Istana Pak Lurah

1070 Kata
Sebab kejadian tadi, kelas menari dibubarkan. Aku pulang masih dengan wajah tertunduk lesu. Sindiran dan tatapan sinis tak henti menghunjamku. Kenapa mereka begitu tega mencibir, hanya karena hal yang tak pernah kutahu. “Gadis penyihir!” Sebuah ejekan tepat di samping wajahku ketika kuberjalan melewati gerbang sanggar. Aku memejam, berusaha sabar. Betapa cepatnya Tuhan membalikkan keadaan, yang kemarin aku merasa hidup mulai normal, kini berbalik menjadi hidup penuh cobaan. Apa aku yang terlalu berlebihan? Menganggap celoteh kawan-kawan sebagai cambukan? Ah, aku mulai benci suasana baru ini. Benci hidup baru di kampung ini. Andai waktu bisa diputar, kuingin kembali pada peluk ayah dan ibu. “Kenapa melamun?” Tepukan Sekar pada bahu menyadarkanku, kulirik teduh senyumnya yang kini berjalan mengiringiku. Aku lupa jika masih ada hal baik di sampingku. Sekar, juga Nenek adalah suatu anugerah yang perlu kusyukuri. “Terima kasih sudah mau menjadi temanku,” ucapku sepenuh hati. Ia terbahak, entah apa yang dipikirkannya. “Kamu lucu. Selama 18 tahun aku ada di dunia. Baru pertama kali ada yang berkata seperti ini.” Kami terkikik. Terus berjalan sampai tepat di depan halaman rumah Nenek, kami berpisah. *** Sore ini, setelah semua pesanan kue beres. Aku dan Nenek mengantarkannya ke rumah Bu Lurah. Sebenarnya Nenek memaksa untuk berangkat sendiri. Namun, tak tega rasa hati membiarkan Nenek kewalahan mengangkat tas besar itu. Pesanannya memang tak banyak, karena rapatnya tertutup untuk beberapa perangkat desa saja. Aku hanya khawatir dengan Nenek. Meski tak banyak, tubuh rentanya jelas tak sama dengan kekuatan waktu muda. Walau pun terkadang ia pandai menyembunyikannya, aku tak bisa dibohongi. Meski kuakui ada rasa cemas saat nanti bertemu Pak Lurah. Aku tetap memaksa untuk ikut, dengan alasan agar ke depannya tak lagi canggung untuk mengantar pesanan orang-orang lainnya. Aku berharap, semoga Pak Lurah tak lagi berbuat tak sopan seperti waktu itu, apalagi, ini di rumahnya. Tentu ada Bu Winarti istrinya, yang akan membatasi geraknya. Karena lokasi rumahnya yang tak cukup jauh, kami memilih berjalan kaki saja, tanpa menaiki kendaraan. Butuh biaya tambahan juga jika harus diantar kendaraan. Cukup sayang kalau uang laba yang tak seberapa harus dibagi lagi. Di tengah perjalanan, Nenek tak hentinya disapa oleh banyak orang. Tak sedikit pula yang melirikkan pandang padaku. Hanya tundukan kepala dengan sedikit mengangguk ketika bertemu pandang dengan beberapa pria di jalanan. Beberapa kali kudengar kata sanjungan untukku. Mereka bilang aku cantik dengan tubuh bongsor yang molek. Risih rasanya, belum lagi jika yang berbicara adalah lelaki. Sorot mata mereka terasa penuh dengan nafsu. Jijik aku melihatnya. Sekitar sepuluh menit waktu tempuh, sampailah sudah kita di depan sebuah rumah besar. Aku terperangah memandangnya. Bangunan mewah berlantai dua dengan tipe tradisional setengah modern, membuatku tak henti berdecak kagum. Sekaya inikah Pak Lurah? Gerbang tak ditutup dan terbuka sempurna. Beberapa kendaraan berjejer pada halaman rumahnya, ada tiga mobil dan lima motor. Semuanya mewah dan baru. Aku begitu heran, sebenarnya seberapa besar gaji perangkat desa? Kenapa mereka selalu identik dengan kekayaan dan barang-barang mewah? “Narsih, ayo!” Aku kaget mendengar panggilan Nenek yang sudah berada di depan pintu rumah. Segera kumelangkah mendekatinya. “Mbah, Mbah Ijah!” Kami menoleh ke kiri dan kanan, mencari di mana sumber suara pemanggil. Ternyata, Bu Lurah sedang melambaikan tangan di pintu belakang rumah. Nenek mendahuluiku berjalan ke pintu belakang melewati taman samping rumahnya. Pada sebelah ruang tamu. Terpampang jendela dengan kaca besar yang langsung menghadap ke taman. Saat kami berjalan melewati jendela, tak sengaja sorot mataku bertemu pandang dengan Pak Lurah yang sedang terbahak bersama tamunya di ruang tamu. Ia menoleh seketika. Kutundukkan kepala dalam dan memilih berjalan di samping tubuh Nenek agar tertutup. Sayangnya tubuh bongsorku tak dapat dihalangi. Kepalaku masih saja menyembul sebab tinggiku yang lebih panjang darinya. Aku bisa bernapas lega ketika telah melewati kaca besar tersebut. Pintu belakang langsung terhubung dengan dapur rumahnya. Bu Lurah terlihat kewalahan menata suguhan dan piring-piring sendiri. “Mbah, bisa minta tolong bantuin?” Ia berkata sembari tangannya sibuk bekerja. “Iya, Bu. Apa yang bisa saya bantu?” “Tolong bikinkan minuman itu, semua bahan siap, tinggal dituang saja.” Bu Lurah menuding meja besar dengan beberapa buah, sirup, dan jelly yang telah disiapkan. "Lah si embak mana, Bu?" tanya Nenek. "Oh, dia lagi pulang kampung," jawabnya terkekeh. Sigap Nenek melakukan apa yang diperintahkan tanpa bertanya lagi. Kutaruh tas berisi kotak kue di bawah meja, lantas mengikuti Nenek untuk menyiapkan minuman. “Eh, ada tamu juga di sini,” sapa sok hangat dari Pak Lurah membuat moodku seketika hilang. “Iya, Pak. Aku kewalahan. Untung ada mereka berdua yang lagi anterin kue. Jadi bisa sedikit bantu-bantu di sini.” Bu Lurah berbicara tanpa menoleh pada lelaki yang kini mengusap-usap bibirnya dengan jempol dan memandangku yang bersimpuh di bawahnya. Dongkol rasa hati ini melihat tingkahnya itu. Dasar pria tua gila! “Itu kuenya sudah dibayar belum?” tanya Pak Lurah. “Belum lah, Pak. Mbah Ijah saja baru duduk,” jawab istrinya masih tanpa menoleh. Tetap sibuk dengan kegiatannya sendiri. “Mbah, ikut aku. Aku ambilkan uang di dalam.” Nenek menengadah padanya, lantas melirikku dan mengangkat dagunya. Mataku membulat seketika. “Sana, biar kamu saja. Nenek tunggu di sini.” “Tapi, Nek ....” “Sebentar saja, nggak papa.” Tambahnya lagi. Kuembuskan napas kasar, ingin rasa menolak tapi tak bisa. Aku tak mau terlihat tak akur dengan Nenek. Dengan terpaksa aku harus mengikutinya. “Ayo, Nar. Ke dalam sebentar.” Tangan Pak Lurah mengulur di depanku. Kulirikkan mata pada sosok istrinya yang tetap tak beranjak. Tanganku yang sedang memegang pisau untuk mengiris buah, seketika mengepal. Kuacungkan pisau itu sedikit ke atas, berusaha mengancam halus. Pak Lurah malah terkikik menahan. Dengan langkah berat, kuangkat badan ini berdiri. Pak Lurah sudah berjalan menyeringai, kuikuti langkahnya masuk dalam rumah. Kuedarkan pandang pada bangunan yang begitu indah. Barang-barang antik terlihat memenuhi sudut-sudut rumah. Begitu estetik dan cantik. Kutolehkan kepala ke sana kemari dengan mulut yang membulat sebab kagum. Hingga pada sebuah ruangan, ia melambaikan tangannya di depan pintu, mempersilakanku masuk. Ada rasa tak enak dan curiga menyergap. Aku mematung depan pintu. “Mari!” Ia melambaikan tangannya lagi. “Aku tunggu di sini saja, Pak.” “Uangnya ada di kamar atas, kamu tunggu saja di dalam situ. Itu ruangan kerjaku, duduk di kursi dulu.” Sembari menggenggam kedua tangan, aku melangkah pelan untuk masuk, melirikkan pandangan di setiap sudut ruang. Brak! Aku berjingkat, saat pintu ditutup kasar. Kutemukan Pak Lurah berdiri depan pintu menyeringai. Ia lalu memutar kunci dua kali. Aku melongo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN