Sekar memanggil Putra untuk membawa nenek ke dokter. Dengan becaknya kami dibawa menuju puskesmas. Nenek terlihat begitu lemas saat Putra mengangkatnya dari atas kasur. Tak ada tenaga sama sekali. Bahkan, matanya ingin terus memejam. Mungkin, sebab suhu tubuhnya yang begitu panas. Aku membungkam mulut menahan isakan melihat keadaannya yang seperti ini.
Sudah berapa hari ia menderita seperti ini? Sungguh kejam aku sebagai cucu satu-satunya membiarkan ia sampai tak terurus begini. Kenapa di saat ia membutuhkan seseorang, aku malah pergi dengan segala emosi dan keegoisan. Aku benar-benar gagal menjadi seorang cucu yang baik.
Sampai di puskesmas, beberapa perawat mengambil brankar dan menyiapkannya di depan becak. Sigap dan cekatan, satpam dan petugas puskesmas lelaki langsung memboyong tubuh Nenek ke atas brankar. Mereka segera menyeret Nenek menuju IGD.
Sedang aku dan Sekar berlari mengejarnya di belakang. Hingga sampai di suatu ruang. Kami disuruh berhenti dan menunggu di luar.
Sekar mengusap punggungku berulang kali saat melihatku terus berlinang air mata. Kami menunggu Nenek di kursi panjang depan IGD, sementara ia diperiksa dokter. Tak hentinya aku mondar-mandir di depan Sekar dan Putra, menanti kabar dari dokter tentang keadaan Nenek.
Berulang kali kutengok pintu tempat Nenek diperiksa, sambil menggigit ujung-ujung jari cemas. Tak sabar rasanya mengetahui keadaan Nenek.
“Sudahlah, Nar. Duduk dulu sini. Kita berdoa saja untuk Mbah Ijah.” Kalimat dari bibir Sekar hanya kuanggap sebagai angin lalu. Tak kuhiraukan dan masih setia berdiri gelisah.
Berbagai doa kulantunkan untuk Nenek di sana. Aku berharap ia bisa kuat, ia bisa melihatku kembali menjadi Narsih yang dulu.
Beberapa kali kutengok ruang di depanku, berharap pintunya segera terbuka. Kenapa begitu lama sekali. Kakiku tak henti bergerak cemas. Sesekali bersandar pada tembok sembari memijit-mijit pelipis yang terasa begitu pening. Berkali kulirik jam besar di dinding atas, jarum jam terasa begitu lambat.
Tak henti aku merapal segala asa untuk dia yang sedang berjuang.
Hingga langkahku terhenti bergerak, saat melihat dua sosok yang baru masuk ke puskesmas. Mereka terlihat begitu riang, saling tertawa sembari berjalan beriringan. Bahkan, si lelaki terlihat sangat melindungi wanitanya. Berjalan sambil mengimpit bahu wanitanya erat.
Aku mendengus, ada sedikit rasa kesal, tetapi berusaha menahan. Apa ini yang dinamakan cemburu? Pantaskah aku cemburu dengan orang yang bukan sepenuhnya milikku? Kulihat langkah mereka menuju tempat khusus pemeriksaan ibu dan anak. Aku sampai lupa jika Bu Winarti sedang hamil saat ini. Mungkin, hari ini jadwalnya untuk check up kandungan.
Pak Lurah tak sengaja menatapku saat akan berbelok menuju ruangan itu. Aku hanya meliriknya sekilas, lantas kembali sibuk menggigit ujung jari. Menunggu tanpa kepastian.
Aku pun memilih untuk duduk di sebelah Putra dan menunggu bersama dua orang sahabatku, di kursi tunggu. Sahabat? Bolehkah aku menjadi sahabat untuk lelaki yang hampir menjadi kekasihku? Kutatap wajah Putra dalam-dalam. Aku hampir lupa dengan dirinya yang pernah mengisi hatiku dulu. Hari sebelum semua keegoisan muncul dari dalam diri ini.
Beberapa saat yang menegangkan akhirnya pecah, ketika pintu ruangan IGD terbuka. Segera aku menghambur dan menghujani dokter yang keluar dengan rentetan pertanyaan.
“Bagaimana keadaan Nenek, Dok? Apa yang terjadi padanya? Sudah seberapa parah?” Ia berusaha sabar sembari tersenyum menatapku.
“Maaf, ya. Nenek terlalu lemah saat dibawa ke sini. Ia dehidrasi berat dan kelaparan. Kenapa bisa sampai seburuk ini? Ke mana saja kalian?” Ia menatapku, lalu Sekar dan Putra secara bergantian. Seolah tak percaya dan kecewa dengan apa yang sudah terjadi dengan Nenek.
Aku membekap mulut kaget. Meringis menahan tangis, Kupalingkan muka dari dokter dan memukul kasar tembok di sebelahku. Betapa hancur hati ini mendengar pernyataan dokter barusan. Aku sudah benar-benar keterlaluan. Menelantarkan Nenek sendirian dalam kehausan dan kelaparan. Begitu bodoh dan lalai. Sungguh aku benar-benar seseorang yang buruk tanpa rasa welas.
Dokter itu tak meneruskan kalimatnya lagi, ia hanya menggeleng berulang kali menatapku dengan penuh kecewa. Lantas, ia melangkah pergi dari kami.
Aku menjambak rambut sendiri lalu berteriak menyalahkan diri sendiri.
“Narsih, kau bodoh. Bahkan orang terbodoh di dunia ini!” makiku pada diri sendiri. Kuempaskan tubuh duduk berjongkok, bersandar pada tembok. Menunduk penuh penyesalan. Sekar turut berjongkok menyejajarku.
“Sudahlah, Nar. Yang penting Mbah Ijah sudah mendapat pertolongan. Kita doakan saja ia segera pulih kembali,” tutur Sekar mengusap bahuku.
Aki larut dan lesap dalam rangkulan Sekar, sahabatku.
.”Apa yang terjadi di sini?” Sebuah suara membuyarkan kami. Kulepas tangan Sekar dan menatap pemilik suara.
“Harusnya aku yang bertanya, ada urusan apa Pak Lurah ke sini?” Ia celingukan menatap ke belakang, mungkin takut jika sampai istrinya tahu sedang menemuiku.
“Sedang ada urusan sedikit,” katanya berbohong. “Kami juga,” sahut Sekar yang membuatnya tampak kesal.
Seorang perawat menghampiriku dan berkata, “Maaf, Neneknya akan kami pindah ke ruang rawat.” Aku mengangguk pasrah, tanpa membantah.
“Oh, jadi Mbah Ijah sakit?” Tak kupercaya Pak Lurah menarik kepala dan tubuhku, melesapkannya dalam pelukan dadanya. Anehnya aku hanya terdiam, membiarkan ia mengusap punggungku lembut. Bahkan, kedua tangan ini turut membalas peluknya dengan erat. Menumpahkan segala kesahku dalam kehangatannya.
Kulirik Putra yang membuang pandang dari kami. Aku tahu ada yang sakit di sana, tapi tak punya kuasa untuk memberontak.
“Pak! Jadi, gosip yang selama ini kudengar benar?” Suara Bu Winarti tiba-tiba masuk dalam kehangatan suasana ini.
Seketika Pak Lurah melepas tubuhku dan membalikkan badan kasar.
Sosok Bu Lurah sudah berkaca-kaca menatap kami berdua. Ia menggeleng sembari mengusap perutnya tak percaya.
“I-ini tidak seperti yang kau pikirkan, Win!”
“Apa yang perlu dijelaskan lagi, Pak? Ini sudah menjelaskan segalanya. Kau sudah menyakitiku! Kau juga, Narsih! Begitu teganya kamu menusuk Ibu dari belakang seperti ini!” Ia menudingku dengan wajah penuh emosi, menggebu-gebu. Aku tahu aku memang salah.
Beberapa mata pengunjung di puskesmas langsung mengarahkan pandang pada kami. Berbisik satu sama lain. Kami bagai pemeran sinetron yang tengah berseteru, menjadi sorotan utama. Tak ada kuasa sedikit pun untuk membantahnya, meski aku punya banyak alasan untuk membalas, aku terlalu malas dan muak dengan semua ini.
Aku hanya menunduk, masih dalam balutan tangis. Kini semakin terasa perih hati ini, telah menyakiti orang-orang baik yang tak pernah mengusik hidupku. Aku benar-benar jahat!
“Aku akui aku khilaf, tetapi bukankah lebih baik kusembunyikan hal seperti ini darimu. Daripada kamu hidup dalam kesakitan?” jelas Pak Lurah padanya.
“Ini bahkan lebih menyakitkan, Pak. Saat melihat sendiri kemesraan kalian dari pandanganku langsung! Aku lebih baik pergi!” Ia mengentakkan kaki dan berbalik kasar, mengusap air matanya yang merembes, lantas beranjak pergi dengan sedikit berlari.
Pak Lurah memandangku sekali, lalu memilih mengejar istrinya itu. Aku hanya bisa menyaksikan pemandangan lucu ini di sini. Begitu aneh dan lucu, seorang murid tega menjadi perebut suami gurunya sendiri. Sungguh menjijikkan. Buliran bening terus merembes tanpa henti menatap kosong ke depan. Entah, hari ini terasa begitu sial bagiku. Lengkaplah sudah masalah dalam hidupku.
Putra merangkul bahuku dan mengajakku duduk kembali di kursi. Kusandarkan kepalaku pada bahunya, tersengguk kembali dalam tangisan yang semakin menjadi.
“Tumpahkan, tumpahkan segala kerisauanmu di sini. Aku akan menunggu.” Aku memejam semakin rapat, meluapkan segala tangis di pelukan Putra.
Di sampingku, Sekar turut duduk dan merangkulku. Kami bertiga larut dalam kesedihan yang teramat menyayat. Sebab ulahku, sebab kelakuanku.