Chapter 22 - Nona Bangsawan

1011 Kata
"Oh berarti enak ya kak kalau punya ayah yang kerja di sini tak perlu seleksi lagi," ujar Song Lianyu menyimpulkan. Wanita itu mengangguk. "Iya, betul," jawabnya. Song Lianyu kemudian mengambil buku-buku dan seragam sekolahnya. "Jie, aku ke kamar asrama dulu ya. Nanti kalau ada waktu kita bisa ngobrol lagi," pamitnya dengan sopan. "Ya, tentu saja. Nona datang saja ke sini jika ada waktu," jawabnya. Di tengah jalan di sekte Bunga Salju, Song Lianyu bertemu dengan Long Feiye yang sedang berjalan sendirian. "Feiye, kenapa kau sendirian?" tanya Song Lianyu pada Feiye. "Lianyu? Han Shiyi sedang ke kamar mandi," ujar Feiye sambil berjalan menghampiri Lianyu. Feiye menatap seragam sekolah dan buku-buku yang ada di tangan Lianyu. "Lianyu, kau...?" tanyanya. Lianyu mengangguk dengan semangat. "Ya, aku lolos seleksi," jawabnya dengan senyuman di wajahnya. "Bagus sekali! Aku ikut senang mendengarnya," jawab pria tampan yang tingkat kultivasi berada paling dasar. Tak lama kemudian Song Lianyu mendengar ada suara bisik-bisik. Dia menoleh mencari asal sumber suara itu. Yang ternyata berasal dari dua orang gadis muda. "Lihat! Si sampah sedang bicara dengan siapa itu?" ujar seorang murid wanita kepada pelayan yang berjalan sedikit di belakangnya. "Entahlah, Nubi tak tahu, Nona. Nubi tak pernah melihatnya," jawab yang lebih mudas seraya menggeleng. Yang lebih muda menatap dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia juga melihat seragam sekolah dan tumpukan buku yang ada di tangan gadis yang dia tak tahu namanya itu. "Ah, sepertinya dia murid baru, Nona, " ujar yang lebih muda sambil menunjuk Song Lianyu. Apaan mereka mengatai Feiye dengan sebutan sampah? batin Song Lianyu sebal. Song Lianyu meminta agar Feiye memegang seragam sekolah dan buku-bukunya. "Lianyu, kau mau kemana?" tanya Feiye. "Tunggu sebentar, aku akan segera kembali," ujar Lianyu tanpa menoleh. Lianyu berhenti tepat di hadapan dua murid perempuan itu yang menatapnya balik. "Kalian itu jangan sembarangan menghina orang!" ujar Lianyu dengan dengan nada marah. "Apa?" ujar yang lebih tua. "Tunggu apa aku menghinamu Nona?" tanyanya dengan menatap Lianyu tanpa rasa takut. Dagunya diangkat tinggi yang menandakan kedudukannya yang tinggi. "Tidak 'kan?" sambungnya lagi saat Lianyu tak menjawab. "Walaupun kau tak menghinaku, tapi kau menghina temanku!" tekan Lianyu, ekpresi wajahnya tak bersahabat. Lianyu tak mau tahu dengan siapa dia sedang bicara saat ini, yang jelas walaupun kedudukannya lebih tinggi darinya, mereka tetap saja salah karena merendahkan orang lain. "Kau jangan marah pada Nonaku! Kau pikir kau siapa? Berani sekali berkata begitu pada nonaku yang statusnya terhormat," sahut gadis pelayan tak terima majikannya dimarahi oleh orang yang tak jelas. Dia berkata sambil menunjuk Lianyu dengan jari telunjuknya. Ada nada sombong saat dia berkata. "Walau kedudukan nonamu lebih tinggi dari Feiye. Yang namanya menghina orang tetaplah salah!" ujar Song Lianyu dengan tegas. Dia terlihat tak kenal takut. Apalagi posisinya saat ini benar. "Kau tak berhak mengaturku! Kau pikir kau punya hak untuk mengaturku? Oh, tentu saja tidak! Aku lihat dari pakaian yang kau pakai saja sudah menunjukkan jika kau anak orang miskin yang tak punya kedudukan!" sahutnya dengan kasar dan nada bicaranya yang sombong. "Anak miskin sepertimu beraninya menantangku!" lanjutnya. Long Feiye berjalan menghampiri Song Lianyu dan mengajaknya menjauh dari nona bangsawan. Pria itu berusaha untuk menenangkannya. Dia tak ingin di hari pertama Lianyu diterima di sekte Bunga Salju gadis itu sudah terlibat masalah dengan putri keluarga bangsawan. "Lianyu, tenanglah! Tak usah dengarkan dia. Lebih baik aku mengantarmu ke kamar asrama," ujar Long Feiye. Lianyu menatap Feiye. "Tapi dia telah menghinamu Feiye," ujar Lianyu menjelaskan. Feiye mengangguk. "Iya, aku tahu Lianyu. Biarkan saja mereka ingin berkata apa pun," ujarnya. "Tapi?" ujar Lianyu. "Sudahlah Lianyu tak apa-apa. Aku sudah terbiasa dengan ini," jelas Feiye. Dia dalam hati senang karena bertambah satu teman yang baik padanya dan tak memandang sebelah mata. Song Lianyu masih tetap kekeuh. "Lianyu, ayolah jangan buat hari pertama di sekte Bunga Salju menjadi berantakan karena masalah yang tak ada gunanya ini," ujar Long Feiye. Song Lianyu memikirkan perkataan pria itu yang ada benarnya. Feiye benar, aku sudah susah payah berusaha agar bisa lolos di sekte Bunga Salju. Apalagi ini adalah hari pertamaku di sini, tak baik jika aku sudah mencari masalah dengan nona kaya, batin Song Lianyu. "Baiklah, Feiye. Aku mendengarkanmu," ujarnya pada akhirnya. Lianyu pergi bersama Long Feiye meninggalkan nona bangsawan bersama pelayannya. "Cari tahu siapa gadis yang telah kurang ajar itu!" perintahnya pada pelayan setianya. "Baik, nona," jawab pelayan dengan mengangguk patuh. *** Di kamar asrama perempuan Song Lianyu. Kamarnya terletak paling ujung. "Betul 'kan apa yang aku katakan, Lianyu pasti punya peluang untuk lolos seleksi," ujar Han Shiyi setelah mengetahui Song Lianyu lolos seleksi. Dia tampak senang sekali, dia akhirnya punya teman baru. "Ya, aku ingat apa yang kau katakan Shiyi." "Kau gadis yang dibicarakan oleh Feiye itu?" tanya seorang pria pada Lianyu. "Membicarakan? Maksudnya?" tanya Lianyu balik. "Iya, Feiye berbicara padaku bahwa Lianyu yang menolongnya dari serangan harimau," jelas Yuwen Yue. Malam kemaren dia tak begitu mengamati kedatangan Lianyu karena matanya yang sudah sangat mengantuk ingin tidur. Di kelas sebelum kedatangan guru, Feiye membicarakan tentang seorang gadis yang telah menyelamatkan nyawanya. "Oh, soal itu. Aku hanya kebetulan lewat dari sana. Dan menolong Feiye. Lagipula jika itu orang lain pasti juga akan melakukan hal yang sama," ujar Lianyu dengan berkata merendah. "Ah, kau pintar sekali bicara. Tak hanya itu kau juga cantik," puji Yuwen Yue yang membuat Song Lianyu malu. "Mulai lagi deh, sifat genit Yue. Entah siapa yang akan menjadi pasangannya pasti akan merasa cemburu tiap hari karena tingkahnya yang suka menggoda gadis lain," jawab Han Shiyi. "Shiyi, aku tak seperti itu. Jangan dengarkan dia," bela Yuwen Yue pada dirinya yang dijawab senyuman Song Lianyu. "Sudah, sudah. Kita lebih baik bicara yang lain saja," ujar Bai Quan yang akhirnya buka suara. "Oh, ya, Lianyu katakan bagaimana dengan seleksi bagian terakhir tadi itu? Aku sebenarnya juga ingin melihat, tapi karena ada kelas jadi tak bisa," ujar Han Shiyi penasaran. "Seleksi terakhir hanya dipinta untuk menyalurkan energi spiritual. Setelah itu tak ada lagi," ujar Song Lianyu. "Ternyata sama dengan seleksi yang sebelumnya," sahut Han Shiyi. Long Feiye meletakkan dua mangkuk kue kering di atas meja. "Silakan dimakan kuenya baru saja aku beli," ujarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN