“Silahkan duduk... dengan Ibu Shinta ya?”
“....”
Dan bukannya aku masuk kemudian duduk, seperti apa yang baru saja di ucapkan dokter yang sedang duduk di dalam ruangannya kini, aku malah hanya berdiri mematung, di ambang pintu masuk.
‘Kenapa dokternya laki-laki sih...’
Batinku,
“Ayo nak... masuk”
“Ehm... Ibu-“
“Ibu di sini temenin kamu...”
Ragu dan ingin pergi lari saja sejujurnya. Namun karena ada ibu di sampingku dan menemaniku rasanya itu benar-benar cukup untuk kujadikan alasan kenapa aku tetap masuk ke dalam ruangan ini.
Dengan sangat berat hati, kududukan tubuh yang mulai di kuasai oleh ketakutan ini.
“Jadi ada keluhan apa?”
Aku menatap ibu, sebelum menjawab tanya dokter di hadapanku saat ini.
“Shinta gak papa nak...”
Ucap Ibu sadar aku yang benar-benar sangat ragu untuk melanjutkan sesi ini.
“EHm...”
Aku tertunduk sambil menggaruk-garuk leher belakangku, benar-benar tak nyaman sekali di sini.
“Tidak apa-apa Bu, tentu bukan hal yang mudah membicarakan keluhan pada dokter laki-laki seperti saya mengenai keluhan organ reproduksi bukan, kita pelan-pelan saja...”
Ucapnya,
Dan sungguh ini risih sekali, jadinya double-double tak menggenakan sekali. Dulu aku sempat di manfaatkan untuk dokter yang membutuhkan pasien agar ia mendaapat bayaran dari treatment yang salah, sekarang aku malah mendapatkan dokter laki-laki yang kutebak usianya tak begitu jauh dari Mas Rama.
Masih sangat muda.
.
.
“Ehmm... ini tentang kesuburan saya dok, pernikahan saya sudah mau lima tahun tapi... belum ada tanda-tanda akan ada kehamilan, kemudian juga...”
Aku mengambil jeda untuk menceritakan apa yang telah terjadi dan menjadi permasalahannya saat ini.
“Ehm... kemudian?”
Tanyanya seperti benar-benar ingin tahu atas kondisiku.
Dan sungguh dari caranya menatapku, aku benar-benar tak bisa berhenti curiga akan hal itu. Bukan tatapan yang bagaimana, justru aku kini malah mencari-cari apa arti di balik tatapan ramahnya itu padaku.
Itu benar-benar mengingatkanku pada sosok dokter itu dua tahun yang lalu.
Sampai kemudian aku menunduk tak tahan dengan jika harus terus bertatapan dengannya.
Tok tok tok
Seseorang terdengar mengetuk pintu, mengintrupsi sesi konsultasi sebelum di lakukannya pemeriksaan secara fisik bersama dokter di depanku ini.
“Dokter Galih, ini datanya...”
Ucap seorang perawat muda yang kemudian langsung menyerahkan berkas pada dokter yang akan memeriksa kesehatan rahimku ini.
“Oh, iya terimakasih...”
Ia kemudian membuka berkas yang baru saja di terimanya itu, kuperhatikan ia mulai membulak-balikan halaman demi halamannya, memeriksa dengan cermat atas apa yang tertera di dalamnya dengan raut wajah seriusnya saat ini.
“Ehmm... Ibu Shinta, ini dari data yang saya dapat, Ibu sempat menjadi korban malpraktik salah satu dokter kandungan, benar begitu?”
Tanya Dokter muda yang bernama Galih itu padaku
“Ehmm...”
“Benar begitu dok, dan seperti yang anda lihat, putri saya ini jadi sangat trauma seperti ini...”
Balas Ibu pada dokter Galih
“Di sini catatannya berhanti sampai dua tahun yang lalu, apa itu berarti... ibu Shinta tak pernah melakukan konsultasi kembali dengan seorang dokter kandungan atau SpOG?”
*(SpOG adalah gelar dokter untuk Spesialis Obstetri dan ginekologi yang berfokus pada kehamilan dan persalinan, penangangan masalah organ reproduksi wanita)
“Belum, anak saya ini mengalami trauma parah untuk datang kembali ke sebuah klinik kandungan...”
“...Tapi karena kemarin kesehatannya menurun dan di khawatirkan akan sampai terjadi sesuatu dengan organ reproduksi juga kesuburannya jadilah kami datang hari ini...”
Ibu jadi mewakiliku untuk menjelaskan apa apa saja yang sudah terjadi padaku.
“Ehmm, kalau begitu kita lakukan dulu pemeriksaan secara keseluruhan pada tubuh Ibu Shinta, untuk melihat bagaimana kondisinya saat ini...”
Ucapnya, dan aku mengangguk untuk itu, karena memang itu hanya sebuah pemeriksaan biasa yang akan menunjang dan sangat di butuhkan untuk pemeriksaan selanjutnya.
“baik dokter...”
Balasku.
.
.
.
“Sayang...”
“Oh? Mas Rama...”
Sedikit kaget aku melihat kemunculannya di depan gedung klinik tempat semula kulakukan pemeriksaan kesehatanku.
Dengan langkah yang cepat akhirnya aku berjalan menuju dirinya yang saat ini sedang duduk di dalam mobilnya itu.
“Mas... kok di sini?”
Tanyaku setibanya di dalam mobil kini bersamanya.
“Ibu tadi telpon, katanya mau anter dulu Mbak Lina, jadi Mas buru-buru di suruh ke sini buat jemput kamu...”
Cerita Mas Rama padaku.
Ibu tadi memang di telpon oleh Mbak Lina, karena ia sedang hamil muda dan membutuhkan sedikit bantuan Ibu, jadilah ibu pergi untuk menemui menantunya yang satu itu terlebih dulu.
“Padahal aku pulang sendiri aja juga gak papa... Aku kan juga gak sakit atau kenapa-kenapa Mas...”
“Ehm, tetep aja, Mas gak bisa biarin istri Mas yang cantik ini pulang sendirian...”
Mas Rama memanglah sosok suami yang benar-benar selalu siaga, meski aku tahu sekarang ini dirinya sedang ada jadwal melakukan suvey dan beberapa pertemuan dengan perusahaan patnernya, tapi Mas Rama malah menyempatkan diri untuk menemuiku di sini.
“Mas...”
“Ehm, apa sayang? kamu mau makan atau jajan dulu gitu?”
Tawarnya, padahal inginku berterimakasih padanya.
“Dari pada jajan, aku lebih pengen di cium mas sekarang...”
Ungkapku dan langsung saja senyum menyembang di bibir suamiku tersayang itu.
“Dengan senang hati sayang...”
Mas Rama mendekat padaku dan mendaratkan ciuman lembutnya di bibirku. kulingkarkan tanganku padanya, rasanya tak lengkap jika tak memeluknya juga.
“Ehmm... sayang...”
“Mas....”
Mas Rama dan aku jadi saling berbagi peluk saat ini.
“Ternyata bener ya... pelukan itu bisa bikin ilangin semua keresahan sama kegelisahan yang kita rasakan...”
Ucapku, Mas Rama seketika melepaskan peluknya untuk menatapku, dengan masih berada dalam jarak yang cukup dekat.
“Hasil pemeriksaannya gimana? gak papa kan? Tadi apa kata dokternya?”
Tanya Mas Rama dengan wajah seriusnya kini.
“Ehmm, masih belum tau, soalnya tadi Cuma baru tes aja, terus aku sedikit kasih tau soal keluhan aku, diet kemarin sama ya di kasih vitamin sama beberapa produk tinggi asam folat yang bagus buat kesehatan rahim aku...”
Jelasku padanya
“Hasil tesnya kapan keluar?”
“Sekitar tiga hari lagi sih...”
“Nanti datengnya sama Mas aja ya, Mas mau pegang tangan kamu atau mau wakilin telinga kamu kalo kamu gak begitu siap buat hasil tesnya...”
“Ehmm, Mas ini ada-ada aja deh, aku gak papa kok...”
“Dan ternyata semua baik-baik aja kok, gak menakutkan seperti yang aku bayangin sampe aku berhenti periksa ke dokter kandungan... padahal kan untuk perempuan yang pengen hamil seharusnya bisa terus pantau kesehatan sama kesuburannya, tapi aku malah berhenti gitu aja selama ini...”
“Yaudah deh kalo gitu, Mas seneng dengernya...”
Mungkin kedengarannya memang menakutkan, dan mungkin tak hanya menurutku, tapi bagi beberapa perempuan di luar sana untuk pergi menemui dokter kandungan dan menjalani serangkaian pemeriksaan seputar organ kewanitaan hingga kesuburan, juga soal kehamilan. Tapi rasanya itu salah satu hal penting yang harus di lakukan dan tak bisa di abaikan oleh seroang perempuan.
‘Karena perihal kesehatan organ reproduksi adalah asset yang di miliki oleh seorang perempuan, karena itu jangan menyepelekan suatu tanda atau hal kecil yang kita rasakan seputar permasalahan organ kewanitaan. Temui dokter yang tepat untuk bisa di ajak konsultasi dan mengatasi permasalahannya...’ Kurang lebih itulah yang di katakan oleh Dokter Galih tadi padaku.
Mungkin karenanya pula lah aku bisa lebih berani mengungkapkan apa yang terjadi padaku, juga kesehatanku. Ia benar-benar dokter yang bisa di katakan, sangat cukup untuk bisa di andalkan. Caranya berkomunikasi, menjelaskan, sampai memberikan dukungan secara psikologis padaku yang sempat memiliki trauma sunggguh menjadi poin plus di mataku.
Sampai aku berpikir, ternyata pergi ke klinik obgyn itu meski memang sedikit menakutkan, tapi rasanya tak seburuk yang kupikirkan.