Cemburu : Perihal Cantik

1401 Kata
Ini sudah hampir pukul 7, tapi Mas Rama masih saja terbaring lelap di ranjang tempat tidur. Berkali-kali kubangunkan tapi ia masih saja enggan membuka matanya, malah meringkuk di balik selimut hangatnya. “Mas, hari ini kamu gak akan pergi ke kantor?” Tanyaku, pada bayi besar yang masih pulas tertidur dengan tubuh polosnya sisa aktifitas semalam. “Mas” “Ehmm...” Panggilanku hanya di balas dengan dehemannya saja. Aku tak tahu harus bagaimana lagi untuk membangunkan CEO yang manja sekali sifatnya ini. “Mas, mau bangun enggga?” “Iya, lima menit lagi sayang...” Balasnya sama seperti setengah jam yang lalu, saat kubangunkan dirinya. Lima menitnya itu akan berubah jadi satu jam kalau kujumlahkan sedari awal tadi saat kucoba bangunkan dirinya. “Bilang di seminar, katanya kalo mau sukes harus berhenti snooze alarm, tapi Mas sendiri di bangunin susah banget, tunda terus... lima menit lagi, sebentar lagi, iya, ehmm gitu terus jawabnya, tapi bangunnya engga... Masa panutan generasi muda sekarang, aslinya kaya gini sih...” *(Snoze artinya adalah tidur sebentar, fitur alarm yang memberikan waktu untuk tidur lagi sampai alarm berbunyi kembali pada 5-10 menit kemudian. Fitur ini dapat di ulang berkali-kali hingga kita siap bangun dan mulai beraktifitas) Setelah kusinggung Mas Rama dengan berkata begitu, tampaknya ia mulai mau membuka matanya. Meski terlihat hanya sebelah saja yang baru melek saat ini. “Mas ngantuk parah sayang, ternyata tiduran males-malesan kaya gini bikin betah banget...” Aku tersenyum geli mendengar Mas Rama yang berkata begitu. Atau mungkin memang sudah waktunya ia harus mengambil jeda untuk istrirahat sejenak di tengah-tengah jadwal padatnya. “Mas mau bolos? Nanti biar aku hubungin Bimo” Tapi Mas Rama menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyumnya, begitu kutawari dirinya untuk bolos bekerja. “Perusahaan berantakan kalo pemiliknya bolos-bolos terus kerjanya” Ternyata Mas Rama masih cukup sadar, bahwa tanggung jawab yang di embannya itu amat besar. Akhinya kutundukan wajahku untuk lebih dekat padanya. “kalo gitu ayo bangun...” Ucapku sambil kutangkup wajahnya yang terlihat lebih mengkilap dan sedikit mengembang, khas bangun tidurnya itu. “Besok-besok mainnya jangan berlebihan, jadi susah bangun gini kan...” Ingatku atas apa yang sudah di lakukannya padaku semalam. “Ya suruh siapa badan kamunya enak, bikin nagih deh...” Aku menyirit, sambil mengulum senyumku mendengar apa yang sudah di katakannya barusan itu. Haruskah ia sejujur itu, pikirku. “Ayo cepet bangun, aku buatin sarapan” “Cium dulu...” Sikapnya ini benar-benar membuatku merasa sudah memiliki seorang anak saja. Meski tak keberatan juga untuk kuberikan pintanya itu. Karena tak bisa aku membohongi diri, kalau aku pun tengah merindukan bibirnya yang terlihat lebih tebal dan cukup menggoda untuk kucicipi pagi ini. Cup “Bukan di kecup, di cium sayang...” Aku dibuat sampai terkehkeh mendengar Mas Rama yang protes karena bibirku yang mendarat singkat di bibirnya. Sepertinya suamiku ini tak ingin membuang-buang banyak waktu, hingga tangan Mas Rama langsung meraih wajahku dan di raupnya bibirku ini lembut olehnya. Morning kiss memang satu dari banyak hal baik untuk memulai hari agar lebih bersemangat. Bahkan yang k****a dari sebuah artikel, ciuman bibir bersama suami di pagi hari dapat meninggkatkan hormone dopamine, oksitosin, dan serotonin yang membuat kita dengan pasangan bisa lebih bahagia, sampai bisa menurunkan kadar stress seseorang. Bahkan ada yang mengatakan kalau morning kiss bisa meningkatkan system imunitas seseorang, dari proses saling berbagi mikro biota pada saliva yang membuat tubuh jadi memproduksi antibody, sehingga bisa tahan terhadap benda asing yang akan masuk ke dalam tubuh kita. Lama kami saling melumat, menikmati cumbu, bertemu dalam cium mesra sebelum memulai hari yang cukup sendu di luar sana. “Ayo bangun” Ucapku begitu bibirku terlepas dari Mas Rama. “Iya iyaa sayang...” Akhirnya Mas Rama membangunkan tubuh malasnya itu dan berdiri dengan bertelanjang diri, lalu pergi ke kamar mandi. “Hhh, yang benar saja Mas Rama itu” Gumamku. Dan selagi Mas Rama mandi, kusiapkan pakainnya yang akan di pakainya hari ini, sebelum kubuatkan sarapan sederhana untuknya pagi ini. Tak butuh waktu lama untuk Mas Rama bersiap dan kini sudah duduk di meja makan, menyantap sandwich dan kopi yang kusiapkan untukknya. Sementara aku mulai menikmati banana smoothie sambil kumainkan handphoneku, membuka laman media social. Akun official perusahaan Mas Rama kulihat banyak sekali memasang wajah-wajah cerah, cantic dan aura yang terpancar sangat fresh, eye catching sekali di mata. Membuat siapaun yang memandanginya ingin jadi bagian dari mereka-mereka yang berkarir di perusahaan Mas Rama. Aku pikir itu adalah strategi perusahaannya yang memang ingin membangun citra yang di fokuskan menarik kaum muda sekarang di dunia startup. Bahkan kulihat beberapa artikel dan beberapa tweet yang mengatakan bahwa perusahan Mas Rama tengah menjadi incaran para pencari kerja generasi muda saat ini. Namun yang menjadi fokusku dari semua laman yang berkaitan dengan perusahaan Mas Rama adalah banyaknya profil karyawan yang nampaknya tak ada yang memiliki penampilan fisik di bawah standar. Semuanya sangat memanjakan mata, cantik dan sangat mempesona. “Cantik banget” Gumamku sambil memandangi salah satu profile karyawan di perusahaan Mas Rama yang ternyata memiliki blog pribadi dan cukup di minati oleh para pengguna media social saat ini. “Siapa?” “Karyawan kamu” Mas Rama hanya terkehkeh mendengar jawabku itu. “Mas, punya penampilan fisik yang menarik itu emang penting ya buat pencari kerja sekarang?” “Maksudnya?” “Iya, maksudnya setiap kali aku liat persyaratan lamaran kerja, pasti aja tercantum harus punya penampilan fisik yang menarik, emang itu berpengaruh banget ya di dunia kerja dan perusahaan?” Meski sesungguhnya tak ada kaitannya denganku, tapi aku cukup penasaran dengan yang satu itu. Dan kulihat kini Mas Rama menaruh roti di tangannya lalu mengambil minumnya, sebelum kemudian menjawab tanyaku. “Ehm gimana ya, sebenernya skill, sama karakter sih yang utama, tapi karena penampilan itu mencerminkan kepribadian, ya mungkin itu sebabnya mereka masukin syarat itu buat para pelamar...” “Coverkan gak tentuin isi Mas...” Balasku, rasanya tak adil kalau sampai penampilan fisik harus mengalahkan kemampuan, yang mungkin saja kalah bisa saing di saat penerimaan karyawan. “Iya tapi kan waktu wawancara yang keliatan covernya, isinya ya nanti pas udah kerja, lagian staff HR pasti tau kok yang mana dan orang-orang seperti apa yang di butuhin sama perusahaan...” *(Human Resource, departeman yang bertanggung jawab dalam menangani pengelolaan sumber daya perusahaan yaitu karyawan, di dalam suatu perusahaan atau organisasi) “Yang cantic? kaya gini yang di butuhin sama perusahaan kamu? gitu?” Kuperlihatkan deretan foto-foto perempuan yang layaknya seperti hasil pemotretan model-model, yang biasa terpampang di majalah kecantikan, dengan hastag nama perusahaan Mas Rama. “Ya itu sih kebetulan aja, lagian kalo penampilan mereka acak-acakan, itu kan artinya merawat diri sendiri mereka aja gak bisa, terus gimana mereka bisa ambil tanggung jawab sama kerjaan di perusahaan sayang... “.... lagian cantik itu menurut Mas sih, ehmm hasil akhir dari perempuan yang bisa merawat dirinya dengan baik, kaya kamu ini...” Aku tersenyum karena ia mengakhiri kalimatnya dengan memujiku seperti itu. “Kirain aku karyawan kamu cantic-cantik itu karena biar CEO-nya bisa cuci mata” “Ih, engga ya, mana sempet, mata suami kamu ini sibuk urusin data kerjaan” Balasnya. Begitulah obrolan pagi yang mengawali hariku ini sebelum mengantar Mas Rama ke depan pintu rumah untuk berangkat ke kantor. “Hhh sepi deh...” Gumamku di sertai hembusan napas panjang pada rumah luas yang luang, yang kudiami sendiri sepanjang hari sampai Mas Rama kembali lagi nanti. Aku berkaca, menemukan bayang wajahku di sana. “Kayanya, aura aku kalah terpancar sama mereka-mereka yang ada di perusahaan Mas Rama” Entah kenapa, menurutku wajah-wajah yang kulihat tadi memiliki sesuatu yang tak kumiliki lagi. Kerlingan dan binary mata mereka tampak hidup, berbeda dengan yang terpantul dari cermin di depanku saat ini. Kekhawatiran menghampiriku, bagaimana jika Mas Rama bosan padaku dan dengan posisinya saat ini ia tentu bisa memilih siapapun yang ia mau. “Kayanya aku harus perawatan lagi deh, terus diet dan olaharaga rutin lagi...” “wajah sama badan aku ini asset berharga buat kebahagiaan rumah tangga aku sama Mas Rama, aku gak pernah tau mungkin aja di luar sana ada yang lagi bersiap mau rebut dan goda suami aku kan” “Iya aku harus cantik, gak boleh kalah cantic dari mereka” Kuputuskan untuk merawat diriku lebih baik lagi kedepannya. Karena aku tak bisa seperti Lisa yang akan menagih pertanggung jawaban atas anak saat kesetian suaminya mulai di pertanyakan. Aku hanya memiliki diriku sendiri dengan kurangku yang belum juga bisa memberikan buah hati untuk Mas Rama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN