Bagaskara memeluk ku erat. Sedangkan aku masih mengatur nafasku. hampir 1 jam lamanya kami bermain disini. oke, ini tidak sebanding dengan malam malam sebelumnya tapi tetap saja melelahkan.
dia menciumi kedua pipiku sambil terkekeh. "enak ya sayang. apalagi kamu abis cemburu gitu hahaha" aku memeluk lehernya, lalu mengecup bibirnya.
Cup
"aku engga suka kamu di sentuh perempuan lain" ucapku tepat di depan bibirnya. Dia tersenyum, lalu melumat bibirku sebentar.
"lain kali, dengar dulu penjelasanku. aku ini udah sama kamu dari kecil. rasa sayangku ke kamu itu udah gak bisa berubah Gantari. aku sama sekali gaada ketertarikan sama perempuan itu. kamu kalo di bandingin sama dia, jelas jauh. kamu lebih berkelas. jangan cemburu sama perempuan yang gak selevel sama kamu.. ya sayang..." aku menjawabnya dengan anggukan. dia pun duduk menyandar di sofa sambil menepuk pahanya. memintaku duduk diatasnya. aku pun bangun dan duduk diatas pangkuannya, menghadap wajahnya.
ku peluk pinggangnya, lalu ku rebahkan kepalaku di dadanya. d**a telanjang kami pun menempel tanpa halangan.
Bagaskara mengusap rambutku perlahan. "kamu ga mau pake baju dulu mm?" aku menggeleng. masih ingin memeluknya. dia hanya terkekeh, namun langsung melepaskan pelukan ku. dia membenahi bra ku, dan mengancingi baju seragamku.
"sebentar lagi bel istirahat, kamu kan belum makan. nanti pelukan lagi di mobil." Penjelasannya cukup, tapi aku tetap kesal. setelah dia selesai dengan bajuku, aku berdiri dari pangkuannya. mengambil celana dalamku, lalu memakainya.
Dia pun sama, tengah membenahi pakaiannya. karena aku telah selesai lebih dulu, aku duduk di sofa sebrang dan memandanginya. Melihat tubuhnya saja, aku bisa kembali merasakan genjotannya.
aku tertawa sendiri dengan otak liar ku ini. dia hanya menolehku sekilas, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. setelah selesai, dia bergerak dengan cepat menghampiri ku dan menggendong ku di depan dadanya.
aku terkejut, belum lagi dia juga secara tiba tiba menggigit gemas pipiku bersamaan dengan meremas pantatku.
"Bagaskaraa, sakittt" ucapku marah. dia hanya meringis, lalu mengecup pipiku sekilas.
"kamu ngetawain apa tadi" aku menggeleng. "aku gigit lagi nih?" ancam nya sambil membuka mulutnya lagi. aku pun menggeleng lagi.
"bukannn.. apa apaa hehe. ayo turunin aku, aku mau makan sianggg. laperr tauu abis di genjot kamu" ucapku pelan. dia tertawa. hey apa yang lucu disini !!!
Bagaskara menurunkan ku, lalu menggandeng tanganku. dibukanya pintu ruangan ini, alangkah terkejutnya aku melihat Bu Maya yang berada di depan pintu. aku refleks melepaskan genggaman tangannya.
"eh Gantari, kebetulan ada yang mau ibu bicarakan sama kamu. oh ini siapa? ibu baru lihat dia.. "
"saya pa-"
"dia temen saya Bu. namanya Bagaskara" ucapku buru buru memotong kalimat Bagaskara. "baru pindah kesini beberapa hari lalu." Bagaskara memandangku tidak setuju.
"oohh, mau gabung eskul kir?" tanya Bu Maya.
"engga Bu, dia ngga terlalu su-"
"kebetulan saya tertarik buat bergabung Bu. masih boleh gabung kan Bu?" kini, giliran aku yang menatapnya tidak setuju. sejak kapan dia menyuka eskul seperti ini? yang notabene nya ini sangat ribet, dan memakan banyak waktu serta pikiran.
"tentu boleh, lagi pula kalian masih kelas 11. yaa 6 bulan kan lumayan buat di isi kegiatan lomba. bagus bagus, Gantari kamu kenalin eskul ini sama si Bagaskara. Sekalian aja kita rapat bertiga di dalam." Bu Maya masuk ke dalam ruang eskul. aku hanya bisa pasrah. image ku di depan para guru, tidak boleh jatuh. stay cool.
Aku memandang Bagaskara kesal. ini pasti akan sangat merepotkan. Yang kupandangi justru tersenyum genit.
"loh Gantari, ayo ajak temanmu masuk" aku tersadar dari lamunanku, lalu bergegas duduk di seberang Bu Maya. Bagaskara mengikuti, dan duduk di sampingku.
perhatian Bu Maya tertuju pada laptop apel kroak di meja. "laptop baru Gan?" sungguh aku benci dipanggil seperti itu...
"itu punya Bagaskara Bu, hehe lupa kita bawa balik ke kelas" jawabku cengengesan sambil melihat Bagaskara.
"untung kita balik lagi ya" sambungnya sambil merangkul pundak ku. Aku reflek menggeser tubuh ku menjauh. jika tidak ada Bu Maya disini, mungkin aku sudah nempel dengan Bagaskara.
"ooh, okay. let's disscus our main topic. minggu depan ada event camping, temanya menyatu dengan alam. kira kira kamu bisa kan, nyiapin proposalnya dalam 3 hari gan?" Aku tersenyum kaku. dan terjadi lagi .. Bu Maya dengan semua kegiatannya yang mendadak.
"apa saya bisa menolak Bu?" aku tersenyum lebar. Bu Maya tertawa.
"ini, saya sudah feeling dari awal sama kamu. anaknya telaten, gercep, pinter, cantik lagi." aku terkekeh pelan, antara senang dan sedikit merasa miris.
"Kami berdua akan selesaikan proposalnya Bu, 2 hari terlalu lama Bu?" aku menoleh pada Bagaskara, kami? aku yakin, ini hanya akan ku kerjakan sendiri.
"wah cocok cocok, kalian sangat cocok dijadikan partner. oke, 2 hari lagi ibu tunggu proposalnya. untuk info kegiatan, nanti ibu kirimkan ke Gantari lewat surel ya nak. kalau ada pertanyaan lain, wa ibu saja. oke?" dan lagi, aku tidak ada pilihan lain. ingin sekali aku menolak ini, tapi itu bukan seperti Gantari disekolah.
dengan terpaksa, aku mengangguk. Tanganku mencubit kuat paha Bagaskara. lihat saja, pasti membiru. dia benar benar menyebalkan.
"seperti biasa, kamu selalu bisa saya andalkan. yasudah ibu mau kembali ke kantor ya" aku mengangguk sopan.
"baik bu..." Bu Maya tersenyum dan bergegas meninggalkan ruang eskul.
Bu Maya menghilang dari pintu, sudah waktunya gunung Merapi meledak.
"KAMU NGAPAIN SIH NYANGGUPIN BIKIN PROPOSAL 2 HARI? GA GA, KAMU IKUT ESKUL KU AJA UDAH ANEH BANGETTTT" aku berteriak marah pada Bagaskara. yang ku teriaki justru tersenyum manis. damn. lesung pipinya membuatku meluluh.
Dia menarikku mendekat dan memeluk pinggangk. "biar aku bisa deket sama kamu teruss" ucapnya sambil mendusel di dadaku. ingin marah, tapi dia terlalu gemas...
aku menghela nafas kesal, lalu melepaskan peluknya. Aku berdiri dan langsung meninggalkannya begitu saja. tidak, aku tidak boleh kalah dengan ke gemasan nya.
*****
Aku menghindari Bagaskara sampai kantin. ku lihat, Caca dan Selly sudah duduk di meja keramat kami. aku pun menghampiri mereka.
"Gantariii dari mana ajaa lamaa bangett" Selly kembali rewel. Aku mencubit pipinya.
"abis dari ruang eskul, ketemu sama Bu Maya"
"mrs ribet itu ngasih kamu tugas lagi?" tanya Caca. oke, ini pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban.
aku mengangguk dengan full senyum. Caca menghela nafas berat. "guru itu selalu aja nyuruh nyuruh kamu"
"gapapa ca, mungkin Bu Maya emang percaya nya cuma sama aku" aku tertawa garing.
tiba tiba mataku menatap bahu yang sangat familiar. bahu yang beberapa waktu terakhir, selalu ku lihat tanpa kain.
yaa... dari bahunya saja aku tau itu adalah Bagaskara. tapi... apa itu? mahluk apa yg menempel padanya?
"gila! ta! itu si kunyuk Kellie nempelin Bagaskara!" Selly berteriak heboh. rupanya dia memandang hal yg sama denganku. beberapa siswa di dekat kami melirik.
"gatel banget elah" sambung Caca, tak sekeras Selly. Aku mengangkat bahu ku acuh. entah, sekarang rasanya biasa saja. mungkin karena aku sudah tau, bagaimana perasaan Bagaskara padaku.
Aku tersenyum sambil menyeruput es jeruk milik Selly.
"Sel, kayanya kita salah deh. lihat? dia masih Gantari yang sama. sama sama gak punya perasaan." ucap Caca sambil menggeleng karena melihatku acuh pada Kellie.
Selly mengangguk setuju. "tapi aku tetep gasuka liat Kellie kaya gitu. tch mendoksai" Aku hanya terkekeh lalu berdiri menghampiri stand bakso.
tiba tiba, sebuah tangan melingkar di pinggangku. aku mengenal sentuhan ini. tapi kenapa dia merangkul ku di muka umum?
aku menoleh pada si empunya tangan, memanggilnya sembari menatap wajah rupawannya. "Bagaskara" yang di panggil tersenyum.
"kenapa sayang" kantin tiba tiba ramai dan penuh sorakan. hey apa yang terjadi?
kami menjadi pusat perhatian. aku buru buru melepaskan tangan Bagaskara. ku lihat, meja keramat kami sudah tak berbentuk. Selly heboh sekali...
kini tangan Bagaskara berpindah ke bahuku. "kamu beli apa? langsung duduk aja nanti aku yang bawain" ucapnya.
"kamu apa apaan sih. kita diliatin" bisikku lalu mengambil bakso pesananku. aku berjalan menjauh darinya, kembali ke meja keramat kami.
"ada apa sih, kok tiba tiba jadi pada ngeliatin aku" tanya ku sangat penasaran.
"kayanya satu sekolah udah tau hubungan kalian deh..." Selly menjawab ku sambil menahan teriak antusias nya.
aku semakin bingung. "ta, kamu lihat ke kiri deh. terus atas" aku mengikuti arahannya. tengok kiri, melihat tukang bakso tadi. Bagaskara masih berdiam diru disana, memperhatikan ku. Lalu aku melihat sedikit ke atas.
"GANTARI HAK PATEN BAGASKARA"
Bagaskara mengganti running text kantin sekolah? Kenapa dia jadi nekat seperti ini? Aku terkejut, ya ini romantis dan sedikit lucu. Hey, bagaimana dengan Kellie?
Aku melihat sekeliling, mencari dimana gadis itu berada. Nihil. Aku tidak menemukannya.
"Gelar jomblo selama masa SMA gagal kamu raih ta. ckckck" Ucap Caca setengah bercanda.
"tapi Gantari tetep cuek cuek aja Ca. Ih sumpah kalo itu aku, aku udah salto kaliii ahhahahaha" Aku mengabaikan ucapan mereka, menatap Bagaskara penuh tanya.
Yang ditatap malah tersenyum. Perlahan, dia berjalan mendekat ke arahku. Aku menghembuskan nafas bingung, entah kekacauan apalagi yang akan dibuatnya.
****