Sensitive : Saat Kumpul Bersama dan Aku Sendiri yang Masih Belum Punya Anak

2432 Kata
“Shinta...” Suara yang memanggilku itu langsung membuatku menoleh kerahnya. Dan akhirnya kutemukan beberapa wajah yang sedang duduk melingkari satu meja café itu, kini melemparkan senyumnya untuk menyambutku yang masih berdiri di ambang pintu masuk café tempat biasa ku bertemu dengan mereka yang telah sampai lebih dulu itu. Kulihat Lisa bahkan sampai melambai-lambaikan tangannya dengan riangnya padaku. Aku langsung berjalan dengan bersemangat untuk menemui mereka. “Hayy Shintaa... kemana aja?” “iya jarang keliatan padahal satu komplek kita...” Aku hanya menjawab dengan tersenyum simpul, padahal mereka saja yang sibuk mengurusi buah hati mereka sampai sampai selalu tak melihat aku yang setiap hari keluar rumah. “ehmm... kayanya yang masih cantik kaya gadis di sini tinggal Shinta aja deh, kita udah kumel gak ke urus badan melar sana sini abis lahiran” “engga kok kalian kalian ini masih pada shining, shimmering, splendid... ibu muda mah bawaan cantiknya beda, cetar gimana gituu...” Balasku pada Nay, salah satu ibu muda yang usianya tak jauh beda denganku dan tentunya adalah... sahabatku. “aku udah gak sempet-sempetnya rawat tubuh aku, udah jadi nomor sekian kayanya, sumpah deh” Ungkap Zee sambil berusaha menenangkan Kimmy, yang entah kenapa terlihat jadi memelentingkan tubuh kecilnya itu. “liat kan, udah gak bisa diem aja... pokoknya aku tuh udah gak ada waktu buat pindah focus dari ni anak” tambahnya. “kenapa Kimmy-nya Zee?” Tanyaku pada ibu dari balita berusia 6 bulan itu. “Biasa Shin, anaknya gak betahan” “eh iya, Shinta belum pesen minum kan ya? biar aku aja yang pesenin minum sekalian mau pesen cemilan buat Kimmy, ini bisa titip bentar gak?” Ucap Zee padaku, “ah iya iya... sini biar Kimmy-nya sama aku aja” Tanganku langsung mengambil putrinya yang sangat menggemaskan itu dan mendudukannya di atas pangkuanku. “Kimmy sama tante cantik dulu yaa...” Ucap sang bunda sebelum ia pergi untuk mengambil beberapa cemilan untuknya. Kuperhatikan kini Kimmy terlihat sangat riang, senyum dan suara tawa renyahnya membuatku seperti banyak mendapat suntikan dopamine karenanya. “ahh... Gemes bangett siih...” Kulihat jari-jari kecilnya menggenggam jari telunjukku. sentuhan lembut malaikat kecil ini membuatku merasa sangat... sangat...senang di buatnya. “jadi... kapan nih kita bawain bingkisan buat si bungsu?” “si Bungsu?” Tanyaku tak mengerti. “lah ya iya si bungsu, kan yang terakhir lahir, emang ada yang mau lahiran lagi di antara kita berempat” Ucap Nay padaku. Aku memang memiliki tiga orang teman atau bisa di bilang semacam geng ibu-ibu komplek sejak pindah ke perumahan ini, sedari menikah dengan Mas Rama lima tahun yang lalu. Aku, Lisa yang juga sahabatku sejak SMA-ku dulu, Zee yang pindah dua tahun lalu, dan Nay yang paling tua dan menjadi tetua di perkumpulan ini. Selain itu karena Nay juga memiliki pengalaman di level berbeda, ia sudah mengurus dua anak yang sangat menggemaskan sekali, jadi meskipun tanpa sebuah deklarasi, Nay otomatis terpilih sebagai ketua di geng yang selalu rutin kumpul setiap minggunya ini. “hhh... doakanlah... eh tau gak, sabtu kemarin aku dengerin cerita ibu hamil yang butuh sampe 7 tahun buat bisa hamil, dan itu bikin aku salut banget...” “wahhh... perjuangan banget tuh pasti” Aku sedikit membicarakan soal apa apa saja yang sudah Mbak Fira lewati menurut penuturannya padaku dua hari yang lalu. Dan di sela-sela ceritaku, kutemukan Lisa yang terlihat sibuk dengan Bayu dan kini jadi menampilkan wajah kesalnya. “Kenapa sih Lis?” Tanyaku pada Lisa. “ini Bayu air liurnya perasaan udah kaya apa gitu gak surut-surut, Keshya dulu gini gak sih, Nay?” Lisa jadi bertanya pada Nay sambil terus mengelapi air liur bayu yang memang terus keluar dari mulut mungilnya itu. “sejak usia 3 bulan, emang bayi gitu katanya, itu normal kok soalnya udah mulai belajar ngunyah dengan cara masukin tangannya itu ke mulutnya, jadi air liurnya terus di produksi... jadinya ngeces kaya gitu deh...” Nay yang memang memiliki Keshya yang berumur 9 bulan, lalu Keanu yang kini berusia 3 tahun, memang jauh lebih berpengalaman dari Lisa si ibu dari bayi berusia 4 bulan itu. “ahh... pantes, jadi Bayu sering masukin tangannya ke mulut itu lagi belajar ngunyah toh... tapi bikin repot banget, aku harus elapin terus jadinya, terakhir aku biarin bajunya basah banget kaya kesiram air seember tau gak” Aku tertawa mendengar unggakapan Lisa itu. aku tahu dia pandai sekali melebih-lebihkan ceritanya. “hahahh... jahatnya ibu-mu itu Bay ckckk...” “eh serius... nanti pas udah punya anak, tau sendiri kamu Shin...” Kugelengkan-gelangkan kepalaku dan tak kujawab lagi, karena sudah pasti akan kalah jika kuteruskan berbicara dengannya. Aku kembali saja bermain-main dengan Kimmy yang kini tengah tertarik pada isi tas kecilku juga dengan talinya menjuntai ke dekat kakinya. “Terus aja di lap Lis pake kain yang lembut, soalnya kalo gak langsung di lap atau di biarin aja, ngecesnya itu nanti takutnya ada ruam di daerah mulutnya, terus kalo tidur, Bayu-nya jangan di biarin di posisi terlentang soalnya nanti liurnya jadi menggenang gitu di tenggorokannya, itu bisa bikin dia batuk-batuk, terus bikin napasnya ke ganggu” Kudengarkan baik-baik tips yang berikan Nay untuk Lisa itu, mungkin itu akan jadi pelajaran berharga saat aku memiliki satu yang lucu seperti yang tengah mereka bicarakan permasalahnya saat ini. “ooh gitu ya... pantes dia sering gak nyenyak tiba-tiba batuk malem-malem” Lisa kemudian lanjut menceritakan soal Bayu pada Nay yang katanya selalu memasukan benda apapun yang di lihatnya ke dalam mulutnya. “Lipstik?” Kataku kaget saat satu benda itu masuk ke dalam list yang di sebutkan Lisa dalam ceritanya itu. “untungnya ke tutup Shin” “ahhh... bikin kaget aja sih...” Dan tak lama kemudian Zee datang bersama makanan untuk Kimmy dan juga minuman untukku yang tadi di pesankannya. “thanks ya Zee...” “100 ribu loh bayar buat anternya” candanya yang receh sekali, “ah siaaap” Balasku, dan setelah selesai meletakan nampan makanan itu di meja, Zee kemudian akan mengambil Kimmy yang tengah anteng di pangkuanku. Ada perasaan tak rela ketika tangan ibunya itu mengambil Kimmy dariku. “sini sama Bunda lagii yaaa...” Ucapnya, dan kini jadilah aku berada di tengah-tengah mereka, yang masing-masing memangku buah hati mereka. Satu mulai sibuk menyuapi cemilan, dan dua lagi masih berkonsultasi soal kebiasaan baru bayinya. Aku tiba-tiba merasa terasingkan sekali di sini. Aku langsung mengambil minumanku saja, sambil memperhatikan mereka yang larut dalam kegiatan masing-masing. “eh liat” Zee memperlihatkan paha kecil Kimmy yang berwarna kehijauan, aku membulatkan mataku di buatnya. “yang kepentok pintu itu?” “iya... gak tau gimana ceritanya dia ada di depan pintu terus bapaknya bukain, kepentok deh...” Aku langsung mengelusi pipi lembut putih Kimmy yang baru saja mendapat memar di pahanya itu. “gitu ya, gak di pasangin ranjang bisa bebas kemana-mana, di pakein ranjang Keshya dulu jatoh terjun ke lantai” Balas Nay, “itulah kenapa aku takut tinggalin Bayu tidur sendiri di kamarnya” Mereka berbagi cerita kembali seputar hal yang masih belum kualami meskipun terkadang aku ikut ke dalamnya dengan mambawa cerita anak-anak dari kakak kakaknya Mas Rama, tapi rasanya sungguh aku benar-benar tak bisa masuk dalam pembicaraan ini. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalaku, sesekali dan bahkan seringkali aku merasa sendiri di tengah-tengah keriweuhan(?) dari sahabat-sahabatku ini. Hanya sisa aku seorang diri yang tertinggal dan belum sama seperti mereka. aku melihat sekeliling café ini, semua orang tampak sedang menikmati pembiacaraan, dan malangnya hanya aku di sini dan perasaan sepi ku ini. Aku menunduk membenarkan sepatuku. ting Notifikasi pesan masuk dari handphoneku, dan langsung kubuka itu. Mas Rama : liat ke jendela samping aku : samping mana? Mas Rama : kanan, deket pintu masuk Aku langsung menoleh kearah yang di maksudkannya itu. dan kutemukan dirinya yang sedang tersenyum lebar sekali sambil melambai-lambaikan kedua tangannya padaku. “ehemm... yang belum di ganggu baby mah berasa masih pacaran aja ya” Lisa menyadari keberadaan Mas Rama sampai melontarkan kalimat sindiran itu padaku. “tau tuh, bikin malu aja, gak sadar apa di liatin banyak orang...” “Shin, liat meja sebelah ada yang kegeeran tuh” Aku langsung melirik meja yang di maksudkan Nay itu. Ah, sepertinya senyum tampan suamiku itu malah dianggap sedang tebar pesona oleh wanita-wanita di sampingku itu. “aku harus pergi, sebelum suami aku di embat cewek lain... dah aku pamit pergi duluan yaa” Kataku begitu, dan langsung saja aku membangunkan diriku, berlari ke arah Mas Rama. “sayang...” Mas Rama meraih pinggangku, padahal ini public space dasar Mas Rama. “ehm? kenapa di sini? katanya mau meeting?” Tanyaku, Mas Rama kulihat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum padaku. “kamu juga katanya mau ngobrol, ngegosip bareng ibu-ibu rempong, tapi aku liat malah cuma diem terus nunduk aja dari tadi” Balasnya, aku jadi menaikan alisku heran kenapa Mas Rama tahu aku begitu sedari tadi. “Mas... jangan bilang dari tadi Mas-... di sini terus perhatiin aku” curigaku padanya “ehmmm... gimana ya? itu... sebenernya... ehmmm... aw! jangan cubit Mas ih” “ya abisnya ngelama-in” Mas Rama mengulur-ngulur ceritanya sampai aku di buat tak sabaran olehnya. “Mas tadi mau pergi meeting, tapi karena orang yang tanggung jawab sama projectnya gak bisa dateng makanya batal deh, jadi Mas ke sini dan .... Mas dari tadi liat kamu kaya gak asik sendiri duduk di sana...” Ucapnya padaku, sebenarnya aku beruntung sekali Mas Rama datang, karena jika Mas Rama tak datang aku mungkin hanya akan mati kutu di antara pembiacaraan mereka yang masih sangat asing bagiku. Aku merasa berada di Mars saat duduk bersama teman-temanku yang sedang asik membicarakan putra putri mereka itu. Entah kenapa aku merasa tersingkirkan dari pembiacaraan mereka. “lain kali kalo kamu kumpul, terus yang lain bawa bayi seharusnya kamu bawa Mas...” Aku menaikan alisku mendengar Mas Rama berkata begitu. “yang lain bawa anak masa aku bawa suami sih, gak nyambung Mas...” “Mas kan bisa jadi bayi kamu, kadang tuh Mas pengen di elusin terus gendongin kaya Kimmy sama kammmpphhh...” “sshttt ih malu tau” Kututup mulut Mas Rama itu, hhh.... dia ini kadang suka tak sadar sedang berada di mana, dan malah dengan tak tahu malunya berbicara seperti itu sampai jadi banyak mata yang melirik dengan senyum gelinya karena mendengar perkataan konyolnya itu. “udah ayo pulang” Kataku sambil menyeretnya berjalan dengan malunya menuju mobilnya. “sayang kenapa sih, mulut Mas pake di tutu-tutup segala” “Mas, kamu tuh jangan bicara yang engga-engga di depan banyak orang gitu, itu privat talk tau gak” “yang engga-engga apanya? salah Mas pengen di gendong sama istri sendiri?” Aku sedang membuka mulutku, tapi tak ada satu patah kata pun yang bisa kuucapkan dari mulutku ini. “hhh...” Akhirnya hanya helaan napasku saja yang bisa menjadi balasku. “entar Mas aku pukulin sampe gepeng dulu, terus aku bikin jadi kecil, baru aku gendong kaya Kimmy” “ish... jahat banget sih kamu sayang” “biarin...” Moodku acak-acakan sekali di hari pertama minggu ini, sudah tadi di acara kumpul aku merasa terasingkan dan kini Mas Rama malah bersikap kekanak-kanakan, hhh.... padahal tadinya aku pikir jadwal senin ini akan jadi awal minggu yang baik tapi ternyata buat aku malas, bahkan untuk berkata-kata sekalipun. “kenapa sih...” “engga papa kok” Balasku singkat sambil melihat ke arah luar dari jendela kaca mobil yang kini mulai melaju menuju jalan ke rumahku. “perasaan udah dua hari Mas gak liat pembalut di tempat sampah, tapi kok sensitivenya masih nempel aja” “gak tau Mas, tiba-iba aku pengen nangis tanpa sebab” jujurku pada Mas Rama “kenapa sayang? kamu kenapa pengen nangis? ehm?” Mas Rama jadi bertanya dengan nada kahwatirnya. “aku gak tau Mas, kalo aku tau kenapa alasan aku pengen nangis itu bukan tanpa sebab namanya...” “ah, bener juga... Mas ajak kamu ke tempat gelato mau? beli yang big size nanti? mint choco?” Tanyanya padaku, aku menggangguk setuju dengan tawarannya itu. Sesampainya di tempat gelato Mas Rama benar-benar membelikanku ice cream dalam ukuran big size dengan rasa favoritku itu. “makasih Mas...” “jadi kenapa? ada masalah?” “ehmm... engga ada apa-apa kok Mas...” Balasku, “terus kenapa bilang pengen nangis tadi?” “ehmm... itu...” Alih-alih menjawab, ku buang pandanganku ke arah lain untuk menghindari tatapan Mas Rama, sampai mataku menemukan seseorang perempuan muda yang sedang duduk sendiri dan terlihat tengah sangat menikmati ice creamnya itu. “kenapa aku gak bisa kaya gitu ya?” Gumamku dengan mata yang betah memandangi betapa manisnya perempuan itu terlihat saat ini “jomblo” “tapi biarpun jomblo makan sendiri di tempat rame kaya gini, dia keliatannya happy...” “masa? jomblo itu jiwa-jiwa kesepian sayang...” “Mas Rama ini kadang nyebelin ih” “hhh... salah lagi...” “tapi Mas tau gak, kalo kesepian yang sesungguhnya itu bukan waktu kita sendiri atau status kita jomblo, tapi ketika kita ada di tengah-tengah keramaian, temen, sahabat, dan orang-orang tersayang tapi malah ngerasa sendirian” “sayang...” Mas Rama langsung berpindah duduk ke sampingku dan memelukku. “sayang... kamu kesepian? kenapa? jadi tadi pengen nangis itu gara-gara kamu kesepian? Mas di sini sayang... kamu kenapa ngerasa kesepia sih” Ucapnya, aku bisa melihat tatapan khawatir kini terpancar jelas dari matanya itu. “Mas... aku gak papa...” “jangan bilang gak papa, gak papanya perempuan itu berarti ada apa-apanya... pantes aja tadi di café sana kamu keliatannya murung gak happy gitu sama temen-temen kamu” “Mas... sebenernya aku... aku ngerasa insecure, aku ngerasa jauh tertinggal banget dari mereka...” AKhirnya aku jujurku pada Mas Rama atas apa yang kurasakan dan selama ini kurasakan saat berkumpul bersama mereka. “hey... kenapa? ehm? karena yang lain udah punya bayi dan kita belum? gitu?” Mas Rama langsung tahu di mana point permasalahannya. “meskipun berkali-kali aku coba buat gak iri tapi rasanya... ehmm... aku bahkan udah gak bisa masuk ke dalam obrolan mereka Mas... aku gak ngerti karena aku belum alamin yang mereka rasain...” “sayang...” Mas Rama hanya bisa memelukku dan mengelusi punggungku lembut. “mungkin kita sedikit terlambat aja, mungkin belum waktunya aja... ayo kita bersabar dikit lagi ya sayang... ehm” Aku tersenyum mendengar perkataan Mas Rama itu. “Mas....” kubenamkan wajahku dalam pelukannya. “sabar sayang...” “aku juga pengen rasain apa yang Nay, Lisa, Zee rasain, aku pengen ngerti gimana rasanya jadi ibu...” “sebentar lagi sayang, gak lama lagi kamu juga kamu pasti jadi Ibu... aku bakal bikin kamu jadi Ibu dari anak aku...” ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN