Sementara itu di tempat lain, beberapa saat sebelum pesan berisikan foto Shinta yang di penuhi kiss mark itu terkirim, Shinta terlihat hanya bisa duduk di depan cermin riasnya, memandangi banyak bekas cumbuan suaminya.
“padahal mau pake sport bra yoga, kalo gini sih aku bakal di jadiin bahan tertawaan orang-orang di sana”
“Shin ayo buruannn”
Cika yang ternyata di paksa untuk mengikuti kelas yoga untuk menemani Shinta, kini menyembulkan kepalanya mengintip Shinta dari balik pintu karena terlalu lama berganti pakaian di dalam kamarnya.
“gak jadi ah, liat nih ulah Mas Rama”
Gerutunya dengan memasang wajah masamnya.
“ihhh... Suami kamu ganas yaa, sampe merah-merah gini...”
Cika malah membalas berkata demikian sambil tertawa melihat banyaknya kiss mark di leher Shinta. Dan yang membuat Shinta lebih kesal adalah karena letaknya itu yang berada di bagian yang tak bisa di tutupinya oleh pakaian yang lebih panjang, tepatnya di leher, rahang sampai beberapa di belakang tubuhnya.
“gimana dong, masa udah skip aja di kelas pertama”
“Shin, sini aku foto, terus nanti kamu kirimin fotonya ke Mas Rama”
“ish ngapain? Mas Rama ada rapat hari ini, dia pasti sibuk”
Balas Shinta jelas ia tak ingin melakukan ide konyol sahabatnya itu.
“justru itu, coba godain dia pas lagi rapat terus kamu liat gimana reaksinya...”
Shinta sedikitnya mulai tertarik dengan ide yang semula ia anggap tak mungkin bahkan tak pantas untuk di lakukannya. Shinta kemudian menyerahkan handphonenya kepada Cika untuk memotret ulah Rama di tubuhnya itu.
“turunin dikit”
Perintahnya pada Shinta. Meski Shinta kini terlihat menaikan alisnya seolah tak ingin setuju, tapi tangan istri Rama itu akhirnya menurunkan bagian depan pakaiannya sampai memeperlihatkan kulit dadanya yang di hiasi bekas kecupan liar Rama.
“hihihi... parah emang Mas Rama”
Cika tersenyum puas saat telah berhasil mendapatkan satu potret bagian tubuh atas Shinta yang di penuhi bekas cumbuan itu.
“kayanya percuma deh gak akan di baca pesan akunya, di bukanya pasti nanti abis jam makan siang”
“coba aja dulu siapa tau sexting ini berhasil”
“sexting???”
“Iya sexting, ituloh s*x - texting, chat ‘nakal’ yang biasanya bikin suami b*******h”
Shinta hanya diam, sedang loading mencerna ide sahabatnya itu.
“ayo di coba ajaa, katanya Sexting itu bisa tingkatin kemesraan, terus bisa nambah kepercayaan diri, memperkuat hubungan intim, sama tingkatin gairah sexual...”
Shinta sedikit mengerutkan dahinya begitu mendengarkan penjelasan sahabatnya itu.
“kok kamu tau banget sih?? kan kamu gak punya suami, jangan bilang... kamu suka sexting sama suami orang yaa???”
Plakkkk
“aww!”
Kecurigaan Shinta itu malah berakhir dengan satu pukulan di dahinya oleh sahabatnya itu. Jelas Shinta meringis karena kena pukul tangan kuat Cika yang hobi berolahraga itu.
“enak aja, aku kan sempet jadi editor Majalah Fimela, jadi aku sedikitnya tau serba-serbi perempuan, istri, ibu, yang gitu-gitu deh”
Shinta langsung membulatkan bibirnya membentuk o kecil, ber-oh ria pada sahabatnya yang baru saja di curigainya itu.
“ayo cepet ketik...”
“apaan?”
“kok apaan, ya sextingnya Shintaaa...”
“ah iya lupa, sebentar apa yaa...”
Shinta terlihat senyum senyum sendiri sambil mengetikan beberapa kalimat menggoda untuk suaminya itu.
Mas
Aku jadi bisa gak ikut kelas yoga gara-gara kamu *emot sedih dan marah
Tapi anehnya aku pengen yang tadi subuh, gak mau kiss marknya, pengen bibir kamunya aja...
Cika langsung memandang geli pada sahabatnya yang ternyata diam-diam berbakat juga soal mengirimkan pesan nakal pada suaminya itu.
“ih... geliiii”
Shinta hanya cengengesan saja mendengar dan melihat Cika yang tampak kegelian itu.
“gak papalah sama suami sendiri hihihi”
“sering-sering kirim sexting sama Mas Rama, jadi liar buat suami itu katanya perlu, biar gak cari yang liar-liar di luar sana”
“halahh... mau sexting, s*x, kalo gak ada yang berbuah yaa gimana ya...”
Gerutu Shinta,
“Heh! bersyukur sedikit kenapa, lagian tuh dari pada terus pusing sama hasilnya, nikmatin aja dulu prosesnya...”
“... dan mungkin aja tubuh kamu sama Mas Rama itu lagi menyeleksi bibit terbaik buat di jadiin anak yang hebat nanti, secara penerus CEO Startup Unicorn kan yaaa, jadi mungkin butuh proses yang lebih lama aja...”
Shinta terkehkeh mendengar ucapan Cika yang mampu menghibur dan mengobati hati yang sempat jadi sendu barusan itu.
“iya sih, emang paling nikmat prosesnya apalagi sama Mas Rama”
“ish, kan kan kan... bisa gak, gak usah pake acar pamer depan jomblo kaya gue inii...”
Shinta mendapat protes dari Cika yang memang masih belum menikah dan focus pada karir itu.
Karena tak jadi mengikuti kelas yoga hari ini, Shinta dan Cika akhirnya jadi berakhir di salah satu kafe tempatnya menghabiskan siang yang panas dengan Iced Americano-nya. Tapi rupanya pemandangan kota yang sangat cerah siang ini tak cukup untuk menarik perhatian Shinta, karena ia sibuk terus berbalas pesan saling menggoda dengan suaminya.
“foreplaynya nanti aja bisa gak sih, tau bakal di cuekin gini tadi pergi ngantor aja deh gue...”
“hehehe...”
Sampai kemudian sepasang sahabat itu tampak merapatkan bibir mereka, diam dalam hening karena tak ingin menggangu, saat sepasang kekasih yang duduk di meja belakang mereka tengah membicarkan sesuatu yang terdengar cukup serius.
“....”
“Rey, kayanya kita cukup sampe di sini aja deh, aku capee...”
Kalimat itu terucap dari seorang wanita yang duduk tepat berpunggungan dengan Shinta.
“cape? cape kenapa??”
“aku cape nunggu kepastian dari kamu, hubungan kita ini gak jelas dan gak tau mau di bawa kemana?”
“gak jelas gimana sih sayang, apa tiap malem kita bercinta itu gak cukup jadi bukti cinta aku ke kamu?”
Balas si pria yang langsung membuat mata sepasang sahabat itu bertemu, terlihat sama tengah di bulatkan keduanya, sampai mereka memilih untuk serius mendengarkan percakapan itu dengan telinga yang awas, ingin mengetahui kelanjutan dan ending dari kisah hubungan yang sudah ada di ujung tanduk itu.
“jujur aja, aku gak yakin... setiap kamu minta aku buat tidur sama kamu dengan alasan kalo itu adalah bukti cinta kamu sama aku, aku ngerasa kalo aku ini malah cuma jadi pemuas nafsu kamu aja, gak lebih dari lacur-lacur yang ada di luaran sana...”
Ungkap si wanita itu lebih jauh.
“cih, bilang aja kalo kamu udah punya cowok lain yang lebih tajir dari aku kan...”
“Rey! kalo aku emang punya cowok lain, aku gak akan kasih semua pengen kamu yang ‘aneh-aneh’ itu!”
Percakapan mereka terdengar lebih panas saat ini.
“aneh-aneh?”
“aneh, iya aneh, aku mulai curiga sama kamu yang suka mintain aku foto nude”
Ucapnya dengan suara yang lebih di pelankan, Cika yang mendengar hal itu langsung memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya, ia jelas tahu sesuatu yang tak benar dan mengarah pada hubungan tak sehat atau toxic relationship tengah ada di depannya saat ini.
“aku cuma kangen kamu sayang! salah kalo aku pengen liat tubuh pacar aku sendiri? aku gak bisa sentuh kamu waktu itu, makanya aku minta itu...”
“apa arti hubungan ini buat kamu Rey? apa cuma biar bisa sentuh aku aja?”
Nadanya mulai terdengar bergetar, Shinta yang berada di belakang wanita yang mulai menggenangkan air mata itu jadi ikut geram dan marah pada kekasih yang ingin di putuskannya itu.
“denger, kita lakuin s*x itu sebagai bentuk komitmen dari hubungan kita...”
“tapi apa kamu bisa terus bilang kaya gitu, bisa dengan tegasnya bicara bawa-bawa komitmen kalo aku sampe hamil?”
Pertanyaan satu itu membuat suasana yang semula panas itu kini berubah menegang.
“aku- aku... gak tau, tapi-“
“aku hamil”
Ungkapnya, Tak hanya Pria itu yang di buatnya terkaget tapi Cika juga Shinta dengan mulut terperanganya mereka ikut syok mendengarnya.
“bohong! kamu pasti boongkan?? gila kamu Jess...”
“aku seriuss, di dalem perut aku ini ada anak kamu Rey...”
“hhh... kalo emang iya kamu hamil, terus kenapa tadi kamu minta putus??! hah??
Pria itu terdengar menolak untuk percaya, malah bertanya nyolot seperti itu.
“karena aku gak yakin anak ini bakal hidup kalo ayahnya kaya kamu!”
Isakan mulai menyertai ungkapan wanita itu.
“yaudah, kalo kamu emang anggap aku gak mampu buat hidupin anak itu, gugurin aja”
Dengan santainya pria itu berucap begitu, sampai sampai Shinta dan Cika langsung menoleh dan melemparkan mata tajam karena sikap tak bertanggung jawab si pria itu.
“apa liat-liat?!”
“HEH!! Lo yang apa-apaan, jadi laki gak bertanggung jawab!! sini Lo!!”
Cika langsung bangun dan siap untuk ribut bersama pria yang memang sudah ingin di tinjunya sedari tadi.
“gak ada kerjaan Lo ya, urus aja urusan Lo sendiri!!!”
Tak tahan Cika mendekat sambil menyiramkan segelas penuh minuman yang ada di mejanya.
“DASAR BUAYA SINTING!!!”
“kalo gak berani tanggung jawab, gak usah banyak tingkah!!”
Bentaknya keras, sampai jadilah Cika dan Pria itu kini menjadi pusat peratian karena telah membuat keributan. Sementara Shinta kini merengkuh tubuh wanita yang merupakan kekasih malang dari pria menyebalkan itu.
“Jess, gugurin! kalo engga gue sebar foto telanjang Lo!”
Ancamnya, dan itu membuat Cika benar-benar membulatkan kepalan tangannya ingin meninju wajah pria tak tahu malu itu. Tapi sebelum itu terjadi, Pria itu pergi terbirit-b***t melarikan diri dari hajaran Cika.
“aku harus gimana sekarang...”
Ungkap putus asa wanita yang ternyata terlihat masih muda itu. Dalam dekapan tubuh Shinta wanita yang menurut perkiraannya baru menginjak usia dua puluh tahunannya itu, memecah tangisnya.
“berapa banyak foto yang kamu kirim ke dia?”
Tanya Cika to the point, ia langsung menanyakan intinya dengan penuh emosi, mengesampingkan bagaimana kebingungannya wanita yang sedang di uasapi Shinta itu.
“banyak, aku- aku... nyesel banget suka sexting sama dia...”
“ngapain sexting kalo emang belum tentu ada keseriusan sampe pernikahan??”
“Cik, pelan-pelan kenapa, gak usah bentakin anak orang gitu...”
Ucap Shinta mengingatkan.
“Tapi itu bahayanya sexting, kalo komitmen hubungannya gak ada, hubungannya belum serius, yang ada jadi di manfaatin sama cowok gini kannn...”
Shinta menatap Cika yang terbakar emosi itu, wajahnya berbeda sekali saat ia menyuruh Shinta melakukan sexting pada Rama tadi.
“kita ke kantor polisi aja”
***
Shinta Pov
Mengenai apa yang kusaksikan tadi siang, perihal apa yang di inginkan dan apa yang tak di inginkan. Nyatanya banyak hal yang tak bisa kita kontrol di dunia ini, terutama soal kelahiran dan kematian, kehadiran dan kepergian, aku pikir jangkauan manusia tak akan bisa merengkuh langit seperti Sang Semesta di atas sana. Termasuk juga soal hujan sore ini.
“Hhh... padahal ramalan cuacanya cerah hari ini, tapi kenapa turun deras banget gini”
Gumamku sambil kutatapi setetes demi setetes hujan yang membuat efek blur pada kaca jendela kamarku.
“Sayang!”
Aku langsung menoleh mendengar suara pintu yang baru saja di buka dengan sangat tak sabar, yang kemudian di susul oleh panggilan sayang itu.
“Mas??? kenapa basah-basahan kaya-“
Tak kulanjutkan, langsung saja aku berjalan cepat mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Mas Rama yang kini basah kuyup tengah berdiri tepat di depan pintu kamar dengannya.
“Kenapa Mas nerobos ujan kaya gini sih??”
Gerutuku, tapi kulihat Mas Rama seperti tak habis melewati hujan di luar sana. Bahkan ia tersenyum cerah, aku sampai berpikir apa sinar matahari baru saja di curinya. Wajahnya yang berseri-seri bertolak belakang sekali dengan cuaca buruk sore hari ini.
“Ah! Basah Mas!”
Mas Rama malah mendekap tubuhku dengan tubuh basahnya yang belum selesai kukeringkan.
“ehmm kamu anget banget, dari pada di keringin pake handuk, mending sama kamu”
Ucapnya manja dan menempel lekat pada tubuhku yang juga jadi ikut basah karena ulahnya.
“Mas ah, jangan gini, lepasin dulu aku jadi ikut basah...”
“Basah? kamu basah? ehmmm....”
Mas Rama kini malah menampilkan berwajah anehnya padaku sambil bertanya bergitu.
Ia melemparkan tatapan nakal, juga smirk menggodanya padaku. Aku cukup sadar kalau itu adalah seperti alarm kalau sedang in the mood-nya. Sampai tanpa sadar kakiku sudah di bawa mundur ke belakang, memberikan jarak antara aku dengannya. Tapi hanya sesaat saja space itu tercipta, Mas Rama kini amat merapatkan tubuhnya padaku.
“Ini basah juga?”
“Ah!”
Langsung ku kerutkan tubuhku, kakiku juga jadi merapat, dengan sedikit berjinjit ulah tangannya yang tanpa permisi langsung menyapa area sensitive di bawah sana.
“Mas... apa sih”
“Ayolaaah, katanya tadi di chat bilangnya gak sabar pengen lagi yang semalem”
Mas Rama sepertinya menagih apa yang tadi di inginkannya. Tak tanggung-tanggung ia bahkan menolak untuk berakhir di 3 ronde saja malam nanti, habislah aku.
“Iy- iya tapi kamunya ganti baju dulu, kalo nanti kena flu terus demam gimana??”
“kan kamu angetin, malah di bikin panas terus keringetan kan? ehm?”
Aku tak bisa mengerti bagaimana pikiran liar itu bisa ada pada wajah yang terlihat seperti mahluk suci layaknya malaikat ini.
“Mas, mandi dulu, aku siapin air anget buat kamu mandi okey”
“hhh... yaudah mandinya sama kamu...”
Aku sampai menghela napas beratku, mungkin ini adalah efek dari sexting tadi siang, sepertinya itu benar-benar manjur sekali untuk meningkatkan keintiman, bahkan Mas Rama terlihat overload sekali manjanya kini.
“yaudah ayo...”
....
Dan berakhirlah kini aku dan Mas Rama di bath tube, Tangannya erat melingkar pada tubuh polosku yang sedang terendam dalam air berbusa ini.
Hening. Hanya suara kecupan, decakan bibirku yang bergelut lembut mesra bersamanya.
“sayang...”
“ehmm....”
“sering-sering kirim pesan manis kaya tadi ya...”
Pintanya tiba-tiba, aku terkehkeh geli sambil kusembunyikan wajah maluku pada pundaknya.
“Mas apaan sih, kita udah bukan ABG yang lagi pacaran atau pasangan yang baru nikah beberapa bulan”
Balasku masih kukulum senyumku sambil kuhirup aroma maskulin segar lehernya.
“lah, emang kenapa sama kita yang udah nikah mau lima tahun ini? gak boleh?”
“ehmm... bukan gitu... tapi ya, ehm gimana ya...”
“sayang, chat kamu itu tiga tahun terakhir lebih bawel dari ibu waktu aku kuliah dulu, jangan telat makan siang, hindarin kolestrol, jangan lupa banyak minum air, kurangin kafein-“
Mas Rama tak berani melanjutkan kalimatnya saat tahu aku tengah menatapnya datar siap merajuk padanya kini. Apa sekali dia itu, ternyata semua perhatianku selama ini malah di anggapnya tak jauh berbeda seperti perkataan ibu-ibu bawel.
“sayang, sayang... bukannya aku gak suka, aku malah makasih banget, tapi aku bakal lebih suka lagi kalo aku di kirimin chat kaya tadi, bikin semangat aku naiiiiik banget”
“tapi aku denger Mas malah tadi tunda rapat, terus pulang lebih cepet kaya gini, tinggalin kerjaan ke Boby...”
“ya itukan- itu kan aku gak nahan, kebelet, kalo ‘punya Mas’ berdiri di kantor, terus ketauan sama kayawan Mas gimana?”
Mas Rama beralasan begitu kini padaku,
“dan satu lagi... Mas kangen kamu bicara nakal sama Mas”
Aku langsung tertawa mendengar hal yang sedang dikangenkan(?) Mas Rama itu padaku.
“hahahahh... Mas Rama ini ada-ada aja sih”
“kok ada-ada aja? kamu itu sekarang Mas gombalin, ciumin, malah terus dieeem mulu, kaya udah Mas bikin kamu bisu tau gak...”
Ungkap Mas Rama,
Apa benar aku begitu? Tapi sedetik kemudian tiba-tiba saja aku jadi berpikir, apa selama ini aku terlalu membosankan untuknya? Apa aku kurang bisa memuaskan dirinya? Apa ini sebuah bentuk protes suami yang inginkan lebih dari istrinya.
Sadar akan semua itu, langsung saja ku tatap lekat dirinya dan kuberanikan diri untuk menaiki tubuhnya.
“Mas... siapa bilang aku di bikin bisu sama kamu, aku cuma di bikin kebingungan sama bahasa apa yang harus aku pake buat nyatain semua cinta aku sama kamu Mas”
Kalimatku itu sepertinya mampu untuk membuat Mas Rama terpana. Malah kini ia lah yang jadi membisu saat kutundukan tubuhku merayap menciumi setiap inci tubuh Mas Rama.
“sayang...”
.....
.....