Kebetulan kamar pemandian umum laki-laki sedang kosong. Long Feiye berjalan masuk ke dalam bersama dengan dengan Song Lianyu dan juga Han Shiyi.
"Aku akan mengambilkan hanfu yang baru untukmu, Feiye," ujar Han Shiyi meninggalkan mereka berdua.
Long Feiye berjalan masuk ke dalam bak mandi setelah melepaskan hanfu bagian luarnya. Lianyu berjalan sedikit menjauh dari bak mandi dan memilih duduk di dekat tanaman bunga. Ya, tak mungkinlah dia melihat Long Feiye yang sedang mandi. Itu 'kan tidak baik.
"Feiye, siapa orang yang menyiram mu pakai mangkuk sop tadi?" tanya Song Lianyu saat Long Feiye membersihkan dirinya.
"Itu anak buah Mu Chen," jawab Feiye sambil menggosok rambutnya yang kotor terkena kuah sop.
"Aku lihat tadi seperti kalian punya dendam," ujar Song Lianyu.
Han Shiyi telah kembali membawa pakaian Long Feiye.
"Feiye, pakaianmu aku letakkan di dalam rak lemari," ujar Han Shiyi.
Han Shiyi dan Song Lianyu keluar dari ruang pemandian umum laki-laki. Di dalam Long Feiye menyelesaikan mandinya dan memakai pakaian yang baru.
Kedua gadis itu duduk di kursi yang ada di dekat ruang pemandian umum.
"Shiyi, seperti nya banyak orang yang tak suka dengan Feiye," ujar Song Lianyu.
"Ya, begitulah Lianyu. Padahal Feiye tak punya salah dengan mereka. Mereka nya saja yang suka cari masalah seperti anak buah Mu Chen tadi," sahut Han Shiyi.
"Tapi aku lihat Feiye nya diam saja dan tak melawan. Kalau disiram sop sayur tepat di atas kepalaku aku pasti sudah marah sama mereka. Itu namanya penghinaan," ujar Song Lianyu dengan kesal.
"Tenang saja Bai Quan dan Yuwen Yue sedang membalas perlakuan buruk mereka. Sepertinya saat ini ruang kantin jadi kacau balau karena mereka bertengkar," ujar Han Shiyi membayangkannya. Dia membayangkan wajah Mu Chen dan antek-anteknya memar sampai membiru.
"Ya, itu wajar mereka dapatkan," sahut Lianyu mengangguk setuju. Biar Mu Chen merasakan akibat buruknya dari perbuatan mereka.
***
Sudah tiga hari Song Lianyu berada di sekte Bunga Salju. Dan dia bisa melihat perlakuan teman-teman seperguruan pada Long Feiye yang buruk.
Song Lianyu sedang berjalan di luar sekte. Dia memakai hanfu warna merah muda. Dia melihat ada banyak orang yang berlalu lalang.
"Bintang hulu!" teriak pedagang menjajakan dagangannya.
"Kantong pewangi! Harganya murah! Hanya lima tael saja!"
"Jual bunga!"
"Manisan buah! Kalian bisa mencicipi nya sebelum beli!"
Dan banyak sahutan-sahutan pedagang yang lainnya.
"Di sini lebih ramai daripada di kota Ban Hua," komentar Song Lianyu sambil melihat di sekitar.
Tak lama kemudian Song Lianyu mendengar suara kucing mengeong.
Lianyu mencari asal suaranya. Dan dia mencari asal sumber suara yang ternyata di dekat tumpukan keranjang-keranjang bekas. Seekor kucing berbulu putih terus saja mengeong karena kelaparan. Lianyu mengangkat kucing itu. Bisa dilihat perutnya yang kempes yang pastinya sudah beberapa hari tak makan.
"Pak, berikan aku dua potong roti isi daging," pinta Song Lianyu pada salah satu pedagang yang menjual roti isi daging.
"Baik, nona tunggu sebentar. Nona mau ditambahkan potongan sayur juga di dalamnya?" tanya bapak pedagang sambil membelah roti dan memasukkan potongan daging tipis di dalamnya.
"Ya, tambahkan juga, tapi untuk satu roti saja. Untuk roti yang lain tidak usah," sahut Song Lianyu. Kucing itu diletakkannya di dalam keranjang yang ada di punggungnya.
"Ini nona," ujar bapak pedagang sembari menyodorkan dua potong roti di dalam wadah kertas cokelat.
"Berapa pak jumlah total seluruhnya?" tanya Song Lianyu.
"Semuanya sepuluh tael perunggu, Nona," jawab bapak pedagang.
Song Lianyu mengambil dompet uang yang diikatkan di pinggangnya, dia membuka kantong uang dan mengambil sepuluh tael perunggu. Lianyu menyodorkannya pada bapak pedagang.
"Uangnya pas yang pak," ujar Song Lianyu.
"Ya, nona. Uangnya cukup," jawab bapak pedagang.
***
Song Lianyu memutuskan untuk mampir ke salah satu toko yang kebetulan sedang tutup. Dia sedang memberi makan roti isi daging kucing putih yang ditemukannya itu.
Kucing putih memakan roti isi daging dengan lahap sambil terus mengeluarkan suara gumaman. Tanda bahwa makanannya tak boleh ada yang ambil. Sontak Lianyu tertawa karena tingkah si kucing. Si kucing punya mata yang unik. Satu mata warna biru dan satu mata warna kuning.
Lianyu memakan roti isi daging dan potongan sayuran. Roti nya masih hangat dan pastinya nikmat dari aromanya saja sudah menggoda selera.
"Rasanya enak sekali! Besok aku akan beli lagi di paman itu," ujarnya bermonolog sendiri.
"Kucing putih, makananmu sudah habis ya? Pastinya kau tak lapar lagi." Song Lianyu mengusap bulu putih milik si kucing yang ternyata lembut.
"Aku pergi dulu kucing putih." Song Lianyu berjalan meninggalkan si kucing setelah melambaikan tangannya.
Tak disangka si kucing berjalan mengikutinya sambil terus mengeong sekuat tenaga. Song Lianyu yang mendengar suara kucing. Menoleh ke belakang, dia tak menyangka kucing yang dikasihnya makan berjalan mengikutinya.
"Kucing putih, kau harusnya tak mengikutiku," ujar Song Lianyu pada si kucing. Seakan mengerti dengan ucapan dari gadis itu, si kucing menunjukkan ekpresi sedih dan murung.
Melihat wajah yang menyedihkan itu membuat Song Lianyu jadi berubah pikiran. "Baiklah, baiklah aku akan membawamu ke sekte juga." Mendengar itu si kucing jadi semangat kembali, dia sampai mengeong beberapa kali. Lianyu meletakkan kucing putih ke dalam keranjang rotan.
Entahlah apakah mereka akan mengizinkanku memelihara seekor kucing? Tapi aku bawa dulu saja, batin Song Lianyu.
Song Lianyu berjalan melewati hutan yang rindang. Terlihat beberapa warga yang berjalan melintas ada yang sedang mendorong gerobak berisi sayur-sayuran.
Setelah dirasa tak ada yang melintas lagi, Song Lianyu tiba-tiba ingin menyanyi untuk mengusir sepi. Dia juga sudah lama tak bernyanyi. Salah satu kesukaannya adalah menyanyi.
** - ***
Héjié - Duan Zhi Nian
********
Mǒu Yi shùnjiān Shijie yǐ Bian
Dalam dunia sudah berubah
********
Chénfēng yǐwǎng wú yù wú niàn
Menutup erat masa lalu, tidak ada hasrat dan kerinduan
********
Rúguǒ bú tòng hébì xiāng liàn
Jika tidak sakit, untuk apa saling mencintai
***********
Shēngs líbié jiù bú huì xiǎndé fūqiǎn
Maka perpisahan tidak akan terlihat dengan dangkalnya
********
Lèi liú chéng xiàn hǎi kuò chéng tiān
Air mata mengalir menjadi garis, luasnya lautan menjadi langit
*********
shìfǒu kànjiàn zài huǎnghū jiān
Apakah kamu melihat di alam bawah sadar
*********
Bēihuān líhé yījiù zài chóngyǎn
Kesedihan perpisahan dan pertemuan masih dipertunjukkan berulang-ulang
**********************
Nǐ huì míngbái wèishénme yào yǒu míngtiān
Kamu akan mengerti mengapa harus ada hari esok
***********
Fàngqì céngjīng bù xiāng jiàn yě bù kuīqiàn
Menyerah pada masa lalu, tidak bertemu juga tidak berhutang apapun
**********
Nǐ wǒ zhī jiān búguò tánhuāyíxiàn
Antara saya dan kamu hanyalah keindahan yang sementara
************
Duàn kāi zhí niàn duàn bù kāi duì nǐ de sīniàn
Memutuskan keinginan namun tidak bisa memutuskan kerinduan terhadapmu
*********
N xiē nuòyán nǐ wúlì duìxiàn
Janji-janji itu kamu tidak berdaya untuk menepatinya
diulang dari awal
***********
Wǒ jiǎn búduàn Mingyun Lǐ zhùdìng Yinyuan
Saya tidak dapat memutuskan pernikahan yang ditetapkan oleh takdir
**********
Yízài chóng xiàn tòngk jìyì suìpiàn
Terus menerus muncul kembali rasa sakit dan kenangan yang hancur
***************ǒ gāi rúhé qù miàn duì jǐn shèng de zhí niàn
Harus bagaimanakah saya menghadapi keinginan yang tersisa
**********
Tài duō huǎngyán suí fēng chuī xiàng tiānbiān
Terlalu banyak hal yang mengikuti angin bertiup ke arah ujung dunia