Seorang perawat tergopoh mendekat pada kami, dengan wajah gelisah dan napas tersengal ia bertanya, “Keluarga Mbah Ijah?” Kami langsung bangkit dari duduk dan berdiri penuh tanya.
“I-iya, saya. Ada apa?” Ia mengernyit, seolah mempersiapkan kalimat untuk berbicara.
“Mbah Ijah kritis, mari ikut saya.” Dadaku terasa sesak mendengar kabar baru ini. Pikiranku kacau, bingung jadi satu.
Gegas kami bertiga berjalan cepat mengikuti perawat tersebut sampai pada ruangan Nenek. Kami masuk begitu saja, saat ada tiga orang perawat dan dokter yang tengah menangani. Aku membekap mulut melihat keadaan Nenek. Ia sedang berjuang dengan napas kembang kempis, dikerubuti paramedis.
Aku hanya bisa terisak memanggil namanya dalam pelukan Sekar. Menunggu detik-detik yang menegangkan. Sungguh tak bisa diungkapkan lagi segala hal dalam hati ini, berkecamuk tak karuan.
Kulihat dokter juga berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan. Memberi penanganan terbaik pada Nenek. Peluh mereka bercucuran tanpa henti. Begitu tegang.
Hingga kulihat seorang perawat menggelengkan kepala pada dokter di hadapannya. Aku memejam, begitu hancur hati ini, saat dokter menyatakan bahwa Nenek sudah tak bisa diselamatkan.
Aku berteriak sekuat tenaga memanggil namanya, langsung mendekat dan mendekap tubuhnya yang sudah tak bernapas. Kutumpahkan segala tangis di atas jasadnya.
Perawat itu segera melepas selang yang menempel di wajah dan tubuh Nenek. Sembari berkata “Sabar.” Kukoyak tubuh Nenek sekuat tenaga, berharap ia bisa bangun dan bernapas kembali.
Putra berusaha menghentikanku dengan memegang tubuhku, “Sudah, Narsih. Jangan seperti ini. Kasihan Nenek. Ikhlaskan saja semua ini. Ini sudah jalan takdirnya.”
Aku menoleh kasar pada Sekar dan bertanya, “Sekar, kenapa kau memberitahuku saat Nenek sudah seperti ini? Kenapa?” Derai air mataku semakin tumpah ruah, membanjiri wajahku.
“Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau tak pernah mengingatnya sama sekali. Dan harus menunggu aku yang memberitahu? Pantaskah kau menyalahkanku?” Wajah Sekar memerah, melotot penuh emosi.
“Sudah, sudah. Tolong hentikan semua ini. Lihatlah, Nenek butuh untuk segera dimakamkan. Dinginkan kepala kalian!” Tegas Putra mengakhiri perdebatanku dengan Sekar.
Kini wajah Sekar begitu malas menatapku, mungkin dia sakit hati dengan perkataanku yang menyudutkannya. Aku memang salah, selalu salah. Tak pernah baik di mata siapa saja. Harusnya aku berterima kasih kepadanya, bukan malah mengintimidasinya dengan kesalahan yang tak pernah ia buat.
“Maaf, sebaiknya segera selesaikan administrasi dan segala kebutuhan jenazah. Tolong jangan buat keributan di sini,” ucap dokter yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.
“Baik, Dok. Maafkan kami, kami hanya belum bisa ikhlas menerima. Secepatnya akan saya selesaikan,” tutur Putra padanya.
Kini kami bungkam, hanya isakan yang terdengar di ruangan ini. Bisu dalam kebingungan masing-masing.
Hingga semua siap untuk dibawa pulang, kami masih saling diam.
Aku masuk dalam mobil ambulance bersama jenazah Nenek di belakang. Tak lagi kupedulikan Sekar, entah dia pulang naik apa dan bagaimana. Aku hanya ingin menghabiskan sisa waktu terakhirku bersama Nenek.
Kutatap jasad yang terbujur kaku di atas brankar. Tak terasa air mata kembali tumpah. Mengingat segala hal yang selama ini kami lalui bersama. Tawanya, candanya, masih terasa berputar dii kepalaku. Sungguh, ini benar-benar memilukanku.
Jalanan yang bergeronjal tak terasa sedikit pun, sebab aku dalam kekalutan dan kesedihan menatap Nenek di sampingku.
Sampai tiba di pelataran rumah Nenek, pintu mobil dibuka. Beberapa warga dan tetangga sudah siap menunggu kami di depan pintu belakang ini. Aku turun dengan langkah yang lemas, melihat wajah para warga yang menunggu kedatangan kami.
Ada yang menatap dengan pandangan iba, ada pula yang begitu sinis dan menyungging.
Mungkin, mereka kesal denganku. Sebab aku rela meninggalkan Nenek dalam keadaan sakiy seperti itu. Aku mengerti, bahkan lebih dari mengerti. Membiarkan mereka mencemooh dan mencibirku dengan segala kalimat buruk.
Jenazah Nenek diangkat oleh para pria dan dibawa ke dalam ruang tamu. Aku mengikutinya di belakang, masih dalam tangisan dan isakan. Di sana, kulihat orang-orang sudah duduk berjejer di dalam rumah. Rupanya Sekar dan Putra sudah mempersiapkan segalanya.
Sungguh aku seorang kawan yang tidak tahu terima kasih, dalam keadaan marah sekalipun, Sekar masih saja peduli denganku.
Aku memilih duduk di pojok ruangan. Kulihat Mina, Mbah Painem, Bu Nariti, serta ibu-ibu tetangga lainnya sibuk merangkai roncean bunga.
“Ke mana saja kamu, keterlaluan sekali meninggalkan Nenekmu sendirian di rumah?” bisik Mina di sampingku.
Tak ada lagi kekuatan untuk menjawabnya, aku sudah terlalu lemah dan tak ingin mengulang kesalahan yang sama seperti Sekar tadi. Hanya memilih diam dalam deraian tangis.
Kenapa harus kuulang lagi momen yang seperti ini. Momen yang sama beberapa bulan lalu. Hanya saja, kali ini tak ada lagi yang kuajak berbagi sedih. Tak ada lagi keluarga yang tersisa, menyisakanku sendiri melewati kehidupan yang serumit ini.
Tuhan, berikanku kekuatan untuk melewati semua ini. Aku akan berusaha ikhlas menerima takdir ini. Semoga setelahnya, aku bisa menjadi manusia yang lebih baik. Tanpa mengulang kesalahan yang sama.
Untuk Nenek dan untuk semua orang yang telah kusakiti, aku akan berubah kembali. Entah, apa aku sanggup, aku akan berusaha sebaik mungkin.
Kini, gema tahlil sudah memenuhi isi rumah. Sebentar lagi, aku akan benar-benar berpisah dengan Nenek, selamanya.
***
Dengan langkah terseok, aku berjalan mengiringi para pelayat menuju tempat terakhir Nenek. Tak ada yang mau menopang tubuh lemahku. Aku melangkah sendiri dengan pikiran kosong.
Hingga sebuah tangan menopangku yang hampir ambruk karena tak kuat menahan kepala yang semakin berdenyut. Aku menoleh pada pemilik wajah, Pak Lurah menatapku sembari merangkul bahuku dalam pelukannya.
Seketika wajah orang-orang semakin sinis menatap kami. Sebenarnya, ada rasa tak enak dalam hati, tetapi, tubuhku benar-benar tak berdaya untuk berjalan tanpa pegangan.
Mungkin, Sekar sudah terlalu malas denganku, membiarkanku sendiri meratapi kelakuanku. Putra juga sibuk mengangkat jenazah Nenek bersama beberapa warga lainnya.
Tertatih aku melangkah sampai pada liang lahat. Proses pemakaman segera dilakukan dengan cepat, sebab langit begitu mendung bergelayut. Bahkan, angin yang berembus, seolah sudah membawa air dalam sapuannya.
Gemuruh awan membuat semua orang menengadah ke atas. Pak Mudin menyelesaikan bacaan tahlil dan doa dengan tergesa. Hanya aku yang masih tenang, tak peduli keadaan sekitar.
Gundukan tanah sudah selesai dipupuk, kutaburkan rampaian bunga dan air untuk terakhir kalinya. Otakku berputar pada pemakaman orang tuaku waktu itu. Semua terasa de javu, berulang terus menerus.
Pak Lurah masih setia di belakangku, seperti berjaga jika saja aku sampai terjatuh. Tak kupedulikan lagi tatapan orang-orang. Hanya isak tangis yang memenuhi diriku saat ini.
Hingga sampai pada bacaan Al-fatihah terakhir. Air langit mulai menetes turun ke bumi. Karena memang sudah selesai, orang-orang berhamburan pergi untuk pulang. Menyisakanku bersama Pak Lurah dan Putra di sini.
Keduanya saling tatap tak memedulikan tetesan hujan yang semakin menderas. Aku melirik mereka, keduanya hanya terdiam dengan wajah geram.
Aku tak mau ada pertengkaran di sini. Kuputuskan untuk berdiri dan ingin pulang. Putra segera menghampiri dan menyandingiku di samping. Begitu pun Pak Lurah.
“Sudah, sudah. Kalian pulang masing-masing. Aku bisa sendiri. Tolong!” kataku sembari mengusap air hujan yang membasahi wajah.
Mereka mengangguk pergi, meninggalkanku dalam deraian tangis yang tersamarkan hujan. Sendiri.