komik, lalu dia putus sekolah karena terjadi sesuatu saat SMA kelas satu, kemudian mengikuti sepupunya ke Pangkasar, dalam sekejap sudah dua tahun kami tidak bertemu, tidak tahu apakah sekarang dia sudah berubah.   Aku menunggu dengan sabar di Wartel, tidak lama kemudian, aku melihat seorang pria hitam dengan tubuh tinggi besar berjalan ke arahku, dari jauh dia telah membuka tangannya lebar-lebar sambil tersenyum, akhirnya teman baik yang sudah lama tidak bertemu dipertemukan.   ...   "Barang ini akan menjadi milikmu." Firdaus meletakkan pager Motorola di atas kaca meja makan, mendorongnya perlahan ke arahku.   Aku sedikit terkejut, "Bagaimana denganmu?"   "Aku menggunakan ini." Firdaus meletakkan benda seperti batu bata di depannya, oh bukan, itu ponsel Nokia, dia dengan bangga menarik antena dengan giginya, "Kedepannya kita bisa saling menghubungi kapan pun, dan di mana pun."   Aku menatap ponsel Nokia hitam itu dengan iri, dalam hati berpikir kapan aku bisa memiliki ponsel seperti itu.   Firdaus dapat menebak keinginan hatiku, dia berkata dengan suara keras, "Karena kamu sudah sampai di sini, kamu tidak perlu khawatir, jika kita berdua melakukan pekerjaan dengan baik, cepat atau lambat kita dapat menguasai dunia, apa artinya ponsel ini? Mobil, rumah, wanita, kita akan memiliki semuanya."   Dua tahun tidak bertemu, cara bicara Firdaus telah berubah, seperti bos besar.   "Jadi sekarang apa pekerjaanmu? Aku sudah menanyakan beberapa kali di telepon, tapi kamu tidak menjawab."   "Hmm." Wajah Firdaus tampak bangga, "Kamu tidak akan menyangkanya, aku sekarang melakukan pekerjaan mulia, aku mengatur para karyawan, kehidupan ribuan karyawan di pabrik ada di tanganku."   "Bicaralah dengan jelas!" Aku menggebrak meja.   Firdaus meciut, dengan cemberut berkata, "Apa lagi yang bisa aku lakukan, aku jadi juru masak!"   Perkataan ini membuatku sangat terkejut, melihat ekspresinya sepertinya dia mengatakan yang sebenarnya, aku tidak bisa menahan tawa, benar-benar tidak menyangka Firdaus yang tinggi besar ternyata bisa menjadi juru masak, pantas saja selama dua tahun ini dia tidak bersedia mengatakan pada keluarganya apa pekerjaannya di luar sana. Anak ini dari dulu begitu ambisius, jika ada yang tahu dia adalah seorang juru masak, dia takut orang lain akan menertawakannya.   Aku menuangkan bir untuknya sambil berkata, "Juru masak memangnya kenapa, tidak ada yang memalukan dengan pekerjaan ini, kenapa kamu tidak mau mengatakannya pada keluargamu."   Mata Firdaus berbinar, mendekat dan berkata, "Aku bukannya malu dengan pekerjaanku, aku merasa malu karena tidak bisa mendapat banyak uang, baguslah sekarang kamu sudah datang, kita dapat bekerja sama dengan baik, berusaha keras mencari uang."   Mendengar ini aku juga mulai bersemangat, kita keluar bekerja, bukankah memang untuk mencari uang?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN