Hari ini Sean bersama rekannya sesama dokter dipusingkan dengan kasus pasiennya yang cukup kompleks. Bahkan, mereka sampai harus berdiskusi selama berjam-jam untuk mencari langkah apa yang sekiranya bisa mereka ambil untuk menyelamatkan pasien itu.
"Pasien memiliki penyakit yang serius dan langka dalam dunia permedisan. Leiomyosarcoma, sebuah tumor ganas yang menyerang otot bawah kepala pasien. Karena pasien sendiri memiliki luka yang cukup dalam di kulit dan tulang atas kepalanya, jadi segala macam kemoterapi dan radiasi tidak akan cukup membantu. Apalagi kanker itu bukan satu-satunya penyakit pasien. Jantung koroner dan gagal ginjal. Terdengar sangat mustahil untuk sembuh." Lelaki tua itu memijit kepalanya, benar-benar frustrasi dengan permasalahan yang sedang mereka diskusikan itu.
"Tapi kita tidak bisa menyerah begitu saja, kan, Dok?" sahut Sean. "Pasti ada cara yang bisa kita ambil untuk menyembuhkan pasien. Saya yakin itu," lanjutnya.
"Cara seperti apa yang bisa kita ambil, Dok? Rasa-rasanya tidak ada yang bisa kita lakukan, meski keluarga pasien sangat ingin pasien bisa sembuh," respons lelaki tua itu lagi, yang diangguki oleh dokter yang lain yang turut berdiskusi siang itu.
Ada enam dokter di sana. Ada Dokter Andreas yang merupakan dokter kepala di rumah sakit itu yang merangkap sebagai dokter bedah umum. Ada pula Dokter Pram dan Garril yang merupakan dokter spesialis bedah jantung, Dokter Santoso dan Miranda yang satu spesialisasi dengan Sean, yaitu spesialis bedah onkologi. Dan terakhir, Sean sendiri.
"Dokter Andreas, maaf kalau kesannya saya sarkastik, tapi apa Anda lupa dengan sumpah Anda dulu ketika ingin menjadi Dokter, bahwa kita harus bersungguh-sungguh dalam menyembuhkan pasien tanpa terpengaruh oleh jenis penyakit pasien?"
"Benar, tapi cara apa yang bisa kita ambil Dokter Sean? Ya, oke, di sini keluarga pasien memang mengajukan pencangkokan organ dalam terlebih dahulu karena mereka juga sudah mendapatkan pendonornya. Tapi itu tidak mungkin. Pencangkokkan organ dalam hanya akan membuat luka di kepala pasien lebih rentan terkena infeksi. Namun, jika sebaliknya jika kita melakukan operasi rekontruksi kepala lebih dulu untuk menyembuhkan luka pasien, maka organ dalamnya akan semakin melemah dan bisa berakibat kematian. Saya benar-benar merasa frustrasi untuk kasus satu ini," aku lelaki itu.
Sean terdiam. Ia tahu betapa pusingnya dokter-dokter itu, sebab dirinya pun juga merasa demikian, bahkan migrainnya pun sampai kumat.
"Dok, saya ... punya ide," ujar Sean tiba-tiba dengan nada penuh keraguan. Lantas, ditatapnya dokter-dokter yang berada di ruangan itu satu per satu, sebelum melanjutkan ucapannya tadi. "Ehm, saya tahu, mungkin ini akan terdengar sangat mustahil dan sangat berisiko, tapi kenapa kita tidak menggabungkan semuanya dalam satu operasi saja?"
"Maaf Dokter Sean sebelumnya, tapi saya kurang setuju dengan keputusan Anda. Seperti yang Anda bilang, ini sangat berisiko dan dapat mengacam nyawa pasien. Selain itu juga, operasi ini terlalu rumit karena memakai organ serta jaringan dari satu donor. Terlebih, belum tentu juga si pasien mau menerima organ baru untuk tubuhnya," sahut Garril yang sepertinya tak setuju dengan keputusan itu.
"Tapi saya kira, hanya ini satu-satunya cara yang bisa kita lakukan, Dokter Garril."
Semua terdiam, tampak sedang berpikir. Sebelum pada akhirnya Dokter Andreas membuka suara. "Saya setuju dengan Dokter Sean, tidak ada cara lain Dokter Garril."
Selama beberapa saat, ruangan itu hanya diisi perdebatan alot antara Garril bersama Sean dan juga Dokter Andreas. Sementara itu Miranda dan yang lain hanya diam dan mendengarkan. Jelas keputusan yang akan mereka ambil nanti tentu sangat berisiko untuk nyawa pasien.
"Anda tak punya pilihan lain Dokter Garril Pramono, hanya itu. Jadi, kami mohon setujui saja rencana ini."
Garril menghela napasnya. "Kalau memang ini yang terbaik, ya sudah. Atur saja jadwalnya."
Senyum lega menghiasi wajah kedua dokter berbeda generasi itu. "Terima kasih, Dokter Garril."
Garril hanya menjawab dengan gumaman tak jelas. Masih kesal sebab argumennya ditolak.
"Oke, baiklah, jadi sebaiknya operasi itu kita lakukan secepatnya. Mungkin kita akan membutuhkan beberapa dokter ahli bedah dari rumah sakit lain. Jadi, Dokter Miranda, tolong koordinasikan semuanya."
"Baik, Dokter Andreas."
"Ya sudah, rapat ini bisa kita akhiri sekarang. Dan sebaiknya kita cepat beristirahat, karena kemungkinan operasi yang akan kita lakukan ini tak sebentar," ungkap Dokter Andreas sembari berdiri, membuat orang-orang yang berada di situ juga ikut berdiri.
Tangan mereka terulur, saling menyalami satu sama lain.
"Kami permisi dulu, Dokter Sean."
***
Beberapa dokter dan perawat yang masih lengkap mengenakan baju steril berwarna hijau itu tampak berhamburan keluar dari ruang OK (Operation Khamer atau ruang operasi) dan beberapa lagi masih berada di dalam untuk mengurus kepindahan pasien ke ruang ICU untuk perawatan lebih intensif. Raut lega tampak menghiasi wajah letih mereka. Beruntung bisa menyelesaikan operasi itu tanpa hambatan yang berarti.
"Bagaimana operasinya, Dok?" tanya salah satu keluarga pasien.
"Operasi sukses, berjalan dengan lancar."
"Puji Tuhan. Terima kasih banyak Dok atas bantuannya, terima kasih banyak."
"Sudah menjadi tugas kami, Bu, Pak."
Dengan ramah serta senyum lebar yang menghiasi wajah, mereka pamit undur diri pada keluarga pasien.
"Saya tak menyangka operasi ini akan berhasil."
"Ini adalah pengalaman pertama saya selama lima tahun menjadi seorang dokter bedah. Operasi terpanjang saya, hampir 24 jam! Coba Anda bayangkan!"
"Anda berlebihan sekali, Dokter Martin."
"Ini tak sekedar berlebihan, Dokter Syarif. Ini benar-benar menakjubkan. Walaupun sangat melelahkan, tapi saya masih bisa semangat."
"Iya, saya juga, yah meski badan saya rasanya hampir pegal semua."
"Ini mata saya pengin mejam dari tadi, Dok. Serius, saya ngantuk."
"Saya pun juga begitu. Apalagi cacing-cacing di perut saya ini, dari tadi teriak-teriak meminta makanan."
"Jadi, Dokter Aryan cacingan?"
"Hush, Dokter Martin, jaga bicara Anda. Dokter Aryan sudah cukup senior."
"Iya-iya Dokter Miranda, saya tadi kan hanya bercanda. Lagi pula Dokter Aryan sendiri tak merespons apa pun."
Obrolan-obrolan dari para dokter itu mulai mengisi lorong rumah sakit yang awalnya tampak sunyi senyap itu. Suara mereka terdengar sangat antusias saat mengatakan pengalaman yang baru saja mereka alami.
"Dokter Sean dan Dokter Garril tadi sangat hebat, saya sangat takjub dengan kalian berdua," ujar pria paruh baya yang tadi juga ikut andil dalam operasi itu, pada kedua orang yang masing-masing berjalan di sebelahnya. Beliau adalah seorang perawat senior di rumah sakit itu, dan menjadi perawat instrumen di ruang operasi tadi.
"Terima kasih, Pak Sam." Sean dan Garril menjawab hampir bersamaan, membuat keduanya menoleh ke arah masing-masing. Keduanya memang berperan sangat besar dalam operasi tadi, Sean yang menjadi operator bedah tumor sementara Garril menjadi operator bedah jantung.
Sebenarnya masih ada operator bedah lain dalam operasi itu, Dokter Aryan namanya, si ahli bedah plastik dan rekonstruksi juga beberapa operator operasi lainnya. Namun mereka tak terlalu diekspos. Ya, barangkali Sean dan Garril terlalu menyita perhatian mereka semua. Muda dan berbakat, itulah mereka, sementara untuk Dokter Aryan dan yang lainnya bisa dikatakan cukup senior---karena tua akan sangat menyinggung perasaan para dokter berumur itu, umurnya sudah hampir mencapai kepala lima.
"Haha, kalian kompak sekali. Andai salah satu dari kalian seorang wanita, maka bisa dipastikan kalian sudah jatuh cinta," gurau lelaki yang dipanggil Pak Sam itu, membuat wajah kedua pria tampan itu memerah menahan malu.
"Pak Sam bisa saja, lagi pula jika saya seorang wanita, saya tak akan tertarik dengan Dokter Garril. Dokter Garril terlalu judes pada saya," ujar Sean dengan niat menyindir perilaku Garril yang memang judes padanya. Entahlah, Sean juga tak tahu apa penyebabnya. Padahal mereka berdua juga tidak terlalu dekat.
"Memangnya saya juga mau dengan Dokter Sean yang sama sekali tak menghargai perasaan orang yang mencintainya, hingga membuat dia berbuat nekat?" balas Garril dengan nada sengit. Tampaknya emosinya mulai tersulut sekarang.
Kedua alis Sean terangkat, membuat keningnya berkerut samar. Ia sama sekali tak mengerti ucapan Garril. Baru saja ia hendak memberi celah pada kedua belah bibirnya untuk menyahut ucapan lelaki itu, namun Pak Sam sudah lebih dulu berbicara. Pria paruh baya itu bahkan sampai tertawa lepas, membuat guratan senja di sekeliling matanya semakin terlihat.
"Saya tahu, saya tahu, astaga kalian lucu sekali, hahahaha...." Tawa Pak Sam yang keras membuat beberapa dokter yang berjalan di depan mereka sampai menolehkan kepalanya masing-masing, sekadar ingin tahu apa yang terjadi di belakang mereka.
"Maaf, maaf," ucap Pak Sam pada para dokter itu sembari menyeka sudut matanya yang keluar air.
Para dokter itu hanya mengangguk dan meneruskan langkah mereka.
Pak Sam memandangi Sean dan Garril yang tengah menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya, secara bergantian.
"Sepertinya ada kisah cinta segitiga di antara kalian. Kira-kira, siapa wanitanya? Apakah itu Dokter Miranda?" tanya Pak Sam sambil menaik-turunkan alisnya, menatap ke arah Sean dan Garril dengan padangan menggoda, kemudian mengedikkan dagunya ke arah sosok Miranda yang berjalan jauh di depan mereka.
"Dokter Miranda? Kenapa harus Dokter Miranda? Saya bahkan tidak dekat dengan dia," ujar Sean yang mulai tampak kebingungan.
Sementara itu Garril mendengkus pelan. Ia kenal dengan perempuan itu dan dulu pun ia begitu dekat dengannya. Tapi karena dulu Miranda tiba-tiba bersikap agresif padanya, Garril lebih memilih menjauh.
"Lalu, kalau bukan Dokter Miranda, siapa?"
"Siapa? Tidak ada siapa-siapa di antara kami, Pak Sam," sahut Garril.
"Iya, yang dikatakan Dokter Garril benar. Kami tak pernah terjerat cinta segitiga," timpal Sean menyetujui ucapan Garril.
Sesaat, tak ada lagi perbincangan di antara mereka. Masing-masing tengah bergelut dengan pikiran masing-masing. Hingga ponsel Garril berdering, mengalunkan salah satu lagu berjudul Mirror dari Justin Timberlake. Tadi setelah keluar dari ruang operasi, Garril memang sudah mengaktifkan ponselnya dan mengubah dari mode silent ke mode sound.
Lelaki itu lantas menghentikan langkahnya, membuat kedua dokter yang berjalan bersisihan dengannya itu juga ikut berhenti. Ia kemudian merogoh sakunya, dan mengambil benda pipih itu. Setelah mengetahui siapa nama si penelepon, pria itu mulai mengangkatnya. "Iya, ada apa Bi?"
"...."
"Beberapa hari belakangan saya belum ketemu sama dia Bi, Bi. Jadi saya nggak tahu di mana Kanaya."
"...."
"Mungkin dia nginep di salah satu rumah temennya?"
"...."
"Nggak ada? Bibi udah ngehubungin temen-temen Kanaya apa belum? Kalau belum, coba hubungin dulu, Bi."
"...."
"Ya sudah Bi, saya tutup dulu teleponnya. Nanti kalau saya ketemu sama Kanaya, nanti saya hubungin balik Bibi," ujar Garril sebelum menutup teleponnya.
"Ada apa?" tanya Sean dengan wajah datar, meski sejujurnya ia sangat ingin tahu perihal apa yang barusan Garril obrolkan dengan wanita yang entah siapa itu.
"Kata pembantu di rumah Kanaya, Kanaya sudah tidak ada kabar selama beberapa hari ini. Ponselnya juga tidak bisa dihubungi, dan teman-temannya pun tidak ada yang tahu," terang Garril dengan raut wajah datar, meski tampak sekali dari matanya kalau ia sedang didera rasa khawatir. Ia memang sudah akrab dengan pembantu itu, terkadang ia menanyakan informasi tentang Kanaya padanya jika perempuan itu tak memberinya kabar dan Bi Wati akan dengan sukarela memberitahukan semua hal yang tidak ia tahu tentang Kanaya.
Mendengar hal itu sontak saja membuat Sean terkejut. Pantas saja perempuan itu tak ada di rumah sakit, padahal seharusnya ia tengah menjalani masa magangnya sebagai seorang dokter muda.
"Em, Pak Sam, Dokter Sean, saya permisi dulu, ada beberapa tugas yang harus saya kerjakan," pamit Garril masih dengan raut wajah seperti tadi.
Belum sempat Sean maupun Pak Sam menjawab, Garril sudah lebih dulu meninggalkan mereka.
"Kanaya? Putri bungsu Dokter Ferdinand, kan?" tanya Pak Sam. Sean menganggukkan kepalanya, mendengar pertanyaan yang lelaki setengah baya itu lontarkan. "Tapi, kemarin saya bertemu dengan Dokter Ferdinand, dia tampak biasa-biasa saja, tifak seperti orang yang khawatir karena putrinya menghilang."
Sean hanya tersenyum tipis, tak tahu harus menjawab apa. Ia pun juga tidak tahu bagaimana hubungan Kanaya dengan keluarganya.
"Semoga Kanaya bisa cepat ditemukan ya."
Dalam hati Sean mengamini ucapan Pak Sam. Tak dapat dipungkiri, ia pun merasa khawatir dengan Kanaga. Jujur saja, Sean takut jika ia lah alasan di balik menghilangnya wanita itu, mengingat kesepakatan mereka beberapa waktu yang lalu agar gadis itu jauh-jauh darinya.
Dalam hati Sean berharap, semoga Kanaya baik-baik saja. Semoga perempuan itu tak benar-benar menghilang, mungkin hanya pergi ke suatu tempat dan lupa mengabari keluarganya. Ya, semoga saja memang begitu.
Tbc