Ost Scar to Your Beautiful
....
She just wants to be, beautiful
She goes, unnoticed she knows, no limits
She craves, attention she praises, an image
She prays to be, sculpted by the sculptor
Oh, she don't see, the light that's shining
Deeper than the eyes can find it
Maybe we have made her blind
So she tries to cover up her pain
And cut her woes away
'Cause covergirls don't cry
After their face is made
But there's a hope that's waiting for you in the dark
You should know you're beautiful just the way you are
And you don't have to change a thing
The world could change its heart
No scars to your beautiful
We're stars and we're beautiful
Oh-oh-oh-oh
Oh-oh-oh-oh
And you don't have to change a thing
The world could change its heart
No scars to your beautiful
We're stars and we're beautiful
She has dreams to be an envy, so she's starving
You know, covergirls eat nothing
She says, beauty is pain and there's beauty in everything
What's a little bit of hunger?
I could go a little while longer, she fades away
She don't see her perfect
She don't understand she's worth it
Or that beauty goes deeper than the surface
Oh-oh, oh-oh
So to all the girls that's hurting
Let me be your mirror
Help you see a little bit clearer
The light that shines within
There's a hope that's waiting for you in the dark
You should know you're beautiful just the way you are
And you don't have to change a thing
The world could change its heart
No scars to your beautiful
We're stars and we're beautiful
.
.
“Shintaaa....”
“Oh? kalian... kenapa gak bilang-bilang mau ke sini sih...”
Kagetku saat kutemukan beberapa wajah yang belakangan ini sudah tak sempat kutemui lagi, yang saat ini satu-persatu tengah memasuki pintu rumahku dan mulai memeluk untuk menyapaku dengan hangatnya.
“Ehmm, kenapa bisa sampe sakit gini sih??? Udah makan aja yang banyak, jangan diet-diet”
Ucap Zee yang heran sekali atas apa yang telah terjadi padaku.
Aku sungguh tak bisa menjawabnya, jujur aku terlalu malu sekali saat ini.
“Shinta ya ampun... sumpah liat kamu bener-bener bikin aku pengen donorin semua daging sama lemak aku buat kamu aja deh, ambil setengah berat aku aja gimana??”
Ucap Nay yang sambil menatapku dengan mata khawatirnya, sepertinya kondisiku ini benar-benar sangat buruk sekali di mata mereka.
“Shin, ini dari kita, ibu-ibu rempong yang kurang perhatian belakangan ini sama kamu, sorry banget ya ampun baru tauuu...”
Ucap Lisa padaku, sambil memberikanku sekotak besar buah-buahan kering, alpukat, sati box ikan salmon, sepaket daging merah, yogurt, hingga dua botol besar extra virgin olive oil.
Sungguh aku tercengang dengan apa yang mereka semua bawakan untukku.
“Kita tau, Mas Rama masih mampu beliin semua ini buat kamu, tapi ini wajib banget kamu terima...”
“Wajib juga di abisin karena ini hasil riset kita-kita, khusus buat kamu yang lagi krisis gizi...”
Ucap Zee dan Nay padaku.
Rasanya mataku benar-benar di buat berkaca setelah mendapat perhatian mereka itu. Sangat amat terharu atas apa yang telah sahabat-sahabat aku lakukan untukku ini.
“Ini yogurt-nya full fat jadi bagus banget buat badan kamu biar cepet balik kuat lagi, terus itu ekstra virgin olive oilnya di tambahin satu sendok setiap harinya, katanya manjur banget buat balikin berat badan yang turun”
Jelas Lisa padaku, sifat bawelnya keluar begitu saja kini.
“Makasih banyak... maaf aku ngerepoti banget ya ampun...”
“Ahhh, kenapa pake diet-diet segala sih bingung? Kamu tuh udah cantik, badan kamu juga udah bagus banget, mau yang kaya gimana lagi si ini anak...”
“Hmmm, iya deh kemarin tuh mungkin agak-agak error aja ini otak, kurang bersyukur punya badan udah sehat malah di bikin sakit terus jadi kaya segede lidi gini...”
Balasku kepalang kubuat candaan saja kelakuanku kemarin itu.
“Shin, kalo emang ada masalah kan bisa cerita sama kitaa...”
Nay yang sepertinya benar-benar menganggap kondisiku sangat serius saat ini. Ia sampai terus saja menggenggam tanganku, masih betah dengan raut resahnya melihat perubahanku saat ini.
“Engga ada kok serius deh”
“Yakin?”
“Iyaa...”
“Ah, si Cika kemana nih, dia kan yang bikin kamu ikutan kelas, jadi capek-capean sampe sakit gini”
Ucap Lisa, ia malah jadi berbalik menyalahkan Cika yang memang pertama kali mengenalkan pilates padaku, dan di sana pula lah aku mengenal diet vegan yang salah kaprah yang kulakukan secara ekstrem itu.
“Bukan salah Cika kok, aku yang salah, aku yang over dietnya, kaya yang seharusnya berapa kalori tapi aku malah ambil dua ratus kalori di bawahnya gitu loh... dan aku lakuin itu seminggu full kemarin hasilnya kalo di kalkulasikan itu defisitnya besar banget...”
Jelasku pada mereka.
“Emang gak laper? Lemes gitu? Diet terus olahraga ketat juga?”
Tanya Zee yang nampaknya keheranan bagaimana cara aku bertahan dengan diet yang kedengarannya begitu menyiksa itu.
“Laper, sering pusing juga, apa lagi waktu baru bangun dari duduk itu kepala berasa terbang gitu, pandangan suka ilang, terus rambut aku juga rontok banget, kuku aku pada rapuh sering patah, udah kaya orang anorexia aku...”
*(Anorexia adalah gangguan makan yang menyebabkan seseorang terobsesi dengan berat badan dan apa yang di makannya)
“Shin... kalo kamu pikir jadi cantik itu butuh usaha sampe luka-luka, kamu salah, cantik itu artinya kamu bica contain diri kamu sendiri...”
Ucap Zee padaku,
“Ehm, aku miss soal yang satu itu kemarin...”
“Abis ini kamu pokoknya kamu harus jaga kesehatan... Kamu konsultasi sama ahli gizi kan soal kesehatan kamu?”
“Iya Nay, aku juga harus ke dokter kandungan buat periksa kondisi organ reproduksi aku, aku takut kesehatan rahim aku juga sampe kena imbasnya”
Balasku,
“Ehm, katanya penurunan berat badan drastic itu bisa berpengaruh buruk sama keseimbangan hormone sama kesuburan, semoga kamu gak kenapa-kenapa ya Shin...”
“Semoga... makasih ya kalian semua udah mau perhatian banget sama aku...”
Ucapku tulus pada ketiga sahabatku itu.
.
.
.
“Sayang...”
“Iya Mas”
Mas Rama tak melanjutkan kalimatnya, ia malah mendekat padaku dan berlutut di hadapanku.
“Gimana, hari ini? tadi gimana sama temen-temen kamu?”
Tanyanya padaku, kutebak Mas Rama lah orang yang menyuruh mereka datang dan menghiburku tadi sore.
“Ehm, mereka kasih aku semangat, mereka juga banyak kasih makanan buat aku tadi...”
Ucapku sambil tersenyum mengingat apa yang sudah teman-temanku lakukan untukku.
“Pokoknya kamu harus bisa pulih dan sehat lagi ya sayang...”
Mas Rama kemudian mengangkat tubuhnya untuk meraih bibirku dan memagut lembut dengan tak sedikit pun memberikan kesan yang menuntut padaku.
“Mas...”
“Iya sayang...”
“Maaf aku belakangan gak bisa puasin kamu, bahkan beberapa malem aku menolak buat lakuin itu...”
Ucapku padanya, rasanya aku telah menjadi istri yang buruk untuknya.
“Gak papa, punya Mas-nya aja lagian yang suka gak bisa di atur, gak bisa liat istrinya yang kecapean...”
Betapa pengertiannya suamiku ini, sampai membuatku tak tahan jika kubiarkan begitu saja kini. Segera kuraih wajahnya dan kuberikan ciumanku untuknya. Mas Rama membalas ciumanku dengan sedikit lumatan dan hisapan pada bibir bawahku.
Dapat kurasakan emosi dirinya yang sudah lama tak bisa kubalas dengan ciuman yang seperti sekarang ini. Beberapa malam kebelakang mulutku terasa tak enak, rasanya tak nyaman sekali ketika lidahnya di lesakan ke dalam ronggaku, mengajak milikku menarikan permainan lidahnya itu. Bahkan saat salivanya jatuh menetes, ingin di baginya denganku, benar-benar tak enak sekali kurasakan, tak jauh berbeda dengan pahit obat yang dokter resepkan padaku kemarin sore.
“Ehmm... sayang”
“Aku kangen ciuaman kaya gini sama kamu Mas...”
Ungkapku padanya,
“Ehm, kamu... kayanya, udah balik lagi sayang....”
Mas Rama berkata seperti itu dengan senyum yang di kembangkannya dengan sangat mekar sekali kini.
“Mas...”
“Ehm, aku- aku...”
Kalimatku tertahan di ujung lidahku, aku tak tahu apa ini sudah saatnya, apa tubuhku sudah bisa di pakai untuk melayani suamiku di ranjang malam ini...
“Apa sayang, bilang sama Mas...”
“Mas, mau itu?”
.
.
Mas Rama menatapku dalam, seperti ingin mencari kepastian atas tanya juga tawarku padanya.
“Kamu...”
Aku menunduk, tahu pasti bahwa saat ini ada keraguan dalam hatinya melihat juga mengetahui tubuhku yang masih belum sepenuhnya pulih.
“Sayang...”
“Ehm? Mas gak akan tuntut kamu kok... yang penting kamu sehat aja dulu...”
Kubawa mataku untuk kembali memandanginya, entah kenapa rasanya aku menjadi wanita yang not be able untuk bisa membahagiakannya. Karena kebodohanku, Mas Rama sampai harus membatasi inginnya atas tubuhku yang gagal kujaga.
“Maaf Mas... aku gak bisa puasin kamu sebagai istri yang seharusnya layanin maunya kamu...”
Ucapku padanya.
“Hey... kamu itu istri Mas, bukan Cuma patner s*x Mas, jadi jangan ngomong gitu ah...”
Balasnya, entah apa yang ada di dalam dirinya itu, sepertinya bukan darah yang mengalir tapi madu yang mengisi setiap pembuluh darahnya, rasanya legit manis lakunya juga kabaikan begitu tertanam mengakar dalam dirinya.
“Mas...”
“Ehm?”
“Kalo apa yang udah aku lakuin kemarin itu bener-bener bisa berpengaruh banyak sama kesuburan aku... kalo nanti aku bener-bener di nyatakan gak bisa punya keturunan gimana?”
“Mas udah bilang berkali-kali sama kamu, ada atau engganya anak di antara kita, itu engga jadi masalah, asal kamu selalu sehat dan ada buat Mas...”
Kupeluk segera dirinya yang lagi-lagi sudah mengucapkan kalimat yang begitu indah mengalun di telingaku.
“Mas, maafin aku untuk ketidaksempurnaan yang aku punya ini...”
“Loving you for all the imperfect that you have... itu adalah hal terindah yang Mas lakuin sayang...”
“Makasih Mas... makasih banyak...”
.
.
.
Author pov
“Shinta, nak....”
“Ibu...”
Shinta langsung memeluk Ibu mertuanya yang sengaja datang hari ini untuk melihat keadaannya.
“Nak... Ya tuhan....”
Ketika di rengkuhnya Shinta ke dalam peluknya itu, betapa terkejutnya ia yang langsung merasakan guratan kerasnya tulang pada tubuh menantunya itu.
“Sayang, kenapa kamu jadi seperti ini...”
Sesak begitu kuat terasa dengan derai air mata kini mulai membasahi ibu dari suami Shinta itu. Tak kuasa melihat tubuh yang hanya bersisakan tulang saja itu.
“Maaf bu...”
“Jangan minta maaf sama ibu, kamu harusnya minta maaf sama diri kamu sendiri...”
Ucap tegas ibu mertua Shinta itu. Ia sedikit marah, bahkan sangat ingin marah pada Shinta dengan perubahannya itu.
“Ibu mau tanya sama kamu...”
Sambil menjauhkan peluk tubuhnya pada mertuanya itu, Ibu Rama itu berucap seperti itu dengan tatapan tajamnya.
“Kamu mau ikutan trend jadi sekurus lidi? Ngerusak tubuh kamu dan bukannya kasih apa semua hal baik yang di butuhin sama tubuh kamu...”
Mendapat teguran keras dari Ibu mertuanya itu, Shinta sampai jadi terisak kini. Meski sedih karena sampai jadi di marahi seperti itu. Meski begitu Shinta sadar betul, kalau ia memang pantas mendapatkan hal itu.
“Shinta salah Bu... Shinta gak berpikir panjang kemarin...”
“Nak...”
Panggil si pemilik tangan hangat yang kini mulai mengusapi air mata Shinta yang begitu deras mengalir, membanjiri wajahnya yang masih terlihat pucat itu.
“Kamu tak perlu jadi cantik, ingin cantik, ingin tampil seperti orang lain, kamu cantik dengan adanya dirimu ini sayang...”
“...Jangan pernah siksa kamu untuk mengejar definisi cantik yang orang lain katakan, hati kamu yang selalu hangat, sikapmu yang selalu ramah, tingkah lakumu yang sopan, dan berbaktinya kamu sebagai anak dari kedua orang tua kamu, kebaikan, kesetiaan, dan kasih sayang yang selalu kamu berikan sama suami kamu, sampai pada ketaatan kamu pada tuhanmu... semua itu mendefinisikan cantiknya Shinta, anak Ibu yang paling Ibu sayang...”
“Ibuu....”
Perkataan ibu mertuanya itu, membuat Shinta semakin merasa bersalah atas dirinya. Tak mengerti kenapa ia sampai jadi ingin berdiet ketat kemarin itu hanya karena perasaan iriku pada wanita-wanita cantik di luar sana.
“Sayang, Ibu bakal tinggal di sini sampe kamu pulih, jagain kamu dan pastiin kamu makan yang bener sampe badan kamu ini balik lagi kaya dulu...”
Ibu mertuanya sampa memutuskan hal itu, demi menantunya yang di matanya kini tampak seperti wanita yang benar-benar kekurangan gizi itu.
“Ibu....”
...
...
....