14. Tentang Garril dan Miranda

1493 Kata
Hari ini sudah tepat tiga hari semenjak menghilangnya Kanaya. Garril sampai bingung harus mencari wanita itu ke mana lagi sebab Kanaya sendiri seperti tidak meninggalkan jejak sedikit pun, seolah ia baru ditelan bumi. Garril juga sudah mencoba menghubungi nomornya, tetapi tidak ada satu pun dari panggilannya yang terjawab. Entah Kanaya memang sengaja tidak mengaktifkan ponselnya atau bagaimana, Garril sendiri tidak cukup tahu. "Ril, soto ayam lo kebanyakan kecap tuh, sampe item gitu," tegur lelaki yang duduk di sebelah Garril sembari menyenggol lengan lelaki itu. "Eh?" Garril tergeragap, tidak sadar jika sejak tadi tangannya tak berhenti menuang kecap pada mangkok soto yang ia pesan. "Lo lagi mikirin apa sih? Dari tadi lo kelihatan nggak fokus mulu. Bahkan hampir ngiris arteri pasien," tanya lelaki itu. Adnan namanya, dokter residen yang tengah mengambil spesialisasi yang sama dengan Garril. Meski statusnya masih residen, namun di luar itu pertemanan keduanya bisa dibilang sangat baik. Tidak ada kesenjangan di antara Garril maupun Adnan. Garril lantas menghela napas. Ia mengingat keteledorannya tadi pagi saat berada di meja operasi. Ia hampir memutus pembuluh darah pasien. Untung saja Adnan segera menyadarkannya tadi. Ia tidak akan mengelak jika Kanayalah yang membuatnya jadi tidak fokus begitu. Demi apa pun, ia sangat mengkhawatirkan wanita itu. Terlebih, ia sama sekali belum mendapat kabar apa pun, entah dari Kanaya sendiri atau dari Bi Wati, pembantu keluarga Kanaya. "Tentang nyokap lo yang mau lo cepet-cepet nikah dan punya anak atau tentang apa? Cerita aja sama gue, pasti gue dengerin," kata Adnan lagi saat Garril tak kunjung menyahut ucapannya. Garril menghela napas panjang. Didorongnya mangkok berisi soto ayam itu. Ia sudah tidak berminat untuk memakannya lagi. Bukan karena kebanyakan kecap---ini hanya satu dari sekian alasan yang ia miliki, tapi karena dari tempo nafsu makannya hilang. "Bukan itu," sahutnya kemudian. "Gue lagi nyari seseorang, dan dari beberapa hari ini, gue nggak juga nemuin dia. Gue kayak udah hopeless banget rasanya." "Cewek?" tanya Adnan. Garril hanya berdeham dan mengangguk kecil. "Siapa?" Lelaki itu menghela napas. "Ada lah, lo nggak perlu tahu dia siapa," jawab Garril. Ia lalu mengacak rambutnya yang tertata rapi dengan perasaan luar biasa kesal. Kesal karena tidak bisa menemukan keberadaan Kanaya. Garril tidak tahu, apa yang membuat Kanaya sampai pergi dari rumah. Yang ia takutkan, wanita itu sedang ada konflik dengan keluarganya sebab konflik itulah yang sering Kanaya alami. Bisa jadi Kanaya sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Seseorang yang dalam fase seperti itu tak jarang akan melakukan aksi yang nekat, kan? Entah apa pun itu yang bisa membahayakan nyawanya. Jujur saja, itulah yang Garril takutkan selama beberapa hari belakangan. Sejujurnya, ia sendiri belum pernah melihat Kanaya melakukan hal yang tidak-tidak saat dalam kondisi yang luar biasa kacau, tetapi Garril juga tidak pernah melihat gadis itu kabur dari rumah. Sudah pasti masalah yang Kanaya hadapi adalah masalah yang cukup berat kan? Ah, Garril merasa bersalah sekarang. Di masa-masa tersulit wanita itu, ia tidak ada berada di sana, sekadar untuk memberi dukungan atau semangat. "Ril, malah diem." "Hah, apa?" gagap Garril yang lagi-lagi hanyut dalam pikirannya. "Ck, lo pasti nggak dengerin kata-kata gue tadi," decak lelaki itu. "Gue bilang, coba hubungi dia atau lo cari tahu ke temen-temen atau ke keluarganya. Mungkin mereka tahu," lanjutnya. "Pertama, kalau gue bisa ngehubungi dia dari jauh-jauh hari, gue nggak akan sekalut ini cari dia. Kedua, gue sama sekali nggak tahu siapa aja temen-temen dia. Dan terakhir, kata lo keluarganya?" Garril mendengkus pelan. "Gue nggak yakin mereka peduli atau khawatir sama dia," lanjutnya dengan senyum miris. Garril sempat bertemu dengan Ferdinand dan juga Miranda, mereka bahkan sama sekali tak menunjukkan kekhawatiran mereka dan tetap bersikap santai, seolah tidak ada hal yang terjadi. Padahal, salah satu anggota keluarga mereka pergi dari rumah dan belum ada kabar sama sekali sampai sekarang. "Haduh, berat juga ya kalau gitu. Mana keluarganya jahat banget. Tapi gue berharap, lo bisa cepet-cepet nemuin dia. Ngelihat lo kayak gini, gue tahu dia cukup berarti buat hidup lo." Obrolan Garril dan Adnan terus berlanjut. Lelaki itu menceritakan keresahannya perihal sosok yang sedang ia cari pada sang teman. Mencoba berbagi kisah, berharap dengan begitu ia bisa sedikit lebih tenang. Sementara itu, di lain sisi ada sosok Sean yang duduk tak jauh dari mereka, mendengarkan semua obrolan kedua lelaki itu. Ia sangat yakin, sosok yang Garril ceritakan adalah Kanaya. Ah, bagaimana kabar gadis itu? Sean bertanya-tanya dalam hati. Ada setitik rasa bersalah yang bercokol di hati lelaki itu sebab sikapnya yang sangat buruk pada Kanaya. Entah benar atau tidak menghilangnya Kanaya karena keluarga wanita itu atau karena kesepakatan mereka tempo hari. Tapi, seperti apa yang ia doakan sebelumnya, semoga Kanaya baik-baik saja. *** Selepas percakapannya dengan Adnan tadi, Garril memilih untuk pergi ke rooftop rumah sakit ketimbang kembali ke ruangannya. Untung saja hari ini ia tidak memiliki jadwal lagi, tidak ada pasien yang harus dioperasi atau berkonsultasi dengannya juga, jadi ia cukup senggang. Sejujurnya ia sudah bisa pulang, tetapi jalanan yang padat membuat otaknya terasa semakin penuh. Jadi, ia memilih menetap selama beberapa saat di rumah sakit, setidaknya hati dan pikirannya bisa lebih tenang dari sebelumnya. Tiba di rooftop rumah sakit, Garril mendudukkan dirinya di spot yang berkanopi. Meski terlindungi dari sengatan matahari, udara di situ tetap saja terasa panas dan pengap. Membuat Garril menarik napas berkali-kali. Tangannya lantar merogoh saku jas putihnya. Lagi, ia mencoba menghubungi Kanaya. Panggilan pertama, suara operator lah yang menjawabnya dari seberang sana, mengatakan jika nomor yang ia hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Panggilan kedua, masih dengan operator yang sama dan mengatakan hal yang sama pula. Begitu pun panggilan ketiga dan seterusnya. Entah sampai berapa kali, yang jelas tidak ada satu panggilan pun yang terjawab. Garril menyerah. Memilih kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku dan mengacak rambutnya frustrasi. "Di mana kamu, Kanaya? Saya khawatir, saya khawatir kalau kamu ngelakuin hal yang aneh-aneh yang bahayain nyawa kamu," gumam lelaki itu. Tidak salah kan jika ia mengkhawatirkan seseorang yang ia cintai dalam diam? Kanaya mungkin memang tidak pernah melakukan sesuatu yang bisa membahayakan dirinya sendiri, tapi gadis itu luar biasa nekat dan tidak takut pada apa pun. "Garril? Kamu juga ada di sini?" Suara yang terdengar tidak asing itu memutus lamunan Garril. Lelaki itu lantas mendongak, menatap sesosok yang berdiri masih dengan jas putih dan kedua tangan yang masing-masing memegang satu cup kopi dan sekotak roti isi. Tanpa meminta persetujuan Garril, wanita yang tak lain adalah Miranda itu lantas mendudukkan diri di samping lelaki itu. Wajahnya tampak begitu cerah dan kedua belah bibirnya tak hentinya menyunggingkan senyum. Hal itu jelas mengganggu bagi Garril. Bukan karena ia terpesona, melainkan muak. Bagaimana bisa, seorang kakak yang lahir dari rahim yang sama, sama sekali tidak menaruh rasa khawatir pada sang adik yang sudah menghilang selama berhari-hari? Di manakah hati nurani wanita itu sebenarnya? "Aku nggak nyangka bakal ketemu kamu di sini," ujar Miranda dengan semangat sembari membuka kotak transparan yang berisi roti isi buatannya. Ia sama sekali tak memperhatikan raut wajah Garril yang terlihat begitu masam dan sama sekali tak menunjukkan keramahan itu. "Untung aku bikin roti isi banyak tadi, jadi kita bisa makan ini bareng-bareng," kata Miranda lagi. "Tapi maaf, aku cuma bawa kopi satu. Aku nggak tahu kalau kamu ada di sini," lanjutnya. "Nih, buat kamu." Miranda lantas menyodorkan satu potong roti yang berisi sayuran dan daging itu pada Garril. Garril hanya melirik sekilas. Ia sama sekali tidak ada minat untuk menerima makanan itu atau bahkan sampai memakannya. Ya, meskipun sejujurnya cacing-cacing di perutnya berdemo meminta diisi makanan. Sebab, soto ayam ekstra kecapnya tadi tidak benar-benar ia makan dan ia sendiri tidak berminat memesan makanan lain. "Ril, kalau aku kasih itu terima, jangan malah diem aja," kata Miranda sembari meraih tangan Garril dan meletakkan makanan itu di sana. Garril lagi-lagi tidak bersuara. Namun, tangannya malah meremat roti itu sampai hancur dan membantingnya ke lantai yang ia pijak. Miranda jelas membulatkan mata melihat hal itu. "Garril! Apa-apaan sih kamu? Kalau kamu nggak mau, bilang! Jangan malah dibuang secara cuma-cuma," seru Miranda sembari menatap roti buatannya dengan mata yang menyorot nanar. "Kamu tahu nggak sih, di luar sana banyak orang yang kelaparan gara-gara nggak bisa makan. Tapi, kamu? Kamu malah buang makanan dari aku." "Peduli apa sih kamu? Seharusnya kamu tanya sama saya, saya mau nggak makan makanan dari kamu? Jangan jadi orang yang munafik, Miranda. Kelihatannya peduli dengan orang lain tapi aslinya apatis, nggak ada hati." Garril tahu, mungkin ia sudah terlalu keterlaluan dengan membanting makanan dari wanita itu dan mengatakan hal yang cukup membuat sakit hati. Tapi demi apa pun, dia sudah cukup muak dengan tingkah laku Miranda. Miranda memainkan perannya sebagai wanita yang baik, padahal sejujurnya ia sangat buruk. Terutama pada adiknya. "Kamu ngomong apa sih, Ril? Sumpah, aku sama sekali nggak ngerti maksud kamu." "Kamu bilang nggak ngerti? Padahal saya tahu, kamu jelas-jelas paham sama maksud saya," ujar Garril penuh penekanan di kalimat terakhir. "Serius, Garril, aku nggak ngerti sama maksud kamu, sama konteks yang sedang kamu bicarakan. Tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan, kamu marah-marah nggak jelas sama aku, kamu buang makananku." Garril berdecih. "Kamu memang manipulatif." "Astaga, Garril. Demi Tuhan, aku nggak ngerti maksud kamu apa," ujar Miranda yang mulai tersulut emosinya. "Gini, aku nggak tahu kenapa kamu tiba-tiba jadi sebenci ini sama aku, padahal dulu kita lumayan deket. Aku sendiri nggak tahu apa salahku sama kamu, sampai buat kamu kayal gini. Tapi, kalau emang aku ada perbuatanku yang melukai hati kamu dulu dan yang kamu bawa sampai sekarang, aku minta maaf. Aku minta maaf dari lubuk hatiku yang paling dalam dan ayo, ayo Garril. Ayo kita bicarain ini semua dengan baik-baik. Jangan asal ngamuk kayak gini, kita udah cukup dewasa buat bertingkah selayaknya bocah kayak gini. Kita selesaiin ini dengan cara dewasa, Ril," ujar Miranda panjang lebar. Jujur saja, ia benar-benar tidak mengerti dengan maksud perkataan Garril yang tak berdasar itu. "Nggak ada yang perlu kita omongin. Cukup saya tahu kalau kamu bukan orang yang baik," balas Garril dengan keras kepala, membuat Miranda mengembuskan napas kasar. "Astaga, Garril. Kalau kamu nggak mau ngomongin ini sama aku, aku mana paham letak kesalahanku? Kamu bersikap seolah aku manusia paling berdosa." Garril hanya berdecih. Tanpa membalas ucapan Miranda, lelaki itu memutar tubuhnya dan berlalu dari sana. Ia pergi ke tempat itu untuk mencari ketenangan, tetapi Miranda malah datang dan mengacaukan semuanya. Garril sendiri tidak paham, mengapa ia menjadi sebenci itu pada Miranda, padahal jelas-jelas Kanaya menghilang karena keluarganya itu hanya praduganya saja. Tapi, apa pun yang berkaitan dengan cinta membuat semua hal menjadi kabur, termasuk cara orang dalam berpikir. Kebanyakan manusia pun sudah disesatkan oleh cinta. Pun dengan Garril. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN