Fibroid : Membuatku Susah Hamil

1731 Kata
Jika ini adalah sebuah mimpi aku akan mencari pemukul terbesar dan terberat untuk membangunkanku dari semua ini. Aku sungguh ingin bangun dan mendengar kalau aku baik-baik saja, tak ada tumor, atau apa pun itu di dalam rahimku. Aku ingin seseorang mengatakan tak ada yang perlu kutakutkan saat ini. “Maaf...” Ucapku pada pria yang selama ini tengah selalu memimpikan untuk memiliki kehidupan indah bahagianya bersamaku. Sungguh aku benar-benar merasa bersalah pada suamiku. Rasanya langit runtuh, harapanku luruh bersamaan dengan fibroid yang tengah tumbuh di tubuhku. Pikiranku berkelut kini, bahkan sempat kubayangkan apa kata Ibu saat ia tahu aku yang malah terkena fibroid yang membuatku susah hamil di saat aku yang tengah sangat begitu mendambakan seorang anak lahir di antara hidupku dan Mas Rama. Semakin jauh saja rasanya untuk aku bisa menimang-nimang buah hatiku sekarang. “Hey, sayang... kenapa minta maaf, bukan salah kamu, bukan ingin kamu fibroid itu ada” Ucapnya sambil menatap dalam-dalam diriku. “Tapi-...” Kalimatku terhenti di ujung lidahku, semuanya selalu mengarahkanku pada pertanyaan ‘kenapa semua yang terjadi begitu berbanding terbalik dengan apa yang kuinginkan?’. “Sayang, itu bisa di obatin, Mas akan minta semua dokter terbaik yang ada buat sembuhin kamu...” Ucapnya padaku, aku tahu ia pasti akan memberikanku perawatan juga prosedur pengobatan terbaik untukku. Tapi seberapa baik pun perawatan yang akan kujalani, sedikitnya pasti akan memberikan dampak untuk rahimku. Dan mungkin buruknya.... akan berujung pada pupusnya harapanku yang ingin memiliki buah hati bersamanya. “Mas, kamu gak ngertiii...” “Sayang, jangan panik... kamu bilang itu non-kanker, jinak dan bisa diangkat dengan prosedur oprasi...” Ucap Mas Rama yang memang sempat sebelumnya sedikit ku jelaskan padanya apa fibroid itu. “Ia memang jinak Mas, tapi ini nggak bisa di sepelein gitu aja, ini gak bisa di anggap sesuatu yang biasa ajaaa....” Balasku, sedikit aku jadi kesal padanya, kenapa Mas Rama rasanya terlalu menyepelekan apa yang tengah tumbuh di dalam diriku ini. Seolah semuanya akan selesai dengan oprasi saja. ‘Bisakah ia lebih mengerti aku yang saat ini tengah begitu kecewa harus mendapati satu lagi halangan yang begitu besar untuk bisa memiliki momongan... padahal aku benar-benar sedang merasa putus asa sekali sekarang...’ Batinku “Mas... aku udah cacat sebagai seorang wanita... aku butuh pemeriksaan lanjutan, gimana kalo ternyata kondisi rahim aku ternyata parah, dan fibroid itu berbahaya banget buat kesehatan aku? gimana kalo aku bener-bener jadi gak bisa mengandung? Gimana kalo aku sampe harus jalanin pengangkatan rahim Mas...” Tanyaku padanya, Sungguh itulah yang menjadi ketakutan terbesarku. Aku tak pernah tahu fibroid ini akan membuat rahimku ini jadi seperti apa nantinya. “Mas tau... kemarin apa yang dokter sarankan buat aku?” Mas Rama hanya bisa menatapku dengan tatapan ragu. Dan aku pun tahu kalau ia saat ini tengah sama bingung juga takut atas kondisi diriku. “Terapi hormone... aku di kasih resep Pil KB buat mengurangi pendarahan abnormal aku dan rasa sakit waktu menstruasi, atau aku harus suntik hormone progesterone yang menghambat pertumbuhan dinding rahim aku... dan Mas tau apa itu artinya....” Aku benar-benar di kuasai oleh emosiku saat ini, air mataku sudah mengaburkan pandanganku dan basah membanjiri kedua pipiku. “Aku semakin jauh dari kesempatan buat bisa mengandung Mas....” Berat untuk kuungkapkan apalagi harus kuterima kenyataan itu. Jantungku hampir tak ingin lagi berdetak ketika mendengarkan beberapa rangkaian pengobatan yang di jelaskan sebagian besarnya oleh dokter Galih kemarin. Di antaranya seperti pemeriksaan fisik dan USG yang harus kuulangi setiap 6-8 minggu untuk mengawasi pertumbuhan miom atau si fibroidku ini. Karena berita buruknya rupanya fibroid itu bisa bertambah jumlahnya, dan itu memuatku semakin frustasi dan tak bisa aku tenang karenanya. Selain itu ada juga terapi hormone dengan mengunakan preparat progestin atau (GnRH) sampai kepada prosedur miomektomi atau proses pembedahan untuk mengangkat mioma yang sangat di sarankan sekali oleh dokter Galih untuk kujalani kemarin. Meski pada akhirnya kemarin aku hanya setuju dengan menerima anti-nyeri berupa parasetamol dulu, untuk menekan nyeri di bagian perut bawahku juga panggulku yang terkadang datang kemudian hilang, dengan tak menentu itu. Karena aku pikir baiknya aku bicarakan dulu dengan suamiku, dan baru akan memutuskan perawatan apa di pertemuan selanjutnya. “Sayang...” Mas Rama hanya bisa memanggilku demikian sambil membawa tubuhku ke dalam peluknya. “Kamu pasti bisa sembuh sayang, Mas akan pastiin kamu sembuh...” “Mas... aku- aku... kesempatannya semakin kecil buat kita punya anak Mas...” Ungkapku sambil terisak, menangis dalam dekap erat peluknya. “Yang penting kamu bisa kembali sehat dulu, itu yang penting buat Mas... asal kamu gak kesakitan, asal kamu bisa kembali jalanin hidup dengan baik lagi, gak ada yang ganggu kesehatan kamu, itu yang harus kita pikirin dulu sayang...” . . . Gejala atau keluhan yang umumnya di alami pengidap fibroid Mestruasi dalam jumlah banyak atau lebih lama Perut terasa penuh dan membesar Rasa sakit atau tak nyaman yang timbul saat berhubungan seksual Mengalami gangguan berkemih Nyeri panggul berkepanjangan dan tak kunjung sembuh, yang dapat di rasakan saat menstruasi, setelah berhubungan seksual atau saat terjadi penekanan pada panggul Konstipasi akibat mioma menekan bagian bawah usus besar Dari yang semua gejala itu, hanya dua atau tiga diantaranya yang timbul dan kurasakan selama ini. Karena memang sebagian besar kasus fibroid rahim tidak menimbulkan gejala dalam kondisi yang bisa di katakan masih dini. Tapi yang terjadi padaku, entah itu karena aku yang memang selalu mengabaikan semua gejalanya sampai kuanggap itu adalah hal yang biasa atau memang belum semua gejalanya muncul dan kurasakan dengan jelas. “Sayang, kita kunjungi dulu beberapa rumah sakit, jangan cuma andalin satu diagnose dari satu dokter dan satu klinik aja...” Ucap Mas Rama yang saat ini tengah duduk di sampingku dan tengah menjadi sandaran dudukku. Setelah percakapan tadi, Mas Rama yang sampai jadi mencari tahu semua soal fibroid itu, di mulai dari jurnal, blog kesehatan, hingga ke beberapa teman dokternya, sepertinya ia tak ingin mengambil tindakan gegabah atas kondisiku ini. “Mas...” “Iya sayang? Kenapa? Kamu mau apa?” Ucapnya sambil menaruh laptopnya yang sedari tadi di pakainya untuk mencari informasi serba-serbi tentang fibroid yang berada di rahimku. Mas Rama kini tengah menghadap dan menatap lekat kepadaku. “Mas...” “Iya sayang Mas di sini...” “Bisa panggilin Ibu...” Pintaku, rasanya ingin aku berbagi kegelisahan ini dengannya. Aku ingin peluk dan hangat dekap tenangnya. “Iya, Mas panggil ibu sekarang...” Mas Rama tak bertanya lebih banyak lagi, soal ingin apa dan mengapa aku inginkan ibu saat ini. Ia hanya langsung mengambil handphonenya dan menghubungi Ibu. “Hhhh...” Aku tahu, aku akan sengat membuatnya khawatir, tapi... Aku ingin ibu yang sama-sama perempuan, yang memiliki rahim seperti diriku saat ini. . . . “Sayang... Ibu bilang baru bisa dateng besok...” Aku tertunduk mendengar kabar itu dari Mas Rama, padahal aku ingin sekali berkeluh kesah dan mendengarkan kata-katanya yang selalu bisa mengusir sedikitnya kegelisahan di hatiku. “Yaudah gak papa...” Balasku, “Sayang... sini...” Mas Rama memangku tubuhku sampai aku jadi duduk di pangkuannya. Dan entah apa yang coba di lakukannya, tangannya kini masuk menyelusup ke dalam perutku. “Mas...” Panggilku, sedikit khawatir atas apa yang akan di lakukanya pada tubuhku itu. “Katanya kalo kena fibroid, perutnya jadi lebih begah, kembung, berasa penuh kan?” Aku mengangguk karena memang kurang lebih seperti itu yang kurasakan. “Di usap-usap kaya gini, katanya bisa kurangin sedikit sakitnya...” Aku tersenyum mendengarnya, dan sungguh rasanya nyaman sekali usapan tangannya di perutku saat ini. Tidak di tekannya, hanya di usap lembut memutar di area perut bawah tempat di sanalah bersarang fibroidku itu. “Jangan lama-lama di sana ya kalian, jangan bikin sakit istri aku juga... awas aja kalo sampe istri aku yang cantik ini kalian buat nangis lagi...” Aku jadi tertawa mendengar ancaman yang di layangkannya pada fibroid di perutku itu. “Makasih banyak Mas...” Ucapku, dan entah kenapa mendadak kesedihan menghampiri diriku. Sampai mataku terasa panas dan siap mengeluarkan air mata kini. “Sayang... Mas kekencengan pijitnya?” Tanyanya khawatir, aku langsung balas menggelengkan kapalaku, “Enak banget di elus sama Mas kaya gini...” Balasku sambil tersenyum, ingin kutampakan raut sukaku atas apa yang telah di lakukannya padaku, tapi entah bagaimana air mata itu berhasil lolos dan jatuh begitu saja. “Terus, kenapa ehm?” Tanyanya padaku sambil mengusap jejak air mata di pipiku. “Tadinya... aku pikir Mas bakal kecewa, marah, gak mau lagi punya istri yang di rahimnya ada tumornya kaya aku...” “Husss... kamu ini, kamu pikir Mas ini laki-laki kaya gimana yang bakal marah sama perempuan yang paling Mas sayang cuma gara-gara ada fibroid di rahimnya...” Aku sungguh lega mendengarnya. sikapnya sungguh berbeda dengan bayang buruk yang mengintai dan mengancamku sebelumnya. “Tapi Mas... mungkin kalo fibroid ini sampe gak bisa sembuh, Mas gak bisa itu-“ “Sayang... jujur sama Mas, apa selama ini kamu tahan sakitnya selama kita lakuin ‘itu’? Ehm?” Mas Rama memotong kalimatku dan mendadak bertanya demikian padaku, meski memang sering kali setelahnya aku mengalami ngilu dan sakit pada panggulku, tapi melihatnya bisa merasa puas dan birahinya yang amat tinggi itu bisa terpenuhi.... aku baik-baik saja. Malah semua nyeri yang kurasa hilang, saat tahu dirinya bisa suka dan bahagia atas apa yang telah kulakukan untuknya. “Sakit aku itu gak ada apa-apanya sama senyum yang tercipta dari wajah ganteng suami aku ini...” Balasku padanya. Mas Rama kemudian meraih wajahku dan mendaratkan bibirnya di pipiku, lama ia dirinya mengecup pipiku. “Seharusnya kamu bilang sayang...” Bisiknya pelan, “Mas jadi ngerasa bersalah sama kamu...” “Mas, bukan salah Mas kok... akunya aja yang mungkin-“ “Sayang... Mas janji bakal lakuin yang terbaik buat kesembuhan kamu, Mas bakal lakuin semua cara buat bikin kamu sehat lagi, Mas gak mau denger kamu harus punya keluhan sakit lagi... “... Bayangin kamu sakit, itu bener-bener bisa siksa Mas sayang, hati Mas hancur tau kamu kesakitan dan malah coba tahan kaya gitu...” Ungkapnya padaku, Rasanya sia-sia sekali semua ketakutan yang pernah kumiliki sebelumnya, berpikir kalau dirinya akan meninggalkanku karena aku biasa-biasa saja, bahkan kalah jika harus di bandingkan dengan perempuan di luar sana. Karena aku yang tak sempurna seperti ini saja Mas Rama masih bertekat dan berucap seperti itu padaku. “Makasih Mas...” “Harus optimis pokoknya, kamu pasti bisa sembuh lagi sayang...” “ehm Mas...” Kupeluk erat dirinya yang sudah berhasil menenangkan dan memberiku kekuatan untuk bisa sembuh dari fibrioid ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN