Suara tapak kaki menggema menuju pendopo. Semua segera merapikan jarik masing-masing. Mina tergopoh menjauh dari Putra. Membaur dalam barisan gadis-gadis yang tengah menanti sosok yang sedang berjalan.
Kedatangan Mbah Painem seketika menertibkan para murid dan mengumpulkannya jadi satu. Semua berjejer melingkar membentuk setengah lingkaran. Meski dengan celingukan, kuikuti apa yang dilakukan kawan-kawan. Ikut berdesakan dalam kerumunan.
Dukun ronggeng itu berdiri di tengah kami. Menyilangkan tangan di balik punggung, lalu mengangguk sekali. Semua murid ikut mengangguk, kemudian berpencar membentuk kelompok masing-masing. Meninggalkanku yang kebingungan sebab tak tahu harus gabung di kelompok yang mana.
Dalam kebimbangan, aku seperti tengah dikerjai. Tiap kelompok yang terdiri dari 5-6 orang tersebut duduk melingkariku. Kuhitung ada 4 kelompok. Ekor mataku bergerak tak tentu memandang mereka. Apa yang sedang mereka lakukan. Kulihat Sekar acuh terhadapku, ia turut duduk menunduk tanpa ingin menoleh untuk memberi penjelasan.
Anehnya aku tak berani menegur. Tetap berdiri dalam diam dan kerisauan, tepat di tengah lingkaran gadis-gadis berjarik. Tetiba suara lantang dan lengking dari Mbah Painem memecah keheningan, mengalunkan tembang. Ia berjalan gemulai di belakang lingkaran gadis-gadis seraya melantunkan lagu yang sama saat di makam Mbah Sriyani kemarin. Alunan nadanya kian mengalun syahdu. Menggerakkan kepala-kepala para gadis yang melingkariku mengikuti ritme lagu. Kepala mereka bergoyang pelan ke kiri dan kanan, begitu kompak.
Sentakan suara kendang mulai mengiringi suara nyanyian Mbah Painem. Mataku seketika tertuju pada Putra yang tengah memainkannya di ujung pendopo. Pukulannya begitu selaras, menciptakan alunan yang pas dengan lagu yang disenandungkan Mbah Painem.
Tak terasa kepalaku mulai bergerak ke kiri dan kanan seolah terhipnotis suasana. Kini gerakan kepalaku sudah sama dengan kawan-kawan yang masih duduk bersimpuh. Indahnya melodi lagu dan kendang mulai merasuki diriku. Kedua bahu terangkat naik turun, disusul rentangan tangan yang meliuk-liuk. Merambat ke tubuh dan menggoyangkannya perlahan. Aku seolah hafal setiap gerakan yang bahkan tak pernah kupelajari sebelumnya.
Pinggul pun bergerak perlahan ke kiri dan kanan. Diikuti gerakan kaki seirama lagu. Aku semakin menikmati dan bergoyang sesuka hati. Tentu dengan gerakan penari ronggeng yang biasa kulihat di acara-acara syukuran desa. Bergeol dan berputar menikmati alunan nada.
Namun, aku lupa memakai selendang. Hanya gerak gemulai tangan yang kini menjadi andalan.
Lantunan lagu dan kendang semakin cepat, badan ini meliuk-liuk sampai mata merem melek, menyelarasi alunan tembang. Tak kupedulikan lagi kawan-kawan yang kini seolah kaget melihat gerakanku yang semakin luwes. Hingga sebuah suara lelaki membuyarkan permainan ini.
Musik dan tembang terhenti begitu saja.
“Mbah Nem!”
Kami seketika menoleh, mendapati seorang pria tengah berdiri di ujung pendopo, tepatnya di sebelah pilar utama. Mbah Painem sempat tercengang sebentar, lantas bergegas menghampirinya saat tahu siapa si pemilik suara.
Sorot mata lelaki itu kini tengah menatapku. Wajahnya begitu tegas dengan aura wibawa yang kuat. Aku hanya bergeming mengadu pandang dengannya, sampai sosok Mbah Painem mendekat padanya dan mengajak berbalik berjalan ke luar pendopo.
Kulihat pakaian yang dikenakan pria itu seperti seragam para perangkat desa. Mata ini masih setia menatap punggungnya yang hampir hilang di balik pandang.
“Narsih, ujianmu lumayan.” Sebuah acungan jempol mengalihkan pandangku. Kucari wajah pemilik ibu jari itu. Ia membuka lebar bibirnya membentuk senyuman merekah, wajah Sekar.
Kini barisan lingkaran yang mengelilingiku telah bubar. Membuat kelompok masing-masing dan berlatih bersama grupnya. Para gadis yang terlihat masih usia SD beranjak ke pendopo seberang, sedang yang seusiaku masih di sini. Semua tengah sibuk dalam latihan.
Sekar menyeretku pada kelompoknya, bersama Mina tentunya.
“Jangan terlalu percaya diri, Mbah Nem saja belum memberi penilaian pada ujianmu tadi,” cerocos Mina tiba-tiba menyudutkanku. Aku tertegun dalam diam.
“Eh, jangan menyangkal. Tadi itu bener-bener bagus, loh!” sahut seorang gadis sebelah Sekar. Ia menambahi, “Bahkan lebih bagus darimu dulu!” Mina mendelik tajam pada gadis itu. Dibalasnya dengan juluran lidah sembari memutar bola mata ke atas.
Aku dan Sekar terkikik, bukan sebab menertawakan Mina tapi tingkah lucu gadis itu. Namun, Mina malah kelihatan tersinggung. Giginya bergemeretak sembari berkacak pinggang.
“Sudahlah, Min. Ayo kita mulai latihan,” bujuk Sekar membuatnya mengembungkan pipi. Bahu belakang Mina di didorong Sekar ke depan. Lantas, Sekar mundur selangkah dan menjajari kami.
Kini Mina berdiri di depan kami berlima. Kuikuti setiap gerakannya meski terasa sedikit kaku. Beberapa kali ia berteriak menyebut empat kata. “Goyang, geol, putar, tarik.” Begitu seterusnya hingga aku mulai sedikit paham dengan gerakan dasar tari ronggeng.
Ketika kami semakin asyik larut dalam gerakan yang semakin selaras. Dua bola mata kembali mengusikku. Ya, pria berseragam cokelat tadi, berbincang bersama Mbah Painem di bawah pendopo. Pandangan tajamnya membuatku kehilangan konsentrasi dan membuyarkan gerakan yang baru saja kuhafal beberapa menit lalu.
Semua ikut berhenti, ketika tahu ada yang mengacaukan pola tari. “Maaf,” ucapku pada semua. Mina memutuskan untuk istirahat sejenak, karena tahu aku memang belum terlalu mengerti. Kami pun bubar sejenak untuk minum.
Kuempaskan tubuh duduk selonjoran pada lantai, mengertakkan tubuh ke kiri dan kanan. Ada rasa sedikit ngilu di beberapa bagian, terutama pinggang. Aku mengernyit.
“Kamu bagus, loh. Baru latihan aja udah seluwes itu gerakannya. Tapi kenapa tiba-tiba nggak fokus?” tanya Sekar menyodorkan botol minum miliknya. Kuterima dan meneguknya cepat. Lalu bertanya pada Sekar tentang sosok pria yang sedari tadi mencuri pandang.
“Siapa lelaki berseragam itu?” tanyaku sambil kembali meneguk minuman. Kerongkongan ini rasanya terlalu kering sebab belum terbiasa bergerak seperti ini.
Sekar menoleh pada sosok yang kusebut, lantas kembali memandangku. “Namanya Pak Lurah Suwarno. Pemimpin desa ini. Beliau sering memberi kita pekerjaan untuk tampil di mana-mana.” Kepala ini bergerak naik turun, mengangguk. Kulirik sosoknya yang masih setia berbincang dengan Mbah Painem.
“Biasanya kalau beliau kemari, pasti ada panggilan tampil untuk kita semua. Lumayan sih, bisa buat jajan.” Alis Sekar naik turun membuatku terkikik.
Sebuah tudingan telunjuk dari Pak Lurah membuat dahiku mengerut. Apa maksudnya ia menunjukku seperti itu? Sekar ikut celingukan, seperti tak percaya.
“Sepertinya ia menginginkanmu, Nar. Ia selalu memilih salah satu dari kita sebagai penari utama.”
“Hah! Bagaimana bisa? Aku bahkan belum hafal betul semua gerakan tari.” Aku menggeleng.
Kami kembali melirik mereka, Mbah Painem terlihat menggeleng juga. Sepertinya ia sepakat kalau aku belum pantas. Yang ada dalam pikiranku cuma satu, bagaimana sikap Mina jika ia tahu aku akan menjadi penari utama padahal baru belajar? Semoga saja Mbah Painem memberi keputusan tepat.