Sensitive : Terbawa Suasana

2441 Kata
Author pov “......” “kamu seharusnya ngerti! aku tuh kerja seharian buat kamu, aku cape tau gak!!!” Bentak seorang pria pada wanita yang terlihat lelah juga ingin marah itu. “dikira urusin rumah gak cape apa?!! kamu tuh seengganya bisa taro kaus kaki kamu di keranjang cucian! baju kotor kamu juga gak kamu di lempar sembarangan!!” Balasnya dengan nada yang cukup meninggi, setinggi amarahnya yang semakin memuncak kini. “hhh... ini cuma masalah dateng ke acara sekolah Dion kan? kenapa kamu sampe bawa-bawa hal sepele yang gak penting sih...” Pertengkaran itu terdengar akan semakin besar saja. “Mas... yang kamu katain CUMA barusan itu nyatanya urusan anak kamu sendiri! dan kamu gak mau dateng!! tapi setiap kali temen-temen kamu nelpon, cuma buat main games kamu langsung ikut main sama mereka??? kamu sadar gak sih, kalo kamu lebih pilih pentingin Games di banding anak kamu sendiri?!!!” “udah aku bilang dari awal Dion itu masih 3 tahun, ngapain di sekolahin??!!! buang-buang uang aja... libur aku cuma hari minggu aja, aku pengen istirahat sehari aja... ngerti gak sih, suami kamu ini capek! butuh libur! butuh istirahat! butuh refreshing...” Wanita itu kini seperti sudah kehilangan kata-kata untuk membalas perkataan suaminya, yang menurutnya terlalu egois dan hanya memikirkan perasaan lelahnya sendiri, padahal wanita itupun sama lelahnya karena harus mengurusi rumah dan anaknya. “hhh.... seharusnya dulu kita emang gak usah punya anak... apa yang aku harepin dulu dari laki-laki yang gak dewasa dan kekanak-kanakan kaya kamu, yang kerjanya main games terus!” Istri yang juga seorang Ibu muda itu sampai bergerutu mengucapkan hal demikian pada suaminya, “hah? apa? jadi kamu nyesel punya Dion?? wahh...” “Iya! aku nyesel harus lahirin dia dari bapak yang gak dewasa kaya kamu, seharusnya aku tunggu kamu dewasa, baru aku hamil dan punya anak!” Kelewat kesal, sang istri sampai membalas dengan mengungkapkan penyesalannya, dan itu membuat suaminya tak habis pikir kenapa kata-kata itu bisa sampai keluar dari wanita yang sudah di nikahinya lima tahun lamanya itu. “kamu pasti lagi dateng bulan kan?? okey fine maaf” Pria yang akan segera memasuki kepala tiga itu merasa harus menutup pertengkarannya malam ini, sampai terucaplah kata maaf itu darinya. Tapi sepertinya itu tak cukup untuk menyudahi amarah istrinya, karena kini wanita di depannya itu malah jadi bertolak pinggang dan siap memecah pertengkaran berikutnya. “Mas! aku... aku gak lagi dateng bulan... aku cuma minta tanggung jawab kamu! peranan kamu sebagai ayahnya Dion!!“ “cih... apa? kamu minta aku tanggung jawab?? NGACA VERAA! kata-kata kamu yang barusan itu ’NYESEL PUNYA ANAK’... itu bukan omongan yang PANTAS keluar dari mulut seorang ibu yang bertanggung jawab!!” “Ibuuuuu....” Suara tangisan anak laki-laki yang baru saja terbangun dari balik pintu kamarnya yang dengan berjinjit ia membukanya. “Dion sini kamu! Ibu kamu nyesel punya kamu!” Ucap suami juga ayah dari anak bernama Dion itu, ia langsung saja memanggku putra kecilnya itu, lalu melenggang pergi bersama anaknya meninggalkan istrinya. Brakkkk Pintu rumah pasangan muda itu di banting dengan sangat keras. “MASSSS!!!” Dan dari balik jendela rumah di sebelah keluarga yang baru saja memecah pertengkarannya itu, dua mata sedang saling bertatapan, ikut ke dalam drama suami istri yang tak sengaja di dengarnya. “Mas... kalo nanti kamu gak peduli kaya suaminya Mbak Vera, aku tendang keluar kamu...” Ancam Shinta pada Rama, “ya engga lah, urusan istri sama anak itu nomor satu buat Mas...” “sekarang ngomongnya kaya gini, di depan nanti aku gak tau kamu-“ Rama membungkam mulut istrinya yang akan berkata yang tidak tidak tentang dirinya di masa depan itu dengan cumbuannya. Bibir istrinya di hisap kuat dan kini bahkan tubuh kecilnya di angkat dan pangkunya. “ahh... Mas! aku lagi bicara juga” “gak usah ikut-ikutan sewot gara-gara rumah tangga orang sayang...” “tetep aja Mas... Mbak Vera itu perempuan, aku juga perempuan... aku takut bisa sampe sama keselnya kaya Mbak Vera, terus dengan gak tau bersyukurnya aku sampe keluarin kata-kata kaya gitu” Sejujurnya hati Shinta hancur sekali, ketika kata-kata penyesalan setelah mengandung dan melahirkan anak itu sampai terucap dari mulut tetangganya itu. Kalau harus menyesal karena telah melahirkan anak dari ayah yang kurang dewasa, itu bukanlah satu hal yang benar menurutnya. Dan kalau mau di tunggu sampai sepuluh tahun atau lima puluh tahun lagi pun, seorang laki-laki akan tetap memiliki sisi kekanak-kanankannya yang suka bermain-main seperti anak kecil. Shinta menyayangkan sekali Ibu dari anak itu sampai melontarkan kalimat begitu, setelah memiliki buah hati yang sedang sangat di damba-dambakan kehadirannya. ‘Padahal anak itu anugrah, dan bukanlah sesuatu yang harus di sesali bagaimanapun keadaan dan situasi yang sedang terjadi.’ “sayang... Mas kerja keras selama lima tahun ini, buat bikin kamu sama keluarga kecil kita ini bahagia, bukan cape-capean sama kerjaan rumah... jadi kalo kamu emang suatu hari nanti butuh bantuan Mas... dengan senang hati Mas akan kasih semua itu buat kamu...” “hhh... untung bayi besar ini pengertian banget” Shinta tersenyum lega sambil mengusap-usapi rambut tebal suaminya yang selalu bertingkah manja sampai di katainya bayi besar itu. “jadi?” Rama bertanya singkat begitu pada istrinya. “ehm? jadi apa?” “itu... itu loh sayang” Hanya begitu jawabnya, di tambah seringai di bibir juga kerlingan mata nakalnya. Shinta sudah jelas tahu apa maksud dari ‘itu’ yang di ucapkan Rama padanya. Dan sebagai balasnya, Shinta memberikan kecupan singkat, mempersilahkan suaminya untuk memulai. Tahu sudah mendapat lampu hijau dari Shinta, Rama langsung saja memajukan wajahnya untuk meraih bibir merah menggoda milik istri cantiknya itu. Akhirnya kedua bibir itu bertemu, langsung terbuai ciuman yang seakan lapar sentuhan dan cumbuan. Tangan Rama kini mulai aktif menggerayangi tubuh wanita yang selalu di pujanya itu. Kedua lengan Shinta sudah mengalung di leher suaminya, ia pasrah, hanya menerima dengan senang hati sentuhan lembut, namun begitu memabukan baginya. Shinta di sudutkan dan tengah di dudukan Rama pada meja di samping jendela rumah mereka, keduanya terus saling memagut, larut dalam hasrat sampai tak sadar di mana keduanya memulai aktifitas panas mereka. Rama menyingkap gaun tidur Shinta, sampai kemudian tangannya di buat bebas menyentuh kulit paha halus mulus istrinya itu, ia menggoda sang pemilik dengan sentuhan tangan penasarannya, yang semakin lama semakin atas saja di sapukannya pada tubuh yang sudah melemas dan pasrah itu. “ahhh...” Satu desahan lolos dari mulut Shinta tepat saat ciumannya terlepas. Tampak tatapan mesra dari matanya yang sayu, juga pandangan yang sudah di kuasi oleh birahi yang kian memenuhi diri Shinta yang semakin membuat Rama tak tahan. Sampai akhirnya cepat ia mengangkat tubuh istrinya dan memangkunya menuju kamar tidur mereka. “Mas...” Shinta memanggil dengan suara manjanya, jelas sekali sekarang ini ia sedang meminta. Rama membalas dengan cumbuan di leher, area telinga hingga turun ke pundaknya, tangannya aktif menurunkan tali gaun tidur Shinta, hingga polos dan terekspos sudah tubuh atasnya istrinya kini. “sayang...” Rama membaringkan Shinta dengan pelan, meski sesungguhnya ia sedang di buru nafsu yang kian memuncak, tak tahan, sudah sangat begitu menginginkan. lihai tangannya melucuti pakaian istrinya sampai nampaklah tubuh indah sang istri yang tak berbusana di hadapannya. “Mas...” Shinta pasrah dengan semua yang akan di lakukan oleh suaminya kini, ia memejamkan matanya sangat menikmati sentuhan tangan di tambah lembut kecupan bibir Rama yang terasa hangat menjamah intim setiap inci tubuhnya. Tubuh Shinta sesekali menyentak, mengelinjang ketika tangan suaminya itu menyentuh dan menyapa miliknya yang sudah tak tahan dan merindu akan belaian, cumbuan, bahkan hujaman kenikmatan milik suaminya di dalam. “Mas...” Shinta melenguh kencang merasakan sensasi melayang ketika miliknya disuguhkan dengan permainan jari suaminya juga permainan bibir tepat di kedua dadanya. Rama selalu memberikan foreplay yang hebat untuk memuaskan istrinya itu. “ah!” Sambil menengadahkan kepalanya Shinta mendesah keras, ia mencapai o*****e pertamanya ulah suaminya itu. “it’s already wet...” Shinta tersenyum, dan tanpa babibu lagi langsung saja ia membantu Rama untuk melepaskan kaus dan semua kain yang tersisa di tubuhnya. Dan kini dua tubuh polos itu kini sedang bersiap dalam posisi, Rama menarik tubuh Shinta untuk duduk di atas pangkuannya. “kebiasaan...” Ucap sang istri sambil tersenyum, Rama memang paling menyukai persenggamaan dengan posisi duduk berhadapan. “ini biar gampang ciumin kamu sayang...” Balasnya dengan suara yang terengah karena berusaha memasukan miliknya yang masih harus memakan usaha karena lubang sempit dan rapat milik istrinya. “Mas...” “AH!” .... Semalaman keduanya bertempur dengan panasnya, Shinta di banjiri banyak benih s****a dengan harapan ada satu yang bisa berjuang sampai akhirnya bisa membuahi dan tumbuh menjadi jabang bayi dalam rahimnya. “Mas... biarin di dalem aja dulu” “ehm?” Rama sampai bersuara begitu, heran, karena biasanya Shinta sendiri yang langsung membersihkan miliknya begitu maninya keluar. Tapi Rama pun tak menolak bahkan dengan senang hati ia memenuhi pinta istrinya yang sedang menginginkan miliknya untuk lebih lama berada di dalam. “yaudah, lagian enak di dalem, anget, terus masih kepijit” Rama di berikan cubitan di pipi tampannya oleh sang istri yang geli mendengar ucapan nakalnya itu. “Mas... semoga dari sekian banyak yang tumpah ada satu yang berjuang naik yah” “amiin sayang...” Rama mengeratkan peluk pada tubuh istrinya. ia sampai berinisiatif sedikit menghujam miliknya yang terbenam di dalam milik istrinya itu, berharap bisa mengantarkan benih dan berhasil menjadi buah cintanya malam ini. “Mas...” “ehm?” “handphone kamu bunyi” Rama yang larut dalam keintimannya bersama Shinta, sampai di buat tak sadar kalau handphonenya terus berbunyi yang artinya ada banyak notifikasi masuk di sana. “ah ganggu banget sih” “liat dulu Mas siapa tau penting...” Akhirnya Rama yang malas untuk bangun dan berjauhan dari Shinta, ia hanya menjulurkan tangannya untuk meraih handphonenya yang berada di meja. Ia langsung mengecek handphonenya itu, dan tak lama ia langsung mematikan bahkan menjauhkannya. “siapa?” “hhh... grup sayang, biasa pada ributin skandal karyawan...” Balas Rama terdengar tak peduli. ia sudah menenggelamkan kembali wajahnya, mencari kehangatan dari tubuh polos istrinya itu. ”Mas ini... karyawannya kena skandal kok kaya gak peduli gini sih?” “ada HR yang urus sayang dan lagian sekarang itu bukan waktunya CEO urusin skandal karawannya, tapi puasin istri di ranjang” “ish dasar kamu ini Mas... emang skandal apa sih?” Tanya Shinta karena sedikitnya ia juga sudah di buat penasaran. “iya jadi kemarin ada pasangan karyawan yang pacarannya kelewatan gitu, dan akhirnya si perempuannya sampe hamil. Eh tapi barusan ada yang bilang kalo dia itu udah gugurin kandungannya...” Mendengar cerita suaminya itu entah kenapa Shinta tiba-tiba jadi kesal, ia sampai berpikir wanita macam apa karyawan Rama itu, yang bisa tega hati menggugurkan kandungannya sendiri. “ih kok tega banget sih sampe bunuh anaknya sendiri, anak di perutnya itu gak berdosa dan layak buat hidup...” Ucap Shinta dengan nada tak sukanya, “memang di sayangkan banget sih, anak-anak yang harusnya bisa lahir dan jadi anugrah malah harus berakhir di kandungan Ibunya sendiri... tapi untuk kasus karyawan Mas ini, Mas bisa ngerti kenapa dia sampe berani lakuin aborsi...” “kenapa?? jangan bilang Mas malah dukung karyawan Mas itu buat bunuh anak dalam kandungannya? gitu?” Nada bicara istri Rama itu jadi meninggi, Shinta juga sampai membangkitkan dirinya ke posisi duduk. “jangan duduk, ahh... lepas kan jadinya” Rama protes karena miliknya jadi terlepas bersamaan dengan Shinta yang kini sudah duduk menatap serius mengahadapnya. “Mas... jawab dulu, karyawan Mas ada yang gugurin kandungannya, dan Mas biasa aja... terus malah ngedukung gitu??” “hhh... bukan gitu sayang... tapi kehamilannya itu terjadi bukan karena dia mau itu, tapi karena kecelakaan... bisa kamu bayangin gak kalo dia pilih pertahanin kandungannya? ayah dari bayi itu masih belum stabil secara ekonomi dan mungkin aja belum siap jadi ayah... dan karyawan Mas, dia masih muda... dia baru aja mulai karirnya sayang...” “jadi karir itu lebih penting? gitu maksud Mas?” Rama jadi ikut duduk, ia tak tahu kalau skandal karyawannya malah jadi perdebatan pukul 1 malam bersama istrinya. “gini sayang... bukan masalah karirnya, tapi kesanggupan dia buat jadi ibu dan orang tua dari anak itu... kalau pada akhirnya anak itu lahir dan ibunya malah jadi dalam kondisi yang gak mampu buat jaga dan rawat anaknya itu gimana? anak yang seharusnya jadi anugrah itu, karena keadaan dan situasi yang gak memungkinkan itu malah bakal berubah jadi beban...” Shinta tiba-tiba meneteskan air matanya. Rama langsung bereaksi cepat dengan memeluknya. “sayang... kok jadi nangis gini sih...” “ahahaaaa.... padahal... padahal mengandung itu pengalaman yang pengen banget aku rasain, tapi- tapi... tapi kenapa dia dengan teganya gugurin bayinya, buang kesempatan jadi Ibu yang udah lama aku harapin Mas... Kenapa bayi malang itu harus ada di perut wanita yang gak harapin dia buat tumbuh di rahimnya...” Shinta mengungkapkan sesalnya atas keadaan yang menurutnya tak adil itu. Dan Rama tak tahu harus menanggapi istrinya seperti apa sekarang. Ia mendadak sensitive sekali belakangan jika menyangkut soal bayi. Bahkan tak jarang Rama memergoki Shinta yang jadi kesal sekali saat melihat berita-berita penemuan jasad bayi, atau anak yang menjadi korban kekerasan, ia selalu larut dalam emosi buruk setelah melihat berita buruk mengenai bayi. “cup cup cup .... sayang” Rama menepuki dan mengelusi Shinta yang terus saja negdumel sambil menangis dalam pelukannya. “hiks... banyak ibu yang tega nelantarin anaknya, buang anaknya dan gak peduli, bahkan Mbak Vera bilang nyesel punya dion, karyawan Mas malah gugurin kandungannya...kenapa mereka semua gak bersyukur di saat aku pengen banget ada di posisi mereka, punya buah hati dan jadi Ibuu... kenapa... kenapa tuhan kasih kepercayaan sama mereka yang kaya gitu dan gak kasih kesempatan buat aku Mas...” Tambahnya, ia benar-benar menyayangkan takdir soal siapa yang di beri kesempatan untuk memiliki anak itu. “bukan gak kasih kesempatan, tapi belum aja sayang...” Rama kemudian menjauhkan tubuh Shinta dari dekapannya, di tatapnya wajah cantik istrinya yang jadi di basahi oleh air matanya. “udah... jangan nangis ya sayang...” Tangan Rama mulai mengusapi air mata Shinta di pipi juga di matanya itu “aaahh... kenapa aku tiba-tiba nangis kebawa emosi gini sih... maaf, aku jadi sensitive banget ya Mas...” “gak papa sayang... Mas ngerti kok...” Shinta menatapi suaminya yang untunglah bisa bersabar menghadapi emosinya yang jadi mudah sekali naik turun beberapa hari ini. “jadi kita... mau... ehm lagi? usaha buat anak lagi gitu? ehm?” Shinta jadi tersenyum kembali mendengar ajakan suaminya itu, “Mas ih... bisa aja deh cari kesempatan...” “siapa tau satu ronde terakhir itu bisa gol, semakin banyak usaha semakin banyak kemungkinannya kan...” Shinta jadi tertawa mendengarnya, tapi kemudian ia sudah di kecupi dan kembali di baringkan oleh suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN