Tepatnya tiga hari yang lalu. Pertengkaran Bai Quan, Yuwen Yue dengan Mu Chen serta rombongannya membuat ruang kantin menjadi kacau balau. Salah seorang murid laki-laki dengan tergesa-gesa berlari dan menerobos masuk memanggil sang guru di ruangannya. Guru tersebut yang sedang menikmati makanannya terpaksa berhenti.
"Sebelum masuk harus ketuk pintu terlebih dahulu! Biasakan!" ujar guru Hong Xuan dengan ekpresi marah menatap sang murid yang napasnya masih tersengal-sengal karena berlari dari ruang kantin.
"Maafkan aku guru," ujar si murid sembari membungkuk sebagai tanda minta maaf.
"Baiklah, jangan ulangi lagi!" sahut Hong Xuan.
"Katakan apa yang membuatmu ke ruanganku?" sambungnya sembari berjalan dengan tangan posisi di belakang, sementara itu matanya menatap murid laki-laki.
Setelah menetralkan detak jantungnya serta napasnya baru dia bicara tujuannya. "Guru, Bai Quan, Yuwen, Yue dan Mu Chen sedang bertarun g di ruang kantin," lapornya.
Guru Hong Xuan matanya sedikit melebar dan kaget. "Apa? Mereka bertengkar di sana?"
Guru Hong Xuan segera berjalan ke luar ruangannya, dia menutup pintu. Makanan yang baru dia makan sedikit, dia berpesan pada pelayan agar makanannya ditutup.
Dalam jarak sepuluh meter sudah terdengar suara perkelahian diiringi dengan suara barang-barang yang terpecah belah dan rusak. Saat Guru Hong Xuan berada di depan ruang kantin, meja kayu mengarah di depan wajahnya. Pria yang sudah punya anak satu itu, mengangkat tangan kanannya. Dengan kekuatan energi spiritualnya meja tersebut dia kembalikan ke tempat semula. Dia mengedarkan kepala ke sekeliling ruangan yang sudah seperti habis diterjang hewan mistik qirin tua sangking berantakannya. Di beberapa sudut bagian ruangan kantin dan tampak terbakar api.
"Kalian berhenti!" perintah guru Hong Xuan menatap marah murid-muridnya.
Yuwen Yue, Bai Quan, Mu Chen dan antek-anteknya menoleh menatap guru Hong Xuan yang ekspresinya tak bersahabat. Mereka spontan berhenti saling menyeran g. Pakaian yang dikenakan jadi berantakan. Begitu juga dengan rambut yang semula rapi dan tertata kini hancur berantakan.
"Kalian ikut aku ke ruanganku sekarang!" perintah Guru Hong Xuan dengan tegas.
Mereka berjalan mengekor di belakang guru Hong Xuan.
"Semua ini salah kalian!" ujar Mu Chen dengan nada menyalahkan Yuwen Yue dan Bai Quan.
"Mana ada salah kami. Kalian yang mencari masalah duluan," balas Yuwen Yue tak terima.
"Salah kalian!" Hingga akhirnya dua kelompok itu saling bersahut-sahutan membuat kegaduhan.
Guru Hong Xuan membalik tubuh ke belakang. Ekpresinya sudah seperti orang yang terbakar bara api.
"Kalian masih saja bertengkar! Kalian itu sudah besar semua, kenapa masih bersikap seperti anak kecil?" Guru Hong Xuan berkacak pinggang kesal.
Yuwen Yue, Mu Chen dan antek-anteknya menunduk tak menjawab. Sementara itu Bai Quan seperti biasa tak banyak bicara. Bai Quan orangnya lebih suka langsung bertindak.
Di dalam ruangan sejenis bkk (bimbingan kepribadian dan konseling) dua kelompok itu berdiri berbaris. Di hadapan murid-murid guru Hong Xuan duduk di kursi kayu.