“sayang....”
“ehm? kenapa?”
“udah sampe...”
“ah, iya udah sampe ya”
Larut dalam lamunanku, aku sampai tak sadar kalau aku dan Mas Rama sudah sampai saja di depan rumah ibu mertuaku.
“kamu ngelamun lagi ya? hhh... ayo turun Ibu udah nunggu kita”
Tak ingin lebih telat lagi menghadiri acara Ibu hari ini, aku dan Mas Rama langsung turun kemudian berjalan melewati pekarangan rumah Ibu.
“Shintaa...”
“oh, ada Mbak Oliv, apa kabar Mbak?”
Sapaku pada wanita cantik yang merupakan sepupu Mas Rama itu.
“kabar aku mah masih gini aja Shin, kamu makin cantik aja sih”
Aku tersenyum malu di pujinya seperti itu.
“ya iyalah istri guee”
Mas Rama merangkulku sambil berkata begitu.
“ish, udah punya perusahaan gede kelakuan masih aja gini... yang berwibawa gitu loh”
“wibawa gue ketinggalan di kantor hwee”
Balas Mas Rama seenaknya begitu pada sepupunya itu. Aku tak heran melihat tingkah mereka begitu, keduanya sama-sama bungsu di keluarga besar Mas Rama. Mbak Olive itu seusia dengan Mas Rama, sampai sampai mereka juga selalu berada di kelas yang sama saat sekolah dulu, dan setiap kali bertemu ya jadi ribut terus seperti itu.
“eh, tapi di dalem ada Bibi Hani, bikin males deh”
“ck, siapa yang undang nenek nenek bawel itu sih sebenernya”
Mas Rama kusenggol karena mengatai Bibinya sendiri tak sopan begitu.
“huss, kedengeran sama orangnya marah nanti”
“Kalian ngapain malah ngobrol di situ, ayo masuk”
Ujar Ibu padaku, Mas Rama dan Mbak Oliv yang malah asyik berbicara di teras rumah.
“Shinta, sini nak”
Aku langsung berlari kecil-kecil pada ibu mertuaku dan memeluknya. Aku memang selalu senang bermanja-manja padanya, rasanya aku ini sudah seperti anak bungsunya saja.
“Ibu gimana hari ini sehat?”
“Ibu sehat selalu nak, ayo masuk di dalem banyak makanan”
Ibu selalu menjawab dengan nada lembutnya yang membuatku selalu merindukan dirinya.
“ayo Ram, masuk”
Akhirnya aku dan Mas Rama berada dalam hangatnya kumpul keluarga besarnya kembali. Suasananya ramai seperti kumpul-kumpul biasanya, aku juga seperti biasanya harus menjaga satu dari jumlah anak kakak iparku. Entah itu Evan atau Aldy, aku merasa harus mengambil satu yang selalu membuat Mbak Lina atau Mbak Jeje pusing karena tingkah mereka yang sedang aktif-aktifnya itu.
“Shinta, Evannya jangan di biarin makan permen terus, nanti giginya rusak”
Sepertinya Ibu menghawatirkan cucunya yang memang sedari tadi terus saja meminta aku membukakan bungkus permennya itu.
“ini yang terkahir kok Bu, permennya juga udah abis”
“hhh... ada-ada aja cucu Oma ini”
Ibu jadi memangku gemas cucunya yang berbadan gemuk dan bermata bulat itu.
“lah... permennya abis...”
Mbak Oliv yang tiba-tiba muncul langsung mentapi toples permen yang sudah kosong itu dengan sorot mata malangnya,
“Iya Mbak, di makanin Evan”
balasku, meski sesungguhnya yang lain juga ikut memakannya, tapi Si kecil Evan lah yang memakan permen-permen trakhir dari toples itu.
“Mas Dewa anakmu abisin permennyaaa...”
Mbak Oliv bertingkah kekanak-kanakan sekali
“cari pacar, kawin terus mintain beli permen”
Balas Mas Dewa dengan santainya.
“ogah plus sibuk, kalo kawin nanti bukannya di beliin permen, yang ada di bikin beranak terus harus beliin permen buat anak aku lagi...”
Balasnya, Ibu yang mendengar ucapan Olive hanya menggelengkan kepalanya, meski ia sudah tak heran lagi dengan sifatnya yang memang seperti itu. Mbak Oliv adalah wanita yang mengedepankan karir, bahkan saat ini sedang merintris brand kecantikannya sendiri. Dan ketika di suruh berpacaran dan menikah, ia selalu menjawabnya dengan satu kata andalannya, SIBUK.
“Oliv...”
Bibi Hani tiba-tiba muncul dan memanggil Oliv, beberapa orang di sampingku langsung berlagak sibuk dengan kegiatannya masing-masing saat ini, membuka handphone, memangku anaknya, bahkan Mas Rama tiba-tiba membuatku menghadapnya,
“apa Mas?”
“Cuma mau benerin baju kamu doang kok”
Ucapnya sambil tersenyum, padahal aku tahu sekali, ia begitu agar membuatku bisa terhindar dari pandangan mata Bibi Hani.
“udah rapi Mas...”
Kataku, tapi Mas Rama tak berhenti membuatku menghadapnya. Ia malah memainkan tali pada blush putih yang sedang kukenakan hari ini.
“Oliv, jadi kapan kamu nikah? udah umur segitu kok belum nikah sih, jadi perawan tua nanti”
Berkat Mas Rama, aku jadi mendengarkan ucapan Bibi Hani pada Mbak Oliv itu sambil memunggunginya. Dan tiba-tiba saja Mas Rama mendekatkan wajahnya pada telingaku, aku tahu ia akan membisikan sesuatu.
“untung target nenek bawel itu hari ini bukan kamu sayang...”
“huss...”
Aku memukul pelan Mas Rama yang berkata begitu padaku. Aku melirik Ibu yang duduk tepat di sampingku dan kulihat ia hanya mengulum senyumnya, jelas sekali kalau Ibu baru saja ikut mendengar ucapan tak sopan anaknya itu di telingaku.
Ibu kemudian mengelusi tanganku, ahh... untung sekali, hari ini rasanya aku lebih aman juga tenang, karena Ibu dan Mas Rama ada di sampingku untuk melindungiku dari ucapan tak mengenakan Bibi Hani itu.
“Age doesn’t matter ya Bi, sekarang itu eranya wanita-wanita sukses sama karirnya, bukan wanita yang harus di buru-buru nikah sama orang tau atau keluarganya”
Balas Mbak Oliv dengan berani. dan seketika beberapa wajah menampilkan senyumnya, mereka takjub dan bangga pada Mbak Oliv yang memang selalu berani untuk speak up pada mereka yang telah berani menilai dirinya seenaknya.
“karir terus... udah jadi perawan tua hidup sendirian baru tau rasa nanti kamu...”
Balasnya, dan karena penasaran aku jadi mengintip dengan menoleh ternyata Bibi Hani sudah melangkah pergi menuju area dapur.
“yaa... emang salah ya kalo pengen hidup sendiri??!!!”
Mbak Oliv bertanya begitu pada beberapa orang yang ada di hadapannya termasuk padaku, Mas Rama, Ibu, Mbak jeje, Mas Dewa, dan Mas Putra.
“gak, gak salah kok Liv, enak jomblo, bebas udah kawin mah pengen main aja sus- Awww sakit”
Mas Putra kena cubit Mbak Jeje yang terlihat marah padanya.
“jadi Mas nyesel nikah gitu???”
“engga gitu yaaang... maksdunya, susah mabar gitukan harus jagain Aldy”
Aku tersenyum saja, mendengar pertengkaran satu kakaknya Mas Rama dengan istrinya itu.
“aduh kalian ini, bikin Ibu pusing aja, Ibu mau ke dapur dulu siapin makan malem buat kalian”
Ucap Ibu sambil pergi meninggalkan anak-anaknnya ini. Mbak Oliv kemudian mendaratkan tubuhnya di sofa yang sebelumnya di duduki oleh Ibu.
“hhh... nikah itu gak gampang kan Mas?”
Tanya Mbak Oliv tiba-tiba pada Mas Dewa yang juga ada di sampingnya.
“ehm? iya nikah itu... ehm gak sesweet yang di bayangin”
“mahal lagi kan, buat nikah sama resepsi aja minimal harus kantongin biaya 60 juta, belum pindahan ke rumah baru, terus punya anak, dan menurut survey besarin anak sampe usia 5 tahun aja tuh rata-rata orang Indonesia itu bisa ngabisin sampe 100 juta, belum sekolah, kuliah, haduhhh... udah deh kelar”
Jelasnya, dan aku terperanga mendengarnya. Aku baru tahu data untuk memulai hidup berkeluarga ternyata sebesar itu.
“iya sih kalo di itung-itung mungkin angkanya sampe sebesar itu s**u, popok, makannya, bajunya, mainannya, belum skincare ibunya juga... tapi kalo di jalanin setiap harinya ya... biasa aja, yang penting anak istri bahagia”
Dan balasan Mas Dewa yang satu itu langsung mendapat banyak tepuk tangan juga sorak dari banyak orang yang mendengarnya.
“hu huh huuuu... cieee suami dan bapak terbaik tahun ini jatuh pada Bapak De...waa... yeayyy”
Mas Putra menjahili kakaknya demikian. Aku dan Mas Rama hanya menonton dan ikut bersorak saja. Dan dalam keriuhan itu kulihat dari ujung ruang tengah ini Ibu melambai-lambaikan tangannya padaku.
“Mas... Ibu manggil, bentar ya”
kataku sebelum pergi menghampiri Ibu. Mas Rama membalas dengan tersenyum sambil mengangguk padaku, Aku langsung berjalan cepat ke dapur tak ingin membuat Ibu lama menunggu.
“ada apa bu?”
“ehmm sini ikut Ibu sebentar”
Aku di bawanya menuju kamar dan tiba-tiba saja ibu memberikanku sebuah tiket liburan dan hotel.
“Ibu... ini apa?”
“ehm... Ibu di kasih tiket ini buat liburan tapi sepuluh hari lagi itu ibu kebetulan ada acara, dan sayang banget kalo gak diambil, jadi kamu aja yang pergi sama Rama ya nak...”
Aku ragu, jika aku menolak tentu akan menyakiti hati Ibu, tapi jika kuterima rasanya...
“Ibu... tapi Shinta-“
“Ibu bukan lagi desek kamu buat bikinin Ibu cucu Shinta, tapi mungkin kamu butuh liburan... kemarin Rama telpon Ibu dan Ibu denger dari Rama kamu belakangan jadi lebih sensitive, pengen nangis gak jelas, terus gampang kesel sama sesuatu...”
Aku menunduk, mungkin benar juga apa kata Ibu.
“ehm... belakangan Shinta gak percaya diri, terus gak tau kenapa gampang banget nangisin banyak hal yang padahal gak ada sangkut pautnya sama Shinta... kadang Shinta pengen mikir santai kaya Mas Rama yang gak begitu permasalahin belum punya anak atau kaya Mbak Oliv yang bahkan kaya males banget buat punya anak... apa Shinta harus nyerah aj-“
“jangan sayang... lebih baik kamu pasrah dan berserah sama yang di atas, tapi jangan pernah kamu nyerah dan berhenti berharap...”
“dan lagi... Ibu gak mau kamu mikir kaya Oliv dan wanita karir lainnya yang berhenti punya keinginan buat hidup berkeluarga dan punya anak... mereka itu terlalu banyak perhitungan dan over sekali mempermasalahkan soal uang, mulai dari biaya rumah, pernikahan, sampai biaya besarin anak... padahal berkeluarga itu bukan hanya soal materi, mereka gak tau aja gimana rasanya hidup sederhana tapi mesra dan bahagia bisa habisin waktu sama suami dan anak walaupun hidup gak selalu mulus dan kekurangan...”
Aku tersenyum saja mendengar ceritanya, Ibu memang wanita hebat. Ia adalah seorang wanita yang harus membesarkan ketiga anaknya seorang diri sedari ayah Mas Rama harus pergi lebih dulu saat usianya masih 5 tahun saat itu.
“anak muda zaman sekarang berbeda sekali dengan Ibu dulu”
Tutupnya,
“Shinta harap Shinta bisa sekuat dan sehebat Ibu...”
Balasku sambil menunduk
“sayang... kamu itu perempuan hebat yang sudah mendampingi Rama sampai dia bisa seperti sekarang ini, sesekali jadi sensitive itu gak papa... Ibu malah suka marah-marah gak jelas kalo lagi sensitive, tapi jangan sampai berlarut-larut, nangis aja kalo emang kamu butuh, cerita aja kalo kamu emang butuh di dengarkan semua keluhanmu itu, atau bisa juga kamu habisin waktu buat hobi kamu sayang... jangan terlalu stress sama kamu yang masih belum punya anak, gak ada yang mengharuskan kamu cepet-cepet punya anak...”
Langsung kupeluki Ibu yang selalu menjadi obat penenangku.
“terimakasih Bu... aku beruntung punya Ibu yang bisa gantiin Ibu aku sendiri selama ini...”
“ehm, kamu itu anak Ibu... Ibu selalu ada buat kamu nak”
....