Chapter 23 - Clean

740 Kata
Kue beras? ucap Song Lianyu dalam hati saat melihat kue beras yang ada di dalam mangkuk. Tiba-tiba ingatan Lianyu melayang saat berada di kediaman Duanmu. Dia hanya bisa dihitung dengan jari makan kue beras. Itu pun kalau ada kue sisa. Kalau tak ada kue sisa ya Lianyu tak bisa makan kue beras. Nyonya keluarga Duanmu sangat menyukai kue beras. Bisa dibilang makanan itu adalah makanan favoritnya. Melihat Song Lianyu yang melamun melihat kue beras membuat Yuwen Yue menegurnya. "Ada apa denganmu, cantik?" tanya Yuwen Yue menatap Song Lianyu. "Aku tak apa-apa," ujar Song Lianyu. "Lianyu, ayo dimakan kue berasnya. Kue berasnya enak," ujar Long Feiye. Song Lianyu mengambil kue beras, lalu memasukkan ke dalam mulutnya, kemudian mengunyahnya dengan pelan. "Enak rasanya." Setelah makan kue beras, Han Shiyi, Yuwen Yue, Long Feiye membantu Song Lianyu untuk membersihkan kamar asrama sekaligus merapikannya. Kamar asrama ini sudah lama tak terpakai. Terlihat beberapa debu berserakan di sudut ruangan. Sebenarnya ruangan yang tak terpakai dibersihkan oleh tukang sapu sekte Bunga Salju setiap satu minggu sekali. Kebetulan hari ini hari Kamis dan petugasnya belum membersihkan. Di kamar asrama yang luas ini ada dua lemari berukuran besar yang terletak di sudut ruangan. Meja beserta kursi di pinggir ruangan. Ranjang beserta perlengkapan tidur lainnya terletak di sisi yang lainnya. Dan jangan lupakan miniatur air terjun di sisi kanan ruangan serta meja belajar tempat meletakkan buku-buku pelajaran dan kursi kayu. Kamar ini benar-benar luar biasa. Bahkan kamar asrama ini jauh lebih luas dan indah dibanding kamarku yang ada di kediaman Duanmu, batin Song Lianyu. Saat ini mereka sedang beristirahat setelah membersihkan seluruh sudut ruangan sampai bersih. Bahkan debu pun tak terlihat sedikit pun. Lianyu meminum air, lalu meneguknya sampai habis. Tenggorokannya kering. "Aku nanti di kelas mana?" tanyanya tiba-tiba. "Sekarang semua murid berada dalam satu kelas yang sama kecuali mata pelajaran tertentu tergantung sama gurunya," jelas Han Shiyi. "Oh begitu ya? Berarti besok aku ikut kalian saja," jawab Song Lianyu. Seragam sekolah di sekte Bunga Salju ada empat setel. Ini pembagian untuk murid perempuan. Yang pertama pakaian kuning dan putih dipakai hari senin dan selasa, yang kedua pakaian ungu dan putih dipakai hari rabu, yang ketiga pakaian merah muda dan putih dipakai hari kamis, yang keempat pakaian hijau dan putih dipakai hari jum'at. Sementara itu hari sabtu dan minggu pakaian bebas. Pada hari sabtu dan minggu bisa digunakan untuk latihan, belajar atau hal yang lainnya tergantung diri masing-masing. Setiap murid baik laki-laki atau pun murid perempuan semuanya diberikan token sekte Bunga Salju sebagai tanda. Di token juga tercantum nama masing-masing murid. Sementara itu untuk murid laki-laki seragamnya juga ada empat setel. Yang pertama pakaian kuning dan putih dipakai hari senin dan selasa, yang kedua pakaian merah dan hitam dipakai hari rabu, yang ketiga pakain biru dan putih dipakai hari Kamis. Sedangkan pakaian yang keempat cokelat dan putih dipakai hari jum'at. Hari sabtu dan minggu bebas mau melakukan apa saja. Terkadang pada hari libur murid-murid pulang melihat orang tua mereka. "Lianyu, kau istirahatlah. Besok adalah hari pertamamu sekolah, jangan sampai terlambat," pesan Long Feiye. "Tentu saja aku tak akan terlambat ke sekolah besok," jawab Song Lianyu. "Kami pamit Lianyu," ujar Long Feiye dan Han Shiyi. "Aku pamit, Cantik. Besok kita akan bertemu lagi!" ujar Yuwen Yue dengan kedipan mata genit. "Ya, teman-teman," jawab Song Lianyu, kemudian dia menutup pintu asrama setelah keempat temannya pergi meninggalkan kamar asramanya. Lianyu meneletangkan tubuh di atas kasur. Tubuhnya sedikit sakit akibat acara-acara bersih-bersih tadi. "Besok adalah hari yang special bagiku," ujarnya dengan senyuman di wajahnya. Tanpa dia tahu bahwa masalah akan datang satu per satu. *** Mentari seperti biasanya bersinar. Kicauan burung-burung terdengar di indra pendengaran menyambut datangnya sang raja siang. Long Feiye membuka mata, bangkit dari posisi tidurnya. Setelah beberapa saat nyawanya terkumpul dia berjalan masuk ke dalam ruang mandi yang menyatu dengan ruang ganti pakaian. Pria itu memakai seragam berwarna cokelat dan putih. Rambut hitam panjangnya ditata dengan rapi seperti biasa. Dia menyiapkan buku dan peralatan yang lainnya di dalam tas kayu. Bai Quan sedang merapikan selimut dan bantal. Han Shiyi berada di depan kamar asrama yang terletak paling ujung. "Lianyu, apakah kau sudah bangun?" tanyanya. Song Lianyu berjalan membuka pintu dan mempersilakan Han Shiyi masuk ke dalam. Lianyu kembali duduk di depan meja rias. Dia sedang mengikat rambut panjangnya dengan tali setelah dikepang. Tak lupa memoleskan bedak dan pemerah bibir tipis. Penampilan Lianyu sederhana, tapi dia tampak cantik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN