Tatapan tajam Mbah Diman pada selendang yang kugunakan membuatku semakin risih. Ada perasaan tak nyaman memenuhi otakku. Kutarik kasar selendang yang tersampir pada leher, melipatnya cepat dan memasukkannya pada tas. Kuimpit tas berisi selendang dalam lengan. Berusaha menyembunyikannya. Anehnya, seketika Mbah Diman ambruk begitu saja.
“Bapaaak!” Mbah painem memekik, sigap menopang pria tua di sampingnya, berusaha menahan tubuh renta bapaknya yang hampir jatuh ke lantai. Kekuatan yang tadi terlihat, kesehatan yang tadi tampak. Seketika hilang bersama dengan lemasnya tubuh lelaki kurus itu.
Ia kembali merupa mayat, lemas dan terdiam tanpa bicara seperti waktu memanggilku dengan sebutan Sriyani tadi. Bahkan tubuh itu seperti seonggok daging tanpa tulang, lentur tanpa daya.
Semua murid bergidik ngeri, saling peluk. Menyaksikan hal aneh dan ajaib layaknya pertunjukan sulap. Tak ada yang berani menolongnya. Hanya tatapan ketakutan yang kini memenuhi pendopo.
“Putraaa!” Dukun ronggeng itu berteriak pada anak semata wayangnya. Ia bersimpuh memangku kepala pria tua yang sekarang melotot kepadaku. Aku sampai celingukan menyembunyikan diri. Secepatnya minggir dan mendesak pada kumpulan gadis-gadis lainnya.
Kubenamkan wajah pada punggung-punggung kawan. Sambil sesekali melirik sosok yang tak lagi bergerak tersebut. Anehnya sorot tajam itu seperti tak ingin melepaskanku, mengikuti ke mana aku bergerak. Begitu mengerikan.
Sigap pemuda berbaju lurik yang sedari tadi duduk di depan alat musiknya, berdiri dan mengambil alih kakeknya dalam pelukannya. Ia menelusupkan kedua lengan di bawah tubuh kurus itu, mencari ruang untuk mengangkat. Dalam sekali sentakan, ia berdiri menggendong tubuh mengenaskan tersebut pergi menjauh dari pendopo. Diikuti langkah cemas Mbah Painem di belakangnya.
Kami tetap melongo mengiringi kepergian mereka, sembari saling menggenggam tangan kawan masing-masing. Berbisik saling tanya yang tak pernah dimengerti. Aku meneguk ludah berat, mendengus lega saat ketiga orang itu telah hilang dari hadapan kami.
Mataku berpencar mencari temanku, Sekar. Tanpa kusadari ia sudah ada di belakang, dan kini merangkul bahuku. Bahkan semua mata para gadis kini terpusat padaku. Aku celingukan mengedarkan pandang. Apa ada yang salah denganku?
“Jadi, kamu menggunakan ilmu yang bahkan belum pernah kami pelajari?” tanya Mina yang tahu-tahu sudah ada di sampingku. Kutolehkan pandang pada gadis manis itu lalu menggeleng. Ia melirik dengan pandangan tak suka. Ilmu apa yang ia maksud? Aku bahkan tak pernah tahu tentang berbagai ilmu kejawen.
“Apa rahasiamu?” Suara gadis lainnya mengintimidasi. Aku semakin tak mengerti dan bingung dengan keadaan ini. Mengapa lirikan mereka begitu sinis seolah aku penjahat yang paling bersalah?
Berkali-kali hanya gelengan yang bisa kuberikan untuk menjawab desakan mereka. Sebab tak tahu harus menjawab apa.
“Gadis baru yang meresahkan!” Satu lagi suara dari pojok menyudutkanku. Dadaku terasa sesak mendengar ocehan-ocehan ini. Kupegang kepala dengan kedua tangan, semakin menggeleng dan membenamkan diri meringkuk dan mulai menangis. Sakit rasanya.
Olokkan demi olokkan menggema memenuhi isi kepala, aku menjerit!
“Tidak! Aku tidak tahu!” Aku semakin terpojok.
“Narsih, Narsih! Sudahlah ... Jangan dengarkan mereka!” Dalam sela tuduhan yang saling bersahutan, ada suara Sekar yang memberiku sedikit kekuatan. Ia menarik tubuh ini menjauh dari kawan-kawan yang masih saja berceloteh menyalahkan.
Kuikuti langkah Sekar tanpa berani melihat sekeliling. Masih menunduk memegang kepala dan terisak ketakutan.
Sampai pada belakang pendopo, aku didudukkan pada bangku panjang bawah pohon belimbing. “Tenangkan dirimu,” ucap Sekar lembut. Ia beranjak pada sebuah kendi kecil yang tertata rapi di sebelah sumur. Ia mengambil satu kendi lalu membawanya padaku.
“Minumlah, basuh juga wajahmu sekalian.” Isakkanku sedikit reda, mengikuti perintah Sekar meski dengan tubuh yang gemetar. Kutengadahkan wajah dan meneguk air yang begitu dingin melewati kerongkongan. Ada rasa damai yang perlahan menyejukkan. Kusiram wajah pula dengan air kendi ini. Tubuhku mulai tenang, napas kembali teratur dan tak lagi menangis.
“Apa maksud Mbah Diman tadi?” Kubuka percakapan ini dengan tanya yang tak bisa dijawab sahabatku. Ia menggeleng, mengusap punggungku pelan. Dengan sekali embusan napas ia mulai bercerita.
“Aku tak tahu, hanya saja pernah dengar kalau katanya, Mbah Diman tak akan pernah mati sebelum tameng pati nya dimusnahkan. Tapi sampai sekarang pun, tak pernah ada yang tahu apa bentuk tameng pati itu. Mbah Sriyani dulu, sebelum meninggal, ia membuat Mbah Diman sakit-sakitan dengan mengirim teluh pada suaminya sendiri. Sebab, ia terlalu sakit hati karena dikhianati dua orang terkasihnya. Ia lalu bersumpah bahwa Mbah Diman tak akan pernah mati dan hidup tersiksa dalam penyakitnya itu,” jelas Sekar mengernyitkan dahiku.
“Apa ia dendam pada istrinya? Kenapa ia memanggilku seperti itu? Aku benar-benar takut, Sekar.” Kutarik tangannya dan menggenggamnya erat.
“Ini begitu aneh, puluhan tahun berlalu. Mbah Diman yang hanya berbaring di atas kasur, tetiba berdiri tegak bahkan berbicara lantang.” Sekar membuang muka dan menatap awang-awang.
“Apa semua yang terjadi di sini karena selendang ini?” Kutarik tas pada impitan lengan dan menepuknya. Menunjukkan pada Sekar.
“Memangnya ada apa dengan selendangmu itu?” Kembali wajah gadis berkucir kelabang itu menghadapku. Memandang penuh tanya.
“Aku mendapatkan selendang ini dari almarhumah ibuku. Katanya, selendang ini dulunya adalah pemberian dari Mbah Sriyani, istri Mbah Diman.” Tubuh Sekar membusung, alisnya naik dengan mulut menganga. Lucu sekali.
“Bisa jadi, Nar. Berarti selendang punyamu itu keramat. Kamu harus lebih hati-hati menggunakannya,” tutur Sekar masih dengan wajah masih tak percaya.
“Aku juga berpikir seperti itu, bahkan banyak kejadian aneh saat aku memegang selendang ini. Sebenarnya aku takut, tapi aku tak mau mengingkari titah dari ibuku. Aku bimbang.” Aku kembali resah, mengusap-usap tas dalam pangkuan. Berharap segala tanya bertemu jawabnya.
“Kamu beruntung, Nar. Mempunyai benda keramat yang bahkan dulu diperebutkan orang-orang.” Aku mendengus, andai ia tahu apa yang kurasakan ini amat tak baik, tetapi tak mungkin aku menceritakan semuanya. Mungkin, lain waktu.
“Semoga saja ada hal baik yang bakal ada di balik pemberian selendang ini.” Kami mengangguk bersamaan.
“Baiklah, Nar. Aku akan bantu memecahkan segala misteri ini. Kamu harus janji untuk tetap bersabar dan menjalani semua ini. Demi impian ibumu dan impianmu juga.”
Ia menangkupkan telapaknya pada punggung tanganku, menguatkan. Aku mengangguk. Seperti mendapat suntikan kekuatan, aku semringah dan akan berusaha lebih tegar melewati semua ini. Demi ibu, demi Nenek tentunya.