ketidaksanggupan Bima

1656 Kata
Vonis dokter tentang kemandulan permanen yang dideritanya membuat Shareen hampir depresi. Betapa ia menginginkan anak dari buah cintanya dengan Bima. Namun, Tuhan tidak mengabulkan keinginan terbesar yang ada pada diri wanita cantik yang selalu berpikiran dewasa tersebut. Ibarat kapal yang berada di lautan lepas tanpa nahkoda yang mengendalikan laju angin, Shareen begitu frustasi akan keinginan seorang buah hati. Hidupnya seakan goyang tanpa pegangan saat dokter mengatakan jika terjadi kelainan pada rahim dan hormon nya, sehingga Shareen tidak bisa mengandung. Dunianya bahkan kembali hancur secara bersamaan begitu melihat Bima yang sedang melakukan proses administrasi entah untuk seorang wanita atas nama Risma Anindia. Namun, untungnya itu hanya sebentar karena Bima langsung menjelaskan dan membawa Shareen pada Risma, wanita yang dianggap adik oleh suaminya. Shareen percaya pada Bima karena ia tidak melihat tatapan cinta pada mata hitam sang suami. Hanya tatapan prihatin yang diberikan pada wanita cantik yang terlihat begitu pucat dengan selang oksigen di hidungnya. Shareen menatap Bima yang tengah menceritakan kisah mereka berdua. Bagaimana mereka menjalani hidup di panti asuhan dengan segala jenis kesederhanaan. Hal yang sangat berbanding terbalik dengan hidupnya yang selalu dilimpahi kemewahan sedari ia dalam kandungan, membuat gaya hidup antara Shareen dan Bima begitu jauh berbeda. Shareen yang sedari kecil selalu mengenakan apapun dari barang mewah berbanding terbalik dengan Bima yang walaupun sudah menjadi anak angkat keluarga Arjuna, tetap cukup sayang dalam menggunakan uang. Seperti biasanya mereka akan melakukan quality time setiap minggu dengan berjalan-jalan ke tempat berbeda, walaupun itu hanya sebuah kafe. Hal itu berguna untuk mempererat cinta yang tumbuh dengan suburnya pada hati masing-masing. Seperti saat ini, Shareen yang meminta untuk makan dan berjalan-jalan di sebuah taman untuk melihat banyaknya anak kecil yang berlarian ke sana kemari, hal yang selalu membuatnya tersenyum indah karena bayangan indah. Mereka duduk di sebuah kafe yang berada di taman tersebut, memesan makanan ringan dan minuman untuk menemani obrolan hangat penuh cinta yang biasa mereka lakukan. "Kami berdua tumbuh bersama, dia udah Kakak anggap adik sendiri. Pas liat orang berkerumun karna adanya kecelakaan Kakak samperin dan langsung tau itu Risma karna gelang yang dia pake, mangkanya langsung Kakak bawa ke rumah sakit." Shareen mendengarkan dengan baik cerita dari Bima yang sesekali ia selingi dengan menyesap kopi hitamnya. Shareen tidak menyela ataupun protes dengan apa yang diceritakan oleh sang suami. Ia ingin mendengar dengan detail tentang kehidupan Bima bersama wanita yang saat ini masih terbaring di rumah sakit. "Gelang yang dia pake itu Kakak yang bikin sendiri, mangkanya Kakak langsung tahu kalo itu adik kecil Kakak. Kakak minta maaf kalo selama ini gak pernah bilang sama kamu, karena Kakak pikir itu gak penting. Sumpah demi Allah Kakak gak pernah datang apalagi nemenin Risma selagi dia di rawat. Selama ini Kakak cuma bayarin biayanya aja." Shareen percaya itu semua, karena Shareen juga yakin bahwa suaminya tidak akan pernah berbohong padanya. Selama ini Bima masih cukup segan dengan apa yang dimilikinya. Ia selalu berkata sadar diri dengan posisinya yang hanya menjaga amanah untuk mengurus perusahaan sang mertua, yang semuanya sudah atas nama istrinya. Bima juga berani membiayai Risma menggunakan uang yang ia dapatkan dari gajinya sendiri. Sedari ia mulai ikut mengurus Juna's Group hingga saat ini. Bima memang meminta gaji layaknya seorang karyawan. Hal itu Bima lakukan agar ia bekerja dengan semangat setiap harinya. "Terus kalo misalnya aku gak ikhlas gimana? Ya walaupun aku tahu untuk laki-laki sendiri tidak mempunyai kewajiban untuk memberitahu uang yang digunakan untuk apa." Shareen akhirnya bersuara, walaupun sebenarnya ia tidak masalah dan ikhlas karena itu untuk sebuah kebaikan. Shareen hanya ingin mengetahui apa yang akan Bima lakukan seandainya ia menyampaikan rasa tidak setuju akan semua tindakan Bima. Hal itu juga untuk melanjutkan pembahasan masalah poligami yang diminta oleh Shareen pada Bima. "Kakak minta dan mohon sama kamu izinin Kakak buat biayain Risma sampe sembuh. Dia gak punya siapa-siapa di dunia ini. Namun, kalo kamu emang tetap gak ikhlas Kakak gak bisa berbuat apa-apa, tapi Kakak juga yakin kamu gak bakalan sekejam itu buat ngeberentiin semuanya." Shareen terdiam mendengar permohonan Bima, terdengar nada khawatir di sana. Shareen memaklumi itu semua, mereka sudah terlalu lama tidak bertemu, dan sekarang saat bertemu keadaan Risma sangat memprihatinkan, jadi wajar jika Bima merasa begitu sedih. Seketika Shareen menemukan ide agar permintaannya pada Bima terwujud. Keputusan Shareen sudah bulat, Shareen sudah yakin dan siap harus berbagi tentang Bima dalam hal apapun. Shareen juga sering mendengar bahwa wanita bisa memilih pintu surga manapun yang ingin ia masuki jika ikhlas dan mengizinkan suaminya untuk menikah lagi. Shareen ingin merasakan surga itu, 22 tahun hidupnya terombang-ambing tanpa mengenal sang Pencipta, karena selama itu orang tuanya pun tidak memiliki keyakinan, kecuali ibunya yang juga baru memiliki keyakinan sekitar lima tahun lamanya. Surga yang dijanjikan oleh Tuhan jika ia ikhlas untuk di poligami membuatnya semakin yakin dengan keputusannya. Entah mengapa Shareen sudah bahagia terlebih dahulu saat membayangkan ia akan memiliki teman walaupun harus berbagi suami dan kasih sayangnya. "Aku gak ikhlas uang Kakak buat biayain perempuan lain. Makanya Kakak nikahin dia biar Kakak bisa tanggung jawab penuh buat kehidupan Risma dan aku punya temen. Kakak bayangin kalo Kakak punya istri dua, aku ngambek tinggal Ke Risma. Hidup Kakak bakalan indah dan bahagia." Bima tertawa pelan dengan rayuan Shareen, ada-ada saja memang kelakuan istrinya itu. Bima tidak memerlukan istri lain hanya untuk membuat hidupnya indah dan bahagia, karena selama ia mempunyai istri hidupnya sudah sangat bahagia walaupun belum sempurna, karena ia yang belum diberikan kepercayaan untuk merawat darah dagingnya sendiri. "Kakak gak perlu tambahan istri kalo cuma pengen bahagia. Cukup kamu dan hanya kamu. Kalo kamu ngambek tinggal Kakak rayu supaya gak ngambek lagi. Lagian Kakak suka kalo kamu ngambek, gemesin soalnya. Apalagi kalo sampe bibirnya di monyongin, itu buat Kakak semangat makannya," goda Bima dengan menaik turunkan kedua alisnya. Namun, Shareen sedang dalam mode tidak ingin bercanda saat ini. Wanita cantik itu memalingkan wajahnya sebelum kembali menjawab perkataan sang suami, membuat Bima menghembuskan napas dengan lelah. "Aku gak ikhlas Kakak ngeluarin uang walaupun seribu rupiah buat wanita yang bukan keluarga kita." Bima menatap tidak percaya wanita pemilik hatinya itu. Bertanya dalam hati ada apa sebenarnya dengan sang istri hingga Shareen begitu gigih dalam memintanya untuk menikah lagi. Disaat wanita lain tidak mau di duakan, Shareen justru memintanya untuk berbagi kasih dan tubuh. Kata-kata Shareen bagaikan sebuah ancaman bagi Bima. Jika tidak adanya keikhlasan dari sang istri Bima sudah pasti tidak akan bisa membiayai adik masa kecilnya itu. Walaupun benar memang jika suami tidak perlu meminta izin pada istri untuk mengeluarkan uang, tapi itu tidak berlaku pada Bima. Karena ridho dari istrinya adalah salah satu hal terpenting dalam hidupnya. "Sebelumnya Kakak tanya atas dasar apa kamu ingin Kakak menikah lagi?" tanya Bima penasaran. "Kakak tau aku mandul secara permanen, aku mau kita punya anak yang benar-benar darah daging Kakak sendiri. Selain itu, aku juga sering denger seorang wanita bisa milih pintu surga mana aja yang mau dia masukin kalo ikhlas di poligami. Kakak mau 'kan bantu aku dapetin itu semua? Aku mau anak dari benih Kakak dan aku juga mau masuk surga yang paling bagus." Bima semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran istrinya itu. Entah dari mana Shareen mendengarkan perkataan itu semua, karena setahu Bima tidak ada hadist shahih tentang poligami. "Kakak lurusin di sini biar kamu gak salah tafsir. Jadi gini, Sayang. Banyak emang yang bilang kalo wanita yang ikhlas di poligami jaminannya dia bisa milih pintu surga mana saja yang dia mau. Cuma, banyak orang yang salah tafsir, karena setau Kakak dan kalo gak salah, tidak ada satu pun hadist yang shahih tentang poligami. Namun, hadits yang menjelaskan ketika seorang wanita bersabar dalam ketaatan kepada suaminya, maka hal itu menjadi salah satu sebab yang akan mengantarkannya masuk surga. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. Jika seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa (pada bulan Ramadhan), menjaga k*********a, taat kepada suaminya, maka akan dikatakan kepadanya. Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang kamu sukai. Hadist ini juga Dishahihkan oleh Albani dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir 660." Shareen terdiam mendengar penjelasan Bima, tapi tidak membuat keinginannya goyah untuk membuat Bima menikahi Risma. Keinginan mengurus anak kandung dari Bima walaupun lahir bukan dari rahimnya membuat Shareen rela memiliki madu. "Dan sebenarnya kamu juga gak ikhlas 'kan kalo Kakak nikah lagi?" tanya Bima dengan menggenggam tangan lembutnya. "Kalo aku gak ikhlas ngapain minta Kakak buat nikah," sanggah Shareen yang merasa bahwa dirinya sudah benar-benar ikhlas dan siap untuk dimadu. "Kamu minta Kakak buat nikah dengan harapan Kakak bisa punya anak sama wanita lain, dan kita urus sama-sama. Di mana letak ikhlas nya? Harusnya kalo emang kamu beneran ikhlas, berarti kamu gak mengharapkan apapun dari pernikahan Kakak nantinya. Coba pikir kalo seandainya Risma juga ternyata gak bisa punya anak? Dan kita gak dapet apa-apa? Coba juga pikir kalo seandainya kamu bisa punya anak, apakah kamu tetep minta Kakak buat nikah lagi?" Shareen kembali diam dan mencerna setiap perkataan dan pertanyaan Bima. Benar memang ia mengharapkan wanita yang akan Bima nikahi nantinya memberikan keturunan pada mereka. Shareen tidak berpikir bagaimana jika nanti pernikahan kedua Bima tetap tidak bisa menghasilkan keturunan. "Jadi bagaimana? Masih tetep minta Kakak buat nikah lagi?" tanya Bima dengan tersenyum. Melihat Shareen berpikir secara dalam membuat Bima yakin Shareen akan merubah keputusannya. Bima sungguh tidak ingin wanita lain yang akan menemani hidupnya. Cukup Shareen saja wanita yang akan selalu menjadi ratu dalam hatinya. Memiliki satu istri saja tanggung jawabnya sudah sangat besar, apalagi memiliki dua istri. Bima tidak yakin dirinya bisa adil dalam segala hal. Karena mempunyai istri dua harus benar-benar adil dalam segala hal, bukan hanya tentang nafkah lahir. Jauh dari itu semua, nafkah batin pun harus dibagi secara adil. Dan bagaimana Bima bisa adil dalam hal nafkah batin, sedangkan dirinya tidak memiliki hasrat lain selain pada istri pertamanya. Hatinya sudah disita dan dipenjara oleh Shareen. Hingga mustahil rasanya ia bisa mencintai wanita lain selain bidadari cantik yang kini duduk di sampingnya. Karena dalam urusan membagi hati pun saat sudah memiliki istri dua harus adil bukan? Dan rasanya Bima tidak sanggup untuk hal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN