Bab.6 Aku Ingin Kamu Tidur Dengan Istriku

770 Kata
  Firdaus mengatakan kalau pabrik tempatnya bekerja memiliki ribuan karyawan, hanya untuk biaya makan saja menghabiskan dua puluh juta sehari, dia sudah menghitungnya dengan teliti, bos memberikan anggaran ke dapur sebesar dua puluh ribu per orang per hari, tapi biaya yang dikeluarkan dapur hanya sepuluh ribu, jadi perantara mendapatkan setengahnya sebagai keuntungan. Bisnis ini sangat efektif, dalam sehari bisa mendapatkan keuntungan sepuluh juta, dalam sepuluh hari mendapatkan seratus juta, dalam satu bulan mendapatkan tiga ratus juta, kalau begitu dalam setahun bisa mendapatkan tiga koma enam miliar, kita berdua akan menjadi kaya.   Firdaus mengatakan itu, aku pun tergoda, benar-benar keuntungan yang besar, saat aku datang aku memiliki tujuan dalam hatiku, aku sudah merasa puas jika bisa mendapatkan empat juta dalam sebulan, tapi sekarang bisa mendapatkan keuntungan dua ratus juta dalam sebulan, bukankah ini serasa naik ke surga?   Tapi pertanyaannya adalah, apakah benar-benar bisa mendapatkan untung besar seperti yang dikatakan Firdaus?   Kalian perlu tahu, di Jaya Timur pada tahun 2000, sebagai karyawan biasa jika bisa mendapatkan gaji sebesar satu juta enam ratus per bulan saja itu sudah bagus, sebagian besar pekerja walaupun sudah bekerja keras tidak akan mendapatkan gaji lebih dari delapan ratus ribu atau sejuta per bulan.   Firdaus berkata, "Aku sudah membuat rencana, besok aku akan membawamu untuk bekerja di dapur dulu, tunggu sampai kamu sudah familiar dengan lingkungan kerja, kita harus melakukan sesuatu pada makanan, supaya kerjasamanya dibatalkan dan kemudian kita mengambil alih, mendapatkan kontrak untuk makanan kantin."   Perkataan ini membuatku merinding, "Apakah mereka akan dengan pasrah melepaskan sumber keuangan mereka? Jika kamu adalah dia, apakah kamu akan pasrah begitu saja? Dan juga, berdasarkan apa kita bisa merebut kontrak itu, bagaimana pemilik pabrik bisa mempercayai kita?"   Firdaus tertawa, "Kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu, semuanya sudah diatur, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat."   Makan kali ini menghabiskan waktu yang cukup lama, tidak terasa sudah jam tujuh, ponsel Nokia Firdaus bergetar, dia menjawab telepon dengan keadaan mabuk, "Yati, aku tidak bisa pulang sekarang, aduh bukankah aku sudah memberitahumu, aku pergi menjemput teman baikku, ya, aku di stasiun kereta api Megakasar, sudah dulu ya." Selesai bicara langsung menutup telepon, tidak peduli dengan tatapanku yang terkejut.   Aku berkata, "Firdaus, b*ngsat kamu, saat itu di telepon kamu mengatakan kamu sibuk, tidak dapat pergi ke Megakasar untuk menjemputku."   Mendengar ini Firdaus tersenyum licik, "Aku tidak berbohong, aku benar-benar sibuk."   Aku menunjuk ke ponsel dan berkata, "Kalau begitu apa maksud telepon tadi?"   Firdaus menjawab, "Itu telepon dari Yati, istriku, tapi aku tidak ingin membawamu menemuinya hari ini, aku punya rencana lain."   Aku menunjuk wajahku dan berkata, "S*al, dasar b*jingan, jika kamu pergi ke Megakasar untuk menjemputku, aku juga tidak akan berada di posisi ini."   Firdaus tertawa, "Iya iya, anggap saja ini salahku, kesalahanku, begini saja, sekarang aku akan memberi kompensasi padamu, ayo pergi."   Yang Firdaus maksud dengan kompensasi, adalah membawaku ke distrik merah, saat ini tampah begitu banyak salon dimana-mana di Desa Kayu, langit malam begitu gelap, di setiap pintu salon terdapat lampu warna warni, berbagai jenis wanita berdiri di depan toko, berusaha menarik perhatian pada para lelaki yang melewati salon.   Melihat para wanita dengan baju terbuka, aku langsung teringat pada Atai, jadi aku berkata pada Firdaus, "Lupakan saja, hari ini aku sedikit lelah."   Firdaus tertawa, "Justru karena kamu lelah setelah perjalanan, jadi aku menarikmu ke sini, aku ingin membuatmu bersantai, jangan sampai kamu bilang sobatmu ini tidak mengurusmu, ini baru namanya menyambut tamu."   Setelah mengatakan itu dia tidak peduli apakah aku bersedia atau tidak, dia menarikku, "Untuk menyambutmu, aku sudah menyiapkan seorang wanita untukmu, benar-benar bening, setelah hari ini, hubungan kita akan semakin dekat."   "Lebih dekat?" Aku bertanya, "Bukankah hubungan kita sudah sangat dekat sekarang?"   Firdaus menyipitkan matanya, "Sedekat apa hubungan kita sekarang? Hubungan kita bisa dikatakan sangat dekat jika kita sama-sama pernah menembak pada lubang yang sama."   Melihat aku masih tidak mengerti, Firdaus berkata blak-blakan padaku, "Aku ingin kamu tidur dengan istriku, hubungan ini sangat dekat tidak?"   Aku tiba-tiba tercengang, ekspresiku tidak bagus, "Firdaus, kamu mabuk."   Firdaus menggoyang-goyangkan rokok di tangannya, "Aku tidak mabuk, dengarkan saja aku, ayo ikut aku, aku akan menunjukkan istriku padamu, tidak ada wanita yang lebih cantik darinya di kampung kita, benar-benar bening, kamu pasti akan puas."   Semakin mendengarnya, aku semakin merasa Firdaus mabuk, aku memapahnya berjalan keluar, "Oke, oke, aku tahu, kalau begitu ayo kita cari tempat untuk mandi dulu, oke?"   Tidak menyangka Firdaus berbalik menarikku, dan tertawa, "Sobat, aku tidak mabuk, ikuti saja aku, di sana ada tempat untukmu mandi."   Pada akhirnya, aku tidak bisa membujuk Firdaus, begitu dia bersikeras, tidak ada yang bisa membujuknya. Tidak lama kemudian, dia menarikku ke depan pintu sebuah tempat biliar, sambil tersenyum menunjuk pintu dan berkata padaku, "Lihat, ini adalah rumah mertuaku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN