Masih di wilayah pasar, Desa Wuyuan. Setelah mendengar suara lelaki yang menahan perbuatan pemeras itu, Xiaoyu pun selamat dari orang - orang pemeras itu.
"Jangan pernah mengganggunya! Atau kalian akan menyesal!" ucap lelaki berparas tampan dengan membawa pedang emas, dia lah Ryu
"Kau ini siapa! Jangan mencampuri urusan kami, mau jadi pahlawan kesiangan kau ini."
Perkelahian pun terjadi, akhirnya para pemeras itu kabur, namun Ryu sedikit terkena pukulan tongkat di area pelipisnya.
"Hmm terima kasih Tuan, karena sudah menolongku."
"Tidak apa - apa, lain kali hati - hati, perkenalkan aku Zhangming." jawab Ryu yang sedang pura - pura menjadi orang lain
"Aku Xiaoyu, hmm itu pelipismu terluka, maaf jadi menyusahkankanmu Tuan."
"Hmm sudahlah, tidak apa - apa, panggil saja aku Zhangming, tidak perlu pakai Tuan, aku hanya orang biasa saja."
"Baiklah setidaknya aku bantu obati dulu luka di pelipismu, ini semua karena kau tadi sudah menolongku."
"Tidak perlu, aku tidak apa - apa, nanti juga bisa sembuh dengan sendirinya, jadi kau tidak perlu khawatir, oh ya apa kau masih mau berbelanja?"
"Hmm sudah cukup, aku ke sini hanya mencari beberapa benang rajutan, untuk aku merajut kerajinan tangan di rumah."
"Rumahmu di mana?"
"Aku tinggal di Desa Huangling, ya cukup jauh, untuk itu aku harus segera pulang sekarang, biar tidak terlalu larut."
"Ya sudah aku antar saja bagaimana? Kebetulan aku sudah menyewa kereta kuda, untuk berjalan - jalan, nanti aku perintahkan Achiang untuk mengendarai kereta kudanya."
"Tidak usah Zhangming, aku bisa sendiri."
"Kau ini, kau lupa tadi kau hampir saja diperas oleh para pemeras itu, bisa saja kan, mereka masih mengincarmu, bersembunyi dibalik pohon atau semak - semak." jawab Ryu sembari mengelilingi tubuh Xiaoyu
"Kau ini bisa tidak jangan membuatku takut."
"Itu memang kenyatannya Xiaoyu, kalau penjahat seperti mereka, jika belum mendapatkan apa yang mereka mau, pasti mereka masih bersembunyi, apa kau mau sampai bertemu mereka lagi?"
"Tidak! Hmm baiklah ya.. aku akan mengijinkanmu untuk mengantarku."
"Ya sudah kau tunggu dulu di sini, aku ambil kereta kudanya, tenang tidak akan lama."
"Baiklah."
Setelah menunggu beberapa saat, kereta kuda sewaan milik Ryu pun datang dan sudah ada Achiang yang mengendarainya. Ryu yang menyamar sebagai Zhangming mempersilahkan Xiaoyu alias Zeyrang untuk naik ke atas kereta kudanya.
Mereka pun mulai berjalan, Xiaoyu menunjukkan arah jalannya, dan membuat Ryu terus diam - diam memandangi Xiaoyu. Achiang pun sempat ikut gerogi setelah melihat wajah Xiaoyu yang sangat mirip dengan Zeyrang. Achiang sampai - sampai tidak melihat ada batu besar dan membuat Xiaoyu jatuh ke dalam pelukan hangat Zhangming. Mereka pun saling berpandangan, sangat lama, ingin rasanya Ryu segera membawa Xiaoyu kembali ke khayangan, tetapi tidak semudah itu, karena Xiaoyu sedang tidak ingat siapa dirinya, dan dari mana asalnya. Ryu menahan air matanya, karena dia bisa melihat lagi Putri Zeyrang yang ada di dalam tubuh Xiaoyu. Setelahnya mereka duduk lagi seperti biasa, namun Ryu menoleh ke arah kiri, menahan kerinduannya.
"Maafkan saya, Tuan Zhangming, saya tidak melihat batu yang ada di depan."
"Ya lain kali hati - hati kau ini, masih saja kau ceroboh, kau mau membuat kami berdua mati di sini."
"Maaf Tuan Zhangming."
"Hmm sudahlah tidak apa - apa, tidak disengaja." saut Xiaoyu
"Ya maafkan saya ya Nona, saya benar - benar tidak melihat ada batu tadi."
"Kau ini susah sekali cerobohnya hilang, sekali lagi kau begitu, aku turunkan kau di jalan Achiang!" saut Ryu yang kesal dengan siap Achiang yang begitu ceroboh.
Tak terasa waktu sudah menuju malam, angin malam yang begitu menusuk tulang, membuat Xiaoyu kedinginan, dan dia tertidur di kereta kuda tersebut. Ryu mengeluarkan kekuatannya dan memberikan jubah tebalnya untuk membuat tubuh Xiaoyu tidak lagi kedinginan. Sesampainya di Desa Huangling, mata Xiaoyu tiba - tiba terbuka,
"Hmm sudah sampai ya." ucap Xiaoyu yang terbangun dari tidurnya
"Coba kau lihatlah dulu, apa benar ini rumahmu Xiaoyu." jawab Ryu dengan senyuman lembut
"Ya, mari kita turun, kalian berdua istirahatlah di sini, besok saja kalian kembali ke Desa Wuyuan."
Tak lama Pak Liong keluar yang sangat mencemaskan keadaan Xiaoyu.
"Xiaoyu akhirnya kau pulang juga, kami sangat khawatir padamu, kami mau menyusul roda keretanya masih rusak." ucap Liong pada puteri angkatnya
"Maafkan aku Ayah, tadi ada sedikit insiden di pasar, untung saja ada Zhangming yang menolongku, kalau tidak mungkin aku tidak bisa pulang."
"Hmm ya sudahlah, kau bersihkan dirimu, rehatlah, biar Ayah yang menemui Zhangming."
"Ya Ayah."
Liong pun mendekat ke arah Ryu dan Achiang yang sedang duduk di dekat gubuk buatan milik Liong.
"Hmm terima kasih Tuan Zhangming, yang sudah menolong Xiaoyu, kalian menginap saja di sini dulu, karena perjalanan sangat panjang menuju Desa Wuyuan."
"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajiban sesama manusia saling membantu."
"Ya sudah silahkan duduk dulu, saya ambilkan beberapa umbi - umbian."
"Tidak perlu repot - repot Paman, kami masih kenyang."
"Sudahlah, tenang saja, anggap saja ini tanda terima kasih, karena kalian sudah menolong dan mengantar puteriku dengan selamat."
"Hmm ya sama - sama Paman."
Achiang yang kelelahan pun tertidur di kereta kuda, sementara itu Liong membawa beberapa umbian yang sudah dikukus, dan dia menemani Zhangming duduk di gubuk miliknya.
"Nah ini makanlah, ala kadarnya, semua asli dari hasil panen kami sendiri, Tuan Zhangming."
"Hmm ya, panggil saja aku Zhangming."
"Baiklah, ya kami ini yang menemukan Xiaoyu, tepatnya di Desa Wuyuan, dalam kondisi lemas dan sangat dehiderasi."
"Oh seperti itu, apa itu nama aslinya dia, Paman?"
"Bukan, nama Xiaoyu kami yang berikan secara dadakan, karena sepertinya dia tersesat dan hilang ingatan, sampai tidak mengenali namanya sendiri. Kebetulan juga kami sudah lama sudah tidak memiliki anak, kehadiran Xiaoyu sangat membuat aku dan istriku bahagia."
"Hmm lalu apa saat Paman menemukannya, wujudnya seperti apa?"
"Ya seperti manusia pada umumnya, tetapi kami merasa dia bukan dari Desa Wuyuan, entah dari mana, niat kami hanya menolongnya dan mengangkatnya seperti anak kami sendiri."
"Hmm, ya tadi di pasar juga hampir dijahati orang, mau diperas paksa kantung emasnya."
"Sekali lagi terima kasih, kau sudah mau menolong dan mengantarkan Xiaoyu sampai di rumah dengan selamat."
"Tidak masalah, Paman, lain kali jangan ijinkan dia pergi sendirian."
"Sebenarnya kami juga ada kereta kuda, tetapi kebetulan roda kereta kami rusak salah satunya sudah ada keretakan, mungkin karena usia juga."
"Hmm ubinya lumayan enak dan manis, apa ini dari kebun paman sendiri?"
"Ya kami di sini bertani sayuran, umbi - umbian, dan beberapa ternak seperti ayam, sapi dan babi."
"Hmm."