Bab.6 Tiba Di Sebuah Penginapan

1073 Kata
Setelah perjalanan yang cukup panjang dari Desa Wuyuan untuk mencari tempat penginapan, Ryu dan Achiang akhirnya tiba di sebuah penginapan yang bernama Penginapan Anggrek Bulan. Penginapan yang sangat sederhana namun sejuk pemandangannya. Saat memasuki penginapan tersebut, salah satu penjaga penginapan yang bernama Yuwen mendekat ke arah Ryu dan Achiang, wajahnya biasa saja namun sikapnya sangat agresif, "Selamat pagi Tuan - Tuan tampan, saya Yuwen, apa ada yang bisa saya bantu? Wah mau mencari kamar ya?" tanya Yuwen sang penjaga penginapan "Hmm ya kami mau menginap di sini, untuk satu kamar tapi ada dua tempat tidur apakah ada?" "Wah tentu saja ada Tuan tampan." jawab Yuwen dengan sembari membelai bahu Ryu "Heii kau ini yang sopan sedikit bisa dengan Tuanku." saut Achiang yang merasa kesal dengan sikap agresif Yuwen sang penjaga penginapan "Tenang saja Achiang, tidak apa - apa, oh ya kebetulan kami dari Desa Jiangling, dan kebetulan ada keperluan di sini." "Ini kunci kamarnya, di dalam ada dua tempat tidur, pas sekali dengan kemauan Tuan, boleh tahu nama Tuan siapa?" "Namaku Ryu, baiklah berapa harga kamarnya, Nona Yuwen?" "Nanti bayarnya saat Tuan Ryu, keluar dari penginapan ini." "Oh setiap aku mau keluar harus membayar jadinya?" "Bukan seperti itu Tuan, tetapi saat Tuan Ryu tidak lagi melanjutkan menginap di sini baru Tuan membayarnya, dan jika Tuan Ryu mau memesan makanan bisa dibayar di muka, atau saat makanan di antarkan." "Baiklah kalau begitu, ini ambil saja lima keping emas, sebagai tanda jadi sewa kamar kami, kalau kurang nanti bilang saja padaku ya." "Siap Tuan Ryu yang tampan, wah wajah anda sangat mirip sekali ya dengan wajah - wajah Dewa di atas langit." "Ahh terima kasih, kami hanya orang biasa - biasa saja." jawab Ryu dengan menutupi indentitas dirinya "Hmm Tuan Ryu mari kita langsung ke kamar saja." saut Achiang pada Ryu "Ya baiklah, kita istirahat dulu." Menuju Desa Huangling, Xiaoyu yang sudah terbangun, segera membantu kedua orang tua angkatnya dalam mengurus tanaman - tanaman pangan, dan memberikan pakan untuk beberapa ternak di sana. "Heii Xioayu, kau sudah bangun rupanya, sini bantu ayah, kasih pakan ternak ya memang sedikit kotor, dan bau, tetapi ini semua sumber penghasilan kami." "Dari kejadian semalam, jujur aku sulit tidur, jadi ya aku bangun saja, aku hanya rebahan tetapi mataku tidak bisa terpejam lagi, ya ini banyak sekali ternaknya ya." "Ya ini semua sumber penghasilan kami, apa kau merasa mual dengan aroma kotoran mereka, Xiaoyu?" "Hmm ya tidak juga, hanya belum terbiasa saja Ayah." "Lama - lama kau juga terbiasa, bagaimana menurutmu rumah sederhana kami, apa kau merasa nyaman atau bagaimana?" "Nyaman dan sungguh masih sangat asri, tetapi aku hanya sedikit jenuh ingin jalan - jalan Ayah." "Jalan - jalan, kemana?" "Aku ingin mencari sesuatu yang bisa aku kerjakan, entah kenapa aku ingin sekali membeli benang rajutan, apa di sini ada yang menjualnya?" "Hmm kalau di sini tidak ada, tetapi kalau di Desa Wuyuan ada, letaknya dekat pasar, tetapi kalau hari ini ayah tidak bisa mengantarmu, karena roda sebelah kanan kereta kudanya patah, mungkin karena faktor usia juga, aku belum mencari kayunya, belum sempat Xiaoyu." "Hmm apa di sini ada orang yang bisa mengantarku?" "Oh ada nanti aku panggilkan Paman Cheng, sepertinya dia ada rencana mau ke pasar, nanti kau ikut saja dengannya." "Kalau pulang apa Paman Cheng bisa mengantarku?" "Sepertinya tidak bisa, dia kan harus menetap di pasar sampai sore, dia pulang baru lusa, kau bisa pulang naik kereta kuda, nanti berikan upah saja, bilang saja kau ingin pulang ke rumah Paman Liong, semua orang mengenalku, karena aku sering antar ternak dan sayuran ke sana, kau tidak perlu khawatir, di sini sangatlah aman." "Baiklah Ayah, berarti aku tunggu sampai Paman Cheng datang ke sini ya?" "Ya... sebentar lagi dia juga datang, mengambil beberapa ternak milik Ayah. Nah itu dia, panjang umurnya, kau bersiaplah, biar Ayah yang sampaikan." "Baiklah Ayah." Paman Cheng pun datang memberikan beberapa palet - palet untuk membawa ternaknya. Dia datang menggunakan dua kereta kuda yang satu khusus membawa barang, yang satu khusus kendaraanya sendiri. Paman Cheng adalah salah satu tengkulak yang biasa menampung sayuran dan ternak - ternak milik para petani dan peternak di daerah Desa Huangling. "Heii Liong, bagaimana, apakah sayuran dan ayamnya sudah siap, biar aku angkut ke kereta kuda barangku." "Sudah Tuan Cheng, ini sudah saya siapkan, oh ya nanti kalau berkenan, putri angkatku mau ikut bersama Tuan ke Desa Wuyuan, dia mau membeli beberapa benang rajutan." "Oh baiklah, ya sudah kau angkat saja dulu semua sayuran dan ayam - ayamnya ya." "Siap Tuan Cheng." Tak lama Xiaoyu keluar dengan balutan baju sederhananya yang berwarna pink muda, dengan rambut panjangnya yang sudah terikat rapi. "Heiii apa aku Xiaoyu, anak angkat dari Liong?" "Ya Paman Cheng, apa boleh aku ikut ke Desa Wuyuan?" "Boleh saja, tetapi nanti kau pulang sendiri ya, aku tidak bisa mengantarmu pulang, karena kau tahu perjalanan sangat jauh." "Ya tidak apa - apa, aku hanya membeli beberapa benang rajutan saja, lalu pulang dengan kereta kuda yang ada di pasar." "Baiklah kalau begitu, kita jalan sekarang, biar siang sudah sampai di sana." "Siap Paman." "Hmm Xiaoyu, hati - hati ya putriku." ucap Liong sang Ayah angkatnya "Baik Ayah, tenang saja." Xiaoyu pun menaiki kereta kuda itu bersama Paman Cheng, tidak lupa dia selalu membawa seruling emasnya yang dia dapat dari lomba di pekan raya kemarin lalu. Setelah melakukan perjalanan panjang, akhirnya dia tiba di Desa Wuyuan, dia segera turun dan mencari pedagang benang rajutan. "Hmm Xiaoyu, maaf aku hanya bisa mengantarmu di sini ya, aku langsung tinggal ke dalam pasar ya, kalau toko benang rajutan kau bisa mencarinya dekat pedagang buah ya, nanti belok kanan, nah di situ ada namanya Toko benang Ahui." "Baiklah Paman Cheng, terima kasih maaf sudah merepotkan "Sama - sama." Setelah mengikuti arahan Paman Cheng, dia pun berhasil menemukan Toko Benang Ahui, dia pun membeli beberapa warna dan membawanya pulang, baru saja dia melangkahkan kakinya keluar, Xiaoyu dihadang oleh beberapa orang yang berpakaian lusuh dan mencoba mengganggunya, dengan memaksa meminta uang. "Heiii Nona cantik, wah sepertinya kau bukan orang sini ya, cantik sekali wajahnya, pasti dia dari keluarga bangsawan, kasih kami kepingan emas milikmu, sepuluh keping emas, cepat!" "Maaf Tuan, saya tidak punya uang sebanyak itu, aku hanya punya dua keping saja, ini pun buat pulang ke Desa Huangling." "Itu bukan urusan kami, kasih kantungmu itu sekarang, atau kau tidak akan bisa pulang dari sini!." Saat para pemalak itu mendekat dan memaksa merampas kantong uang milik Xiaoyu. Tiba - tiba ada suara yang menahan perbuatan para pemeras itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN