Dunia baruku dimulai hari ini. Hal yang tak pernah kusangka sebelumnya akan menorehkan sejarah baru dalam kehidupanku. Dimulai dari pendaftaran di sebuah sekolah negeri, juga pertemuan dengan suasana dan teman-teman baru.
Meski adaptasi terasa begitu sulit, aku terus berusaha menempatkan diri dan melebur dalam hal asing yang akan menjadi warna tersendiri dalam catatan hidupku. Memang, mengubah hidup tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu kehati-hatian dalam menjalani.
Sebab, kita tak pernah tahu apakah jalan yang kita pilih bakal membawa kita pada hal baik, atau justru sebaliknya?
Hanya bekal tutur dan ajaran orang tua yang menjadi pegangan. Bahwa kita harus tetap menjadi baik meski ada yang berbuat tak baik. Karena semua kebaikan akan kembali pada diri masing-masing.
***
Langkahku terbirit, ketika mendapati waktu sudah hampir melewati jam masuk sekolah. Setelan seragam abu putih kembali kukenakan untuk mengawali hariku pagi ini. Hawa dingin pagi ini sukses membekukan bibir. Getaran gigi yang beradu terus bergemeletak seiring cepatnya langkah mengejar waktu. Semakin semriwing.
Sampai di depan gerbang. Kugosokkan kedua tangan dan menarik lengan jaket sampai pada punggung tangan, berharap segera menemukan rasa hangat dan menghentikan gerakan bibir yang masih saja bergetar.
Kutatap gedung putih yang kini riuh ramai dikelilingi makhluk berpakaian sama sepertiku. Ada perasaan ragu melangkah masuk. Apa aku bisa diterima di sini? Mungkinkah aku bertahan dalam suasana baru yang tak pernah bisa kubayangkan bagaimana nantinya? Ah, betapa kurindu kawan-kawan kampungku, rindu gelak tawa mereka, bahkan aku rindu ... ibu.
Biasanya kami berangkat bersama. Ibu menuju rumah-rumah warga yang membutuhkan jasanya sedang aku masuk untuk menuntut ilmu. Kami akan berpisah di depan gedung seperti ini, tepat di titik aku berdiri saat ini. Kini semua hanyalah tinggal sebuah kenangan, meninggalkan rasa pedih yang tak seharusnya kuulang. Tak terasa, cairan hangat mengalir melewati sudut mata.
Sebuah wajah tiba-tiba menatapku tajam. Ia berdiri di sampingku, melihat lekat wajah sedih ini. Langsung saja kuusap buliran bening dengan ujung jaket pada punggung tangan. Menutupinya dengan senyuman keterpaksaan.
“Kamu kenapa? Aku tak pernah melihatmu sebelumnya, apa kamu murid baru?” anggukan dua kali membuat bibirnya membulat.
“Mari kubantu ke kantor dulu untuk konfirmasi kelasmu!” Tanpa ada rasa sungkan, ia menarik tangan kiriku. Mengajakku berjalan menelusuri koridor-koridor gedung sampai pada sebuah ruangan dengan tulisan ‘kantor' di atasnya.
Ditemani gadis yang bahkan ku tak tahu namanya, kami masuk dan bertanya perihal kelasku. Beruntung sekali gadis ini begitu supel. Sepertinya aku mulai menyukainya. Ia ceria dan menyenangkan.
“Narsih, kita satu kelas. Asyik ‘kan?” Hanya ulasan senyum kebingungan yang kuberikan. Bagaimana bisa ia tahu namaku? Bahkan aku belum menyebutkannya sama sekali.
Kembali ia menyeretku ke luar dan berjalan cepat menuju ruangan kami. Tepat di depan pintu kelas, langkahnya terhenti. Aku pun demikian. Ia berbalik dan menyulurkan tangannya padaku. Kubalas dan mengoyaknya naik turun. “Sekar.” Aku mengangguk, kembali melangkah menuju bangku yang kosong.
***
Hari ini cukup baik sebagai permulaan. Teman-teman yang ramah, guru yang mengayomi. Serta suasana yang tak jauh beda dari sekolahku di kampung ibu, mampu mengubah rasa cemas yang sebelumnya meresahkanku.
Aku pulang dengan perasaan lega. Hal-hal yang kutakutkan ternyata hanya sebuah bayang-bayang kecemasan belaka. Semua lancar, tanpa kendala.
“Assalamualaikum ....”
“Waalaikum salam.” Kutarik punggung tangan Nenek yang sedang sibuk melipat baju di amben depan rumah.
“Bagaimana sekolah barumu?” Wajah semringah kutunjukkan padanya, tentu ia mengerti dan mampu membaca mimik ini tanpa perlu jawaban. Ia menggeser tubuhnya ke ujung, memberi ruang untukku. Kujatuhkan p****t pada amben kayu, menciptakan suara berdecit tertahan. Lalu, melepas tas yang sedari tadi membebani punggungku.
“Habis ini, Narsih mau langsung ke sanggar, Nek. Semoga saja di sana juga senyaman sekolah tadi.”
“Makan dulu dan istirahat sebentar. Jangan lupa salat!” Kuangkat kembali tas yang telah rebahan, memberi anggukan takzim pada Nenek. Lantas, masuk dan bersiap.
***
Setelan celana training dan kaus oblong putih menjadi pilihanku. Tak lupa membawa sebuah jarik dan kendit milik Nenek. Kututupi tubuh ini dengan jaket abu kesayangan, menguncir rambut ke atas, agar nantinya tak menghalangi gerak saat latihan tari.
Ketika berpamit pada Nenek di teras, kulihat Sekar berjalan melewati halaman depan rumah. Ia beriringan dengan seorang gadis lainnya, tanpa menyadari aku yang sedang mengawasinya.
“Sekar!” panggilku agak keras, ia menoleh. Melambaikan tangan tanpa menghentikan langkah.
“Nek, Narsih berangkat.” Gegas kuikuti kedua gadis yang masih asyik ngobrol di depanku.
Kujajari langkah keduanya untuk menyapa. Kini posisiku berada di sebelah Sekar, sedang kawannya di sisi kirinya. “Mau ke mana kalian?” Gadis berbaju hijau seketika menatapku sinis, menandakan ketidaksukaan padaku.
“Mm ... Mina, ini Narsih. Teman baruku di sekolah, yang tadi kuceritakan.”
Kuulurkan tangan pada gadis bernama Mina tersebut, berharap mendapat balasan. Namun, tak sesuai perkiraanku. Ia hanya diam dan masih dengan tatapan tak mengenakan. Kutarik kembali tangan ini menahan malu.
Sekar terlihat berusaha mengalihkan suasana canggung.
“Ehm .. kami mau ke sanggar Mbah Painem.” Alisku seketika naik, “Sama, aku juga jadi murid baru di sana. Mulai hari ini.” Sekar semringah menatapku, tetapi tidak dengan Mina. Bahkan kini ia menjelajahi perawakanku dari atas ke bawah, tanpa menghentikan langkah.
Aku mulai risih dan memperlambat langkah. Memilih berjalan di belakang mereka.
“Ngapain, sini aja!” Sekar berusaha mengajak, aku menggeleng. Tetap kukuh berjalan di belakangnya.
Ada rasa sedikit malas melihat gelagat Mina padaku. Entah, apakah di sanggar bakal ada Mina Mina yang lainnya. Sungguh aku sedikit muak dengan sikapnya. Seperti anak yang tak punya adab. Aku hanya berharap, Sekar tidak terpengaruh dengan Mina dan masih menganggapku teman.
Sampai di sanggar, Mina masih saja cuek. Ia menjauh dan memasang jarik serta kendit agak jauh dariku. Sekar yang tahu aku terdiam, segera mendekat dan menarik tas dalam genggamanku.
“Sini, aku ajari bagaimana cara memakai jarik.” Ia membuka tasku tanpa pamit, menggelar jarik dan melingkarkannya pada tubuhku. Aku hanya pasrah tanpa menolak. Meski lilitan kenditnya terasa terlalu kencang, tak ada kata protes dari mulut ini. Hanya embusan napas menahan sesak yang meluncur tanpa permisi.
Entah, mataku masih saja awas pada Mina yang sekarang sudah terlihat cantik dalam balutan jarik. Seketika Sekar berbisik.
“Sudah, jangan dipedulikan. Mina memang begitu.” Aku mendengus pelan. Benar-benar kutemukan teman baru yang mengerti perasaanku. Sungguh, aku bersyukur mengenalnya.
Kulihat lagi Mina yang sudah rapi, di sebelahnya terlihat Putra yang sibuk dengan alat-alat musik pengiring. Gelagat Mina terasa begitu centil padanya. Ada rasa pedih di hati ketika melihat keduanya. Apa ini yang dinamakan cemburu?