Setelah menyusun rapi kayu - kayu bakarnya, Paman Liong datang dengan membawa ikan - ikan yang sudah dibersihkan, dan sudah menyiapkan semua bumbu - bumbunya. Setelah itu Xiaoyu, menyalakan apinya tetapi dia merasakan perih di tangannya, ternyata telapak tangannya ada yang lecet, dan menyebabkan ruam di tangan yang sangat perih, karena belum terbiasa dengan kapak.
"Kau kenapa, hmm?" tanya Zhangming yang sedang membantu Xiaoyu mengolesi bumbu di ikannya
"Aku tidak apa - apa, mungkin karena belum terbiasa saja, nanti juga baik sendiri."
"Kau ini keras kepala sekali, kalau memang tidak sakit, untuk apa kau merintih, sudah sini, mana kedua tanganmu, sini aku sembuhkan."
*Zhangming mengobati luka di tangan Xiaoyu, dengan menempelkan telapak tangannya ke telapak tangan xiaoyu*
"Bagaimana apa sudah merasa lebih baik, tanganmu?"
"Sudah lepaskan, kau pasti mau mengambil kesempatan dalam kesempitan bukan?
"Nona Xiaoyu, untuk apa aku melakukan itu, kalau mau, sejak awal aku menyelamatkanmu, aku sudah menculikmu dan membawamu pergi jauh, tetapi aku tidak melakukannya kan?"
"Itu bisa aja trikmu, berpura - pura menjadi sahabat, setelah itu kau..."
"Heii.. kau ini sudah galak, pikiranmu isinya kotor sekali ya. Kau pikir aku lelaki macam apa, aku bukanlah lelaki seperti itu."
"Haishhh aku tahu, kau pasti salah satu lelaki hidung belang, kau sudah memiliki istri, dan kau mau menjadikanku simpananmu."
"Kau ini benar - benar membuatku hilang kesabaran."
"Silahkan kau mau menamparku kan, ini silahkan."
"Ya aku ke sini memang mau mencari seseorang, tepatnya kekasihku, puas kau?"
"Apa! Kekasihmu dia orang Huangling?"
"Kau tidak perlu tahu, intinya aku bukan lelaki jahat seperti yang kau bayangkan itu, kau ini selalu berburuk sangka sama orang."
"Biarkan saja, Ayah sudah berpesan jangan mempercayai siapapun, termasuk kau juga, tidak perduli kau pernah menolongku, bukan berarti kau bisa jahat kan?"
"Kau ini, aku benar - benar menyesal sekali waktu itu sudah menolongmu, kalau tahu begini, aku biarkan saja waktu itu kau dirampas oleh pemeras - pemeras di pasar itu."
"Oh jadi kau menyesal telah menolongku, ya sudah berapa harga jasamu, biar tidak ada hutang budi di antara kita."
*Zeyrang, aku sangat merindukanmu, sekeras apapun kau sekarang, aku tetap akan selalu melindungimu, aku akan selalu menyayangimu, aku akan berusaha membuat semua kekuatan dan memorimu kembali* ucap batin Zhangming saat menatap intens Xiaoyu yang sedang mendekat ke arahnnya
"Hmm kenapa kau diam, kau merasa bersalah, apa bingung menyebut angkanya?"
"Sudahlah lupakan, aku mau bersiap pulang saja, aku mau kembali ke penginapanku di Desa Wuyuan."
"Ya sudah sana pergilah, lagi pula tidak ada yang menginginkan kehadiranmu di sini."
"Ya sudah baiklah, aku akan pergi, pamitkan pada Paman Liong, terima kasih karena sudah boleh bermalam di sini."
"Ya nanti aku pamitkan pada Ayah, awas tidak ada barang yang kau curi kan?"
"Heii kau ini sopan sedikit bisa tidak dengan ..."
"Ssttt Achiang sudahlah, anggap saja dia ini sedang tidak waras, sudah kita kembali saja, kita masih harus menyelesaikan sesuatu bukan?" jawab Zhangming menyelak omongan Achiang
"Apa! Kau bilang aku wanita tidak waras, kau itu yang tidak waras ya, baru saja bisa menolongku, kau langsung mau mengantarku pulang, kau itu yang berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan. Ahh aku tahu, pasti kekasihmu itu, tidak secantik diriku kan."
"Terserah kau saja Nona Xiaoyu."
Zhangming pun pulang bersama Achiang kembali ke penginapannya yang ada di Desa Wuyuan. Setelah beberapa saat, Xiaoyu merasa kelelahan, karena membakar banyak sekali ikan, dan saat semuanya matang, dia menata dengan rapi beberapa ikan bakar yang sangat lezat itu. Di dalam perjalanan, Zhangming masih terdiam memikirkan rencana demi rencana.
"Pangeran.. kenapa Putri Zeyrang jadi seperti itu, sangat menyebalkan, apa Pangeran yakin itu Putri Zeyrang?"
"Hmm ya aku yakin, dan aku akan terus mencari tahu, kau ini jangan sampai ceroboh, selalu saja hampir memanggilku pangeran, lalu saat pertama kali kita mengantar Xiaoyu, kenapa kau sengaja membuatnya jatuh ke dalam pelukanku."
"Ya aku sengaja, karena aku ingin sekali melihat Pangeran dan Putri Zeyrang bersatu kembali."
"Kau ini jangan menghancurkan semua rencanaku, walau perasaanku yakin dia adalah Zeyrang, tetapi aku ingin memastikannya lagi, jika benar nanti aku akan berusaha semampuku untuk selalu berada di dekatnya."
"Ya lalu bagaimana dengan keadaan istana, apakah Ibu Permaisuri berselisih paham dengan Baginda Raja Wong?"
"Tenang saja pasti Ibu bisa mengatasinya. Aku hanya memikirkan Xiaoyu, dia sangat berbeda sekali sekarang, semua bisa terjadi karena semua kekuatannya dan memorinya telah diambil paksa oleh Ayahku, dan dikunci di dalam pohon buah melodi."
"Lalu kenapa Pangeran tidak segera mengambilnya saja? Kenapa harus menunda waktu?"
"Kau ini, kekuatanku belum bisa mengalahkan Ayah, saat ini aku masih terus harus mempelajari kitab yang sudah Ibu bawakan padaku, kalau aku gegabah, bisa saja nanti orang istana melenyapkan Xiaoyu untuk kedua kalinya, aku sedang mencari tahu apa benar Xiaoyu itu Putri Zeyrangku, apa hanya mirip saja, aku akan terus mencari tahu."
"Tetapi mengapa saat dia memainkan seruling emasnya, begitu sama persis dengan Putri Zeyrang saat berada di atas khayangan. Bukankah semua memorinya sudah diambil paksa?"
"Hmm sepertinya Ayah hanya mengambil sebagian ingatannya tentang aku dan tentang jati dirinya saja, kalau untuk memainkan suling mungkin saja dia masih ingat, aku pun begitu terhanyut saat dia memainkan seruling itu, begitu menggetarkan jiwaku, saat pertama kali aku bertemu dengannya dulu di atas khayangan."
"Lalu bagaimana cara Pangeran, mengenali jati diri asli Putri Zeyrang?"
"Yang pertama aku akan mencari tahu dulu, di mana baju pertamanya disimpan, dan dibelakang lehernya, dia ada sebuah tanda kristal perak, jika kedua tanda itu ada, berarti Xiaoyu adalah Putri Zeyrang, kekasih sejatiku."
"Hmm Pangeran tentu sangat sedih ya, berpisah dengan kekasih."
"Rasanya sangat luar biasa sesak, kau bisa lihat aku menahan air mata ini agar tidak jatuh saat aku menatapnya."
"Tenang saja Pangeran, kalau memang semesta masih menyatukan Pangeran dan Putri Zeyrang, apapun rintangannya pasti akan bisa terlewati, Pangeran harus yakin akan hal itu, keajaiban dari sang Dewa langit."
"Ya itu yang sangat aku harapkan, Achiang, semoga saja."
Setelah perjalanan yang lumayan panjang, akhirnya Zhangming dan Achiang sampai di penginapan mereka. Saat baru saja memasuki penginapan, tiba - tiba ada seseorang pedagang menjual kain kanvas dan beberapa alat lukisnya. Mendengar hal ini, Zhangming berbalik badan, dan membeli kain kanvas itu berikut semua alat lukisnya tanpa menawarnya lagi.
Kembali menuju Desa Huangling, Paman Liong merasa bingung, karena kereta kuda milik Zhangming sudah tidak terlihat lagi di area halaman rumahnya.
"Ya..Xiaoyu, kenapa kau sendirian di sini, bukannya tadi ada Zhangming yang membantumu?"
"Dia sudah pulang Ayah, lagi pula untuk apa berlama - lama di sini, aku tidak nyaman?"
"Aiiishh kau ini, kenapa tidak melarangnya dulu, kita kan belum menawari mereka makan, kau ini kenapa seperti itu?"
"Ayah kan berpesan padaku, Xiaoyu hati - hatilah sama orang yang baru kau kenal?"
"Ya Ayah memang bicara seperti itu, tetapi bukan pada Zhangming, mereka itu orang - orang baik Xiaoyu, kau ini jangan berburuk sangka dulu, kalau mereka tidak baik, tidak mungkin mau mengantarmu sampai ke rumah, coba kau bayangkan saja, bagaimana nasibmu, jika tidak ada Zhangming, haiiss kau ini."
"Maafkan aku Ayah, mungkin aku terlalu waspada."
"Waspada boleh - boleh saja, tetapi jangan kau mencurigai Zhangming, dia itu lelaki baik, aku percaya kalau dia tidak mungkin berbuat jahat, lain kali jangan seperti itu, sudah besok temui saja dia ke Desa Wuyuan, kau tahu tidak di mana penginapannya?"
"Tidak tahu Ayah."
"Ya sudah, setahuku di sana hanya ada satu penginapan, kalau tidak salah nama penginapannya, penginapan Anggrek bulan, ya sudah besok kita temui Zhangming, untuk meminta maaf, kau sudah tidak sopan dengan tamu."
"Maafkan aku Ayah."
"Ya sudah makan dulu, suara perutmu itu sangat berisik sekali."
"Ya Ayah aku memang sudah sangat lapar sekali."