Masih di wilayah Huangling, tak terasa malam sudah menyambut, sinar matahari telah diganti oleh sinar rembulan yang begitu indah. Zeyrang sudah mengganti pakaiannya, dan bersiap ikut ke pekan raya yang diadakan oleh para pedagang - pedagang di Desa Huangling. Jarak rumah menuju pekan raya sekitar lima puluh menit, mereka bertiga pun berangkat menuju pekan raya tersebut.
Sesampainya di sana, suasana sangatlah ramai, penuh dan sesak dengan banyaknya pedagang yang menjual dagangannya, baik makanan ataupun kerajinan tangannya. Xiaoyu dibekali sedikit kepingan emas oleh orang tua angkatnya, dan membeli makanan - makanan yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Sampai saat dia mencicipi bakso - bakso ikan yang sangat menggoyangkan lidah itu, ada suara seseorang yang memanggil semua orang yang mampu memainkan seruling, jika berhasil memainkan seruling dengan indah, maka akan diberikan hadiah oleh pihak penyelanggara pekan raya tersebut yaitu salah satu saudagar kaya yang berasal dari Tiongkok.
*Ayo meriahkan acara pekan raya ini, dengan acara tambahan lomba dadakan, memainkan seruling emas ini, siapapun boleh ikut yang merasa bisa memainkan serulingnya, dan jika berhasil memainkan seruling dengan indah, maka saya sendiri selaku tim penyelenggara acara akan memberikan hadiah*
Dengan balutan baju yang sangat sederhana, berwarna hijau muda, dengan rambut barunya yang berwarna hitam, dia memberanikan maju sebagai peserta, dan saat itu peserta yang ikut hanya sekitar lima orang wanita muda. Xiaoyu menjadi peserta terakhir. Saat namanya dipanggil dia pun duduk di sebuah bangku kayu, tangannya mengambil seruling emas itu dan matanya mulai terpejam, lantunan seruling Xiaoyu sangatlah beda, nadanya begitu indah, menyejukkan hati, semua pengunjung dibuat takjub olehnya, selain cantik dia begitu piawai memainkan seruling itu, nada yang indah seperti sebuah lagu seseorang yang sedang kasmaran.
Saat mata Xiaoyu samar - samar membuka secara perlahan, dia melihat bayangan lelaki tampan, berambut emas, tersenyum padanya, tetapi Xiaoyu tidak mengingat siapa lelaki itu. Dia meneruskan lantunan serulingnya, hingga semua pengunjung terhipnotis, sampai pada akhirnya tim penyelenggara memberikan tanda berhenti dan mulai menilai. Setelah beberapa saat, tim penyelenggara menyebutkan nama Xiaoyu, dia yang memenangkan lomba seruling ini.
"Xiaoyu..selamat ya, lantunan serulingmu sangatlah indah, ini hadiahnya sekantung keping emas dan seruling emas ini boleh kau bawa pulang, lantunan lagumu sangatlah indah, layaknya wajahmu yang juga begitu cantik."
"Terima kasih Tuan."
"Ya, sama - sama."
Kedua orang tua angkat Xiaoyu pun ikut senang, mereka tidak menyangka kalau putri angkatnya begitu piawai membawakan sebuah seruling dengan lantunan yang begitu indah. Mereka pun pulang, karena waktu sudah hampir larut. Sesampai di rumah, Xiaoyu tiba - tiba mengantuk, dia pun tertidur dengan lelapnya.
"Heii sudahlah jangan menganggunya, mungkin dia lelah, berjalan seharian lalu membantuku memasak dan tadi kita sudah aja dia ke pekan raya."
"Ya aku hanya seperti bermimpi, kalau sang Dewa langit mengirimkan dia untuk kita Bu."
"Ya.. aku pun bahagia, ya sudah kita juga perlu istirahat, besok pagi kita harus mengurus tanaman - tanaman kita dan ternak - ternak kita kan."
"Ya baiklah."
Xiaoyu yang tertidur pulas, dia seperti masuk ke sebuah dimensi khayangan, dia berada di sebuah bukit yang dipenuhi oleh awan - awan, dan bunga - bunga, dia seperti mendengar suara lantunan kecapi, yang musiknya begitu menyentuh hati, Xiaoyu terus mencari sumber suara itu, daun - daun dan bunga - bunga bertebaran, suara kecapi itu semakin jelas terdengar, dia melihat seorang lelaki tampan sedang memainkan kecapi, wajahnya sama persis seperti bayangan lelaki yang dia lihat saat memainkan seruling tadi di pekan raya, rambutnya panjang berwarna emas, sangat tampan dan memikat hati, dia mendekat. lelaki itu hanya tersenyum, dengan balutan baju pangeran berwarna kuning keemasan.
"Hmm kau ini siapa? Kenapa kau selalu datang di dalam pikiranku, kau siapa?"
Lelaki itu langsung menghentikan permainan kecapinya, berdiri dan berjalan mendekat ke arah Xiaoyu.
"Aku adalah jiwamu, aku yang akan selalu mencintaimu sampai kapan pun, dan walau semesta menolaknya, aku akan tetap datang mencari dan menemukanmu."
"Kau mencintaiku! Tidak mungkin, kau itu memiliki kasta yang sangat luar biasa mewah, aku ini bukan siapa - siapa, aku tidak layak dicintai siapapun."
"Hmm akan tiba saatnya, kau dan aku bersatu kembali, tunggulah aku sampai aku datang."
"Siapa namamu, Pangeran?"
"Ryu... panggil saja aku Ryu, kau tunggulah, sampai aku bisa menjemputmu."
Tak lama lelaki itu menghilang, Xiaoyu pun terbangun, dengan napas yang sangat sesak, hatinya begitu sesak. Xiaoyu tidak mengerti apa maksud dari ucapan lelaki tampan berambut emas itu.
"Hmm siapa dia sebenarnya, dia bilang mencintaiku, dia akan menjemputku, apa aku dan dia pernah menjalin hubungan, tetapi kenapa aku tidak bisa mengingat sama sekali, siapa dia, wajahnya sangat memikat hati ini, dia itu seperti pangeran, entah dari istana mana, tetapi aku tadi seperti di atas khayangan, ada awan - awan di sekelilingku, siapa aku sebenarnya, akhh sudahlah, lebih baik aku mengambil air minum saja." gumam Xiaoyu di kamarnya
Saat Xiaoyu menuju dapur untuk mengambil segelas air, dia mendengar suara ayamnya sangat berisik, seperti suara ketakutan. Xiaoyu keluar dan melihat ke dalam kandang ayam milik orang tua angkatnya tersebut. Benar saja, saat dia masuk dan melihat - lihat, ular sanca besar sedang memakan ayam - ayam yang ada di dalam kandang tersebut. Kedua orang tua angkatnya yang juga mendengar suara tersebut segera menuju kandang.
Xiaoyu begitu berani, menangkap ular tersebut, dan entah seperti ular itu bisa melihat jati diri Xiaoyu, ular sanca yang begitu besar itu, langsung tak berdaya, Xiaoyu menghantam kepalanya dengan mencekik kepala ular besar itu, kedua orang tua angkatnya, begitu takjub, ular sebesar yang ukurannya berkisar tujuh meter panjangnya, bisa ditakhlukan oleh Xiaoyu. Saat Xiaoyu ingin mengambil sebuah alat tajam yang digunakan sebagai pemotong padi, ular itu seperti berkata permohonan.
*Tuan Putri, tolong jangan membunuhku, aku janji tidak akan lagi datang ke sini, tolong lepaskan aku* ucap ular besar itu memakai sebuah batin
"Hmm baiklah, jika kau berjanji, maka tepati, lalu bagaimana nasib ayam - ayam yang sudah mati ini, hmm bagaimana tanggung jawabmu?" tanya Xiaoyu dengan bahasa batinnya
*Potonglah ujung ekorku, itu hukuman yang pantas karena aku sudah memakan ayam - ayam di sini, dengan demikian aku akan sulit bergerak, aku siap*
"Baiklah, kau sampaikan ke semua keturunanmu, untuk tidak menganggu semua ternak di sini, jika ada satu pun dari keturunanmu, maka aku tidak akan segan - segan melenyapkannya."
Setelah ujung ekor ular itu dipotong, dia pergi walau jalannya sangatlah lamban, dan tak lama menghilang, tak terlihat lagi.
"Xiaoyu... kau tidak apa - apa putriku?" tanya sang Angkat
"Tenang saja Ayah, aku tidak apa - apa, dan kalian bisa tenang, aku pastikan mereka bangsa ular sanca tidak akan lagi berani datang ke sini."
"Kami benar - benar takjub melihatmu sangat mampu menaklukan ular sebesar itu, bahkan di sini harus memerlukan banyak orang untuk melumpuhkan satu ular sebesar itu."
"Sebenarnya mereka tidak salah, mereka pun makhluk hidup juga yang membutuhkan makanan, mereka bisa masuk ke kawasan manusia, karena rantai makanan mereka mungkin habis."
"Tetapi kami melihat seperti ular itu bukan ular biasa, dia berjalan pelan, tetapi kenapa cepat sekali menghilang?"
"Biarkan dia pergi Ayah, jika mereka mau datang kembali, biar aku saja yang menanganinya."
"Ya sudah masuklah, di luar sangat dingin, kau untuk apa sudah malam masih saja ke luar kamar?"
"Aku haus tadi, tetapi aku juga mendengar ada suara berisik ayam - ayam Ayah di kandang."
"Oh baiklah, kau ambil saja minumannya, lalu kembali istirahat ya."
"Ya Ayah."