"Shiyi, boleh aku tanya suatu hal?" tanya Song Lianyu setelah selesai berdandan. Dia duduk di samping Han Shiyi.
"Iya, katakan saja," ujar gadis bermarga Han. Han Shiyi merupakan nona muda kedua di keluarga Han. Dia memiliki seorang kakak perempuan dan juga seorang adik laki-laki. Ayahnya merupakan pejabat di kota Qifeng. Termasuk pejabat yang kecil. Masih banyak pejabat yang lebih tinggi darinya. Setara dengan RT (Rukun Tetangga) jika di dunia modern. Walaupun gajinya tak sebesar pejabat seperti menteri kerajaan, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
"Aku pernah mendengar tentang iblis kematian, itu maksudnya apa ya?" tanya Song Lianyu menatap Han Shiyi dengan wajah ingin tahu.
"Lianyu, kau mendengar di mana mengenai hal ini?" Han Shiyi balik bertanya.
"Aku mendengarnya saat ada seorang guru yang sedang mengajar," jawab Song Lianyu dengan jujur.
"Iblis kematian dalam bahasa yang mudah dipahami adalah orang yang sangat jahat yang bisa menghancurkan satu negara dalam hitungan detik," sahut Han Shiyi.
"Bisa menghancurkan negara? Apakah kekuatan yang dia miliki sangatlah hebat?" tanyanya lagi. Wajahnya tampak tertarik untuk mengetahui lebih dalam.
"Lianyu, apakah kau pernah membaca buku tentang sejarah dua puluh tahun yang lalu atau mungkin mendengar tentang kisah kehancuran?" tanya Han Shiyi.
Song Lianyu menggeleng. "Aku tak tahu buku apa yang Shiyi maksud. Orang-orang di tempatku tinggal tak ada yang bicara soal iblis kematian," ujarnya dengan jujur. Orang-orang di tempatnya tinggal tepatnya di kediaman Duanmu, hanya bicara soal keuangan dan cara meningkatkan kekayaan.
"Dua puluh tahun yang lalu umat manusia berada dalam kekacauan. Wabah di mana-mana dan banyak hal yang buruk lainnya. Hingga akhirnya kumpulan ketua sekte dari berbagai sekte bekerja sama untuk menjebak iblis kematian. Karena itulah dunia baru bisa tenang seperti ini," jelas Han Shiyi panjang lebar, Lianyu mendengarkan penjelasan gadis bermarga Han dengan baik.
"Dia benar-benar kejam," komentar gadis penyuka kue osmanthus.
"Baiklah, kita berangkat ke kelas nanti terlambat," ajak Shiyi yang dijawab anggukan Lianyu. Lianyu segera membawa tas kayu yang sudah berisi buku-buku dan peralatan yang lainnya.
Di dalam kelas
Saat Lianyu melangkah masuk ke dalam kelas, beberapa murid perempuan dan laki-laki menatapnya dengan wajah penasaran. Lianyu duduk di samping Shiyi. Di depan Lianyu ada Feiye. Di samping Feiye ada Bai Quan. Di belakang Lianyu ada Yuwen Yue.
Lianyu duduk sambil matanya melihat meja dan kursi. Di atas meja ada tempat pengaduk tinta beserta kuasnya. Tas kayunya diletakkan tepat di sampingnya.
Aku senang sekali bisa berada di sini, batin Lianyu.
Berselang beberapa saat kemudian seorang guru laki-laki berjalan masuk ke dalam ruang kelas. Kelas yang semula ramai menjadi sepi seketika.
"Bukankah itu guru yang menguji aku kemaren?" ujar Lianyu pelan sambil melihat guru yang memiliki rambut hitam dan kumis tipis itu.
"Baiklah, murid-murid. Kita akan melanjutkan pelajaran kita," ujar guru Liang Qu menatap satu per satu murid-murid yang memperhatikannya.
"Hari ini kita akan belajar menulis di atas kertas tanpa menyentuhnya dengan tangan," ujar guru Liang Qu.
"Guru, bagaimana mungkin tanpa menyentuhnya dengan tangan?" tanya Yuwen Yue.
"Tentu saja bisa," jawab sang guru.
"Dengarkan penjelasanku baik-baik dan amati," sambungnya.
Guru Liang Qu duduk di atas kursi yang ada di hadapan semua murid, dia meletakkan selembar kertas di atas meja. Dia beberapa saat mengaduk tinta sehingga menjadi cair. Tangan kanannya menyalurkan energi spiritual berwarna kuning pada kuas. Kuas yang semula terletak di wadah kuas kini mulai melayang-layang. Guru Liang Qu mengarahkan kuas tepat di atas kertas dan kuas tersebut mulai bergerak membentuk kata yang diinginkannya, kali ini dia menulis namanya sendiri Liang Qu.
"Kalian sudah melihat contohnya. Sekarang kalian cobalah," ujarnya sambil mempersilakan para murid.
Song Lianyu mengambil selembar kertas dari dalam tas kayu, dia meletakkannya ke atas meja. Dia mulai mencoba melakukan apa yang diperintahkan oleh sang guru. Dalam satu kali dan dua kali percobaan belum bisa. Barulah pada percobaan ketiga baru berhasil.
Lianyu membentuk kata rumah yang ada di dalam pikirannya. Kata rumah yang harusnya menjadi tempat pulang dan tempat mendapatkan kebahagiaan. Lianyu belum merasakan hal tersebut, tapi dia yakin suatu saat nanti pasti ada kebahagiaan.
Berbeda dengan murid-murid yang lain sudah berhasil mencobanya namun tidak dengan Long Feiye yang walaupun dia sudah berusaha keras agar bisa menyalurkan energi spiritualnya. Tetap saja energi spiritualnya tak muncul juga.
Aku tetap saja tak bisa. Padahal aku sudah berusaha dengan keras, batin Long Feiye.
***
Tak terasa mata pelajaran peningkatan energi spiritual sudah selesai dan akan dilanjutkan hari yang lain.
"Murid-murid di rumah ulangi pelajaran kalian!" pinta guru Liang Qu.
"Selamat jalan, guru," ujar murid-murid berdiri serempak dan membungkuk.
Guru Liang Qu berjalan keluar dari kelas meninggalkan murid-murid bersorak gembira karena pelajaran telah usai.
"Lianyu, kita ke kantin yok!" ajak Han Shiyi yang dijawab anggukan Song Lianyu. Setelah merapikan buku-buku dan alat tulis lainnya ke dalam tas kayu. Mereka berjalan ke kantin.
Di ruang kantin
Dipenuhi canda tawa dan murid-murid yang mengobrol. Sehingga ruangan menjadi ramai. Aroma nikmat masakan tercium indra penciuman.
Lianyu duduk di samping Han Shiyi. Di depan mereka ada Long Feiye, Bai Quan dan Yuwen Yue.
"Pelajaran tadi cukup menyenangkan ya," ujar Song Lianyu membuka suaranya.
"Ya, aku baru tahu kalau menulis tidak hanya pakai tangan langsung. Tenyata pakai energi spiritual juga bisa," sahut Han Shiyi sambil makan bakpao yang berisi daging ayam.
"Cara itu sangat bagus jika tangan sedang terluka," sahut Yuwen Yue.
Sedangkan Bai Quan memakan makanannya dengan tenang.
Srur.. . seseorang tiba-tiba menumpahkan sop sayur ke atas kepala Long Feiye yang sedang menyumpitkan potongan daging ayam ke dalam mulut. Sehingga rambut dan kepala Feiye kotor karena kuah dan sayur, tak hanya itu hanfu yang dia pakai juga ikut terkena. Begitu juga dengan wajahnya yang kotor.
Kompak Han Shiyi, Song Lianyu, Yuwen Yue, dan Bai Quan menoleh ke arah Long Feiye dan ternyata pelakunya adalah antek-antek Mu Chen. Mu Chen di tempatnya duduk sedang tertawa puas atas kerja bagus kacungnya. Long Feiye membersihkan potongan sayur yang di atas kepalanya dan mengusap wajahnya yang basah terkena kuah.
Siapa pria itu yang menuangkan sop sayur ke atas kepala Feiye? pikir Song Lianyu bertanya-tanya. Dia seketika menghentikan makannya.
"Kenapa kau suka sekali menganggu Feiye? Apa salahnya hah?" tanya Yuwen Yue bangkit dari posisi duduknya berjalan menghampiri Mu Chen yang tertawa menghina.
"Salahnya dia tak boleh bersekolah di sekte Bunga Salju. Orang seperti dia tak pantas sekolah di sini," jawab Mu Chen menunjuk Long Feiye.
"Orang macam dia harusnya mencari sampah di jalanan karena cocok dengan statusnya yang hina!" sambung Mu Chen.
Tanpa banyak bicara Bai Quan melemparkan energi spiritualnya berwarna merah seperti api. Namun Mu Chen dengan gesit menghindar.
Tanpa menunggu waktu yang lama ruang kantin yang awalnya damai saja kini menjadi tempat pertarungan antara teman-teman Long Feiye dan Mu Chen beserta rombongannya. Murid-murid perempuan dan murid-murid laki-laki yang lain yang tak ingin terkena efek pertengkaran mereka membawa makanan mereka keluar kantin. Dan sebagian yang lain melingkari mereka. Murid-murid yang lain ingin menyaksikan pertengkaran yang seru dan menyenangkan.
Yuwen Yue melawan salah satu anggota bawahan Mu Chen. Mereka saling menyerang memakai kekuatan energi spiritual.
Akibat pertarunga n antara Mu Chen dan Bai Quan banyak mangkuk, piring, meja dan kursi yang rusak parah.
Song Lianyu berinisiatif membawa Feiye ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang kotor. Biarkan masalah ini ditangani oleh Yuwen Yue dan Bai Quan saja. Han Shiyi juga ikut bersama Lianyu dan Feiye.