***
“hhh...”
Shinta menghela napasnya panjang, sampai Rama yang berada di sampingnya menoleh dan sadar ada salah dengan dirinya.
“Kenapa ehm?”
“anak-anak fakultas ajakin katemu buat reuni katanya”
“terus?”
Shinta tiba-tiba memasang wajah bad moodnya.
“mereka belum aja ketemu udah hujanin aku sama pertanyaan kaya gini”
Shinta menunjukan percakapan grup fakultasnya itu pada Rama yang kebanyakan berkata rindu padanya lalu di susul oleh pertanyaan yang berhasil membuat moodnya down sekali sekarang ini.
Shita apa kabar?
udah punya anak berapa?
cewe apa cowok? anaknya pasti gemesin banget deh...
Tak ayal kalau teman-teman kampusnya itu sampai bertanya begitu, karena pertunangan Rama dan Shinta di lakukan saat Shinta masih berada di semester akhirnya, dan kemesraan keduanya itu selalu menjadi perhatian banyak mata saat ia berkuliah dulu.
“yaudah gak usah ikut, dari pada di sana cuma manyun”
Shinta hanya diam dan tak menjawab suaminya itu.
“gimana kalo kamu ikut ke kantor Mas aja, udah lama kan gak main ke kantor baru Mas”
“boleh?”
Tanya Shinta memastikan
“emang siapa yang berani gak bolehin kamu dateng... kan Mas CEO-nya”
Jawab Rama dengan bangganya.
“yaudah deh...”
Shinta seketika berubah jadi terlihat bersemangat kembali setelah di ajak Rama untuk berkunjung ke kantornya. Ia bahkan dengan antusias memilah beberapa pakaian yang akan di pakainya hari ini, dan beberapa kali juga ia meminta pendapat Rama atas penampilannya.
“udah... cantik kok”
cup
Satu kecupan di berikan Rama bersamaan dengan pujian untuk istrinya yang memang sudah sangat cantik itu. Shinta dengan gaya simple nan anggunnya selalu membuat Rama ingin membawanya kemanapun ia pergi untuk di banggakannya.
“yu sayang...”
Shinta menggandeng tangan suaminya mesra menuju mobil yang akan membawa mereka ke perusahaan startup yang belum lama ini berhasil masuk ke dalam jajaran perusahaan terbesar saat ini.
Selama dalam perjalanan Shinta terus tersenyum dan terlihat antusias sekali, karena memang sudah lama juga ia tak berkunjung ke kantor suaminya. Ia belakangan hanya selalu menemani Rama keluar untuk memenuhi beberapa undangan saja ke berbagai acara penghargaan sebagai pemimpin perusahaan yang cukup menginspirasi dan berprestasi selama setahun ini.
Dan lima belas menit berlalu, keduanya sudah memasuki kawasan area perusahaan yang berada di sebuah tower di kawasan pusat kota, Rama baru-baru ini berhasil memindahkan kantornya dari gadung perkantoran biasa ke salah satu gedung multifungsi setinggi 52 lantai yang semula adalah mall, hotel dan apartemen. Perusahaanya sudah benar-benar berkembang pesat.
‘Ada banyak ketidakpastian di dunia ini, tapi kita bisa melangkah dengan start yang pasti untuk memulai segalanya, di sini dan saat ini’
Rama
Shinta tersenyum bangga membaca Quotes motivasi yang terpampang besar di layar LED dengan banyaknya ornament grafik computer yang bergerak dinamis dan tentunya tengah memajang satu wajah tak asing yang selalu memeluknya dan sedang berada di sampingnya itu, Shinta sangat sangat bangga akan pencapaian dan kesuksesan suaminya.
“apa? kenapa? senyum-senyum... Mas ganteng ya?”
“ehmm... bangettt”
Balas Shinta sambil membelai lembut pria hebat di sampingnya itu.
Dan akhirnya pasangan suami istri itu melenggang masuk ke dalam area office utama yang memiliki desain modern kental dengan unsur teknologi digital, interiornya cukup unik dan di rancang dengan konsep open office, sehingga tak ada batasan employye.
Rama sangat humble dengan semua karyawannya, ia bahkan tak menginginkan adanya kasta yang begitu ketara antara atasan dan bawahan. Ia selalu menganggap semua orang di perusahaannya itu adalah timnya, semua orang ia hormati tanpa memandang apapun jabatan dirinya. Dan terlebih karena semua orang yang bekerja sampai ke jajaran divisi penting pun adalah orang-orang yang sudah di anggapnya seperti teman sendiri, yang juga telah merintis dari awal bersamanya, jadilah Rama selalu menghormati semua orang yang bekerja untuknya.
Kini terlihat beberapa mata memandang keduanya, wajah wajah itu jelas menampilkan senyum hormat dan kagum pada Rama yang kini sedang menggandeng Shinta dengan Gentlenya. Rama sesekali menyapa beberapa karyawannya layaknya menyapa, Doni sahabatnya, suasana hangat kekeluargaan kental terlihat, semua orang berbaur mengerjakan pekerjaannya dengan santai tapi juga mengedepankan profesionalitasnya.
Setelah berada di depan pintu ruang kerja Rama, satu orang karyawan yang sudah sangat di kenalnya dengan baik selama lima tahun ini, tengah berdiri siap menyambut keduanya.
“selamat pagi Bu Shinta”
Shinta mendapat sambutan dari asisten Rama, Bimo namanya. Shinta tersenyum untuk membalasnya.
“gak selamat pagi buat Gue, Bim?”
“Gak ah, laporan numpuk di dalem aja yang gantiin buat ucapin selamat paginya”
Balas santai asistennya itu. Rama dan Bimo memang sudah sangat dekat sekali karena selalu mengerjakan banyak hal bersama.
“cih... ngeselin Lo”
Yang di katai begitu oleh Rama malah tersenyum saja puas berhasil mengerjai CEO-nya itu pagi ini, dan Rama kini hanya melangkah masuk saja langsung ke ruangannya bersama istrinya.
.....
Rama yang biasanya mengerjakan semua laporannya di meja kerjanya, hari ini sampai memilih duduk bekerja di sofa yang ada di ruangannya, hanya agar bisa duduk bersama dengan istrinya. Seringkali ia melirik, mengusapi wajah Shinta untuk mendapat suntikan energy darinya.
“sshh... di sini aja tangannya”
Ucap Rama, saat Shinta akan mengangkat tangannya dari paha suaminya itu, Ia sigap menaruh kembali tangan halus istrinya dan membuatnya tetap mengelusi paha kanannya itu.
“dasar kamu ini Mas...”
“tangan kamu ini kalahin C1000, jadi vitamin bikin stamina aku full”
Shinta yang di godai oleh Rama seperti itu, langsung tersipu walau sudah sering ia mendengar gombalan darinya.
Tapi Rama memang terlihat jadi lebih bersemangat dari biasanya, ia bahkan memasang wajah cerianya pada semua laporan yang biasanya selalu di bacanya dengan wajah mumetnya, semua itu jelas sekali berkat Shinta yang kini duduk di sampingnya menemaninya.
“Mas...”
“ehm? kenapa sayang...”
“mau aku buatin kopi?”
Tawarnya,
“ada yang suka bikinin kopi buat Mas kok, jadi kamu gak usah repot-repot sayang...”
Balas Rama, dan kini dengan beraninya ia tiba-tiba malah meraih pinggang istrinya dan membuatnya merapat pada tubuhnya. Merasa dunia ini hanya milik berdua, sampai refleks saja Rama mendekatkan wajahnya untuk mencari bibir Shinta yang menjadi candu baginya.
“ish... jangan di sini, ini kantor, malu sama karyawan kamu Mas...”
Ucap Shinta sambil mendorong tubuh suaminya yang sudah nakal, jadi merapat sekali saja padanya itu.
“hhh... padahal bawa kamu ke sini, pengennya bisa kerja sambil manja-manjaan gitu loh...”
Rama menggerutu sementara Shinta yang mendengar hanya tersenyum geli melihat tingkah suaminya itu.
“Mas... malu ih, kalo ketauan manja kaya gini sama karyawan kamu, gimana coba?”
“sama kamu ini sayang... bukan sama orang yah... cium sekali aja”
Pintanya, jelas Shinta menggeleng tak setuju dengan itu, karena ciuman suaminya itu selalu bukan hanya sekedar ciuman, tapi di tambah juga dengan aktifitas lainnya.
Tapi Rama memaksa, ia terus mendesak dan mencari bibir merah istrinya itu. Sementara Shinta yang sangat dikuasai oleh kesadarannya, kalau ia tak boleh memenuhi keinginan suaminya yang selalu saja tak ingat tempat jika ingin bermesraan dengannya itu, ia langsung menghindar dengan memalingkan wajahnya ke samping.
Tak kehilangan akal, Rama yang tak bisa mendapat inginnya itu, ia jadi mendaratkan saja bibirnya di leher jenjang Shinta yang tak kalah menggoda dari bibir ranumnya, ia mulai sibuk mencium dan mencumbu kulit yang beraromakan wangi tubuh istrinya itu.
“Mas jangan-“
“Pak Rama ini-“
Bimo tiba-tiba masuk menginstrupsi kegiatan mesra CEO dengan istrinya itu.
Dan jadilah hening seketika. Tak ada yang bergerak kini, situasi canggung di ruang sang CEO itu membuat Rama, Shinta, juga Bimo yang hanya bisa melangkah sebatas pintu saja itu, tak tahu harus berbuat apa.
“ah... Mas, aku- aku bikinin kopi dulu buat kamu”
Shinta melarikan diri dari kecanggungan yang terjadi ulah Rama, dengan alasan ingin membuatkan kopi untuk suaminya yang nakalnya itu.
“ah... iya sayang...”
Rama mengiyakan tapi tangannya seolah enggan melepaskan Shinta yang sudah berjalan meninggalkannya, tangannya bahkan masih terulur mengikuti arah kemana tubuh Shinta yang pergi keluar pintu ruangannya.
Dan jadilah di ruangan itu, kini hanya menyisakan dua pria dengan raut wajah yang kontras sekali kelihatannya. Rama memsang wajah kesalnya, sementara asistennya malah jelas terlihat ingin menertawakan bosnya yang harus gagal bermesraan dengan istrinya itu.
“ganggu banget sih...”
Rama ketus sekali terdengarnya.
“maaf Pak, seharusnya Pak Rama kunci dulu pintunya...”
“hhh... padahal kapan lagi bisa kerja sambil kelonan”
“hahahh... enaknya jadi CEO...”
“gak enak, orang di ganggu mulu... ada apa?”
“ini pengajuan cuti hamilnya Mbak Kinan”
“ah iya dia harus ambil cuti hamil yang ketunda terus itu... terus posisinya siapa yang ambil alih nanti?”
“ehmm itu...”
“......”
Sementara Rama dan asistennya itu sedang sibuk membicarakan pergantian posisi dan soal siapa orang yang akan bertanggung jawab mengambil alih menagemen di bagian perencanaan itu. Shinta sedang berada di pantry kantor untuk menyiapkan coffee untuk suaminya.
“loh... kenapa gak panggil Ibu yang biasa bikinin kopi Mbak?”
Tanya lembut seorang wanita yang kini sedang meraih kursi untuk mendudukan tubuhnya yang terlihat amat berat itu, pada Shinta.
“ah... gak papa, lagian saya juga gak ada kerjaan kok”
Jawab Shinta tanpa menoleh pada siapa yang baru saja bertanya padanya.
“itu mau di antar ke ruang mana?”
“Pak Rama”
Jawabnya, lidahnya agak kaku ketika ia terbiasa memanggil ‘Mas’ dan kini malah memanggil Pak begitu.
“Pak Rama itu gulanya harus dua sendok aja, jangan kurang atau lebih, jangan lupa taruh sendok baru di nampannya”
Tambah wanita yang kini sedang mencoba membenarkan posisi duduknya yang terlihat tak nyaman sekali. Sementara Shinta hanya tersenyum saja, saat mendengar wanita itu yang malah memberitahu harus menyajikan coffee seperti apa untuk suaminya itu.
“ah gitu ya...”
Balas Shinta sengaja,
“ehm... biasanya kalo Ibu office girlnya lagi sibuk saya yang siapin, karena kalo nyuruh junior sekarang suka agak genit kalo disuruh anterin ke ruangan Pak Rama”
Mendengar ada karyawan genit, Shinta sedikit di buat was-was jadinya.
Sampai akhirnya Shinta selesai membuat kopinya dan menolehkan kepalanya pada wanita yang tengah melepaskan sepatu berhak sekitar 5 senti itu lalu di pijatinya kakinya yang terlihat sedang benggak sekali.
“oh? Ibu Shinta... maaf tadi saya pikir Ibu karyawan baru... maaf bu sekali lagi”
Ucapnya ketika ia menemukan wajah Shinta, sontak ia langsung terburu-buru memakai sepatunya kembali, dan niatnya ingin juga berdiri, tapi wanita hamil itu malah kesusahan karena perutnya yang sudah membesar.
“ooh... gak papa gak papa, duduk aja lagi, ini juga sandal jepitnya di pake aja...bahaya kalo pake heels”
Ucap Shinta, ia bahkan sampai berjongkok untuk melepaskan heels karyawan Rama yang sedang hamil besar itu lalu menggantikannya dengan sandal jepitnya.
“ooh... Ibu gak papa, saya bisa sendiri, kaki saya kotor...”
Karyawan wanita itu jadi merasa sangat tak enak karena tingkah istri CEO nya yang mau berbaik hati dan berepot diri membantu memakaikan sandal untuknya.
“terimakasih banyak Bu... maaf... sekali lagi maaf banget”
Maafnya, yang Shinta balas dengan senyum ramahnya.
“gak papa, lagian pasti susah kan mau bungkuk kalo lagi hamil besar gitu”
“terimakasih Bu, Ibu... baik dan perhatian sekali seperti Pak Rama”
“hhh... Kalo Pak Rama baik dan perhatian, terus kenapa karyawannya yang hamil besar begini belum di kasih cuti dan masih di suruh masuk kerja? pake heels lagi...”
“ahh... ini sih karena belum ada aja yang ambil posisi saya sebagai GM di sini, terlebih divisi perencanaan jadi super sibuk sejak perusahaan kita masuk ke jajaran unicorn tahun lalu, kita gak bisa lagi santai-santai apalagi pesaing perusahaan startup kita sekarang semakin banyak, jadi... perusahaan masih membutuhkan saya Bu...”
*(GM general manager)
*(Unicorn adalah salah satu tingkatan bisnis startup yang memiliki nilai valuasi lebih dari 1 milliar domar Amerika)
Shinta di buat salut pada loyalitas yang di berikan karyawan Rama itu pada perusahaannya. Padahal untuk bergerak saja sudah pasti sulit sekali, tapi masih saja berusaha mengemban tanggung jawabnya sebagai GM, begitu pikir Shinta.
“tapi ada baiknya segera ambil cuti, gak baik buat bayinya... bayinya bisa stress kerena harus ikut kerja seharian...”
Ucap Shinta, terlebih ia juga sangat tahu kalau cuti hamil dan melahirkan itu peraturan wajib yang harus di berikan perusahaan pada karyawan wanitanya, ia tak ingin perusahaan suaminya itu jadi perusahaan yang tak bisa menghargai karyawan wanita.
“baru aja tadi saya ajukan cuti Bu, karena memang sudah sangat menganggu sekali ke pekerjaan saya... Apa lagi karena sekarang sudah masuk ke masa akhir kehamilan, saya jadi sering banget bulak balik ke toilet, kaki juga bengkak, saya yang biasanya harus mondar mandir, control ini itu, terus naik turun lantai, malah jadi gak bebas... saya jadi suka bawa sandal atau sepatu olahraga... tapi rasanya kadang gak enak sama yang lain...”
Ceritanya pada Shinta.
“kenapa?”
“ya... gak enak aja, kadang saya pikir orang-orang di dunia perusahaan itu benci sama orang hamil”
“apa? gak mungkin... mana ada orang yang benci Ibu hamil”
Ucap Shinta menyangkal dan sangat tak setuju dengan pendapatnya itu, malah ia berpikir kalau ibu hamil itu akan di istimewakan oleh setiap orang karena tahu ada kehidupan lain di dalam perutnya itu.
“Untuk beberapa alasan, saya pikir kehamilan saya ini gak tepat banget waktunya, ini bukan kehamilan yang saya sangat inginkan, bahkan delapan bulan lalu ketika saya dinyatakan hamil, alih-alih senang... saya malah kelimpungan, bingung takut tak bisa menjaga bayi ini karena pekerjaan yang sedang membeldudak sekali...”
Shinta terdiam, ia memperhatikan Id card yang mengalung pada tubuh ibu hamil itu.
‘Kinanti’
Gumamnya dalam hati, ia ingin mengingat nama wanita yang sedang bercerita padanya itu.
“saat itu padahal saya mungkin bisa naik jabatan dan dapet promosi, tapi malah hamil begini... dan bukannya naik jabatan, dapet tanggung jawab yang lebih besar di kantor ini, eh malah harus cuti dan limpahin kerjaan ke orang lain... rasanya gak enak banget,”
“...kadang ketika kerjaan lagi banyak dan sibuk-sibuknya, karena saya yang lagi hamil begini imbasnya jadi gak bisa kerja efisien, yang lain juga jadi canggung buat minta bantuan saya karena kehamilan saya ini... beberapa kadang ngedumel, ‘enak banget hamil, kerjanya jadi sedikit, dapet cuti juga...’ gitu katanya...”
Shinta terperanga, ia baru tahu kalau dunia kerja itu berhati dingin seperti itu pada seorang wanita hamil, meski ia sangat tahu kalau target perusahaan itu memang penting dan profesionalitas kita juga di tuntut, tapi tetap saja itu tidak manusiawi menurutnya.
“Mbak... saya yakin Mas Rama bukan orang yang akan membiarkan wanita hamil di perlakukan dengan kejam seperti itu, lapor saja pada HR jika ada yang mempelakukan Mbak dengan buruk di sini... biar Mas Rama tindak orang tak pengertian itu...”
Wanita itu tersenyum mendengar ucapan istri CEOnya yang begitu pengertian padanya.
“terimakasih banyak Bu...”
“sayang... lama banget bikin kopiny- loh... Mbak Kinan juga di sini?”
Rama yang menyusuli Shinta ke pantry kantor, sedikit kaget saat menemukan istrinya itu malah sedang bercengkrama dengan karyawannya.
“Mas ini gimana sih... orang Mbaknya harusnya cuti dari lama kenapa masih di suruh kerja?”
“ahh... itu- ehm...”
......