@Klinik Obgyn
“....”
“Apa ibu Shinta mengalami gejala PMS yang berlebihan?”
Tany Dokter Galih pada Shinta yang saat ini sedang duduk di depannya.
*(PMS atau premenstrual syndrome merupakan kumpulan gejala atau keluhan yang terjadi dalam waktu 1-2 minggu sebelum mestruasi. Sifatnya subjektif dan bervariasi pada setiap wanita seperti kram perut, flek darah, nyeri p******a, nafsu makan mneingkat, hingga mudah lelah)
“Ehm, saya memang sering mengalami PMS dan itu memang sudah biasa sejak SMA...”
“Sejak SMA?”
Dokter Galih bertanya sambil menaikan kedua alisnya, ia di buat sedikit penasaran soal bagaimana bisa pasiennya itu menganggap apa yang menjadi gejala PMS itu adalah hal biasa.
“Semula memang saya sempat panik, karena keramnya yang cukup parah, kemudian menstruasi yang selalu banyak, dan nyeri tubuh di sana sini, tapi ternyata semua teman-teman perempuan saya juga mengalami hal itu, jadi aku pikir itu hanya bagian dari hal yang biasa di alami seorang perempuan saja...”
Cerita Shinta.
Namun kini Dokter Galih mulai menampilkan raut yang tak bisa di tebak oleh pasiennya itu. Pandangannya kini lurus, menatap serius foto USG yang ada di tangannya itu.
“Ehm... ada fibroid di dalam ibu Shinta...”
Ucapnya sambil memberikan foto USG di tangannya itu.
.
.
Telinga Shinta mendadak berdengung, bingung, dengan apa yang baru saja di ucapakan oleh dokternya itu.
“Fibroid?”
Shinta mengulang kata yang baru saja di ucapkan oleh Dokter Galih dengan nadanya yang amat lemah, sambil mengamati hasil USG-nya, mencari-cari letak fibroid yang baru saja di nyatakan ada di dalam rahimnya itu.
“Benar, ukurannya sudah 3,9 hampir 4 cm saat ini...”
Tambah Dokter Galih, membuat pasien di depannya itu kini sampai mematung tak ingin percaya.
“Jadi... ada fibroid di rahim saya? fibroid... itu- itu apa? Itu bukan kanker kan?”
Dengan terbata-bata ia bertanya. Shinta sudah tak bisa lagi untuk tetap bersikap tenang saat ini, bayang-bayang buruk mulai berdatangan satu persatu di kepalanya membawa ketakutan dan kegelisahan yang menyerbu hatinya.
Pikiran juga hatinya jadi kian tak berbentuk, bercampur aduk, antara ketakutan, kekhawatiran, bahkan bayangan terburuk yang mungkin bisa terjadi padanya mulai mengintai dirinya. Shinta sampai berpikir soal kemungkinan dirinya akan bisa mati karena menderita fibroid itu.
“Fibroid adalah pertumbuhan massa yang bersifat non-kanker di dalam rahim atau di luar rahim...”
“Apa itu... saya- saya gak ngerti dokter...”
Sejujurnya Shinta bukan tak mengerti atas maksud dari penjelasan dokter Galih baru saja itu, ia hanya ingin mengingkari kenyataan bahwa kini ada jaringan tak normal yang tengah tumbuh di dalam rahimnya.
“Dokter ini... apa ini sungguhan?”
Tanyanya, Shinta sampai berpikir kalau apa yang di katakan oleh dokter Galih itu hanya candaannya belaka, atau ia juga kini tengah berharap kalau dirinya tengah di kerjai dan fibroid itu tak sungguh benar-benar ada di dalam rahimnya.
Dokter Galih hanya bisa diam, ia cukup tahu bukan hal yang mudah untuk menerima hasil pemeriksaan yang jelas tak menyenangkan justru malah sangat mengkhawatirkan itu.
“Fibroid rahim tidak membawa bahaya yang berpengaruh besar pada keseluruhan kesehatan ibu Shinta, tapi Ibu perlahan akan tergangu karena merasakan nyeri pada area panggul... tapi jika fibroid itu di biarkan sampai membesar itu dapat bergeser, terpelintir, dan ketika hal itu terjadi akan menimbulkan kram dan rasa tak nyaman yang akan mengganggu aktifitas harian ibu Shinta...”
Jelas Dokter Galih panjang.
“Tapi kondisi Ibu Shinta saat ini, sepertinya sudah harus menjalani oprasi...”
Dokter Galih malah melanjutkan ucapannya seperti itu.
Setelah fibroid, kini oprasi, ia benar-benar bisa frustasi di buatnya saat ini. Shinta sampai di buat ingin pergi saja yang jauh, sejauh mungkin, tak sanggup untuk mendengarkan hal yang jauh lebih buruk lagi dari itu.
Ia benar-benar di buat tak menyangka dan tak ingin sedikit percaya kalau rahimnya kini sudah sampai sesakit itu.
“Tapi-... tapi kenapa? Kenapa bisa ada fibroid... Lalu, dua tahun lalu... itu- itu tak ada, bahkan beberapa kali saya jalani pemeriksaan tak pernah di temukan fibroid... dokter- mungkin dokter salah mendiagnosa saya...”
Saking tak terimanya Shinta sampai berkata demikian pada dokternya itu.
“Dua tahun lalu mungkin masih belum ada... namun saat ini jelas kami deteksi ada mioma uteri atau fibroid itu di dalam rahim Ibu Shinta...”
“Penyebab dari kemunculan fibroid sendiri masih belum di ketahui, namun beberapa kondisi bisa di sebabkan karena kelainan genetic, kejanggalan pada pembuluh darah, kemudian respon jaringan terhadap cedera, sampai kepada factor hormonal yang di pengaruhi oleh kadar estrogen dan progesterone...”
“Ahh... gimana ini... apa itu akan sangat buruk pada kondisi rahim saya dokter? Apa... saya benar-benar harus sampai mejalani oprasi?”
Shinta sudah tak bisa lagi untuk meredam kepanikannnya, meski sudah di beritahu kalau fibroid itu pertumbuhan daging jinak dan bukan kanker yang berkembang di jaringan otot rahimnya, tetap saja ia merasa kini sesuatu tengah mengancam tubuhnya.
“Dan apa... karena fibroid itu... saya tidak bisa hamil selama ini??”
Tanya Shinta, ia tak henti-hentinya di buat tak tenang setelah mendengar adanya fibroid di dalam rahimnya itu. Ia tentu tak dapat menuntup kemungkinan, bahwa mungkin saja atau bahkan bisa jadi kemungkinan besar, karena fibroid itu lah yang menjadi penyebab selama ini dirinya yang tak kunjung mengandung itu.
“Ada banyak kasus di mana seorang wanita yang memiliki fibroid dapat hamil secara alami, bahkan mungkin fibroidnya tak perlu di obati agar tumbuh pembuahan, dan ada juga yang hilang bersamaan dengan proses persalinan...”
“... Namun yang harus menjadi perhatian adalah letak fibroidnya itu sendiri, jika fibroid itu dapat mengahalangi saluran tuba seperti fibroid submucosa, yaitu jenis fibroid yang tumbuh dan menonjol ke dalam rongga rahim, maka resiko infertilitas atau kemandulan hingga keguguran itu akan sangat tinggi...”
Getar yang semula hanya pada tangannya yang berkeringat basah karena resah juga gelisah itu, kini sudah menjalar hingga ke bibir dan matanya yang amat tak siap harus mengetahui kondisi tubuhnya yang tak baik-baik saja itu.
“Saya... bisa sembuh kan dokter...”
Tanya Shinta dengan air mata yang sudah jatuh saja, tak bisa lagi untuk di tahannya.
“Ehm, tentu kita akan lakukan pengobatan yang terbaik untuk kesehatan anda...”
.
.
.
“Hhh....”
Shinta tak henti-hentinya memikirkan diagnose yang di ucapkan dokter Galih tadi padanya. Tangannya mengelusi perutnya yang tengah di tumbuhi sesuatu yang tak seharusnya ada di sana.
‘Kenapa ini harus terjadi sama aku...’
‘Padahal inginku janin yang tumbuh di dalam rahimku, tapi kenapa harus fibroid yang bersemayam dan akan jadi kian membesar jika kubiarkan...’
Sesal Shinta dalam hati.
Ia kemudian memikirkan bagaimana dirinya akan mengatakan hal itu pada suaminya. Kepalanya seketika kacau, saat membayangkan raut suaminya yang mungkin akan kecewa pada dirinya yang malah sakit dan besar kemungkinan benar-benar tak mampu mengandung seorang anak darinya.
“Hhh... dokter Galih bilang aku bisa sembuh, iya cukup lakuin oprasi... jadi gak papa”
Ucapnya, berusaha menguatkan dirinya sendiri, meski dalam hati ia sangat ingin menjerit, takut, akan hal buruk akan terjadi pada tubuhnya itu.
.
.
Pukul 7 Malam
“Sayang”
“Sayang”
“Shinta, hey sayang....”
Itu adalah yang ketiga kalinya Rama memanggil istrinya yang terus saja menatapi menu makanan yang sudah tersaji dan seharusnya di santapnya kini.
Sampai akhirnya ia meraih tangan Shinta yang sedang amat larut dalam lamunannya itu.
“Ehm?”
“Sayang, ada apa?”
Tanyanya kembali setelah akhirnya ia bisa mendapatkan perhatian istrinya itu.
“Ehmm gak papa Mas...”
Jawabnya, namun rasanya siapapun dapat menyadari betapa tak baik-baik saja dirinya saat ini.
“Sayang-“
“Mas, aku mau ke toilet dulu sebentar...”
Ucapnya, sambil membangunkan diri dan pergi begitu saja meninggalkan mejanya, melangkah menuju toilet.
.
.
“Hhhh...”
Sambil mendudukan dirinya pada dudukan toilet. Ia lantas menunduk sambil menutupi wajahnya yang jelas menampilkan ketakutan yang menyeruak dan tak bisa lagi di sembunyikannya.
“Aku harus gimana bilangnya sama Mas Rama...”
Gumamnya, ia benar-benar bingung sekali saat ini. Perasaan malu, menyesal dan takut menyecewakan kini kuat sekali menyergap hatinya. Tenggorokannya tercekat, setiap kali ia berniat mengungkapkan apa yang telah terjadi padanya itu. Shinta berulang kali gagal mendapatkan waktu yang tepat untuk memberitahu kabar buruk itu pada Rama.
“Mas... aku harus gimana...”
Bagaimana, bagaimana, dan bagaimana, kata itu terus saja mengawali semua yang datang di kepalanya saat ini.
‘Bagaimana kalau Mas Rama benar-benar kecewa dan sedih karena kondisiku ini....’
Itu adalah salah satunya.
Sebagai wanita ia benar-benar merasa telah gagal. Berpikir bagaimana sosok sejatinya perempuan yang seharusnya bisa mengemban misi mengandung dan melahirkan, malah tak bisa menjaga rahim tempat tumbuh dan bersemayamnya seorang keturunan dari suaminya itu.
“Mungkin... mungkin Mas Rama berhak memiliki istri yang lebih baik dariku...”
Sesalnya,
Fibroid itu membuat Shinta kini merasa seperti telah cacat, tak berdaya, dan tak cukup baik sebagai seorang wanita.
Tok tok tok
“Sayang...”
Rama yang tak bisa menutup mata saja, sadar bahwa ada yang tak beres dengan istrinya itu, sampai jadi menghampiri istrinya yang sedang mengurung diri di dalam toilet rumahnya itu.
“Ehm, sebentar Mas...”
Jawab Shinta dari dalam, ia kemudian menekan push pada toiletnya bersikap seolah-olah baru saja selesai menggunakannya. Shinta juga menyelakan keran airnya, mencuci tangannya di sana.
“Aku harus bilang...”
Gumamnya, mengingatkan pada bayangan dirinya di cermin. Ia merasa kalau suaminya juga berhak tahu tentang apa yang telah menimpa dirinya. Ia tak bisa menyembunyikannya hanya karena takut mengecewakannya.
Meski sebelumnya memang terlintas juga di kepalanya, untuk menyembunyikannya saja sampai ia menjalani oprasi dan fibroid itu di angkat dari rahimnya. Berpikir biarlah dirinya saja seorang diri yang harus menelan kekcewaan itu.
Tapi kemudian perasaan takut akan hal buruk yang mungkin bisa menimpa dirinya, sampai kepada ia yang mungkin saja tak bisa bertahan karenanya, membuatnya ingin berteriak meminta pertolongan dan menumpahkan semua perasaan sesak, seperti di hantui bayang-bayang mengancam pada suaminya itu.
‘Aku tak cukup mampu untuk menjani semua ini sendirian... aku terlalu takut...
Shinta merasa tak mampu jika harus menanggung semua kondisi yang di timbulkan fibroid itu seorang diri saja.
“Sayang... kamu gak papa?”
Tanya Rama dari luar.
“Sebentar Mas...”
Setelah menjawab seperti itu, Shinta kemudian membuka pintu toiletnya itu, dan di temukannya sosok Rama yang nampak berdiri dengan raut gelisahnya kini.
“Kamu gak papa?”
“Ehm, perut aku mules, gak enak gitu, aku abis check barusan Mas, takut-takut menstruasi aku maju jadi lebih cepet datengnya...”
Alasannya,
“Dateng bulan? Kamu baru dua minggu kemarin selesainya sayang...”
Rama benar-benar di buat bingung pada istrinya itu.
“Ehm, makanya itu...”
Shinta menjawab dengan senyum canggungnya, untuk menyembunyikan sesuatu yang sepertinya tak akan pernah menemukan titik siap untuk di ungkapkannya pada Rama.
“Huffttt... kayanya buat jaga-jaga aku ambil pembalut dulu ya Mas...”
Shinta benar-benar ingin lari saja yang jauh sekarang ini, bibirnya benci untuk mengatakan berita buruk itu pada suaminya.
Sambil berjalan meninggalkan Rama yang masih mematung di depan toilet itu, Shinta tak henti-hentinya bergumam tak tenang dalam hatinya.
‘Mas... aku mohon sama kamu, jangan marah... jangan kecewa sama aku yang sakit ini, aku takut banget...’
Batinnya sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Sementara tangan Shinta tengah mencari celana dalam dan mengambil pads pembalut yang khusus yang selalu di pakainya itu, Rama mendekat dan sudah melingkarkan tangannya kini pada tubuh Shinta dari belakang.
“Sayang....”
Panggilnya,
Lagi-lagi Shinta di buat sangat gugup, meski tak ingin, tapi mungkin sudah sepantasnya ia mengatakan yang sebenarnya.
‘Mas Rama berhak tau...’
Ucapnya dalam hati,
Shinta kemudian membalikan tubuhnya, menghadap suaminya yang kini masih menampakan wajah khawatirnya padanya itu.
“Sayang...”
Shinta memalingkan pandangannya, ia tak sanggup, itu sungguh terlalu berat baginya.
“Mas...”
“Ehm? Ada apa sayang?”
Tatap mata Rama kini jelas tengah mencari sesuatu dari mata istrinya yang nampak sangat resah itu.
“Aku... aku harus gimana...”
Tak mampu lagi menahan ketakutannya, akhirnya Shinta menjatuhkan wajahnya pada tubuh Rama yang ada di hadapannya. Tangannya erat memgangi pakaian yang tengah di kenakan suaminya itu, ingin mencari pegangan atas sesuatu yang sedari siang tadi amat menghantui dirinya.
“Sayang... ada apa?”
Rama jadi semakin gelisah kini, ia kemudian menangkup wajah istrinya yang mulai berderai air mata.
“Hhh... itu...”
“Apa? Bilang sama Mas...”
“Itu... ada fibroid di dalem rahim aku Mas... aku- aku harus oprasi...”
Akhinya Shinta mengungkapkan hal yang sungguh menyiksa dirinya itu.
“Fibroid?”
.
.
.