Chapter 20 - Bowl Pendeteksi

1034 Kata
Lianyu duduk posisi bersila, lalu meletakkan kedua tangannya saling berhadapan dengan jarak lebih kurang sepuluh centimeter. Kemudian cahaya berwarna merah muda muncul bersamaan dengan kelopak bunga persik. Lianyu berkonsentrasi dan memusatkan pikirannya. Dalam hitungan detik energi spiritual membentuk menjadi bola cahaya berwarna merah muda. Lianyu menoleh ke tempat murid-murid latihan dan memastikan apakah yang dilakukannya sudah benar apa belum. "Yang aku lakukan sudah benar," ujarnya dengan pelan. Guru yang memiliki nama Hong Xuan berjalan sembari memeriksa apakah murid-murid berhasil melakukannya atau tidak. "Bagus!" komentarnya pada beberapa murid yang berhasil memunculkan bola cahaya spiritual. Hong Xuan menendang pelan kaki salah seorang murid yang tampak ketiduran dengan berpangku tangan. Sehingga murid laki-laki itu tersentak dan segera memposisikan tangan sesuai yang diperintahkan bersamaan dengan itu guru Hong Xuan menggeleng dan murid-murid tertawa karena tingkah lucunya. "Berhenti tertawa! Kalian fokus saja pada latihan kalian!" perintahnya, murid-murid langsung terdiam dan fokus pada latihan mereka. "Dan kau jangan tidur lagi saat pelajaran sedang berlangsung!" ujar guru Hong Xuan yang dijawab anggukan murid tersebut. Salah seorang murid perempuan dalam posisi bersila, tangannya diposisikan berhadapan dalam jarak sepuluh centimeter, tapi tidak ada energi spiritual yang muncul membuatnya mengembuskan napas kecewa. "Apa yang salah?" batinnya bertanya sambil terus berusaha. Guru Hong Xuan berjalan menghampiri Ruan Qing yang tampak kesulitan. "Ruan Qing, masih tetap belum bisa?" tanyanya. Ruan Qing mendongak, lalu dia mengangguk mengiakan. "Iya, guru. Ruan Qing belum bisa," ujarnya murung. "Ruan kau harus fokuskan pikiranmu," nasihat Hong Xuan. Ruan Qing mencoba lebih memfokuskan pikirannya. Cahaya berbentuk bola mulai terbentuk, dengan girang dia berkata. "Guru, aku bisa melakukannya," ujarnya dengan riang. Namun karena pikirannya tak fokus, bola cahaya yang mulai terbentuk itu buyar lagi hingga dia kecewa dan terdiam dengan diikuti tawa murid-murid lain karena kebodohan Ruan Qing. "Baru itu saja sudah girang," celetuk seorang murid laki-laki di samping Ruan Qing dengan nada mengejek. "Li Xuan!" tegur guru Hong Xuan dengan wajah tak suka karena Li Xuan menghina saudara seperguruan. Guru Hong Xuan tak pernah mengajari hal yang buruk pada murid-muridnya. "Iya, iya, aku tahu," jawab Li Xuan seakan tak peduli. Tidak lama kemudian token tanda seleksi yang digantung di pinggang Song Lianyu mengeluarkan cahaya kebiruan yang khas. "Tokennya menyala, apa mungkin hasil seleksinya telah keluar?" tanyanya dengan bermonolog sendiri. Song Lianyu menutup melepaskan posisi tangannya, lalu bangkit dari posisi duduk bersila. Dia mengambil keranjang rotan berisi busur dan anak panah yang semula diletakkan di atas tanah. "Hm, rasanya lewat sini tadi aku," ujar Song Lianyu saat masuk lorong di samping bangunan. Tangannya ikut menunjuk sisi kiri dan kanannya sambil mengingat-ngingat. "Ah, ya betul. Ini kan kelopak bunga persik yang aku taruh tadi." Song Lianyu melihat ada satu kelopak bunga persik di dinding bangunan. Setelah sampai di depan bangunan seleksi, jantung Song Lianyu kembali berdisco ria. Ada rasa takut di dalam hatinya. Takut nanti dia tidak lolos seleksi dan takut semuanya menjadi sia-sia terutama uang yang dipinjam dari Han Shiyi. Dan juga takut kalau dia tak diterima, dia akan tinggal di mana? Tidak mungkin dia tinggal di jalanan seperti waktu dia kecil dulu. Hidup di jalan sangat jelas keselamatan tak terjamin nanti bisa saja ada orang-orang yang jahat, ada hewan-hewan buas dan juga tak ada selimut, bantal, dan juga lilin saat dia kedinginan nanti. Ah, rasanya Lianyu sedih bila membayangkan hal itu. Lianyu, kau harusnya berpikir positif kenapa jadi berpikir negatif begini? Kau mungkin saja diterima di sini. Jika pun memang tak diterima pasti ada orang baik yang mau menerimaku bekerja, kalau waktu kau kecil 'kan belum bisa bekerja, pikir Song Lianyu. Sekarang kau sudah punya keterampilan bisa menyulam untuk menghasilkan uang, harusnya kau tak perlu khawatir atau kau juga bisa menjadi pelayan di rumah makan atau pelayan di kediaman keluarga orang, batin Song Lianyu berusaha berpikir yang baik. Kau tak mungkin jadi gelandangan lagi seperti dulu, tambahnya dalam hati. Song Lianyu menarik napas, lalu mengembuskannya. Tangannya terangkat dan mulai mengetuk pintu kayu yang ada di hadapannya. "Pak, apakah aku boleh masuk?" tanyanya terlebih dahulu dengan sopan. Setelah ada sahutan dari dalam yang mempersilakan dia masuk barulah Lianyu mendorong pintu dan berjalan masuk ke dalam ruangan yang luas. Terlihat di tempat yang sama dua orang guru duduk berdampingan di kursi kayu dengan jarak satu meter. Bentuk mejanya panjang dan berbentuk persegi panjang. "Nona Song, kau tahu tanda dari token yang menyala?" tanya Guru Liang Qu mengawali. Nona Lianyu segera mengangguk mengiakan walau dia tak yakin dengan dugaannya itu. Ya, paling tidak kalau ditanya bisa jawab walaupun salah, itu prinsip dari Song Lianyu. "Coba katakan apa tanda token menyala yang kau pikirkan?" tanya Guru Bai melihat Song Lianyu. "Sebagai tanda bahwa hasil seleksi sudah keluar," jawab Song Lianyu setelah menata kalimatnya. "Betul sekali yang kau katakan. Di sekte Bunga Salju berbeda dengan sekte yang lain cara pemberitahuan lolos atau tidaknya," ujar Guru Liang Qu. Berbeda dengan yang lain? Maksudnya bagaimana? pikir Song Lianyu, tapi dia tak bertanya. Guru Bai mengibaskan tangannya di udara dan seketika muncul satu mangkuk berisi air khusus di atas meja. Untuk apa kedua mangkuk itu? Apa mereka akan meminta aku meminumnya? pikir Song Lianyu dengan wajah yang bingung. Guru Liang Qu tersenyum melihat ekpresi Song Lianyu. "Mangkuk ini adalah alat yang akan digunakan untuk mengetahui lolos seleksi atau tidak. Cara kerjanya masukkan token ke dalam mangkuk dan jika token berubah warna dari biru ke merah muda maka tandanya lolos. Dan sebaliknya jika tokennya tidak berubah warna maka tandanya tidak lolos," jelas guru Liang Qu panjang lebar. "Bagaimana apakah sudah mengerti Nona Song?" tanya guru Bai melihat gadis yang berdiri di hadapan mereka dengan jarak tiga meter. Song Lianyu mengangguk mengiakan. "Lianyu, mengerti pak," jawabnya dengan mantap. Penjelasan dari guru Bai dan Guru Liang Qu cukup mudah untuk dipahami. Jadi, tak mungkin kalau tak mengerti. Guru Bai menggerakkan tangannya sehingga mangkuk yang ada di atas meja melayang di hadapan Song Lianyu yang jantungnya berdisco dan tampak gemetaran. "Bisa dimulai," ujar Guru Liang Qu dan Guru Bai memberikan kode serempak. Song Lianyu menarik napas, lalu mengembuskan napas dengan perlahan. Dia melepas token yang tergantung di pinggangnya, kemudian memasukkan token tersebut ke dalam mangkuk yang berisi air ajaib. Song Lianyu dengan gerakan perlahan mencelupkan token ke dalam mangkuk berisi air ajaib.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN