Yogurt + buah beri-berian (raspberry, blueberry, blackberry) + sereal granola
*(Granola adalah makanan yan terbuat dari kombinasi oats, madu, kacang-kacangan dan puffed rice)
Menu itu sudah tersaji di meja baki tepat saat kubuka kedua mataku pagi ini. Aku mengedip-ngedipkan mataku berkali-kali, aku ini sedang bermimpi atau apa?
Seperti orang mengidam saja pikirku, bangun tidur langsung sampai melihat penampakan makanan menggiurkan, mengawali hari dengan keinginan mengisi perut yang selama beberapa hari ini kubuat sangat lapar.
“Sayang...”
Panggil Mas Rama yang baru saja keluar dari ruang pakaiannya, telah selesai bersiap untuk berangkat ke perusahaannya hari ini.
“Kok cuma di liatin gitu aja sih? minum dulu, terus di makan itu sarapannya, Ibu bikinin special pagi-pagi buat kamu tadi...”
Sontak aku langsung membangunkan diriku setelah mendengar ucapan Mas Rama itu. Aku baru ingat kalau ibu kemarin datang dan menginap di rumahku.
Aku langsung cepat-cepat menurunkan kakiku dari tempat tidur dan berjalan untuk menemui ibu. Apa katanya nanti, jika menantunya ini malah baru bangun tidur, di saat dirinya sudah repot-repot menyiapkan sarapan untukku pagi ini.
“Ibu...”
Panggilku saat kutemukan dirinya yang sedang duduk menikmati tehnya di teras halaman belakang rumahku yang menghadap ke kolam renang.
“Ehm? Sudah bangun? Gimana hari ini lebih sehatan? Sudah ada tenaganya? Atau masih pusing?”
Alih-alih menyindir, marah atau mencaci menantunya yang bangun kesiangan ini, Ibu malah bertanya soal keadaanku saat ini. Padahal aku ini bukan habis kecelakaan atau apa pun itu yang sampai berdarah-darah, patah tulang dan lain sebagainya. Tapi Ibu memperlakukanku seperti aku ini benar-benar seseorang yang sangat sakit.
“Ibu... maaf, Shinta bangunnya siang banget hari ini...”
Ucapku sambil tertunduk,
“Shintaa... jangan begitu ah, gak papa, justru untuk sementara waktu ini kamu butuh istirahat yang lebih panjang, tidur yang berkualitas juga buat kembaliin kesehatan kamu nak...”
Ucap Ibu padaku. Meski begitu aku tetap saja malu, tak sepantasnya aku sebagai manantunya, juga istri dari putranya malah hanya enak-enakan tidur tak mengurus rumah seperti yang nampak terlihat hari ini.
“Tapi bu...”
“Udah, jadiin ini kesempatan buat kamu istirahat... dan lagian kan kamu juga udah selalu urusin semua kebutuhan Rama selama ini, jadi biarin dia sesekali mandiri gak manja terus sama kamu...”
Ucapnya malah seperti itu padaku.
“Sayang...”
“Sayang... jam tangan Mas di mana?
“Sayang, bantuin Mas pake dasi ini gak rapi Mas pake sendiriii...”
Teriak Mas Rama dari dalam kamar, padahal baru saja ibu mengatakan untuk membiarkan dirinya mandiri, tapi ia malah sudah berteriak meminta bantuan untuk mencari jam tangannya sampai ingin di pakaikan dasi.
“Udah biarin aja, anak itu nyusahin kamu aja kerjanya...”
Aku terkehkeh saja dan memilih untuk mengikuti perktaannya.
“Ah iya, tadi pagi ibu siapin yogurt berry granola, udah kamu makan nak?”
Tanyanya padaku, aku menggelengkan kepalaku.
Tadi saat mendengar sarapan di meja kamarku itu di buatkan oleh ibu, aku langsung ribut berlari keluar kamar untuk mencari Ibu. Bagaimana mungkin aku bisa langsung menyantapnya begitu saja. Aku ini bukan seorang putri di rumah ini, statusku ini sebagai seorang istri dan menantunya, jadi tak mungkin aku langsung saja dengan tak tahu malunya, menyantap apa yang sudah di buatkannya untukku itu.
“Di makan nak...”
“Atau mau Mas beliin nasi padang sayang? Biar langsung kalorinya banyak terus siapa tau bisa cepet balik lagi beratnya...”
Mas Rama malah nimbrung dan berbicara seperti itu sambil menydorokan tubuhnya ingin di pasangkan dasinya olehku. Aku tentu memakaikan itu untuknya akhirnya.
“Ya jangan, kok nasi padang sih di tawarinnya, ngaco kamu tuh Ram”
Balas Ibu pada putranya itu.
“Ya kan biar cepet nambah beratnya buuu...”
“Tapi gak gitu juga Ramaa... kalo di kasih makanan berat sekaligus sama perut Shinta yang belakangan suka kosong, nanti yang ada perutnya kaget.... kalo sempe meledak gimana coba?”
Ucap Ibu menakut-nakuti suamiku seperti itu.
“Yah, jangaaaann... Becanda tadi hehe”
Balas suamiku sambil menampilkan senyum dengan wajah yang di buatnya seperti anak-anak saat tak sengaja melakukan kesalahan kecil yang tak di sukai ibunya itu.
“Itu granola sama yogurt itu katanya bagus buat sarapan, gak bikin terlalu perut kamu penuh tapi cukup kenyang dan kaya banget nutrisinya nak...”
“Iya Bu, makasih banyak yaa, Shinta makan sampe abis setelah cuci muka nanti...”
Balasku pada Ibu,
“Ah, iya kamu gak ada masalah kulitkan Shin?”
“Ehm? Kulit?”
Ibu tiba-tiba saja berbicara seperti itu padaku, dan itu mengingatkanku pada masalah kulitku yang belakangan memang jadi selalu lebih kering selama melakukan diet ketatku itu. Itu terjadi karena suhu tubuhku yang selalu dingin, tak mendapat panas seperti saat tubuh melakukan proses pembakaran dalam pencernaan makanan di dalam tubuh.
Tapi tentu aku tak membiarkan hal itu, aku banyak mengoleskan krim, lotion, sampai oil untuk kulitku yang juga mendapat imbas dari buruknya pola makanku kemarin.
“Lebih kering bu, tapi Shinta selalu pake beberapa produk perawatan kok...”
“Selain produk di luar, kamu juga harus perhatikan nutrisi dari dalamnya nak... Itu ibu lihat bayak sekali kotak makanan sehat di dapur kamu, itu semua bagus untuk tubuh kamu Shinta, jadi jangan cuma di taruh saja tapi di makan yaa...”
Ucap Ibu, ia pasti melihat banyak sekali tumpukan paket makanan yang Nay, Zee, dan Lisa kemarin berikan untukku.
“Ehm... iya Ibu, itu dari temen-temen Shinta”
“Oh gituu, ya udah di makan semua itu... Ah! Atau ibu buatkan menu sehat nanti untuk kamu dengan semua bahan itu yaa...”
Mendengar ibu yang mau berepot diri lagi untukku, semakain tak enak saja hati ini di buatnya.
“Makasih bu... Shinta bikin ibu repot...”
Tapi sesungguhnya ada hal lain yang ingin minta darinya selain dari pada membuatkan makanan untukku seperti yang sedah di katakannya itu.
“Bu... Shinta, boleh minta tolong yang lain?”
Tanyaku
“Ehmm tentu Shinta, ada apa? Apa yang bisa ibu bantu?”
.
.
.
“Shinta...”
“Ehm?”
“Tenang, kamu bakal baik-baik saja, ibu akan menemanimu ke dalam...”
“Iya bu...”
Sepertinya ibu benar-benar menyadari kegelisahanku sekarang ini. Aku benar-benar paling takut saat harus berhadapan dengan dokter kandungan. Ada kejadian mengerikan yang membuatku sangat tak tenang berada di ruang tunggu klinik obgyn.
Sekitar dua tahun yang lalu, saat aku masih sangat selalu rajin melakukan semua hal yang di rekomendasikan oleh dokter kandunganku yang berkaitan dengan program kehamilanku. Dan saat itu program yang di anjurkan oleh dokterku itu salah satunya adalah dengan terapi kesuburan melalui oprasi.
Tujuan perlu di lakukannya oprasi itu sendiri adalah karena katanya aku yang memang sempat melakukan oprasi usus buntu ketika SMA dulu, dan oprasi itulah yang menyebabkan terjadinya penyumbatan saluran tuba falopi sehingga menyulitkan sel telur masuk ke dalam rahim sampai jadilah aku sulit untuk bisa hamil.
Dan entah bagaimana dokter itu menyarankan aku untuk melakukan rentetan treatment yang memakan banyak proses, prosedur, waktu juga uang yang harus kuhabiskan. Kasusnya entah aku di manfaatkan atau bagaimana oleh dokter kandungan itu, sampai dampak paling buruknya adalah terjadinya perubahan posisi pada saluran tuba falopiku.
Hasilnya bukannya membaik apa lagi sampai bisa hamil, tapi malah berakhir pada perubahan posisi juga bentuk rahim dan saluran sel telurku itu. Dan tentu ada banyak keluhan yang kurasakan, bahkan sampai sering kali nyeri kurasakan karena efek samping yang di timbulkan dari deretan treatment itu.
Sampai akhirnya Mas Rama membawaku ke dokter kandungan lainnya. Dan setelah di telusuri ternyata tak ada penelitian yang menunjukan kalau setelah melakukan oprasi usus buntu dapat membuat sulit hamil karena dapat menyumbat saluran tuba falopi itu. Jarang terjadi bahkan hanya untuk kasus usus yang sudah sangat parah saja.
Bahkan jika memang penyumbatan itu terjadi, cukup dengan melakukan prosedur laparoskopi sederhana saja bisa mengembalikan fungsi tuba falopi seperti semula.
Hasilnya setelah kejadian itu aku trauma parah, tak ingin lagi melakukan terapi kehamilan, atau pun prosedur-prosedur yang berkatian dengan promil-promil yang macam-macam dan mengharuskan aku melakukan sesuatu pada tubuh termasuk rahimku.
“Shinta...”
“Ibu...”
Aku mulai berkeringat, rasa takutku benar-benar tak bisa kukendalikan. Bayang-bayang pernah di permainkan oleh seorang dokter kandungan yang membuatku sampai harus merasakan banyak sekali kesakitan, kelelahan, juga keresahan mulai bermunculan di kepalaku saat ini.