Shinta pov
Setelah mendengar cerita liku perjalanan karir dan kehamilan yang di alami Mbak Kinan dari Mas Rama, Aku pikir aku tak bisa men-judgenya sebagai wanita yang kurang bersyukur karena sudah mau di karuniai buah hati, tapi senangnya hanya setengah hati, karena di pikirannya hanya soal karir terus tanpa henti.
Masalahku lebih besar dari masalahmu, semua orang pasti pernah ada di posisi ingin mengatakan itu. Keluhanku dan yang selalu menjadi masalahku adalah soal diriku yang masih belum juga mampu memberikan keturunan untuk Mas Rama, di tengah keadaanku yang diberkahi suami yang hebat dan ekonomi yang sudah cukup mapan. Sementara keluhan dan yang jadi permasalahan mereka adalah bagaimana dan harus seperti apa menjaga dan membesarkan buah hati mereka di tengah tuntutan dunia kerja dan keadaan ekonomi yang belum stabil. Aku jadi bertanya-tanya, kenapa dunia menebar masalahnya dengan cara seperti itu.
“sayang...”
“ehm?”
“kok ngelamun... Masih kepikiran soal Mbak Kinan?”
“ehm? ah... gak tau Mas, lagi ada banyak aja yang mampir di kepala aku Mas...”
Jawabku, Mas Rama kemudian meraih tanganku dan mencium tanganku itu.
“sayang... jangan banyak pikiran ya, gak bagus buat kesehatan kamu...”
Aku menunduk, karena rasanya sulit sekali untuk tak memikirkan banyak hal sekarang ini, entah kenapa bahkan untuk hal-hal kecil saja, aku bisa langsung di buat overthinking sampai jadi terbawa emosi kesal karenanya.
Mas Rama tahu aku yang sedang bad mood sekarang ini, ia membawa tubuhku ke dalam dekapannya.
“sayang....”
“ehm?”
Mas Rama menunduk dan menatapku, di belaikannya tangannya di pipiku. Aku mencoba tersenyum padanya.
“ini belum masuk masa subur tapi kok kulit kamu udah halus banget gini...”
“Mas, aku lagi gak mood buat di gombalin ya”
Balasku tapi senyumku sudah semakin lebar saja kulengkungkan, jarinya kini di usapkannya tengah menggoda bibirku.
“sayang... besok Ibu ada acara udah tau kan?”
Ingat Mas Rama padaku. Aku tentu mengingatnya, bahkan aku sudah berusaha menyiapkan jawaban kalau-kalau nanti Bibi Hani akan menanyaiku soal kapan aku hamil itu untuk yang kesekian kalinya, terpikir juga olehku acara agar Mas Rama tak terpancing esmosinya seperti terakhir kali saat mengahadapi Bibinya itu.
“sayang... kalo kamu gak nyaman dan jadi banyak pikiran karena itu... kita bisa bilang ke Ibu kalo kita gak bisa hadir”
“Mas... itu acara buat rayain keberhasilan Ibu yang udah jadi Duta Lingkungan, masa anak sama mantunya gak dateng buat ucapin selamat, ada-ada kamu ini Mas...”
Mas Rama terlihat menghela napasnya panjang.
“sayang... kita bisa ucapinnya di lain waktu dan gak harus dateng ke acara syukurannya, Ibu juga pasti ngerti kok”
“kita dateng aja aku gak papa kok Mas, serius deh... gak enak Mas sama kakak-kakak kamu yang selalu baik sama aku, meskipun ya masalahnya cuma di Bibi Hani yang suka bahas topik yang bikin canggung dan suasananya gak nyaman... tapi aku gak papa kok”
Jawabku meyakinkannya, karena aku tak ingin Mas Rama jadi tak hadir hanya karena aku di acara syukuran Ibunya sendiri. Dan lagi rasanya aku kangen sekali pada Ibu.
“serius?”
“iya Mas... aku gak papa”
Mas Rama meraih wajahku lalu di kecupnya bibirku. Aku sangat tahu Mas Rama khawatir sekali padaku dan kini tengah berusaha menenangkanku.
Entah sejak kapan rasanya jadi beban, berat, dan enggan sekali untuk menghadiri pertemuan. Meskipun aku selalu tersenyum di saat pembiacaraan soal anak itu muncul ke pembahasan, tak jarang juga aku jadi mendengarkan beberapa orang yang tiba-tiba memberiku tips yang kebanyakannya terdengar tak berdasar dan tak ilmiah sekali. Terkadang saat sedang bad mood, aku sampai berpikir kalau mereka itu pasti sedang merasa lebih hebat dariku, sampai sampai merasa bisa mengajariku tips seolah ahli pembuat anak, dalam diam senyumku.
Aku memutuskan ingin menghindari pembahasan soal anak yang masih belum juga hadir dalam rahimku. Karena ketika aku terlalu sering membicarakan sesuatu yang belum aku miliki, itu membuatku jadi lebih mudah untuk merasa tidak bersyukur dan rasanya seperti sedang mengorek-ngorek cacat dan kurangku saja. Aku tak bisa berdalih kalau aku mulai lelah dengan pertanyaan seputar anak itu.
“sayang...”
Mas Rama tiba-tiba mengangkat tubuhku, aku heran dan menatapnya bulat-bulat.
“Mas turunin...”
“kayanya kamu udah masuk masa subur deh...”
“kamu ini Mas, aku baru 4 hari selesai menstruasi, dan masa suburku itu 12-14 hari setelah mesntruasi, pura-pura lupa banget deh”
“tapi kok menggoda banget, bikin horny... kalo buah tuh lagi ranum ranumnya gitu...”
Aku jadi tergelitik mendengarnya.
“hahahh...Mas biasanya kalo masa subur itu yang gairahnya tinggi ya akunya, bukan suaminya”
“Mas kan wakilin kamu sayang...”
Balasnya sambil menggigit tali piyama tidurku untuk di turunkannya, sikapnya mulai liar sekali sekarang ini.
“Mas lagi mood banget buat kerja keras bikin anak malem ini...”
Mas Rama membuatku tertawa dengan diksi pilihannya, ‘kerja jeras’ katanya... sudah pasti maksudnya itu adalah aku akan di habisinya sampai pagi malam ini oleh permainannya.
“ahahhah... modus bilang aja pengen di manjain...”
“ehm... udah kepengen banget dari tadi waktu pas di kantor”
Kucubit saja pipinya,
“Mas nakal ih”
“biarin”
Ucapnya sambil membawaku melangkah masuk ke kamar.
Begitu sampai, Mas Rama mendudukanku di atas ranjang tempat tidur, tanpa babibu lagi ia langsung melumat bibirku rakus. Di dorongnya tubuhku sampai terbaring dalam ciuman panas sekarang ini. Aku pikir Mas Rama tak berbohong soal dirinya yang mengatakan h***y dan akan bekerja keras untuk membuat anak malam ini, karena jelas bisa kurasakan gairahnya yang amat memburu, nafsunya yang seakan-akan ingin melahapku. Aku bahkan mencoba mengimbanginya, membalas setiap hisapan, lumatan dan cumbuanya.
Aku selalu lupa kata saat sedang seperti ini, mulutku di buat kehilangan fungsi bicaranya saat sedang terbuai oleh sentuhan intim suamiku ini. Mas Rama yang berada di atasku kini turun dan semakin turun saja mencari milikku di bawah sana. Aku mengelinjang tak tahan, dadaku kubusungkan saat Mas Rama tiba tepat di depannya. Hembusan lembut napasnya menggodaku sampai aku merasa menggila karenanya.
Dari gaun tidur yang tipis ini, jelas mudah sekali baginya untuk menyapa miliku, sekali singkapan saja, ia sudah bebas bermain dengan miliku. Aku melenguh saat hangat tangannya menyentuhku, sekujur tubuhku bergetar karena sensasi nikmat yang kini mulai menjalar.
Sedikit ku bangkit, dan kutemukan Mas Rama yang sedang tersenyum puas, dengan jarinya yang terlihat basah karena cairanku. Aku langsung duduk dengan kedua kakiku yang masih kubuka,
“liat ini bening... kayanya emang tanggal masa subur kamu maju deh”
Ucapnya, aku jadi di buat berpikir ulang karenanya, memang benar biasanya saat masa subur v****a itu selalu mengeluarkan cairan berwarna bening seperti putih telur
“Itu keluar karena ulah nakal kamu barusan Mas...”
Balasku, sambil kutarik dirinya untuk bangun dan mendekat padaku. kuloloskan pakaiannya dan jadi menampilkan tubuh kekar nan perkasanya. tangannya kembali meraba-raba tubuhku entah apa yang sedang di carinya, dan kini hinggap tepat di dadaku. Entah kenapa rasanya itu lebih mengeras dan lebih terasa ngilu saat Mas Rama menyentuhnya, tubuhku seperti sedang menunjukan tanda-tanda masa suburku saja seperti apa katanya.
Lama Mas Rama memberikan permainan pembuka sampai kini akhirnya ia mulai masuk ke permainan inti.
“AH!”
Erangannya terdengar keras sekali begitu masuk.
“ini... kayanya bukan masa subur kamu deh ah!”
Ucapnya sambil terus mendesah. Aku juga berpikir bergitu, karena biasanya saat masa subur itu rahim jadi lebih lembut dan lebih terbuka jalannya, tapi ini masih seperti biasanya butuh banyak usaha meskipun cairan pelumasku sudah banyak keluar, tetap saja rasanya susah.
“sayang...”
Mas Rama meracau sambil memompa, aku tak tahu aku yang memang rapat atau miliknya yang berukuran big size. Selama lima tahun bermain bersamanya, rasanya selalu seperti baru yang pertama kali aku di setubuhinya.
Tak tahan, sampai kuraih saja wajahnya lalu kusumpal mulutnya itu dengan bibirku.
......
......
Esokan paginya sebelum pergi menuju rumah Ibu, aku dan Mas Rama menyempatkan diri untuk sarapan sambil memainkan handphoneku membuka akun social mediaku.
“hhh... mereka kumpul dan gak ajak-ajak aku...”
Gerutuku, seketika aku jadi mengerutkan bibirku, menyayangkan kenapa mereka tak mengajakku.
“siapa?”
“Lisa, Zee, sama Nay... mereka pasti gak ajak aku karena aku gak punya baby kaya mereka...”
Pikirku, sambil terus memandangi taman bermain yang menjadi latar mereka bertiga mengabadikan momen itu.
“sayang... kok gitu ngomongnya, Lisa kan udah kamu kasih tau kalo hari ini kamu ada acara di rumah Ibu, jadi mereka mungkin gak ajak kamu karena tau kamu ada acara”
Benar juga apa kata Mas Rama, tapi tetap saja aku masih kesal karenanya.
“kan gak ada salahnya mereka ajakin aku dulu... gak akan buang tenaga sama waktu mereka juga tuh cuma kirim aku chat nanyain mau ikut atau engga...”
Mas Rama terlihat menatapku, cukup lama.
“Kenapa?”
“kamu... gak biasanya kaya gitu, padahal kamu tuh paling jagooo banget maklumin orang, ada situasi yang salah aja biasanya kamu langsung pikirnya baik terus, tapi kenapa sekarang- hhh...”
Aku terdiam mendengar perkataan Mas Rama itu.
“Mas...”
“ehm?”
“sikap sensitive aku kayanya makin parah... aku bikin kamu gak nyaman ya?”
“engga, bukan gitu sayang...”
Mas Rama lalu bangkit dari duduknya dan kini berlutut di depanku.
“Aku gak tau kenapa bisa jadi sensi banget gini Mas...”
Ungkapku jujur padanya, Mas Rama memelukku dan kusembunyikan wajah malu dan tak enak ku di pundaknya.
“gak papa sayang... kamu cuma lagi gak enak hati sama pikiran sayang, gak papa kamu pasti baik-baik aja nanti...”
Mataku tiba-tiba panas dan sudah berair mata saja sekarang, aku tak tahu apa yang salah denganku sampai jadi seperti ini. rasanya aneh sekali kalau aku harus menangis karena tak di ajak pergi oleh Zee, Lisa, dan Nay sementara aku juga sudah memiliki acara hari ini.
Tangisku malah jadi tak bisa kuhentikan saat sadar ada yang aneh dengan diriku.
“cup sayang... gak papa Mas di sini, gak papa...”
Mas Rama mendekapku erat sambil mengusapi punggungku.
***