Chapter 28 - Gege Yuxi

765 Kata
Setelah empat jam berdiri di tengah lapangan sambil tangan hormat pada bendera sekte Bunga Salju. Rasanya kaki mau lepas dari tempatnya. Keringat dan peluh membanjiri tubuh. Apalagi matahari sedang bersinar terik. Guru Hong Xuan pandai karena mengawasi murid-murid yang terkena hukuman dengan berteduh di bawah salah satu bangunan yang berhadapan langsung dengan lapangan. Lapangan ini sebenarnya lapangan tempat pemberitahuan jika ada hal penting atau memberikan pengumuman. Seorang fans perempuan Yuwen Yue memberikan sebotol air yang terbuat dari bahan yang bagus. Yuwen Yue menerima pemberian fansnya. Dan wajah fansnya pun memerah dan dia tampak malu saat Yuwen Yue mengucapkan ucapan terima kasih dengan melemparkan senyumannya yang menawan. "Yue, kau selalu saja tebar pesona," ujar Bai Quan setelah keduanya duduk di bawah salah satu pohon yang ada. Mereka duduk bersebelahan. Yuwen Yue spontan tertawa. "Wajahku dari lahir terlahir tampan. Jadi, harus dimanfaatkan," ujarnya dengan percaya diri. "Hati-hati saja saat sudah menikah nanti. Jangan terlalu genit," nasihat Bai Quan. "Bukankah kita sebagai laki-laki boleh menikahi wanita lebih dari satu? Jadi, harusnya tak masalah jika aku punya banyak selir di kediaman ku," balas Yuwen Yue sambil meneguk air. Nada bicaranya terdengar santai. "Terserah mu saja, aku hanya bisa menasehatimu," ucap Bai Quan, lalu pergi meninggalkan Yuwen Yue yang masih duduk di bawah pohon. "Kau mau ke mana Quan?" tanya Yuwen Yue begitu menyadari temannya sudah berjalan cukup jauh darinya. "Ke kamar asrama," balas Bai Quan singkat tanpa menoleh, dia terus berjalan. Dia ke kamar asrama untuk mengganti pakaian yang basah dengan pakaian yang baru. *** Song Lianyu berjalan masuk ke dalam kamar asramanya yang terletak paling ujung. Dia tinggal sendirian di kamar asrama. Lianyu mengeluarkan si kucing putih yang diberi nama Winter sesuai dengan bulunya yang lembut dan berwarna putih. Winter (si kucing) berjalan-jalan di dalam kamar asrama yang luas, luasnya sama dengan satu kamar di penginapan yang mahal. Han Shiyi seperti biasa mengetuk pintu. "Masuk saja Shiyi!" ujarnya. Han Shiyi berjalan masuk ke dalam. Dia melihat ada seekor kucing kecil di dalam kamar. "Lianyu, ini kucing milik siapa?" tanyanya. Jepit berbentuk kelinci terpasang di rambutnya. "Oh, ini. Ini namanya Winter, kucing yang baru saja aku adopsi," jawab Lianyu sambil mengambil selimut yang lembut yang dibentuk bulat sebagai tempat tidur Winter nantinya. Di setiap kamar asrama ada dua selimut yang lembut. Misal selimut yang satu dicuci, masih ada selimut yang lain. "Dia imut sekali," komentar Han Shiyi. Dia merasa pada si kucing yang imut. Dia membawa Winter ke pelukannya dan mengeluskan dengan kasih sayang. Shiyi sebenarnya juga suka hewan, tapi takut tak terurus jadi dia tak memelihara hewan. "Tentu saja. Bulunya lembut dan warnanya seperti butiran salju yang berjatuhan," ujar gadis yang menyukai warna merah muda. "Oh, ya, Shiyi, apakah sekte bunga salju ada larangan memelihara kucing?" tanya Lianyu melihat Shiyi yang sedang menuangkan teh ke dalam cangkir. "Lianyu, kau tenang saja. Tak ada larangan untuk memelihara kucing," ucapan Han Shiyi membuat Song Lianyu menarik napas lega. Kasihan sama kucingnya kalau kucingnya tinggal di luar, nanti seperti saat ini, kucing putih itu kelaparan. "Bagus sekali, aku bisa merawat winter," ujar Song Lianyu. Hatinya senang. "Feiye, juga pelihara kucing. Bedanya yang dia warnanya hitam putih," sahut Han Shiyi. "Aku baru tahu kalau Feiye juga suka kucing," respon Lianyu. "Feiye, itu suka sama hewan-hewan," jawab Lianyu. Han Shiyi menurunkan kembali Winter di atas lantai. Winter sekarang sedang tidur di atas kasur berbahan dasar selimut. *** Semua murid-murid dipinta untuk berkumpul di bawah gunung. Lokasi sekte Bunga Salju ada di atas gunung. Tempat tinggal pemimpin agung sekaligus Ketua sekte ada di atas pulau melayang. Di pulau melayang itu terdapat kediaman yang luas, nama kediaman itu adalah Kebenaran. Di hadapan mereka seorang kakak seperguruan yang sudah menyelesaikan pendidikannya berdiri di hadapan mereka. Dia berada di sekte untuk mengajar adik-adik seperguruan. "Selamat pagi, semuanya!" sapa Ding Yuxi pada adik-adik seperguruannya. "Selamat pagi, kakak Yuxi!" sapa mereka balik. Nama gege itu Yuxi ternyata, batin Song Lianyu. Dia mengingat di dalam otaknya. "Baiklah, karena ada murid baru. Aku akan memperkenalkan diri lagi," ujar gege Yuxi karena melihat satu wajah baru dan asing. Sekte bunga salju untuk ajaran baru baru dimulai selama dua minggu. Sebenarnya Song Lianyu masuk sekolah, tidak terlalu telat. "Namaku Ding Yuxi, kalian bisa panggil aku kakak Ding, kakak Yuxi juga boleh." Ding Yuxi memperkenalkan dirinya untuk yang kedua kalinya. "Baiklah, kalian hari ini akan belajar terbang menggunakan pedang," ujar Ding Yuxi. Wajah pria itu manis tak bosan dipandang. Wah, belajar terbang menggunakan pedang? Itu sepertinya menyenangkan, aku bisa keliling dunia, batin Song Lianyu. Dia tersenyum membayangkan dia terbang di antara awan-awan putih bersama burung-burung camar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN