Obgyn : Tips Dua Ronde dalam Satu Jam 17+

1377 Kata
“Sayang...” “Ehm? Apa Mas?” “Dari tadi main handphone terus chat sama siapa sih...” Mas Rama sepertinya sedikit terganggu karena kuabaikan sejak tadi, karena aku yang sibuk chatting dengan dokter Galih. “Ehmm... ini aku lagi konsultasi via chat Mas, kebetulan klinik kemarin adain fasilitas konsultasi online juga...” Balasku pada Mas Rama. “Hhh, padahal masih kemarin kata Ibu kamu keringet dingin di ruang tunggu, eh sekarang malah kaya ketagihan gitu sih sampe via online segala” Aku tersenyum saja cengengesan mendapat sindiran dari Mas Rama. Tapi memang entah kenapa aku bisa dengan mudahnya merasa nyaman berkonsultasi bersama dokter Galih. Tapi mungkin karena Dokter Galih yang selalu memberikan tips dan arahan dengan cara yang mudah untuk kucerna, tak melulu soal medis, tapi juga bimbingan secara psikologis. Dan yang terpenting adalah ia tidak sangat menekankan pada resiko kesehatan, tapi selalu memotivasi dan meyakinkan soal aku yang bisa lebih sehat dan lebih baik lagi dalam menjaga tubuhku ini. Aku pikir aku sudah menemukan dokter yang cocok untukku. “Konsultasi apa sih sayang?” “Ehm, itu...” Sedikit malu sesungguhnya untuk aku mengungkapkan apa yang sedang kubicarakan dengan dokter Galih pada Mas Rama. Sampai aku jadi diam saja mengulum senyumku saat ini. “Hayooo, konsultasi apa?” Mas Rama yang jadi semakin penasaran kini mulai mendekatkan diri padaku, dan sudah berada dia tepat di depanku saja sambil memelukku kini. “Ehmm... Mas, malam ini kita usaha lagi bikin bayi gimana?” Tawarku malu-malu padanya. “Oh, tentu... kalo soal itu Mas paling bersemangat buat berusaha, bahkan Mas mau sekuat tenaga bikinnya sama kamu sayang...” Jawabnya langsung menegakan tubuhnya, meregangkan sedikit otot-otot tubuhnya, seolah tengah bersiap untuk melakukan ajakanku itu. “Mas...” Kuhentikan sebentar tangannya yang sudah mulai akan mengangkat kaus yang akan di kenakannya itu. “Ehm? kenapa sayang...” “Dua ronde ya...” Pintaku, Mas Rama menggangguk setuju sambil mengembangkan senyumnya padaku. “Satu jam...” Tambahku, dan yang kali ini Mas Rama bereaksi berbeda dengan sebelumnya, kepalanya di miringkannya, menampilkan raut wajah tak mengerti-nya, dengan kata satu jam yang baru saja kukatakan itu. “Ehm? Satu jam? Maksudnya?” “Ehmm, iya dua ronde satu jam...” “Kenapa?” “Katanya... itu bisa bikin perut aku cepet isi...” Jawabku pada Mas Rama. Dan sesungguhnya itulah yang kudapat dari hasil konsultasiku setengah jam lamanya bersama dokter Galih via chat sedari tadi. Dari penjelasannya menyebutkan bahwa dengan bercinta dua ronde dapat meningkatkan peluang terjadinya kehamilan. Bahkan dokter Galih menyebutkan dalam program inseminasi buatan tiga kali lebih sukses ketika menggunakan dua s****a sama yang keluar dalam jangka waktu satu jam. Bahkan secara data angka kehamilan bisa meningkat hingga 20,5 %. Ahli kesuburan juga mendukung tips yang di sebutkan oleh dokter Galih itu, yang menyebutkan bahwa ‘kesempatan hamil lebih besar jika melakukan seks lebih dari sekali dalam kurun watu satu jam’. “Hhhhh okey, ayo dua ronde dalam satu jam...” Ucapnya sambil langsung membuka pakaiannya dengan penuh semangat. “Mas, tapi pelan-pelan yaa...” “Ehm, pelan? tapi... waktu kita cuma satu jam sayang...” Mas Rama sepertinya akan menghabisiku malam ini. Apa lagi setelah kuberikan jangka waktu yang bahkan sangat jauh dari durasi yang biasanya ia habiskan untuk bisa melakukannya bersamaku. Tangan yang tampaknya sudah tak sabaran itu, kini mulai menyentuhku dengan lembutnya, mulai dari lengan hingga ke area pundakku untuk menurunkan tali piyamaku. Sampai tubuh atasku kini mulai terekspos di depan matanya. “Mas...” Kupanggil dirinya, agar ia mengalihkan pandangannya untuk bertemu sekejap dalam tatap dan bukan hanya focus pada tubuhku yang seperti akan di lahapnya bulat-bulat. “Ehm...” Jawabnya begitu sambil berdiri dan mulai menurunkan celana tidurnya. Hingga nampaklah miliknya yang sudah berdiri namun masih terkurung oleh celana dalamnya itu. Tiba-tiba saja aku jadi terkehkeh karenanya. “Apa?” “Itu... milik Mas sejak kapan bangun?” “Ah, ini... dia kangen kamu manjain sayang... jangan sakit lagi yaa, dia kesepian banget belakangan ini” Aku tak bisa menahan tawaku atas ucapannya itu. “Hahahaha Iya-iyaa kasian banget sih sampe kesepian gitu... aku janji deh bakal jagain tubuh aku, biar sehat terus dan bisa manjain kamu Mas...” Mas Rama langsung memamerkan senyum tampannya sambil mendekat dan mulai merangkak ke atas tubuhku. Cup Cup Cup Kecupan lembutnya mulai di daratkannya di kening, hidung dan terakhir di bibirku. “Mas sayang kamu...” Aku tahu ini awalnya... Rasanya sudah lama sekali aku tak b*******h seperti sekarang ini. Bahkan sentuh lembutnya dari ujung kakiku yang mulai berjalan naik hingga ke paha atasku, seperti sesuatu yang bisa membakar diriku malam ini. Darahku seolah ikut di mendidih, ingin segera mendapatkan yang lebih dan lebih dari yang sedang di lakukannya kini. Tak ingin hanya diam, hingga kuraup bibir menggoda suamiku tercinta yang sudah membangkitkan nafsu dan hasrat bercinta yang amat menggelora di d**a. Kukalungkan tanganku pada lehernya, ingin segera bisa menyatu, beradu bersamanya. “Hmmm...” Mas Rama melepaskan ciumannya, kini ia merosot semakin turun dan turun untuk bertemu dan menyapa milikku di bawah sana. “Mas...” Dengan setengah melenguh kupanggil dirinya yang sedang melakukan permainan lidahnya yang membuatku mengelinjang tak tahan. “Mas... ehm masukin sekarang...” Pintaku tak sabaran “Okey baby...” . . . “Ahh...” Rasanya benar-benar benar-benar sangat indah sekali. Meski lemas dan di banjiri peluh, namun kini aku berbaring dengan di penuhi suka dan puas atas kenikmatan cinta yang tiada tara. “Ini satu jam?” “Ehm? iya mas kita main satu jam...” Mas Rama menampilkan senyum lebarnya dengan raut bangganya kini. “Baik-baik yaa di dalem...” Ucapnya sambil mengelusi perut polos di balik selimut yang menutupi tubuhku dengannya. “Mas...” “Iya sayang...” “Kalo nanti aku gemuk setelah hamil, jangan bosen sama aku yaaa...” Ucapku padanya, karena sungguh aku tak berniat menjalani diet-diet lagi. “Bosen gimana sih sayang, Mas itu gak akan pernah bosen-bosennya sama kamu...” ku miringkan tubuhku ingin berhadapan dengannya. “Yakin?” “Ehm, mau kamu gemuk, mau kamu keriput... pokoknya Mas bakal jadi fans nomor satunya kamu...” Ucapnya, Mas Rama memang paling bisa sekali menyenangkan hatiku. “Cium...” Pintaku manja padanya. cup “Lagi...” Cup “yang lamaa...” Cuuuuup “Sehat selalu ya sayang... jangan bikin Mas panik lagi... dan yang penting...” Mas Rama mengambil jeda dari kalimat yang akan di ucapkannya itu, sampai kutunggu dengan penasaran apa yang menjadi kelanjutannya. “Mas bisa selalu main sama kamuu...” Ungkapnya, aku sampai di buat menyirit tak percaya dengan ucapnnya itu. “Iih... kirain aku apa, hati-hati loh Mas... atau nanti kita sekalian pergi ke dokter buat periksa siapa tau Mas ini Hyper...” “Ehm? Hyper?? sembarangan banget sih kamu sayang, Hyper gimana coba...” “Ya abisnya aku tuh suka kewalahan kalo main sama kamu Mas...” Mas Rama jadi memecah tawanya setelah mendengar apa yang kuucapkan baru saja. “Hahahh... Itu bukan hyper, tapi kuat sayang...” “Sama aja...” “Ya suruh siapa punya kamunya enak, bikin nagih...” “Iih Masss... jangan bilang gituu, aku malu tau...” Meski sudah akan lima tahun aku bersamanya, tetap saja saat harus membicarakan hal eksplisit seperti ini, aku selalu saja malu di buatnya. “Hahahahhh... yang bener aja sayang...” Mas Rama jadi tertawa dengan puasnya kini karena aku yang masih saja malu-malu begitu. “Ayo tidur, aku capek banget” “Iya yaudah... “ Mas Rama kemudian mengeratkan peluknya padaku, membagi hangat tubuhnya itu bersamaku. “Mas itu sayang, sayaaaaang banget sama kamu... sampe kapan pun, kamu itu adalah mahluk terindah yang pernah Mes temui dan Mas miliki sayang...” “Makasih banyak Mas, aku juga sayang banget sama kamu...” ... ... Ost Bukti . Memenangkan hatiku bukanlah Satu hal yang mudah Kau berhasil membuat 'Ku tak bisa hidup tanpamu Menjaga cinta itu bukanlah Satu hal yang mudah Namun sedetik pun tak pernah kau Berpaling dariku Beruntungnya aku Dimiliki kamu Kamu adalah bukti Dari cantiknya paras dan hati Kau jadi harmoni saat kubernyanyi Tentang terang dan gelapnya hidup ini Kaulah bentuk terindah Dari baiknya Tuhan padaku Waktu tak mengusaikan cantikmu Kau wanita terhebat bagiku Tolong kamu camkan itu Meruntuhkan egoku bukanlah Satu hal yang mudah Dengan kasih lembut kau pecahkan Kerasnya hatiku Beruntungnya aku Dimiliki kamu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN