Menuju kerajaan naga emas, sang Ibu Permaisuri yang bernama Ratu Ziangling, adalah Ibu dari Pangeran Ryu, dia masuk menuju lapisan langit, dan menemui putera kesayangannya itu, Pangeran Ryu masih terikat rantai emas, wajahnya makin pucat, Ibunya seketika membebaskan Pangeran Ryu secara diam - diam.
"Ryu...bangunlah Puteraku, Ibu datang."
"Ibu... bantu aku keluar dari sini, aku ingin mencari Zeyrang, dan turun ke bumi."
"Ya Ibu ke sini pun diam - diam, Ayahmu masih tertidur dengan pil biru pemberian Ibu, kau yakin akan turun ke bumi?"
"Ya Ibu, aku harus segera menemukan Zeyrang, jangan sampai dia dimanfaatkan manusia. Apa Ibu bisa lepaskan aku dari lapisan langit ini?"
"Tenanglah, Ibu juga masih mengingat mantera pembuka kunci lapisan langit ini, kau diamlah jangan bergerak, tetapi apa kau yakin Zeyrang masih hidup, bukannya dia sudah dibuang ke bumi dalam keadaan mati."
"Selama aku belum menemukan jasadnya sendiri, aku tidak akan menyerah, aku akan mencarinya Bu."
"Baiklah, kau diam dulu, Ibu akan lepaskan kuncian mantera lapisan langit ini."
*Ratu Ziangling memejamkan matanya dan membacakan mantera, tak lama terbukalah segel lapisan langit, Pangeran Ryu pun bebas*
"Terima kasih Ibu, aku akan segera turun ke bumi."
"Tunggu puteraku, bawalah ini bersamamu, pedang emas ini akan melindungimu, dan bawalah juga kitab ini bersamamu, maafkan Ibu yang terlambat menyelamatkan Zeyrang, sehingga Ibu baru bisa datang sekarang, Ibu baru terbangun dari pengaruh pil merah yang sengaja ditaruh Ayahmu, agar aku tidak menghalangi penghakiman terhadap Putri Zeyrang."
"Lalu bagaimana dengan Ibu, jika Ayah tahu, Ibu yang sudah membebaskan aku?"
"Hmm... Ibu akan rela melawan siapapun yang sudah melukaimu."
"Apa Ibu juga percaya akan ramalan dari pihak kerajaan naga merah itu?"
"Puteraku, biarlah semua menjadi misteri sang Dewa langit, suatu saat kebenaran akan terungkap dengan sendirinya, kau tidak perlu khawatir, apalagi mencari tahu, karena jika memang sudah waktunya, sebuah kebenaran apapun di muka bumi ini akan terungkap dengan sendirinya, percayalah, sekarang turunlah ke bumi, bawa Achiang bersamamu, lewatlah sini, ikuti Ibu, Achiang sudah menunggumu di pintu gerbang menuju bumi."
"Terima kasih Ibu, tetapi apa aku bisa melewati semua ujian ini?"
"Puteraku, Kau adalah Pangeran Naga emas, kelak ada saatnya kau mampu menguasai semua kekuatanmu, kau sanggup karena sang Dewa langit sudah memilihmu menjadi Pangeran terkuat."
"Baik Ibu terima kasih."
"Ya sudah cepatlah ikuti Ibu, waktu kita tidak banyak, Ayahmu akan segera sadar, sebelum Ayahmu sadar, kau sudah harus sampai ke bumi."
"Baiklah Ibu."
Ryu mengikuti Ibu Permaisuri, menuju gerbang bumi, sesampainya di sana, Achiang sudah siap ikut mendampingi Ryu.
"Ryu..sekarang turunlah masuk ke dalam gerbang ini, maka kau akan sampai di bumi, Achiang aku tugaskan kau dampingi Puteraku ya."
"Baik Ibu Ratu."
"Bu aku ijin turun ke bumi, aku pastikan akan segera kembali."
"Hati - hati puteraku, ingat selalu kontrol emosimu, jangan sampai semua orang tahu siapa sebenarnya jati dirimu."
"Baik Ibu, aku pasti akan selalu mengingat nasehat Ibu."
Ryu dan Achiang pun membuka gerbang menuju bumi, mereka pun masuk lorong khayangan yang bisa tembus menuju bumi itu. Sesampainya di bumi, mereka terjatuh di sebuah hutan dekat wilayah Desa Wuyuan, namun malang nasib Achiang harus tersangkut di atas pohon yang ada di hutan itu. Ryu terbangun dan melihat Achiang tidak ada bersamanya. Ryu memanggil Achiang dan terus mencarinya.
Achiang...Achiang kau di mana?
"Pangeran...aku di sini."
"Kau di mana Achiang, janganlah kau bersembunyi, kau mau cari masalah denganku!"
"Pangeran sungguh aku tidak mau mencari masalah, aku di atasnya Pangeran."
*Ryu lalu melihat ke atas pohon, dia tersenyum, semakin jelas terlihat wajah tampannya, dia pun membantu Achiang turun dari pohon*
"Hah kau ini ada - ada saja, bagaimana bisa, tubuhmu tersangkut di pohon seperti itu."
"Saya sendiri tidak tahu Pangeran, kenapa nasib saya harus tersangkut di pohon."
"Ya sudah sini, aku bantu, cepat pegangan, naiklah ke punggungku." ucap Ryu yang seketika tubuhnya tinggi sebesar pohon itu
Achiang pun berhasil turun dan Ryu kembali ke bentuk semula.
"Pangeran kenapa masih tertawa seperti itu, sepertinya senang aku seperti ini."
"Heii Achiang, kau ini jalan bersamaku lewat gerbang yang sama, kenapa nasibmu sepertinya sial sekali." ucap Ryu sembari menahan tawanya
"Ya mana saya tahu Pangeran. Ya sudah, lalu kita mau kemana. Dan ini di mana ya Pangeran?"
"Ini di desa Wuyuan, tetapi entah di mana Putri Zeyrang, aku harus terus mencarinya sampai ketemu."
"Hmm bukannya Tuan Putri Zeyrang sudah tewas saat dilemparkan ke bumi."
"Kau ini jangan sembarangan jika bicara, kau tahu siapa yang sedang kau bicarakan, itu calon istriku. Selama aku belum melihat jasadnya sendiri, tidak akan pernah aku percaya, kalau dia sudah tewas, aku yakin dia masih hidup."
"Pangeran lalu bagaimana caranya kita mencari keberadaan Putri Zeyrang, kita belum sempat membawa lukisan wajahnya."
"Kau ini memangnya aku sebodoh itu, aku bisa melukiskan wajahnya, itu tidak sulit, kita cari nanti kain kanvasnya, semoga saja ada yang jual."
"Hmm tetapi penampilan kita tidak bisa seperti ini Pangeran, di sini sepertinya masih desa kecil, pakaian kita terlalu berlebihan."
"Kau benar juga, tenang saja kita bisa berubah, kau pejamkan saja kedua matamu, kita berubah sekarang."
*Dalam sekejap pakaian mereka berdua pun berubah, memakai pakaian yang sangat sederhana menyesuaikan masyarakat Desa Wuyuan, rambut mereka pun berubah menjadi warna hitam, semua perhiasan pun yang menghiasi Ryu dilenyapkan dengan sekejap.*
"Hmm bukalah matamu, Achiang."
"Wah Pangeran tetap tampan, walau sekarang berpenampilan sederhana."
"Lalu bagaimana, apa kau suka dengan pakaianmu yang saat ini?"
"Ya tetapi kenapa rambutku jadi keriting seperti ini Pangeran, ada tompel juga di bagian wajah saya."
"Heii kau ini sudahlah jangan protes, apa mau aku kasih yang jauh lebih buruk dari ini."
"Ja..jangan Pangeran."
"Ya sudah, jangan membantah, dan jangan pernah mengeluh."
"Ya Pangeran baiklah, lalu kita mau tinggal di mana?"
"Kita cari penginapan yang sederhana saja, jangan terlalu mencolok dulu, inget pesan Ibu Ratu, kalau semua orang jangan sampai tahu jati diri asli kita, paham kau."
"Ya Pangeran, lalu jika mereka bertanya, dari mana asal kita dan apa pekerjaan kita?"
"Hah kau ini sangat cerewet sekali, kalau sampai itu terjadi jawab saja kita dari Desa Jiangling, dan kita hanya seorang pengembara, ingat itu selalu di pikiranmu, awas kau sampai salah ucap, aku akan buat bibirmu selamanya tidak bisa bicara."
"Galak sekali Pangeran ini."
"Kau ini kalau tidak ditegaskan, kau sering ceroboh, dan semua bisa berantakan."
"Tenang saja Pangeran aku pastikan, bisa menjaga mulutku."
"Tepati janjimu itu ya Achiang."
"Ya Pangeran tenang saja."