Tips Ranjang dari Ibu

1368 Kata
“Hhmmm...” Lenguhku, tak nyaman karena sesuatu yang hangat kini mengenai pipiku. “Ehmm sayang...” “Mas... ini udah pagi ya?” Tanyaku pada dirinya yang kini malah erat memelukiku, menyembunyikanku di dadanya, sampai sinar matahari yang sebelumnya ingin menyapa dan mengingatkanku untuk bangun kini malah harus gagal, karena ulah suamiku yang ingin terus berbaring sambil mendekapku. “Ehmm... ini udah jam... tujuh??? Ya ampun Mas, ayo bangun...” Ucapku sambil melepaskan diri darinya dan mambangunkan diriku yang baru saja di kagetkan jam dinding itu. “CEO mah bebas...” Ucapnya, aku sampai menggeleng-gelengkan kepalaku mendengarnya. Padahal aku sendiri amat sangat tahu kalau jadwal dirinyalah yang justru lebih padat dari karyawan dikantornya. “Mas, aku siapin sarapan sama air buat kamu mandi...” “Ehmm, gak mau di sini aja pelukin Mas?” Tanyanya, padahal dia yang seharusnya ribut kesiangan, tapi kenapa hanya aku di sini yang seperti sedang di kejar oleh waktu dan matahari yang akan meninggi seorang diri. “Mas... kamu ingetkan ada berapa banyak orang yang harus kamu temuin hari ini??” Ingatku padanya sambil mengenakan pakaian pada tubuh polos setelah sisa-sisa aktifitas panas semalam. “Ah, lupa... tiba-tiba Mas amnesia...” Bisa-bisanya Mas Rama bertingkah kekanak-kanakan sekali di saat seperti ini. “Ih tau ah, pokoknya nanti aku balik ke sini bawa sarapan Mas harus udah mandi yaa...” “Ehmm iya iyaaa...” Setelah mendengar ‘iya’-nya itu baru aku bisa pergi meninggalkannya yang masih meringkuk di tempat tidur. Pertama aku menyiapkan air hangat untuk mandinya. Jika ada gear CEO termanja mungkin Mas Rama pemenangnya. Ia selalu inginkan aku mengurusi semua kebutuhannya, sampai kepada mengukur suhu air sebelum di pakainya mandi, karenanya aku rutin menyiapkan air untuknya mandi setiap pagi dan malam hari. Setelah itu kusiapkan semua hal yang akan di kenakannya, setelan pakaian, dasi terkadang, jas, sepatu, jam tangan termasuk handphone sampai kepada kunci mobil yang selalu saja lupa di taruhnya. Selesai dengan semua itu aku baru membawa kakiku berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk suamiku itu. Namun kagetku... “Oh???” “Ibu-... Ibu sejak kapan di sini...” Heranku melihat kedatangannya yang tiba-tiba pagi ini. Tapi tentunya bukan dengan menyelusup karena Ibu juga memegang satu kunci rumah anak dan menantunya ini. “Barusan nak, ibu bawain ini buat kamu...” “Loh, ibu seharusnya istirahat aja, kenapa harus repot-repot gini sih... Ibu pasti capek banget kan udah jagain Mbak Lina kemarin...” Mbak Lina kemarin terkena morning sickness *(kondisi mual dan muntah yang dialami oleh ibu hamil trimester pertama) di awal kehamilannya yang bisa di katakan cukup parah. Sampai Ibu harus menemaninya sekaligus juga menjaga Evan dan Karian yang masih kecil-kecil itu. “Gak papa, ibu ini strong... dan ibu ingin lakukan yang terbaik juga buat merawat kamu sayang...” Ucapnya, dan sungguh... aku merasa kalau ibu merupakan wujud lain dari apa yang di namakan malaikat, yang tuhan kirimkan untukku. Aku benar-benar bersyukur atas semua perhatian dan cinta tulusnya itu. “Ini ibu bawakan sari kacang hijau yang katanya bagus sekali untuk kesehatan rahim kamu, banyak orang bilang kalo makan makanan yang banyak mengandung protein kaya kacang-kacangan daging, biji-bijian, telur sama salmon itu bagus untuk meningkatkan kesuburan...” Ibu menjelaskan itu semua sambil menuangkan sebotol sari kacang hijau alami dan merupakan buatan tangan itu ke dalam gelas yang kemudian di berikannya padaku. “Makasih Bu...” “di habisin ya sayang” “Ah iya... nanti kamu mau ibu buatin apa untuk makan siang Shin? Bayam cah telur katanya menu rekomendasi ibu-ibu promil loh, kamu mau coba menu itu?” “Ehm? Bayam cah telur? itu buatnya gimana?’ “Ya gampang banget... pertama bayam direbus biasa, jangan lupa di tambahin garem sama gula pasir, selama dua menit aja, habis itu angkat terus di tiriskan... nah selanjutnya didihkan air lagi tambahkan bawang putih, virgin coconut oir, garam, gula, merica, telur, tomat, aduk-aduk rata, setelah itu sajikan sama bayam yang tadi udah kamu siapin...” Aku mengangguk-angguk mendengarkan resep bayam cah telur yang ternyata sesimpel itu, namun cukup baik nutrisinya untuk wanita yang sedang menjalani promil alias program hamil. “Atau... mau ibu buatin salmon panggang aja sama salad?” “Oh, kayanya itu enak Bu... nanti masaknya bareng Shinta aja ya...” Aku lebih tertarik pada yang satu itu, entah kenapa menu kedua yang di rekomendasikan Ibu itu jauh lebih menggugah selera menurutku. “Yaudah kalo gitu, ini sari kacang hijaunya ibu taruh sini, rajin-rajin di minum yaa...” “Ehm, makasih banyak bu...” “Sayang....” Mas Rama memanggilku dari dalam kamar, aku tahu itu tandanya aku harus menemuinya untuk membantunya berpakaian. “Hhhh, suami kamu itu manja banget...” “Belum juga hamil tapi Shinta udah ngerasa kaya punya anak Bu...” Ibu terkehkeh saja mendengar ucapanku itu. “Yaudah kalo gitu Shinta pergi dulu liat Mas Rama ya...” “Iya sayang...” . . . Author pov Setelah Shinta selesai dengan semua urusan suaminya yang akan berangkat ke kantor itu, ia kemudian berjalan kekamar mandinya, karena tak tahan ingin buang air kecil yang sedari tadi di tahannya. “Hhh... akhirnya lega juga...” “Oh??” “Bulan ini ada bercak darah lagi, Shhh... padahal dateng bulan aku kan sekitar seminggu lagi” Gumamnya, ia memang terkadang selalu mengalami pendarahan lebih awal sebelum masa mestruasinya berlangsung. Semula, di awal-awal Shinta di buat sedikit panik, namun perlahan ia mulai terbiasa dengan munculnya darah itu. Ia lantas hanya berpikir kalau itu adalah flek dan menjadikannya tanda saja bahwa sekitar seminggu atau sepuluh hari lagi ia akan masuk ke dalam periode menstruasinya. Shinta kemudian bangun dari toilet duduknya itu sambil mengerang karena tulang pingganya yang belakangan memang selalu terasa panas dan sakit apalagi saat di bawa berdiri. “Ah, kayanya efek semalem aku main gila sama Mas Rama deh... atau mungkin gara-gara kemarin aku rutin ngegym yang cukup berat ya jadi sekarang badan aku kaya nenek-nenek ringkih gini...” Terkanya. Ia kemudian memilih mandi saja untuk membersikan dirinya. Dan tak butuh waktu lama baginya untuk menyelesaikan mandi paginya itu, Shinta pun kini sudah berpakaian rapi dan menghampiri ibunya yang sedang menikmati tehnya di teras belakang rumahnya. “Ibu...” “Ya? “Ini kuenya ...” Shinta menyerahkan sekotak kue yang sengaja di siapkannya special untuk ibu mertuanya, sebagai cemilan teman menyeruput tehnya itu. “Makasih nak” Ibu mertuanya itu lantas mulai menikmati satu gigitan kue yang di bawakan oleh Shinta itu. “Shinta...” “Iya Bu...” “Ehm... Rama, apa dia juga jalanin pemeriksaan soal kesuburannya?” Tiba-tiba ibu mertua Shinta bertanya seperti itu. “Mas Rama udah lama gak ke Obgyn lagi selama dua tahun ini Bu, memangnya kenapa?” “Ehm, ibu cuma mau kasih tau... sebaiknya bukan cuma kamu yang jalanin tes di rumah sakit, tapi Rama juga....” “Iya Bu, nanti Shinta ajak Mas Rama sekalian deh buat periksa...” “Ibu tau.... pasti Rama gak pernah absen minta jatah dari kamu setiap malem kan?” Mendadak Shinta tertunduk malu karena pertanyaan Ibu mertuanya yang membawa topik yang cukup privat seperti itu. “Ehmm... itu... itu ya- ehmm...” Shinta langsung terlihat kikuk kini, dan itu cukup menjelaskan bahwa terkaan Ibu mertuanya itu benar adanya. “Padahal katanya terlalu sering ejakuliasi itu jadi salah satu penyebab produksi sperm* encer...” Shinta seketika langsung jadi menatap serius ibu mertuanya, setelah mendengar perkataannya yang cukup mengejutkannya itu. “Oh ya bu?” “Ehm, semakin intens suami dan istri melakukan hubungan seks, semakin menurun pula kualitas a******i di hari berikutnya, yang artinya jika di lakukan setiap hari sperm* yang keluar bisa jadi lebih encer dari yang seharusnya” Shinta jadi sedikit berpikir saat ini, mungkin ia perlu mempertimbangkan jadwalnya bermain dan melayani keinginan suaminya setiap itu. “Dan salah satu cara bikin sperm* kental lagi ya... sesekali kamu harus kasih dia libur, biar air maninya punya waktu buat terisi sama sperm* lagi...” Shinta mengangguk-angguk mendengarkan informasi baru seputar kehidupan ranjangnya langsung dari ibu mertuanya itu. “Kira-kira berapa lama bu ambil jedanya?” “Ehm dua sampe tiga hari aja cukup, kalo kelamaan nanti Rama ngamuk lagi...” Shinta terkehkeh mendengar ujung kalimat ibunya itu. “Ehm, makasih bu tipsnya...” “Iya sayang...” .. ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN