Nenek Sakit

1150 Kata
Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, hingga benar-benar lupa dengan keadaan Nenek. Hari ini, Sekar datang menemuiku. Entah, dari mana ia mendapatkan alamatku. Tiba-tiba saja sudah ada di depan gerbang dan mengetuknya beberapa kali. Kulihat wajah kalemnya dari balik kaca ruang tamu. Ada perasaan haru melihatnya datang ke sini. Rupanya ia masih mengingatku. Aku bahagia. Namun, ada rasa gengsi jika harus berbaik-baik padanya seperti dulu. Kuembuskan napas sebentar lantas membuka pintu perlahan. Kutampilkan wajah sok sinis padanya, padahal dalam hati aku begitu merindukannya. Aku kangen saat-saat bercanda bersamanya. “Ada urusan apa kamu kemari?” ketusku sok tegas sembari menyilangkan tangan di d**a. “Boleh aku masuk sebentar?” Dengan malas kuberanjak membuka gerbang dan membiarkannya masuk. Kuajak ia ke dalam ruang tamu, menyuruhnya duduk di kursi sofa panjang. Matanya menelusuri setiap sudut rumah ini. Menengok ke dalam sesekali, seperti tengah menginterogasi rumah ini. Dielusnya sofa pemberian Pak Lurah yang memang begitu lembut, sebab dari bahan pilihan. “Pantas saja kamu betah di sini. Segalanya kamu punya. Tanpa kuatir kekurangan.” Aku hanya terdiam tak menimpali melihatnya yang sibuk menjelajahi isi rumahku. “Bagaimana dengan Pak Lurah? Apa dia masih sering ke sini? Kudengar, Bu Winarti sekarang hamil lagi.” Seketika aku meliriknya tajam, tak percaya dengan apa yang dibicarakan. Pantas sekali ia jarang mengunjungiku. Ternyata ini sebabnya. “Kamu belum tahu rupanya.” Ia terkikik. “Jadi, kamu ke sini hanya untuk memberi kabar tak penting itu? Kamu harusnya tahu, aku bahkan lebih menarik dibandingkan Bu Lurah. Aku muda dan lebih sexy darinya. Dia tak ada apa-apanya jika harus bersaing denganku.” Sekar manggut-manggut, wajahnya seolah tengah menghinaku. Bibirnya menyungging ke bawah. “Tidak, aku percaya kamu lebih baik dari perempuan mana pun, tapi hanya soal fisik. Bukan hati.” Ia menuding dadanya sendiri, mencoba menyindirku. “Apa maksudmu?” Alisku bertaut penuh tanya. “Harusnya kau imbangi kecantikanmu itu dengan kembali menjadi Narsih yang dulu. Tidak seperti ini.” Ia mengembuskan napas sebentar. “Kamu terlalu sibuk memikat para lelaki itu, hingga tak menghiraukan keadaan nenekmu sendiri. Asal kamu tahu, ia sedang merintih kesakitan di rumahnya. Ia sakit, Narsih. Beliau butuh kamu!” Aku tercengang mendengar kabar ini, mataku seketika berkaca-kaca. “A-apa? Benarkah itu?” Sekar memalingkan muka dariku, wajahnya kini terlihat semakin kesal. “Teruslah bersikap egois seperti ini, sampai kamu benar-benar kehilangan orang-orang yang tulus sayang padamu. Aku muak denganmu, Nar!” Ia berdiri begitu saja dan hampir melangkah pergi. Kutarik tangannya agar ia kembali duduk. Kutatap nanar dirinya dan ingin menumpahkan segala kesahku pada bahunya. Ia melirikku sebentar, lantas, menarik tubuhku dalam pelukannya. Aku menangis sejadi-jadinya dalam rangkulan sahabatku, kupeluk erat tubuh yang dulu selalu ada dalam setiap masalahku. Yang selalu setia menjadi pembela di saat aku tersakiti. “Maafkan aku, Sekar. Maafkan aku! Aku terlalu gelap mata dengan keadaan ini. Aku menyesal.” Aku tahu ia juga menangis, ia pasti rindu dengan keadaan ini. Rindu dengan Narsih yang dulu. “Sudahlah, Nar. Aku tahu, di dalam lubuk hatimu. Kamu masih Narsih yang dulu, Narsih yang kukenal dan baik hati. Sekarang kembalilah pada nenekmu, ia butuh kamu, Nar. Ia selalu memanggil namamu.” Aku semakin terisak mengingat segala hal baik tentang nenek. Mengingat hari-hari bersamanya. “Ayo kita pulang, Nar. Kuantar kamu pulang. Tolong, berubahlah menjadi Narsih yang dulu lagi.” Perlahan kulepas pelukannya, menyeka air mata yang tumpah dan mengangguk kasar. “Ayo, antarkan aku bertemu beliau.” Sekar membenarkan anak rambutku yang teracak, memangku wajahku dalam genggaman kedua tangannya. Tersenyum penuh arti. Kami berdiri dan bersiap untuk bertemu dengan nenek setelah beberapa bulan tak pernah bertemu. *** Aku berdiri dengan Sekar di pelataran rumah Nenek. Semuanya tampak berbeda sepeninggalku beberapa bulan lalu. Rumah terlihat tak terawat, daun-daun kering berserakan di mana-mana. Bahkan debu tebal menghiasi teras dan amben depan rumah. Aku menatap Sekar dengan wajah gusar. Memang sudah selama apa nenek sakit? Sehingga rumah seperti tak berpenghuni begini? Bagaimana ia bisa hidup tanpa aku seperti ini? Sudah berapa hari ia tak jualan? Apa yang ia makan? Berbagai rentetan pertanyaan memenuhi otakku. Aku begitu sedih, kenapa bisa sebodoh ini, sedurhaka ini pada satu-satunya keluarga yang kupunya. Aku mulai cemas, segera memasuki rumah dan berteriak memanggilnya. “Nek, Nenek. Narsih pulang, Nek ...!” Kubuka kasar pintu kamarnya. Aku tercenung, melihat keadaannya yang begitu miris. Nenek tampak begitu kurus dengan tulang pipi yang menonjol keras. Beberapa gelas dan piring berserakan di meja sebelah kasur. Bahkan nasi yang ada tampak kering dan bau. Dadaku terasa sesak melihat pemandangan ini. Seketika aku bersimpuh di sebelah ranjang, menangisi keadaannya. “Maafkan Narsih, Nek. Narsih terlalu egois.” Kutarik tangannya dan menciumnya bertubi-tubi. Namun, ia tak mau untuk sekadar memandangku, membuang mukanya ke pojok tembok. Aku tahu ia belum bisa memaafkan. Aku pasrah. “Untuk apa kamu ke sini, bukankah hidupmu sudah lebih baik tanpaku? Lebih indah bersama lelaki orang seperti itu?” Suaranya begitu parau dan serak. Bahkan tangannya terasa begitu panas dalam genggamanku. “Sudahlah, Nek. Narsih benar-benar khilaf waktu itu. Tolong jangan bahas ini lagi!” Sekar seketika menyahut, “Iya, Mbah. Aku yakin setelah ini Narsih bakal berubah. Untuk Mbah Ijah, untuk kita semua.” Nenek menggeleng, mendengus pelan. “Percuma berubah, tetapi pandangan orang masih saja sama. Ia masih menjadi wanita buruk yang suka menggoda lelaki orang. Hal seperti itu bakal sulit untuk hilang dari ingatan semua orang.” Aku semakin menunduk, terisak kembali. “Narsih mengerti, Nek. Bahkan sangat mengerti. Tapi tak bolehkan orang jahat bertobat? Aku hanya ingin memperbaiki diri. Memperbaiki semuanya.” Sekar mengusap bahuku pelan, menguatkan. “Sekarang, kita ke dokter, ya, Nek!” pintaku padanya. Ia malah menggeleng kasar. “Aku tak mau jika harus dibiayai dengan uang hasil merayu orang.” Aku melongo mendengarkannya. Kupandang Sekar dalam tangisku. “Ini demi kebaikan Mbah Ijah, lihatlah keadaan Mbah Ijah sendiri. Harus segera mendapatkan penanganan.” Bantu Sekar membujuk Nenek. Kutarik tangan Nenek dan berusaha membuatnya bangun. Tapi ia begitu kaku dan benar-benar menolak keinginanku. “Aku tidak mau! Biar aku mati sekalian di sini!” Aku bersimpuh kembali, semakin terisak. “Ya Allah, Nenek. Tolong jangan seperti ini!” Aku mulai kesal dengan sikapnya. “Oh, jadi kamu masih bisa ingat Tuhan juga ya, kukira Tuhan sudah hilang dari hatimu.” Aku menggeleng lagi, tak percaya dengan segala hal yang dilontarkan Nenek. Terasa begitu pedas dan menusuk ke dalam relung hatiku. “Jadi, apa yang bisa kulakukan agar Nenek bisa memaafkanku?” Ia terdiam sebentar, bola matanya memutar ke atas, seolah sedang memikirkan sesuatu. Lantas, berkata dengan suara berat. “Tinggalkan semua duniamu itu, kembalilah ke jalan yang benar. Menjadi gadisku kembali. Seperti dulu, Narsih yang polos dan begitu baik. Tidak seperti ini!” Aku mengangguk mantap. Mencium takzim tangannya yang terasa semakin panas. “Baiklah, kalau itu mau Nenek. Aku bersedia. Asal Nenek mau kuajak berobat sekarang juga.” Ia menatapku dan Sekar bergantian. Lantas, mengangguk dan memejam. Secepatnya kami mencari angkutan untuk membawa Nenek ke dokter desa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN